Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Siang itu udara panas, tetapi suasana di depan rumah justru terasa lebih panas lagi.
Begitu suara mobil berhenti, Andi langsung berdiri.
“Itu pasti Ibu,” ujarnya, lalu cepat-cepat keluar.
Dian yang sedang menata piring di dapur mendengar suara pintu mobil dibuka keras.
Tak lama, terdengar suara Bu Minah dari luar—tinggi dan menuntut seperti biasa:
“Mana istrimu, Ndi? Ini bantuin Ibu bawa barang-barang!”
Dian refleks menoleh.
Belum sempat ia beranjak, Andi ikut berteriak ke dalam rumah:
“Dian! Dian! Cepet sini, bantu Ibu!”
Nada Andi yang biasanya lembut kini terdengar keras.
Ada sesuatu yang membuat dada Dian menegang… bukan hanya dari panggilan itu, tetapi dari cara Andi berbicara—seolah emosi dan buru-buru.
Dian keluar dari dapur sambil menggendong Naya.
“Iya, Yah… aku datang.”
Begitu ia tiba di depan rumah, Bu Minah berdiri dengan kacamata hitam, wajah tanpa senyum, dan dua koper besar di sampingnya.
Begitu matanya melihat Dian, ia langsung berkata tanpa menunggu:
“Lama sekali kamu, Dian. Tahu Ibu bawa barang banyak, masih juga santai-santai di dalam rumah.”
Dian menunduk sedikit.
“Maaf, Bu… Dian tadi baru selesai…”
Belum selesai ia jelaskan, Bu Minah memotong cepat:
“Udahlah, jangan alasan. Angkat koper yang ini. Jangan sampai jatuh, isinya barang pecah belah.”
Andi hanya berdiri di samping ibu, menatap Dian sebentar… lalu berpaling tanpa membela.
Hati Dian terasa tercekat.
Namun ia tetap mengangguk, menguatkan gendongannya pada Naya, lalu mencoba mengangkat koper yang lebih ringan.
Di saat itulah Bu Minah meliriknya dari atas sampai bawah.
“Kamu baru bangun ya? Makanya jangan malas, kalau rumah mau rapi dan suami betah.”
Dian menahan napas.
Naya menggeliat di gendongannya, seolah ikut merasakan ketegangan itu.
Sementara Andi sudah lebih dulu masuk membawa koper besar.
Dian menyusul pelan, menahan rasa bingung, lelah… dan firasat buruk yang sejak semalam mengganggu hatinya semakin kuat.
Setelah semua koper dibereskan, Dian langsung menuju dapur.
Ia mulai menyiapkan makan siang—rendang ayam kesukaan Andi.
Tangannya bekerja cekatan, tapi hatinya terasa berat.
Naya duduk di kursi kecil, bermain sendok plastik.
Sesekali Dian menatap putrinya itu untuk menjaga semangatnya tetap utuh.
Menjelang pukul satu siang, makan siang sudah tersaji rapi di meja.
Dian memanggil:
“Bu… Bang… makan siang sudah siap.”
Andi dan Bu Minah keluar dari ruang tamu sambil terus berbicara.
Mereka duduk.
Dian ikut duduk di ujung meja.
Namun rasanya seperti tidak ada kursi untuknya.
Sepanjang makan, Bu Minah bercerita panjang lebar tentang Batam:
“Terus kemarin itu, Ndi, Ibu makan di resto baru. Bagus banget tempatnya. Ada live musik juga. Kamu pasti suka deh bawa yang itu ke sana.”
Dian yang sedang memotong kecil ayam rendang untuk Naya sontak berhenti.
Yang itu?
Batin Dian seketika panas dingin.
Andi tidak menegur, hanya menunduk sambil mengaduk nasi.
Bu Minah melanjutkan dengan tawa tipis,
“Kamu kan cocok banget ngobrol sama dia. Cantik, pintar, kerjaannya bagus.”
Dian masih pura-pura sibuk menyiapkan sendok kecil untuk Naya.
Ia ingin bertanya, ingin tahu… tapi tubuhnya terasa kaku.
Seolah ia hanya tamu di rumah.
Andi menanggapi ibunya dengan nada pelan,
“Iya, Bu… nanti kita lihat.”
Percakapan itu seperti aliran air yang membasahi semuanya—kecuali Dian.
Dia diam, memerhatikan dua orang yang ia sayangi… mengobrol tentang hal-hal yang membuatnya gelisah.
