"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-dua puluh
Keesokan harinya, di kampus, Keheningan di koridor lantai dua Fakultas Hubungan Internasional itu terasa begitu dingin, seolah oksigen di sana baru saja habis tersedot oleh ketegangan antara dua gadis tersebut.Saat Najwa baru masuk ke kelasnya, Raisa dan kawan-kawannya sudah menghadang di sana, ingin meneruskan pembulyan yang akan merusak mental Najwa, Raisa tidak akan puas, sebelum Najwa hancur dan memilih pergi dari kota ini....tapi lihatlah sekarang Najwa berdiri tegak, ia tak sedikit pun goyah meski ratusan pasang mata menatapnya dengan berbagai macam spekulasi.
Raisa mencengkeram pinggiran meja, kuku-kuku mahalnya hampir patah menekan kayu. Wajahnya yang semula merah karena marah, perlahan memucat, berubah menjadi abu-abu saat melihat ketenangan luar biasa di mata Najwa.
"Kak Raisa," suara Najwa mengalun lembut namun setiap katanya seperti dentum lonceng yang mematikan. "Kakak menyebut saya anak selingkuhan. Kakak menyebut ibu saya pelakor di depan semua orang ini. Tapi tahukah Kakak... menuduh tanpa bukti adalah lubang yang Kakak gali untuk mempermalukan Papa sendiri?"
Raisa memaksakan tawa sumbang, matanya bergerak gelisah ke arah kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik. "Bukti apa?! Jangan sok pintar! Semua orang di kelas sosial, tahu kalau Mama Monica adalah istri sah satu-satunya! Papa nggak mungkin punya selera rendah dengan menikahi wanita kampung!" ucap Raisa penuh percaya diri, dan teman-temannya mengangguk setuju dengan ucapan Raisa,
Najwa tidak terpancing. Dengan gerakan yang sangat santun namun penuh wibawa, ia meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja. Ia mengeluarkan salinan surat nikah siri yang sudah dilegalisir dengan cap basah pesantren.
"Ibu saya, Maryam, adalah wanita tulus yang ditipu, Kak," Najwa menatap Raisa tanpa berkedip, sorot matanya yang jernih seakan menembus relung ketakutan Raisa. "Papa mengaku sebagai laki-laki biasa saat melamarnya di desa. Ibu mau dinikahi secara sah di hadapan agama karena janji Papa yang akan meresmikan pernikahan setelah usahanya sukses. Ibu tidak tahu... sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki yang menjadi suaminya sudah memiliki istri."
Najwa menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. "Jadi, secara agama, saya adalah anak sah dari pernikahan yang berlandaskan kejujuran di pihak Ibu, namun penuh kebohongan di pihak Papa. Jika Kakak terus menghina Ibu saya, Kakak sebenarnya sedang menelanjangi aib Papa di depan seluruh kampus ini. Apa Kakak mau Papa dipandang sebagai penipu wanita desa yang tidak bertanggung jawab?"
Raisa terdiam. Mulutnya menganga namun tak ada kata yang keluar. Ia menatap surat di meja itu seolah-olah itu adalah bara api yang siap membakar tangannya.
"Satu hal lagi, Kak," Najwa melangkah setapak lebih dekat. Ia merunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Raisa, membuat suasana semakin dramatis bagi siapa pun yang menonton dari jauh. Suaranya kini hanya berupa bisikan sedingin es yang membuat bulu kuduk Raisa meremang.
"Kakak begitu bangga dengan darah Suhadi yang Kakak klaim di depan semua orang. Tapi apakah Kakak pernah bertanya-tanya... kenapa Kakek memperlakukan saya dan Kakak dengan cara yang sangat kontras soal saham?"
Raisa menoleh pelan-pelan, menatap Najwa dengan tatapan ngeri. "A-apa maksudmu?! Jangan coba-coba memfitnah Mamaku!"
"Saya tidak memfitnah," Najwa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak penuh luka sekaligus kekuatan. "Saya hanya menyarankan... tanyakan pada Tante Monica tentang 'kejadian sembilan belas tahun lalu' Tanya pada beliau, siapa yang sebenarnya memiliki garis keturunan asli Suhadi di rumah itu. Tanya pada Mama-mu, Raisa... ?"
