cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROYEK PESANAN 10.000 BOLA DARI FIFA
Bab 29 –
Jejak yang Mulai Terbuka
Pagi di Desa Grenjeng datang tanpa hiruk-pikuk seperti biasanya.
Bunyi palu pengrajin bola yang biasa bersahut-sahutan kini terdengar jarang. Beberapa rumah produksi kecil memilih tutup lebih awal. Isu tentang ular cobra penyembur menyebar cepat—lebih cepat dari berita resmi mana pun.
Di pos ronda, warga berkerumun.
“Semalam ada lagi,” bisik seorang bapak.
“Di dekat gudang kulit sintetis.”
“Bukan kebetulan,” sahut yang lain.
“Ini disengaja.”
Di antara kerumunan itu, Sandi, Nurdin, Amelia, Santi, dan Sinta berdiri memperhatikan. Wajah Amelia terlihat tegang sejak pagi.
“Kalau ini dibiarkan,” ucap Amelia lirih,
“desa bisa lumpuh total.”
Sandi mengangguk.
“Dan vendor kecil yang paling kena.”
Tak lama kemudian, Mang Dedi, pawang ular desa yang dikenal jujur, datang dengan wajah kusut.
“Ularnya dilepas malam,” katanya tanpa basa-basi.
“Bukan dari hutan. Bukan jalur liar.”
Sandi menoleh tajam.
“Bukti?”
Mang Dedi mengeluarkan karung kecil berisi kulit ular yang sudah mengelupas.
“Ini bekas kandang buatan,” katanya.
“Ular liar nggak pernah seperti ini.”
Nurdin bersiul pelan.
“Berarti ada pawang.”
Mang Dedi mengangguk.
“Dan cuma satu orang di sekitar sini yang punya keberanian dan jaringan—Mang Zondol.”
Nama itu membuat beberapa warga menunduk.
Sandi menatap Mang Dedi serius.
“Kalau kami bantu… bisa dilacak ke mana ular-ular itu dilepas?”
Mang Dedi menatap mata Sandi lama.
“Bisa. Tapi risikonya besar.”
Sandi tersenyum tipis.
“Kami sudah di tengah risiko sejak hari pertama.”
Sore itu, di RS Dumai, kondisi Mang Ujang mulai membaik. Dr. Farhan memanggil Sandi dan Nurdin ke ruangannya.
“Hasil lab keluar,” katanya sambil menyerahkan berkas.
“Ada jejak bahan kimia industri—biasa dipakai di pabrik finishing kulit sintetis.”
Sandi terdiam.
“Vendor bola?”
Dr. Farhan mengangguk.
“Skala besar. Bukan rumahan.”
Potongan puzzle itu akhirnya bertemu.
Nurdin mengepalkan tangan.
“Ini sistematis.”
“Dan terencana,” tambah Sandi.
Malam turun.
Di sebuah warung kopi pinggir desa, Pak Heru duduk gelisah. Ia berkali-kali mengecek ponselnya. Pesan singkat masuk:
Produksi vendor kecil turun 40%. Lanjutkan.
Pak Heru menelan ludah.
Di sudut warung, tanpa ia sadari, Sandi dan Nurdin duduk membelakangi—mendengar, memperhatikan.
“Sudah mulai,” bisik Nurdin.
“Belum selesai,” jawab Sandi pelan.
“Justru sekarang baru dimulai.”
Malam itu, Sandi menemui Dr. Farhan sekali lagi.
“Dok,” katanya tegas,
“kalau ini dibawa ke hukum… apa cukup kuat?”
Farhan menatapnya serius.
“Kalau ada saksi pawang… dan alur dana… ini bisa jadi kasus nasional.”
Sandi menghela napas panjang.
Ia teringat wajah warga desa.
Anak-anak muda yang main bola.
Para pengrajin yang menggantungkan hidup pada pesanan.
“Kami akan cari saksinya,” katanya mantap.
Di luar, angin malam berdesir.
Dan di sebuah rumah berpagar tinggi,
Tuan Nakata tersenyum puas membaca laporan produksi.
Ia tak sadar—
jejaknya mulai tercium.
Dan permainan ini,
perlahan berubah arah.
