NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden terasa menyengat, seolah mengejek kehancuran yang dirasakan Liana.

Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, rasa nyeri yang hebat menjalar dari betis hingga ke pergelangan kaki.

Liana menyibakkan selimut dan terkesiap melihat kakinya yang kini dipenuhi lebam kebiruan dengan bekas garis-garis merah yang membengkak.

Ingatan semalam menghantamnya seperti ombak.

Ia ingat dinginnya lantai gudang, bau pengap, dan yang paling menyakitkan: bagaimana tangan yang dulu selalu mengelus rambutnya dengan kasih sayang, kini justru menyumpal mulutnya dengan sapu tangan agar jeritan kesakitannya tidak terdengar.

"Paman jahat. Paman benar-benar jahat," gumam Liana dengan suara yang pecah.

Air mata yang ia pikir sudah habis, kini kembali mengalir membasahi pipinya yang pucat.

Dengan sisa tenaga dan rasa sakit yang menusuk, Liana mencoba bangkit.

Ia menyeret langkahnya menuju pintu, berniat mencari air minum karena tenggorokannya terasa sangat kering. Namun, tepat saat tangannya menyentuh kenop pintu, ia mendengar suara percakapan dari arah ruang keluarga yang berada tepat di bawah balkon kamarnya.

"Mas, kita harus tegas. Liana sudah keterlaluan semalam, tapi tujuan kita tetap tidak boleh berubah," ucap Genata.

Suaranya terdengar begitu tenang, sangat kontras dengan sosok lembut yang selama ini ia tampilkan.

Liana mematung, ia menempelkan telinganya di celah pintu yang sedikit terbuka.

"Lekaslah lakukan malam pertama dengan Liana, Mas. Kita butuh keturunan secepatnya. Setelah dia hamil dan memberikan anak untuk kita, kamu bisa menceraikannya. Kita akan membesarkan anak itu bersama, dan setelah itu kita bisa membuang Liana sejauh mungkin dari hidup kita." ucap Genata.

Detak jantung Liana seakan berhenti. Ia mendengar suara helaan napas berat Abi, disusul suara gesekan kain yang menandakan pria itu sedang memeluk Genata.

"Maafkan aku harus melakukan ini padamu, Gen. Bersabarlah sebentar lagi," jawab Abi lirih.

Liana segera menutup pintu kamar dan menguncinya dengan tangan gemetar hebat.

Ia ambruk di balik pintu, dadanya sesak seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

Ia tidak menyangka sama sekali jika Genata seperti itu.

Ia pikir Genata adalah korban yang sama sepertinya, seorang wanita yang terluka karena harus berbagi. Tapi ternyata, di balik wajah malaikat dan tutur kata lembutnya, Genata adalah orang yang merancang "pembuangan" dirinya.

"Jadi aku benar-benar hanya sebuah mesin?" bisik Liana dengan tawa getir yang terdengar mengerikan di kesunyian kamar.

"Hanya sebuah rahim yang akan dibuang setelah memberikan apa yang mereka mau?"

Rasa benci yang selama ini tertuju pada Abi, kini merambat dan membakar persepsinya tentang Genata.

Liana menatap kakinya yang lebam, lalu menatap pintu kamarnya.

Suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekati kamar.

Liana segera menghapus air matanya dengan kasar, lalu dengan cepat merangkak naik ke atas tempat tidur.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengatur napas agar terdengar teratur, seolah-olah ia masih tenggelam dalam tidur yang lelap akibat sisa pengaruh alkohol dan kelelahan luar biasa.

Ceklek!

Pintu terbuka pelana dan Liana bisa merasakan kehadiran seseorang di dalam kamar.

Aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali kini memenuhi indra penciumannya.

Aroma yang dulu memberinya rasa aman, namun kini hanya memicu rasa mual dan benci di perutnya.

Abi melangkah mendekat ke sisi ranjang. Ia berdiri mematung di sana, menatap wajah istrinya yang tampak begitu rapuh namun penuh gurat penderitaan.

Matanya beralih ke arah kaki Liana yang menyembul dari balik selimut, lebam-lebam itu tampak semakin jelas di bawah cahaya pagi.

"Liana..." bisik Abi lirih. Suaranya bergetar, sarat dengan penyesalan yang mendalam.

Abi duduk di tepi ranjang dengan gerakan yang sangat halus, takut membangunkan gadis itu.

Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya jemarinya menyentuh rambut Liana dengan sangat lembut. Namun, di balik mata yang terpejam, Liana merasakan sentuhan itu seperti sengatan listrik yang menjijikkan.

Setiap belaian Abi kini terasa seperti ancaman, mengingatkannya pada rencana licik yang baru saja ia dengar di bawah sana.

'Jadi ini caramu merayuku, Paman? Agar aku luluh dan bersedia memberikan anak untukmu dan Mbak Genata?' batin Liana berteriak penuh amarah.

Abi kemudian mengambil sebuah botol salep yang ia bawa.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mulai mengoleskan obat itu ke luka-luka di kaki Liana.