Mata Raisa membelalak sempurna. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri. "Maksudmu... kau bilang aku...?"
"Saya tidak bilang apa-apa," potong Najwa sambil kembali berdiri tegak dan merapikan tas selempangnya. "Saya hanya ingin Kakak tahu satu hal: Saya tidak butuh pengakuan kampus ini, Kak. Tapi saya tidak akan membiarkan almarhumah Ibu saya dihina oleh orang yang bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri."
Najwa berbalik, berjalan menembus kerumunan mahasiswa yang spontan memberinya jalan dengan raut wajah penuh hormat dan ketakutan.
Raisa ditinggalkan sendirian di sana. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mencoba meraih ponselnya untuk menelepon Monica, namun tangannya terlalu bergetar hingga ponsel itu jatuh ke lantai dan retak,persis seperti dunianya yang baru saja dihancurkan oleh beberapa baris kalimat dari gadis yang ia remehkan.
Alendra yang sejak tadi berdiri di balik pilar, keluar dengan wajah yang sulit diartikan. Ia menatap Najwa yang berjalan menjauh, lalu menatap Raisa yang tampak seperti raga tanpa nyawa.
Alendra bergumam pelan, hampir tak terdengar "Darah asli Suhadi... Apa maksud Najwa tadi?"
***
Setelah jam istirahat, mereka semua berkumpul di kantin yang terlihat seperti restauran yang sangat penuh. Semua mahasiswa di sibukkan dengan berbagai makanan yang tersedia di kantin, maupun bekal sendiri.
Suasana kantin yang tadinya dipenuhi bisikan-bisikan tertahan, mendadak hening total saat Sarah, yang memang dikenal sebagai gadis berkacamata tebal tapi ceplas-ceplos tanpa filter, meletakkan gelas jusnya dengan bunyi denting yang cukup keras.
Sarah menatap Najwa, lalu beralih menatap Alendra, Adriansyah, dan terakhir Raisa secara bergantian dengan mata menyipit, seolah sedang melakukan pemindaian visual yang sangat serius.
"Najwa," suara Sarah melengking jernih, sengaja diperkeras agar bisa didengar oleh beberapa orang di meja sekitar. "Kalau dilihat-lihat dari dekat, wajahmu mirip sekali dengan Kak Alendra dan Kak Adriansyah ya."
Alendra yang sedang meminum kopi hitamnya langsung tersedak kecil. Adriansyah menghentikan suapannya, sementara Raisa membeku dengan wajah yang mendadak pias.
"Struktur rahang kalian itu identik. Matanya juga, sama-sama punya sorot yang tajam tapi tenang," lanjut Sarah sambil menopang dagu, menatap kagum. "Kedua kakakmu sangat tampan, dan kamu, Najwa, kamu sangat cantik alami tanpa riasan sedikit pun. Benar-benar satu cetakan!" ucapnya terkekeh.membuat semuanya menghentikan aktivitasnya dan menunggu celetukan selanjutnya dari bibir Sarah.
Sarah lalu memutar arah pandangannya, menatap Raisa yang duduk di ujung meja dengan tatapan bingung yang sangat jujur.
"Tapi... kenapa wajah Raisa tidak mirip sama sekali dengan kalian bertiga?" celetuk Sarah dengan nada tinggi yang sangat polos namun mematikan. "Bentuk hidungnya beda, dagunya beda, bahkan aura wajahnya nggak ada kemiripan sedikit pun dengan keluarga Suhadi. Padahal katanya Raisa itu adik kandung Kak Alen, kan?" ucap Sarah dengan wajah yang terlihat sangat penasaran dan penuh tanda tanya.
DEG!
Raisa meremas sapu tangan di bawah meja hingga buku jarinya memutih. Wajahnya yang semula merah karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi. Ia merasa seolah-olah ditelanjangi di depan umum.
"SARAH, JAGA BICARAMU!" bentak Raisa, suaranya bergetar hebat karena panik. "Wajahku mirip Mama! Kau tidak tahu apa-apa soal genetik!" sungutnya dengan wajah merah padam.
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong