"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
"Kamu nggak harus mikir sejauh itu. Menikah kontrak denganku, artinya semua tentangmu akan aman padaku." ucap Radit, menenangkan.
Rania menggeleng, lalu menyambar tasnya. "Aku nggak yakin bisa mainkan peran ini dengan baik. Untuk itu, aku minta waktu, dan tolong biarkan aku pulang saat ini juga"
Radit frustasi. Dia tidak mudah jatuh hati, terlebih pada orang lain. Rania adalah satu satu dari banyaknya perempuan yang berhasil menarik hatinya.
"Rania..."
Rania menoleh cepat, "Apa?"
"Baiklah. Aku akan kasih waktu seminggu. Tolong pikirkan baik-baik."
"Seminggu?" Kata Rania, kaget.
"Apakah terlalu lama?"
"Kamu gila. Seminggu terlalu sebentar. Aku, mungkin butuh waktu satu bulan, bahkan lebih." katanya, masih bernegosiasi.
Radit mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Rania.
"Dua minggu. Aku kasih kamu waktu dua minggu! Tidak ada tawar menawar lagi. Pikirkan, dan putuskan dalam waktu yang sudah aku tentukan itu!"
"Radit!"
"Atau... Mau aku kurangi?"
Rania mendengus kesal, lalu memutar tubuhnya dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
Radit menatap punggungnya beberapa detik. Lalu ia ikut beranjak, tapi mengambil arah berbeda.
Saat Rania menunggu lift yang bergerak lambat, suara langkah berat terdengar dari arah lorong samping.
“Jangan pulang sendiri,” katanya singkat.
Rania menatapnya datar. “Kamu pikir aku nggak bisa?”
Radit tidak menjawab. Ia hanya melangkah lebih dulu ke depan. Memberinya tatapan tak biasa.
Begitu sampai di halaman, Radit memiringkan kepalanya, menyentuh saku celananya dengan santai. “Ingat dua minggu itu, Rania. Waktu terus berjalan. Dan aku nggak sabar lihat keputusanmu.”
Rania mendecak pelan, lalu berjalan menuju luar. Tapi, seorang yang tak asing sudah menunggunya di halaman.
"Antarkan dia, sampai tujuan." perintah Radit, pada pria yang menunggu di depan sana.
"Baik, Pak." ucap pria itu, seraya membukakan pintu mobil untuk Rania.
"Pak Radit, apa ini?"
"Menurutmu?"
"Jangan bilang..."
"Kalau kamu pikir sopirku akan mengantarmu pulang, iya kamu benar."
Rania mundur setengah langkah, menatap pintu mobil yang terbuka. “Aku bilang nggak perlu, Radit. Aku bisa pulang sendiri.”
Radit mendekat perlahan, posturnya tinggi menutupi cahaya lampu halaman. “Dan aku bilang… harus, ya harus!”
“Radit, jangan mulai—”
Tanpa memberi celah, tangannya menyentuh lengan Rania. Tekanan itu tidak keras, tapi cukup untuk membuatnya mundur satu langkah lagi—tepat ke arah kursi penumpang.
“Masuk,” ucapnya, tenang namun tegas.
“Radit, aku serius, aku nggak mau—”
“Kamu bisa marah, kamu bisa ngomel sepanjang jalan, tapi kamu tetap duduk di kursi itu. Anggap ini bagian dari kontrak… perlindungan penuh dariku.”
Rania menatapnya lama, bibirnya setengah terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
Radit memiringkan kepalanya sedikit, senyumnya tipis tapi tatapannya menusuk. “Jangan buat aku mengulang perintah, Ran.”
Akhirnya, dengan helaan napas panjang, Rania melangkah masuk ke dalam mobil. Pintu pun tertutup dengan bunyi klik yang terdengar seperti sebuah keputusan tak terelakkan.
Radit berjalan menjauhi mobil. Saat mesin menyala, ia melirik sekilas ke arah Rania yang bersandar sambil menyilangkan tangan di dada.
“Kamu nggak harus suka caraku, tapi kamu akan aman selama di dekatku,” ujarnya.
Mobil pun melaju meninggalkan halaman hotel, membawa Rania ke arah yang entah akan jadi awal atau akhir dari sesuatu.
–––
Selama perjalanan, Rania bersandar, menatap ke luar jendela tanpa minat.
“Nyaman, Bu?” tanya sopir di kursi depan, suaranya tenang tapi mantap.
Rania menoleh sekilas, “Biasa aja. Saya nggak biasa diantar begini.”
