Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANUSIA SERIGALA
"Aroma ini..." ucap pria di tengah, seorang raksasa dengan bekas luka cakar di lehernya.
Dia menghirup udara dalam-dalam, lalu tiba-tiba bersujud dengan satu lutut di lantai batu.
"Darah murni klan Perak," bisiknya dengan suara serak yang penuh haru.
Dua rekannya mengikuti, bersujud dengan kepala tertunduk dalam.
"Kami datang memenuhi panggilan Yang Mulia Kimberly, kami tidak menyangka keturunan Sang Pemimpin masih memiliki darah yang sekuat ini," ucap pria raksasa itu.
"Berdirilah, Mark, Ketty, Peter, kalian datang tepat waktu," ucap Nyonya Kimberly muncul dari balik bayang-bayang, melangkah maju dengan wibawa yang luar biasa.
Ketiga orang itu bangkit, namun mata mereka tetap tidak bisa lepas dari Leo dan Lucian.
"Anak ini..." ucap Ketty, wanita di antara mereka, mendekat dengan gerakan seperti kucing
"Dia memiliki api yang tertidur di dalam darahnya," ucap Ketty menatap Leo.
"Dan yang ini, dia memiliki telinga sang pengintai langit," lanjut Ketty beralih ke Lucian.
Leo, yang biasanya takut pada orang asing, anehnya tidak lari, dia justru melangkah maju satu langkah, menatap mata kuning Ketty
"Kalian, memiliki bau seperti Nenek, tapi lebih liar," ucap Leo polos.
Sementara Lucian menggenggam tangan Jasmine, menatap mereka dengan waspada namun penuh rasa ingin tahu.
"Kalian adalah keluarga yang Nenek Kimberly panggil?" tanya Lucian, menatap mereka bertiga.
"Benar," jawab mereka bertiga mengangguk kan kepala nya.
Mark, sang raksasa, menatap Jasmine dengan tatapan menyelidik.
"Dan kau manusia. Bagaimana bisa kamu berdiri di tengah-tengah keturunan murni kami tanpa rasa takut?" tanya Mark, dingin.
Jasmine melangkah maju, menghalangi pandangan Mark ke arah anak-anaknya.
Sedikit pun Jasmine tidak gentar, meskipun dia tahu satu kibasan tangan pria itu bisa merobek dadanya.
"Aku bukan sekadar manusia bagi mereka," jawab Jasmine dengan suara yang sangat dingin dan tenang.
"Aku adalah alasan mereka tetap bernapas, dan aku adalah orang yang akan memimpin kalian untuk menjemput Lucas, jika kalian datang untuk tunduk pada darah mereka, maka kalian juga harus tunduk pada perintahku!" perintah Jasmine, tegas.
"Berani sekali kau, Manusia," ucap Mark menyeringai, menunjukkan taringnya yang tajam.
"Mark! Cukup!" bentak Nyonya Kimberly.
"Dia adalah menantuku, dan dia yang memegang kunci untuk menghancurkan musuh kita! Jangan coba-coba menantangnya jika kau tidak ingin mencicipi sihir ilmu pengetahuannya," ucap Nyonya Kimberly, memberikan peringatan keras.
Suasana menjadi sangat tegang, di satu sisi ada ksatria manusia yang memegang pedang, di sisi lain ada pengikut liar klan serigala, dan di tengah-tengah ada Jasmine yang memegang kendali atas dua pilar masa depan Alistair.
Mark masih berdiri dengan posisi menantang, auranya yang liar menekan ke arah Jasmine.
Sementara Ethan dan para ksatria Serigala Hitam sudah memegang gagang pedang mereka, siap mencabut baja jika pria liar itu bergerak satu inci saja ke arah Duchess mereka.
Nyonya Kimberly baru saja akan mengeluarkan aura alfa-nya untuk menenangkan situasi, namun tiba-tiba...
"Paman Raksasa!"
Suara kecil Leo yang jernih memecah keheningan.
Bocah kecil itu berjalan mendekati Mark dengan langkah mantap namun penuh kesantunan, lalu berhenti tepat di depan pria besar itu dan membungkukkan tubuhnya dengan hormat, seperti yang diajarkan Jasmine tentang tata krama menyambut tamu.
Mark menunduk, matanya yang kuning keemasan bertemu dengan mata bulat Leo yang penuh kekaguman.
