NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sejak pagi buta, Dian sudah terjaga untuk merapikan rumah. Saat Andi bangun, bukannya menyapa atau membantu, laki-laki itu langsung sibuk dengan ponselnya—bahkan Naya pun tak dipedulikan.

Tiba-tiba terdengar suara Bu Minah dari arah dapur.

“Dian! Kamu ini ngapain saja, hah? Air di dapur saja nggak dimatikan! Kalau yang bayar PAM kamu, silakan boros sesukanya. Ini tuh anakku yang bayar!” semprot Bu Minah dengan nada tinggi.

Andi yang mendengar hanya menarik napas panjang, tanpa berkata apa-apa.

Dian bergegas menuju dapur, jantungnya berdetak gugup. Namun bukannya mereda, omelan sang mertua semakin menjadi.

“Kamu ini, ya… menantu yang kerjaannya cuma ngabisin uang anakku!”

“Maaf, Bu… tadi Dian ke depan sebentar,” ucap Dian pelan.

Bu Minah tak menanggapi. Ia meninggalkan Dian yang sedang berdiri di area cuci baju dan melangkah ke meja makan. Dengan kasar ia membuka tudung saji, memeriksa isi hidangan sambil terus mengomel.

“Ya ampun… menantu macam apa ini? Masak nggak pernah benar! Lauknya cuma satu macam. Dulu waktu anak-anakku masih di rumah, tiap hari ada dua sampai tiga macam lauk!”

Dian yang mendengar hanya terdiam. Ia menahan diri, malas beradu kata—apalagi Andi sedang berada di rumah. Ia tak ingin menambah masalah.

Setelah selesai mengomel, Bu Minah melirik ke arah ruang tengah.

“Ndi, ayo Nak… makan dulu,” panggilnya dengan nada manja yang sangat berbeda dari saat berbicara pada Dian.

Tiba-tiba Naya berlari ke dapur sambil merengek. Dian segera mengangkat putrinya.

“Haus ya? Sebentar ya, Ibu buatkan susu dulu,” ujarnya lembut.

Setelah menyiapkan susu, Dian menggendong Naya kembali ke kamar agar anak itu bisa tenang.

Saat Dian masuk kamar, Bu Minah melirik ke arah Andi di ruang makan.

“Ndi, pokoknya kamu harus bisa deketin Tasya. Dia itu anak orang kaya, bapaknya pengusaha besar di Batam,” ucapnya menekankan.

“Iya, Bu. Tenang aja. Tunggu aku di Batam nanti,” sahut Andi santai. “Lagipula aku juga mulai bosan lihat Dian yang makin nggak terurus. Aduh, pusing aku liat dia, Bu.”

Bu Minah mengangguk setuju. “Ndi, kalau bisa gaji kamu lewat Ibu saja. Biar Ibu yang atur kebutuhan rumah. Dian itu boros banget.”

Andi langsung mengiyakan tanpa ragu. “Iya, Bu. Tenang aja, semua gaji Andi kasih ke Ibu.”

Setelah selesai makan siang, Andi masuk ke kamar. Ia hanya melirik sekilas ke arah Dian dan Naya yang tertidur di bawah, lalu naik ke kasur atas sambil kembali sibuk dengan ponselnya.

Ketika Naya sudah benar-benar pulas, Dian keluar untuk makan siang. Namun begitu sampai di dapur, ia langsung terdiam.

Meja makan berantakan — tulang berserakan di mana-mana, piring kotor menumpuk, dan air tumpah di lantai.

Keinginannya untuk makan langsung hilang. Jujur saja, sejak tinggal bersama mertuanya, Dian jadi benar-benar tahu seperti apa kebiasaan rumah itu… dan setiap hari, seleranya semakin hilang.

Setelah membersihkan dapur dan meja makan, barulah Dian bisa duduk untuk makan.

Lauk yang tersisa hanya sayur rebus sederhana, namun ia menatapnya sebentar sebelum mulai menyuap, menelan rasa lelah dan kecewa yang masih menumpuk di hatinya.

Setelah selesai makan, Dian mencuci semua piring sisa makan mereka.

Setelah itu, ia masuk ke kamar dan duduk di kasur Naya, melihat putrinya yang masih tertidur di sampingnya.

Baru saja membuka ponsel, Dian melihat ada notifikasi pesan dari pelanggan:

"Mbak Di, cireng ada yang ready nggak?"

Dian membalas, mengetik cepat:

"Yang ready kemasan 250 gr, tinggal 3 pack aja."

Ia meletakkan ponsel, menenangkan diri sejenak. Tak lama kemudian, ada balasan masuk:

"Baik, aku ambil 2 pack, mbak. Bentar ya, aku transfer seperti biasa. Nanti pake kurir aja."

