NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Hutan yang sunyi kini menjadi arena perburuan. Suara gemuruh yang memuakkan terdengar saat langkah kaki mereka berlari melewati dahan dan semak-semak, memecah kesunyian di dalamnya. Daun-daun berterbangan menyelimuti hutan, sementara tikus tanah yang merasakan getaran langkah kaki itu segera kembali ke sarangnya, merasakan bahaya yang mendekat.

Setelah pandangan Serigala Taring Panjang kembali normal dari efek serbuk Buah Lidah Bara, ia menggelengkan kepalanya dan meraung keras. Makhluk buas itu lantas mengejar jejak kedua bocah itu. Dengan indra penciumannya, tentu tidak sulit bagi Serigala Taring Panjang untuk melacak dan menyusul mereka, terutama karena bau wewangian kuat dari sang gadis.

Langkah Serigala Taring Panjang begitu cepat dan gesit, membuatnya mudah menerjang medan hutan. Karena perbedaan kecepatan ini, tak butuh waktu lama bagi binatang buas itu untuk kembali melihat mangsanya di depan.

Jihan terus melangkah, suara langkahnya terdengar gontai. Beban yang dibawanya kini dua kali lipat dari sebelumnya, dengan sang gadis bertengger di punggungnya. Napasnya memburu, namun untuk sekian kalinya ia menghirup napas panjang, memaksa paru-parunya memompa lebih keras, mengaliri udara dan kekuatan ke seluruh tubuhnya.

Sang gadis melihat ekspresi penat di wajah pemuda itu, membuatnya tampak sedikit khawatir. Sementara itu, di belakang mereka, ia melihat Serigala Taring Panjang sudah semakin mendekat.

“Kak… kamu bisa menurunkanku”

Mendengarnya, Jihan menggeleng pelan. Ia tahu, jika ia menurunkan gadis itu sekarang, gaun yang dipakainya hanya akan memperlambat langkah mereka berdua. Dengan tegas, Jihan menolaknya.

“Tidak, aku sudah berjanji untuk melindungimu!”

“Melindungiku?!”

Mata sang gadis membelalak tak percaya. Pemuda asing yang baru saja bertemu dengannya kini berniat melindunginya? Seketika, rona merah menjalar di pipinya yang cantik.

‘Dia benar-benar ingin melindungiku… bukankah itu berarti… dia menyukaiku?’

Sementara itu, Jihan melirik ke arah gadis yang digendongnya. Wajahnya tampak memerah di pundaknya, membuat dahi Jihan berkerut bingung. Ia tak mengerti kenapa gadis itu bisa terlihat begitu senang di tengah bahaya yang mengancam.

‘Gadis ini pastilah sudah gila! Bagaimana mungkin ia bisa sebahagia itu sementara di belakangnya ada Serigala yang siap menerkam?!’

Namun, di balik sindiran batinnya, Jihan tahu betul apa yang mendorongnya. Ia memang berniat melindungi gadis itu, bukan karena perasaan mendadak, tapi karena sumpahnya kepada sang ibu. Bagaimana mungkin ia bisa menyelamatkan nyawa ibunya suatu hari nanti jika satu nyawa di depannya saja tak sanggup ia jaga? Memikirkan hal itu hanya membuat langkahnya semakin kokoh.

Saat ia tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba…

BUGH!!

Sebuah suara gemuruh memecah udara, diikuti oleh desiran angin tajam dari samping kanan. Insting Jihan berteriak lebih cepat dari pikirannya. Ia menoleh, dan dalam sekejap, tubuhnya berbalik menghindar ke kiri, ke arah barat, menghindari bayangan besar yang melesat dari balik semak.

Cakar mengerikan melayang di udara, hanya beberapa jengkal dari wajahnya. Serigala Taring Panjang itu menerjang dengan kecepatan luar biasa, matanya menyala liar, mulutnya terbuka lebar dengan taring yang meneteskan liur. Tapi karena ayunan yang gagal, momentum serangannya justru membawanya menabrak keras batang pohon besar di sisi jalan.

BRAAAK!

Batang itu pecah seketika, serpihan kayu beterbangan, disusul robohnya beberapa pohon di sekitarnya. Tanah berguncang kecil, dan suara raungan penuh amarah membelah hutan.

"GRRRRAAAAAHHHHH!"