Teror di Pabrik Pinggir Hutan
Pagi itu, kabut masih menggantung di pinggir hutan lindung Desa Grenjeng ketika aktivitas pabrik bola milik Tuan Kim Jong Un mulai berjalan. Mesin press kulit sintetis berdengung, aroma lem dan karet memenuhi udara.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama.
Seorang karyawan berlari keluar gudang dengan wajah pucat pasi.
“ULAAAR…!!!”
Teriakan itu memecah suasana.
Dari balik tumpukan bahan baku, seekor ular sanca raksasa perlahan merayap keluar. Tubuhnya tebal, sisiknya mengilap kecokelatan, panjangnya hampir enam meter. Setiap gerakannya membuat tanah berdesis.
Karyawan panik.
Ada yang menjatuhkan alat kerja, ada yang berlari tak tentu arah, ada pula yang terpaku ketakutan.
“Matikan mesin! MATIKAN MESIN!” teriak mandor.
Ular itu mengangkat sebagian tubuhnya, melingkar di dekat tiang gudang, seolah menguasai area. Tidak menyerang—tapi cukup untuk membuat siapa pun tak berani mendekat.
Di ruang kantor kecil, Ibu Sari, istri Tuan Kim Jong Un yang merupakan warga lokal, menutup mulutnya dengan tangan gemetar.
“Mas… ini bukan kebetulan,” katanya lirih.
Tuan Kim Jong Un—berbeda dengan kesan dinginnya di dunia bisnis—kini tampak tegang. Keringat mengalir di pelipisnya.
“Ini teror,” ucapnya pelan tapi tajam.
“Sama seperti yang terjadi pada vendor kecil.”
Ia menatap keluar jendela, ke arah hutan lindung.
“Ular sanca sebesar itu… tidak mungkin masuk area pabrik tanpa diarahkan.”
Pabrik lumpuh seketika. Produksi dihentikan. Truk distribusi ditunda. Berita menyebar cepat ke seluruh desa.
Di pos kesehatan desa, kabar itu sampai ke telinga Sandi dan Nurdin yang sedang membantu Mang Dedi memeriksa laporan warga.
“Ular sanca enam meter?” Nurdin mengulang.
“Bukan cobra kali ini.”
Sandi mengangguk perlahan.
“Pesannya jelas.”
“Kalau vendor besar saja berani diganggu,” Amelia menimpali dengan wajah tegang,
“berarti konflik ini sudah naik level.”
Mang Dedi menghela napas berat.
“Ular sanca itu jinak secara alami. Kalau muncul di area ramai, artinya… dia dilepas dan diarahkan.”
“Pawangnya?” tanya Sandi.
Mang Dedi tak langsung menjawab.
“Masih orang yang sama.”
Nama Mang Zondol kembali menggantung di udara.
Sore harinya, Sandi, Nurdin, dan Mang Dedi menyusuri batas hutan lindung. Tanah lembab menunjukkan jejak jelas—bekas seretan tubuh besar.
“Baru,” gumam Mang Dedi.
“Kurang dari dua jam.”
Jejak itu berhenti di sebuah titik tersembunyi—bekas karung plastik robek, tali nilon, dan bau khas reptil.
Sandi mengepalkan tangan.
“Ini bukan lagi sekadar intimidasi,” katanya dingin.
“Ini upaya menjatuhkan semua pihak yang tidak mau tunduk.”
Nurdin menatap ke arah pabrik dari kejauhan.
“Kalau Tuan Kim disingkirkan… tinggal satu pemain besar.”
Sandi menarik napas panjang.
“Dan itu yang mereka mau.”
Malamnya, di rumahnya, Ibu Sari berbicara serius dengan suaminya.
“Aku orang desa sini,” katanya tegas.
“Kalau kita diam, besok yang kena bukan cuma pabrik… tapi warga.”
Tuan Kim Jong Un terdiam lama.
“Aku tahu,” akhirnya ia berkata.
“Dan mungkin… sudah waktunya aku berhenti netral.”
Ia mengambil ponsel, menatap nama kontak yang selama ini ia abaikan.
Hidetoshi Nakata
Di tempat lain, jauh dari desa,
Tuan Nakata membaca laporan terbaru—alisnya mengerut.
“Kenapa sanca dilepas sekarang?” gumamnya.
Ia belum tahu…
bahwa langkah itu justru akan membuat satu pihak besar
berbalik arah.