Dian membaca pesan itu, senyumnya tipis namun hangat.

“Alhamdulillah… rezeki Naya ini,” gumamnya pelan sambil mengelus rambut putrinya.

Sore hari, setelah memandikan Naya, Dian segera menelpon kurir untuk menjemput pesanan pelanggan.

Sambil menunggu, ia menyiapkan cireng dengan cermat—mengemasnya satu per satu sesuai pesanan, memastikan setiap pack rapi dan lengkap.

Naya yang sudah bersih dan wangi bermain di dekatnya, sesekali mengintip ke meja sambil tersenyum.

Melihat putrinya bahagia membuat Dian sedikit lega, meski pikirannya tetap sibuk mengatur pesanan agar tidak ada yang tertinggal.

Lima belas menit berlalu, akhirnya kurir datang menjemput pesanan. Dian menyerahkan semua dengan rapi, lalu menuntun Naya duduk di ruang tengah sambil menonton TV agar tetap tenang.

Ia menoleh ke arah ruang tamu dan melihat ibu serta suaminya sudah berpakaian rapi. Rasa penasaran muncul di hatinya.

“Bu, mau kemana ini?” tanya Dian lembut.

Bu Minah menatapnya dengan nada ketus.

“Mau makan di luar.”

Dian mencoba menahan rasa kecewa.

“Kalau begitu, kami siap-siap dulu ya, Bu?”

Tapi Bu Minah langsung memotong dengan nada tinggi, hampir menyindir:

“Eh, eh… mau kemana kamu, Dian? Emang Ibu ada bilang ajak kamu? Kamu di rumah saja!”

Dian merasakan dada sesak.

Ia menelan rasa sedih dan berkata pelan, “Ya sudah… kalau begitu, Dian di bungkuskan saja ya, Bu, Bang,” ujarnya sambil menatap Bu Minah dan Andi.

Andi terlihat kesal.

“Kamu makan saja yang ada di rumah. Toh kemarin aku sudah kasih gaji aku sama kamu,” katanya singkat, lalu meninggalkan Dian yang masih terdiam, mematung di ruang tengah.

Dian duduk diam di samping Naya, yang asyik menonton kartun. Ia menatap putrinya sejenak, mencoba menenangkan hati yang masih bergejolak.

“Ya Allah… ada apa dengan suamiku? Kenapa tiba-tiba berubah seperti ini?” gumamnya lirih, hatinya penuh kebingungan dan rasa sakit yang sulit diungkapkan.

Naya tertawa kecil melihat karakter kartun di layar, tak menyadari badai emosi yang sedang dirasakan ibunya. Dian menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, sambil tetap melihat putrinya dan menahan air mata yang hampir jatuh.

Pukul sembilan malam, suara motor Andi terdengar di depan rumah. Dian tetap diam, tak berniat membuka pintu. Hatinya masih sakit memikirkan perlakuan Andi tadi sore.

Ia merebahkan diri di samping Naya, menatap putrinya yang sudah tertidur pulas. Andi masuk ke kamar tanpa menoleh sedikit pun ke arah istri dan anaknya, seakan tidak ada apa-apa terjadi.

Dian menahan napas panjang, mencoba menenangkan diri, sementara rasa kecewa dan lelah memenuhi hatinya. Suasana kamar terasa sunyi, hanya suara napas Naya yang mengiringi kesunyian itu.

Baru beberapa hari Andi berada di rumah, hari ini ia akan ke Batam. Kali ini, Andi memilih naik kapal Roro karena ingin membawa motornya.

Entah mengapa, hati Dian terasa berat—bukan seperti biasanya. Namun, ia menenangkan diri dan berusaha tetap tegar. Ia tahu, Andi bekerja bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga demi Dian dan Naya.

Pukul tujuh pagi, Andi berangkat lebih awal agar perjalanan bisa lebih santai. Dian melambaikan tangan dari pintu, menahan rasa rindu yang sudah muncul meski perpisahan baru sebentar.

Dian menutup pintu dengan pelan, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia kemudian mulai mencuci baju, menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk.

Setelah itu, ia menyiapkan sarapan sederhana untuk Mertua dan .Naya. Pagi ini, ia juga berencana pergi ke pasar untuk belanja mingguan, memastikan kebutuhan rumah dan lauk-pauk untuk beberapa hari ke depan tercukupi.

Meski hati masih terasa berat karena Andi pergi, Dian berusaha fokus pada rutinitasnya, menjaga Naya, dan memastikan semuanya tetap berjalan lancar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!