Namun seisi meja makan seolah lupa bahwa ada Dian duduk di sana.
Ia menunduk dalam-dalam, menyuapi Naya perlahan.
Bu Minah sempat melirik ke arah Dian, lalu berkata datar:
“Kamu gak makan, Dian? Atau lagi diet? Ibu lihat kamu makin tirus.”
Dian mengangkat wajah sedikit, memaksakan senyuman.
“Lagi nyuapin Naya dulu, Bu.”
“Iya sih… kerjaan kamu kan cuma itu tiap hari,” gumam Bu Minah—cukup keras untuk membuat hati Dian serasa ditekan.
Naya menatap ibunya, seolah tahu sesuatu yang tidak enak terjadi.
Dian mengelus rambut putrinya.
Di meja makan itu, hanya Naya yang membuatnya tetap kuat.
Setelah makan siang, Bu Minah dan Andi duduk santai di ruang tengah.
Sementara itu, Dian membereskan meja makan—mengangkat piring, gelas, dan sisa makanan. Namun langkahnya terhenti ketika ia tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.
“Gimana, Ndi? Semua urusanmu udah beres?” tanya Bu Minah.
“Sudah, Bu. Makanya aku bisa pulang. Dua hari lagi aku juga udah mulai kerja, jadi harus ke Batam,” jawab Andi santai.
Perkataan itu membuat jantung Dian serasa jatuh. Ia sama sekali belum pernah mendengar rencana itu sebelumnya. Bergegas ia menuju ruang tengah untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya.
Sebelum Dian sempat bertanya, Bu Minah sudah menyahut dengan nada tinggi,
“Sudahlah, Dian. Kamu nggak perlu ikut campur urusan begini. Yang penting tiap bulan kamu terima gaji Andi, kan?”
Dian menelan ludah, berusaha tetap tenang.
“Tapi, Bu… saya ini istrinya Andi. Saya harus tahu soal hal kayak gini.”
Bu Minah mendengus. “Yang paling benar itu kamu fokus ngurus rumah, jagain Naya, sama jualanmu yang… ga, seberapa itu.”
Andi ikut menimpali, seolah menyetujui ibunya tanpa ragu.
“Iya, Dian. Ibu bener. Kamu nurut aja.”
Ucapan itu menohoknya lebih dalam dari apa pun. Tanpa berkata lagi, Dian memilih berbalik dan pergi ke belakang dapur, menahan air mata yang hampir jatuh.
Perasaan kecewa menyelimuti Dian sepanjang sore. Ia benar-benar yakin Andi pulang karena rindu pada dirinya dan Naya—bukan karena sekadar singgah sebelum kembali bekerja. Hatinya terasa sesak, seperti ada ruang yang tiba-tiba kosong.
Malam harinya, setelah Naya tertidur pulas di kasurnya, rumah itu terasa sunyi. Dian sedang tiduran membelakangi Andi tiba-tiba ia merasakan Andi menghampiri dari belakang. Sentuhan suaminya membuat tubuh Dian refleks menegang.
Dalam hatinya, ia sebenarnya masih kesal… masih terluka oleh ucapan Andi dan perlakuan Bu Minah siang tadi. Tetapi ia juga tahu, bagaimana pun juga ia adalah istrinya. Ada bagian dari dirinya yang merasa harus menunaikan kewajiban itu, meski hati belum siap.
Dian menarik napas pelan, mencoba meredakan gejolak yang menumpuk di dadanya.
Namun Andi hanya memeluknya lebih erat, seolah tidak menyadari badai kecil yang sedang ia tahan sendiri.
Setelah Andi merasa puas dan tertidur pulas di sampingnya, Dian hanya bisa menatap langit-langit kamar. Hatinya penuh campuran lelah, kesal, dan kecewa yang sulit dipisahkan satu sama lain.
Ia bergeser pelan menjauh dari suaminya, merapikan selimut Naya di lantai, lalu duduk memeluk lutut.
Kenapa selalu aku yang harus mengerti… sementara dia bahkan tidak mau mendengar?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Dian merasa semakin sesak. Andi tadi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, seolah tidak ada kata-kata menyakitkan di siang hari, seolah Dian hanya pelengkap dalam hidupnya. Yang paling menusuk adalah kenyataan bahwa Andi bisa pulang tanpa memberi kabar jelas mengenai pekerjaannya—dan menganggap itu bukan sesuatu yang perlu ia tahu.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Dian merasakan jarak yang begitu nyata antara ia dan suaminya.