Dan bahwa badai sesungguhnya
baru saja dimulai.
Kontrak Emas dari Dunia
Berita itu datang seperti petir di siang bolong.
Pagi hari, Desa Grenjeng mendadak ramai oleh iring-iringan mobil hitam berpelat luar negeri. Aparat keamanan berjaga di beberapa titik. Warga berkerumun di pinggir jalan, berbisik tak percaya.
Delegasi FIFA.
Nama yang paling mengejutkan disebut-sebut dari mulut ke mulut:
Mr. Sepp Blatter.
Mantan tokoh penting FIFA itu datang bersama rombongan teknis dan pengamat produksi olahraga. Tujuannya satu—mengecek kualitas bola sepak buatan warga Desa Grenjeng, Sukabumi, yang kabarnya telah menembus standar internasional.
Di beberapa rumah produksi, mesin-mesin kembali dihidupkan. Para pengrajin yang sempat takut kini bekerja dengan campuran gugup dan harap. Sandi dan kawan-kawan ikut membantu koordinasi, memastikan jalur kunjungan aman.
Mr. Blatter—rambut memutih, langkah tenang—memegang satu bola hasil produksi lokal. Ia memantulkannya perlahan, menekan permukaannya, lalu menatap jahitan dengan mata tajam.
“Hand-stitched,” katanya dalam bahasa Inggris berat.
“Pressure balanced. Good control.”
Penerjemah desa nyaris terbata menyampaikan kalimat itu. Warga saling pandang—mata mereka berbinar.
Sore menjelang, rombongan FIFA bertolak ke Balai Desa Grenjeng. Malam itu, aula balai desa penuh sesak. Lampu-lampu terang menyinari wajah-wajah penuh harap.
Mr. Sepp Blatter berdiri di podium sederhana.
“FIFA,” katanya lantang,
“membutuhkan 10.000 bola sepak untuk rangkaian persiapan dan pertandingan Piala Dunia 2026.”
Aula mendadak hening—lalu riuh.
“Bola-bola yang saya lihat hari ini,” lanjutnya,
“memiliki kualitas internasional. Bahkan… beberapa melampaui vendor besar.”
Sorak tertahan terdengar. Beberapa warga menutup mulut, tak percaya.
“Tapi,” Blatter mengangkat jarinya,
“FIFA hanya akan memilih satu sistem produksi utama. Terorganisir. Transparan. Bebas konflik.”
Kalimat terakhir itu seperti pisau.
Di barisan depan, Tuan Nakata duduk dengan senyum tipis yang tegang. Di sisi lain, Tuan Kim Jong Un—bersama Ibu Sari—menatap lurus ke podium, rahangnya mengeras.
Vendor-vendor lokal kecil saling pandang. Ini kesempatan seumur hidup—atau akhir segalanya.
Usai acara, suasana berubah panas.
Di halaman balai desa, Nakata mendekati Blatter dengan percaya diri.
“Kami punya kapasitas ekspor besar,” katanya halus.
“Produksi massal. Jaringan internasional.”
Tak jauh, Kim Jong Un berbicara dengan tim teknis FIFA.
“Kami berbasis warga lokal,” katanya tegas.
“Tanpa intimidasi. Tanpa teror.”
Beberapa pengrajin kecil memberanikan diri maju, didampingi kepala desa yang tampak gelisah.
“Kalau diberi kesempatan,” ucap seorang pengrajin,
“kami siap bergabung dalam koperasi desa. Produksi kolektif.”
Sandi berdiri di belakang mereka, diam—namun matanya awas. Ia melihat cara Nakata menatap Kim Jong Un. Dingin. Menghitung.
Malam makin larut.
Di sebuah sudut gelap, Pak Heru berbicara pelan di telepon.
“Kontrak hampir di tangan,” bisiknya.
“Kalau vendor kecil lolos… kita gagal.”
Di kejauhan, Mang Zondol menatap hutan lindung—wajahnya ragu untuk pertama kalinya.
Sementara itu, Mr. Sepp Blatter menutup map dokumennya di kamar penginapan desa.
“Besok,” katanya pada asistennya,
“kita lihat… siapa yang bermain jujur.”
Dan di Desa Grenjeng,
pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai—
bukan lagi soal ular,
melainkan soal uang, kuasa, dan masa depan satu desa.