"Paman, maafkan Leo kalau Leo mengejutkan Paman," ucap Leo lembut, menatap Mark dengan binar mata yang tulus.
"Tapi, wah... Paman keren sekali! Paman terlihat sangat kuat, lebih besar dari pohon nangka di halaman belakang!" seru Leo, melotot kan mata nya, lucu.
Glek.
Mark yang tadinya terlihat sangat mengerikan, mendadak membeku.
Kata-kata polos yang penuh pujian itu langsung meruntuhkan pertahanannya.
"Paman pasti sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh di tengah badai untuk menemui Nenek, ya?" lanjut Leo, tangannya yang kecil terulur untuk menyentuh ujung jubah kulit Mark yang kotor karena lumpur dan salju.
"Paman pasti kedinginan dan sangat lelah kan? Pakaian Paman sampai kotor begini demi sampai ke sini. Ibu bilang, ksatria yang hebat adalah mereka yang tidak peduli pada luka dan debu demi tugasnya," cerocos Leo mendongak dengan raut wajah penuh perhatian.
Ketty dan Peter, dua rekan Mark, langsung tertegun, mereka terbiasa ditakuti atau diusir sebagai monster liar, namun bocah ini justru menatap mereka sebagai pahlawan yang sedang kelelahan.
"Leo..." panggil Jasmine lembut, merasa tersentuh dengan kebaikan hati putranya.
"Ibu! Paman ini kelihatannya sangat lelah. Bolehkan Leo meminta pelayan menyiapkan air hangat yang banyak? Paman butuh istirahat agar tubuh kuatnya bisa segar kembali, Leo juga ingin memberikan kue jahe milik Leo untuk Paman, supaya perut Paman hangat," ucap Leo menoleh ke arah Jasmine dengan semangat.
Tawa Nyonya Kimberly akhirnya pecah, tapi kali ini tawa yang penuh rasa bangga.
Ketegangan yang tadinya seolah bisa memicu perang saudara di dalam ruangan itu menguap begitu saja, digantikan oleh rasa haru.
Bahkan Mark yang tadinya sombong, kini wajahnya memerah karena merasa malu sekaligus tersentuh.
Mark tidak menyangka akan disambut dengan kehangatan seperti itu oleh seorang keturunan murni.
"Terima kasih,Tuan Muda Kecil," gumam Mark dengan suara yang mendadak melunak.
"Kebaikan hati Anda benar-benar mencerminkan kemuliaan darah yang Anda bawa," ucap Mark berlutut dengan tulus, kali ini bukan karena takut pada kekuatan, tapi karena dia merasa sangat dihormati.
Lucian mendekat ke samping adiknya, lalu mengangguk sopan pada Mark.
"Adikku benar, Paman, di sini Paman adalah tamu keluarga kami," ucap Lucian, menatap Mark dengan mata serigala nya.
"Silakan bersihkan diri dan beristirahat, nanti setelah Paman segar, aku ingin mendengar cerita tentang bagaimana Paman bisa memiliki otot sekuat itu," lanjut Lucian, sedari tadi ternyata diam-diam memperhatikan tubuh kekar Mark.
Mark akhirnya tersenyum, sebuah senyum tulus yang jarang terlihat di wajahnya yang kasar.
"Suatu kehormatan bagi saya, Tuan Muda," ucap Mark, menunduk kan kepala nya.
Jasmine melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu kedua putranya, lalu dia menatap ketiga pengikut Kimberly itu dengan tatapan yang kini penuh penerimaan.
"Kalian dengar sendiri, anak-anakku menyambut kalian sebagai keluarga," ucap Jasmine tenang.
"Sekarang, silakan Ethan antar mereka untuk membersihkan diri, kita akan bicara lagi saat kalian sudah lebih nyaman," lanjut Jasmine, melirik Ethan.
"Baik Yang Mulia," jawab Ethan, mengangguk kan kepala nya sopan.
"Mari Tuan, Nona, Saya akan mengantar kan kalian," ucap Ethan, sedikit gemeteran melihat tatapan dingin dari Ketiga bawahan Nyonya Kimberly.
Tanpa sepatah kata pun, mereka bertiga berlalu pergi dari sana, mengikuti Ethan, tapi tidak lupa mereka menunduk hormat pada Nyonya Kimberly, Leo dan Lucian, sebelum mereka bertiga benar-benar pergi dari sana.