Sentuhan dingin salep itu membuat otot kaki Liana sedikit menegang secara refleks, namun ia tetap bertahan dalam kepura-puraannya.

"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku sudah menyakitimu," gumam Abi lagi, kali ini ia menunduk dan mencium kening Liana cukup lama.

Liana tetap bergeming, namun di dalam hatinya, ia sedang membangun dinding yang jauh lebih tinggi dan kokoh.

Jika mereka menganggapnya sebagai alat, maka ia akan menjadi alat yang paling mematikan.

Ia tidak akan lagi menangis dengan lemah dan mulai detik ini, setiap air mata yang jatuh akan ia jadikan racun untuk menghancurkan rumah tangga sandiwara ini.

Setelah merasa cukup, Abi berdiri dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Liana hingga ke bahu.

"Istirahatlah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi," ucapnya sebelum berbalik dan keluar dari kamar.

Begitu suara pintu tertutup dan kunci diputar, Liana membuka matanya.

Sorot matanya kini tajam dan dingin, sekeras es di kutub.

Ia segera mengusap kening bekas ciuman Abi dengan punggung tangannya, seolah ingin menghapus jejak kotor yang tertinggal di sana.

"Keturunan? Kalian ingin keturunan dariku?" Liana tertawa tanpa suara, tawanya terdengar sangat kering dan hampa.

"Kalian akan mendapatkan apa yang kalian mau, tapi jangan harap kalian bisa membuangku begitu saja setelah ini."

Perut Liana yang kosong sejak kemarin mulai terasa melilit, menuntut untuk diisi.

Dengan susah payah, ia menyeret langkahnya menuju pintu kamar.

Rasa nyeri di kakinya masih terasa berdenyut, namun ia memaksakan diri untuk tetap tegak.

Rencananya sudah bulat, ia harus masuk ke dalam peran yang mereka inginkan jika ia ingin memenangkan permainan ini.

Baru saja Liana membuka pintu dan melangkah keluar menuju selasar lantai atas, sosok Abi sudah berdiri di sana.

Pria itu tampak baru saja hendak mengecek kondisinya lagi.

Melihat Liana yang berjalan tertatih, wajah Abi seketika berubah cemas.

Tanpa aba-aba dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Abi langsung menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Liana, membopong tubuh istrinya itu dengan mantap.

"Kenapa tidak memanggilku? Kamu tidak seharusnya banyak jalan dulu, Liana," ucap Abi dengan nada suara yang rendah namun penuh kekhawatiran.

Liana tidak memberontak. Ia justru melakukan hal yang tidak terduga dengan melingkarkan kedua lengannya ke leher Abi, menyandarkan kepalanya di bahu bidang pria itu.

Gerakan itu membuat tubuh Abi sempat menegang sejenak karena terkejut, namun kemudian ia mengeratkan dekapannya.

"Aku lapar, Paman," bisik Liana lirih, menyembunyikan sorot mata dinginnya di balik ceruk leher Abi.

Abi membawa Liana turun ke ruang makan, tempat Genata sudah menunggu dengan berbagai hidangan yang tertata rapi.

Genata sempat terpaku melihat kemesraan yang tiba-tiba itu, namun ia segera memasang senyum terbaiknya.

Setelah mendudukkan Liana di kursi makan dengan sangat hati-hati, Abi mengambil posisi di sampingnya.

Keheningan sempat menyelimuti meja makan sebelum akhirnya Abi meraih tangan Liana, menggenggamnya erat di atas meja.

"Liana, soal kejadian semalam di gudang," suara Abi bergetar, ia menatap mata Liana dengan penuh penyesalan yang jujur.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf, aku kehilangan kendali karena sangat mengkhawatirkanmu. Aku berjanji, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi."

Genata yang duduk di hadapan mereka hanya terdiam, memperhatikan suaminya yang begitu memelas di depan Liana.

Ada secuil rasa lega karena Liana tampak melunak, namun juga ada rasa sesak yang mulai tumbuh melihat perhatian Abi yang kini terbagi sepenuhnya.

Liana menatap Abi sejenak, lalu beralih menatap Genata dengan tatapan yang seolah-olah penuh kepatuhan.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan, memberikan sebuah senyum tipis yang tampak tulus di mata mereka.

"Aku mengerti, Paman. Aku juga minta maaf sudah membuat kalian malu," jawab Liana lembut.

Di balik senyum itu, Liana merasa jijik pada dirinya sendiri. Namun, ia tahu ini adalah langkah pertama.

Ia akan menjadi "istri penurut" yang mereka inginkan, ia akan memberikan "anak" yang mereka dambakan, tapi ia juga akan memastikan bahwa saat waktunya tiba, dialah yang akan tertawa paling akhir ketika rencana rahasia mereka hancur berkeping-keping.

"Makanlah yang banyak, Sayang. Mbak sudah masakkan sup ayam kesukaanmu," ucap Genata, mencoba mencairkan suasana.

"Terima kasih, Mbak Gen."

Satu suapan masuk ke mulut Liana dan ia langsung memuntahkannya di hadapan mereka berdua.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!