Tiga Kekuatan di Satu Arena
Keesokan paginya, helikopter kecil yang membawa Mr. Sepp Blatter dan rombongan FIFA lepas landas dari lapangan kecil di pinggir desa. Tujuannya jelas: Jakarta.
Agenda berikutnya bukan sembarang pertemuan.
Ia dijadwalkan bertemu Ketua PSSI, Erick Thohir.
Di ruang tunggu bandara, Blatter membuka catatan lapangannya. Foto-foto bola jahit tangan warga Grenjeng, laporan kualitas tekanan udara, hingga catatan singkat tentang “ketegangan non-teknis” yang ia temukan di lapangan.
“Football,” gumamnya pelan,
“is never just football.”
Sementara itu, Desa Grenjeng bergerak cepat.
Di Balai Desa, suara palu sidang kecil terdengar. Para pengrajin bola—yang selama ini berjalan sendiri-sendiri—kini duduk melingkar dalam satu meja panjang.
“Kita tidak bisa lagi jalan masing-masing,” ucap Kepala Desa tegas.
“Kalau mau bersaing, kita harus bersatu.”
Akhirnya disepakati satu wadah resmi:
KOPERASI BOLA SEPAK GRENJENG MANDIRI
Struktur dibentuk. Standar kualitas diseragamkan. Jalur distribusi ditata ulang. Dr. Farhan dan tim medis desa bahkan diminta membantu SOP keselamatan kerja—tak ingin ada lagi teror yang memanfaatkan ketakutan.
Sandi dan Nurdin ikut membantu pendataan.
“Kalau koperasi ini lolos,” kata Nurdin pelan,
“sejarah desa bakal berubah.”
Sandi mengangguk.
“Dan itu sebabnya… lawannya berat.”
Di sisi lain, dua raksasa bersiap.
PT. Bola Sepak Japanese International milik Tuan Nakata menggelar rapat darurat. Proyeksi produksi ditingkatkan, proposal rapi disusun, jaringan lobi diaktifkan.
“Koperasi desa itu tidak punya pengalaman ekspor besar,” kata salah satu direkturnya.
“Kita tekan di kapasitas dan konsistensi.”
Nakata menyahut dingin,
“Tekan di mana mereka lemah. Tapi hati-hati—FIFA sedang menyorot transparansi.”
Sementara itu, PT. Korean Industry Sports milik Tuan Kim Jong Un mengambil jalur berbeda. Bersama Ibu Sari, ia memilih menonjolkan sisi etika.
“Kami produksi bersama warga,” katanya pada timnya.
“Tanpa intimidasi. Tanpa teror. Itu nilai jual kita.”
Ibu Sari menatapnya serius.
“Kalau kita bersih, kita tak perlu takut.”
Kim Jong Un mengangguk.
“Dan kalau ada yang kotor… biar waktu yang membongkar.”
Di Jakarta, pertemuan Blatter dan Erick Thohir berlangsung tertutup. Namun bocoran kecil beredar di kalangan media.
“Indonesia punya potensi produsen bola dunia,” ujar Blatter dalam sesi singkat.
“Yang dibutuhkan adalah sistem yang adil.”
Erick Thohir menimpali tegas,
“PSSI mendukung produksi nasional—selama memenuhi standar dan bebas praktik kotor.”
Kata-kata itu sampai ke Grenjeng seperti angin segar—dan juga peringatan.
Malam itu, Sandi berdiri di lapangan desa yang mulai sepi. Anak-anak muda masih bermain bola dengan lampu seadanya. Ia memandangi bola buatan desa itu—jahitannya rapi, pantulannya jujur.
“Bola ini,” gumamnya,
“dibuat dari tangan yang bekerja, bukan dari ketakutan.”
Namun di kejauhan, di rumah besar berpagar tinggi, Nakata menatap laporan terbaru dengan rahang mengeras.
Di tempat lain, Kim Jong Un memandangi koperasi desa dengan mata penuh perhitungan.
Kini ada tiga kekuatan di satu arena:
Koperasi Desa Grenjeng – persatuan rakyat
PT. Japanese International – modal dan lobi
PT. Korean Industry – etika dan stabilitas
Dan keputusan FIFA belum turun.
Sandi tahu satu hal pasti—
pertarungan ini tak lagi menggunakan ular.