Pria itu tersenyum tipis di kaca spion. “Pak Radit memang begitu. Kalau beliau sudah memutuskan sesuatu, susah sekali mengubahnya.”
“Ya, saya juga tahu. Keras kepala,” gumam Rania.
“Banyak yang bilang begitu, tapi saya lihat dari sisi lain,” ujar pria itu lagi. “Beliau orang yang tegak pendirian. Dan… selalu bertanggung jawab pada apa yang sudah beliau ambil alih.”
“Kedengarannya seperti kamu sangat membela dia.”
“Bukan membela, Bu. Saya sudah bekerja dengan beliau hampir lima tahun lamanya. Kalau ada janji, dia tepati. Kalau ada masalah, dia hadapi. Dia bukan tipe orang yang lari dari tanggung jawab.”
Rania diam beberapa detik, menatap wajah pria itu lewat pantulan kaca. Dilihat dari wajah pria itu, usianya mungkin tak jauh dari Radit, mungkin terpaut hanya beberapa tahun.
“Nama kamu siapa?” tanya Rania akhirnya.
“Dimas, Bu.”
Rania menatap kembali ke luar jendela. “Baiklah, Dimas… semoga kamu benar soal itu. Karena saya nggak mau terjebak sama orang yang cuma pandai bicara.”
Dimas tersenyum samar. “Kalau itu, Ibu sendiri yang akan menilainya.”
Mobil melaju pelan di tengah kerlip lampu malam, sementara percakapan itu menyisakan tanda tanya di hati Rania yang tak mudah terjawab.
---
Lamanya berkendara. Mobil berhenti tepat di depan kontrakan. Dimas membukakan pintu, tapi Rania hanya mengangguk singkat sebelum melangkah masuk tanpa banyak kata.
Di dalam, suasana rumah sederhana itu tenang. Lampu ruang tamu redup. Dari balik pintu kamar, terdengar napas teratur Aira yang sudah tertidur. Pengasuhnya, melongok sebentar dari kamar sebelah dan berbisik, “Aira sudah makan dan mandi, Mbak. Saya tidur di kamar saya, ya.”
Rania mengangguk pelan. “Terima kasih, Mbak Yani.”
Begitu pintu kamar tertutup, Rania masuk ke kamarnya sendiri. Aira terbaring di ranjang kecil, selimutnya setengah terlepas. Rania tersenyum tipis, lalu membetulkan selimut itu dan duduk di tepi ranjang.
Ia menatap wajah putri kecilnya lama.
Apa yang harus aku lakukan…?
Ia mengusap kepala anak itu dengan lembut. Semua sudah terlalu kacau. Dunia yang ia jalani sekarang penuh lika-liku, dan di tengahnya, ia merasa seperti berjalan di tepi jurang.
Tapi setiap kali mengingat masa lalu… luka itu terlalu dalam. Ia tahu betul, tidak semua orang bisa ia percayai.
Namun di sisi lain… untuk Aira, ia butuh kestabilan. Butuh perlindungan. Dan Radit—meskipun keras kepala—menawarkan itu semua.
Lagipula… pikirnya sambil menghela napas panjang, ini hanya kontrak. Aku masih bisa leluasa. Masih bisa menjaga diriku.
Rania memejamkan mata di samping putrinya, membiarkan aroma lembut anak itu meresap dalam dadanya.
---
Matahari baru saja mengintip di sela tirai lusuh ketika Rania terbangun. Suara burung bercampur aroma kopi dari dapur biasanya jadi penyambut pagi, tapi kali ini, ada yang berbeda.
Ponselnya berdering keras di meja samping ranjang. Nada itu asing—bukan dari Radit, bukan juga dari teman atau kolega.
Dengan mata setengah terbuka, Rania meraih ponsel itu. Nama yang tertera di layar membuat jantungnya tersentak.
Reyhan.
Dunia seakan berhenti sesaat.
Laki-laki yang hanya menjadi suaminya selama satu bulan. Laki-laki yang, di tengah tangisan Aira yang baru lahir, dipaksa melepasnya.
Jari Rania gemetar. Ia menatap layar berkedip itu lama, seolah mencoba membaca maksud di balik panggilan tersebut.
Aira masih terlelap di sebelahnya, napasnya hangat di udara pagi.
Panggilan itu terus berdering. Setiap bunyi seperti memukul dadanya.
Akhirnya, ia menggeser ikon hijau di layar, menempelkan ponsel ke telinga.
“Rania,” suara itu terdengar serak, berat, dan… penuh jarak.
Suara yang pernah ia rindukan, tapi juga yang menyisakan luka.
Rania menelan ludah. “Ada apa?”