Ia akan menggunakan strategi, pengkhianatan…
atau keberanian untuk tetap jujur.
Dan siapa pun yang terpeleset,
akan jatuh di panggung dunia.
Malam menyelimuti Desa Grenjeng dengan tenang, namun di rumah besar bergaya modern milik Tuan Kim Jong Un, lampu ruang rapat masih menyala terang. Di dinding, layar proyektor menampilkan grafik produksi, peta distribusi, dan standar teknis FIFA.
Tuan Kim berdiri di ujung meja. Wajahnya serius—tak ada jejak kepanikan seperti hari-hari sebelumnya.
“Kita tidak akan menang dengan kekuatan otot atau teror,” katanya pelan tapi tegas.
“Kita menang dengan kepercayaan.”
Di sebelahnya, Ibu Sari duduk dengan berkas tebal bertuliskan Sustainability & Community Report.
“FIFA sekarang,” lanjut Kim,
“mencari lebih dari sekadar bola yang bagus. Mereka mencari cerita.”
Ia menekan tombol remote.
Layar menampilkan foto-foto pekerja pabrik—warga desa, ibu-ibu penjahit, anak muda yang tersenyum sambil bekerja.
“Ini kekuatan kita,” katanya.
“Produksi yang manusiawi. Upah jelas. Jam kerja sehat. Tanpa intimidasi.”
Seorang manajer angkat bicara.
“Bagaimana dengan kapasitas? 10.000 bola bukan jumlah kecil.”
Kim mengangguk.
“Kita bagi produksi. Inti di pabrik kita. Sisanya… kemitraan.”
Ia menoleh ke Ibu Sari.
“Koperasi desa,” ucap Ibu Sari mantap.
“Kita rangkul, bukan kita lawan.”
Ruangan mendadak hening.
“Kalau koperasi kuat,” lanjut Kim,
“FIFA melihat stabilitas. Bukan konflik.”
Kim Jong Un melangkah ke papan tulis, menuliskan tiga kata besar:
QUALITY – ETHICS – TRANSPARENCY
“Kita buka semua audit,” katanya.
“Biarkan FIFA masuk kapan saja. Biarkan mereka lihat alur bahan baku, upah, dan keamanan kerja.”
Seorang staf terlihat ragu.
“Tuan Nakata punya lobi internasional yang kuat.”
Kim tersenyum tipis.
“Dan itu kelemahannya.”
Ia menatap satu per satu timnya.
“Lobi tanpa integritas hanya menang sebentar. FIFA sedang bersih-bersih.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan:
“Dan satu hal lagi… kita tidak sentuh ular. Tidak sentuh teror. Kalau ada yang terbongkar—bukan kita.”
Ibu Sari mengangguk setuju.
“Warga desa akan melihat siapa yang benar.”
Keesokan paginya, Kim Jong Un mengirim surat resmi ke Koperasi Bola Sepak Grenjeng Mandiri.
Isinya singkat tapi tegas:
PT. Korean Industry Sports membuka kemitraan produksi dan transfer teknologi, tanpa pengambilalihan, tanpa tekanan. Kita tumbuh bersama.
Sandi membaca surat itu di balai desa. Ia menatap Nurdin dan Amelia.
“Ini langkah cerdas,” kata Nurdin.
“Dia tidak memusuhi desa.”
Amelia menambahkan,
“Dan secara moral… ini sulit ditolak.”
Di sisi lain desa, Nakata menerima laporan tentang langkah Kim. Wajahnya mengeras.
“Dia mau bermain bersih?” gumamnya dingin.
“Baik. Kita lihat siapa yang bertahan lebih lama.”
Ia menutup berkas dengan keras.
Sore itu, di lapangan desa, anak-anak kembali bermain bola. Salah satu bola bertuliskan kecil:
Made in Grenjeng.
Sandi memungut bola itu, memutarnya di tangan.
Ia tahu—
pertarungan ini tidak akan berakhir di meja rapat saja.
Akan ada godaan,
akan ada pengkhianatan,
dan mungkin…
satu upaya terakhir untuk menjatuhkan semua yang berdiri jujur.
Dan saat itu terjadi,
ia harus siap—
bukan dengan tenaga dalam,
tapi dengan keberanian memilih pihak yang benar.