Gadis yang masih digendong menjerit kecil, tubuhnya menegang. Jihan tak membuang waktu. Ia kembali memacu langkahnya, menyusuri jalur di antara akar dan dedaunan, dengan napas yang kian memburu.

Langkah demi langkah terasa berat, tak lagi beraturan. Detak jantungnya menggedor keras, berpacu cepat seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti. Matanya terus menyapu liar ke sekeliling, mencari celah, jalur kabur, apa pun yang bisa memberinya beberapa detik tambahan untuk bertahan.

Saat itulah ia sadar. Ia telah melaju jauh ke arah barat. Dan jika ingatannya benar, tak jauh dari sini seharusnya mengalir hilir Sungai Batu.

Tanpa ragu, ia mengubah arah, menuruni jalur yang mengarah ke dataran rendah.

Dari belakang, raungan Serigala Taring Panjang terdengar semakin dekat, tak terhalang oleh pohon-pohon tumbang ataupun luka di matanya yang memerah akibat serbuk Lidah Bara. Napas beratnya bergema seperti embusan badai, menggetarkan dedaunan dan menyebar rasa takut di setiap jejak yang mereka tinggalkan.

Lalu, suara lain menyusup di sela hiruk-pikuk itu.

Bukan raungan. Bukan derap langkah kaki.

Tapi…

Gemuruh.

Telinga Jihan menangkapnya lebih jelas kini, aliran deras, menghantam batu, memecah udara seperti dentuman langit. Matanya membelalak.

“Air terjun…”

Ia menajamkan pandangan. Dan benar saja, di sela rerimbunan pohon, cahaya putih menari-nari, berkilauan di antara kabut lembut yang beterbangan. Beberapa meter di depan, jalur tanah menurun tajam, lalu terbuka lebar menjadi dataran berbatu yang berakhir di bibir tebing.

Tanpa pikir panjang, Jihan melesat maju. Ia merunduk menghindari dahan yang menjuntai rendah, melompati akar yang menyembul dari tanah, dan menahan napas saat kakinya nyaris tergelincir di lumpur licin.

“Pegangan yang kuat!”

Kata Jihan lirih, segera dibalas anggukan pelan sang gadis. Matanya membulat saat melihat percikan air yang mulai terlihat jelas di ujung jalur.

Begitu melewati batas hutan terakhir, Jihan dan sang gadis mendapati diri mereka berdiri di atas sebuah batu besar yang menghadap langsung ke lembah di bawah.

Pemandangan itu menakjubkan, dan mengerikan.

Air terjun raksasa menjulang tinggi, jatuh dari tebing setinggi puluhan meter, menghantam bebatuan besar di bawahnya dan menciptakan kabut putih yang menari di udara. Pelangi tipis terbentuk di tengahnya, seolah menciptakan celah ilusi di tengah kekacauan.

Tapi tak ada waktu untuk terpesona.

“Hhrrrraaahhhh!!!”

Teriakan binatang itu kembali terdengar, kini sangat dekat. Jihan menoleh, Serigala Taring Panjang itu telah berhasil menyusul, mata merahnya bersinar seperti bara neraka. Nafasnya membakar udara, dan cakarnya mencengkeram tanah, siap menerkam dalam satu lompatan.

Jihan menatap ke jurang di hadapannya. Pilihan itu gila.

Tapi hanya itu satu-satunya cara.

“Kamu… apa kamu benar-benar melakukan ini?”

“Maaf, aku harus.”

“Tapi itu… sama saja seperti keluar dari mulut serigala, masuk kemulut buaya…”

Penolakannya bukan tanpa alasan. Batinnya bergolak hebat melihat ketinggian tebing dan derasnya aliran di bawah sana. Keputusan ini benar-benar tak masuk akal, sebuah lompatan tanpa jaminan keselamatan.

Jihan menarik napas panjang. Ia tahu betul risiko yang menanti, tapi tetap saja, peluang hidup mereka lebih besar lewat jalur gila ini, dibanding menunggu maut dalam cengkeraman Serigala Taring Panjang.

“Keranjang kayu yang kamu kenakan, itu bisa mengapung di air. Manfaatkan itu sebaik mungkin,”

“Lalu kamu sendiri?”

“Aku anak kampung sini,”

“Tentu saja aku bisa berenang.”

Dan tepat saat Serigala Taring Panjang menerjang, mengabaikan drama yang terjadi di hadapannya, Jihan bergerak. Ia mundur dua langkah cepat, mengencangkan pegangan pada tubuh sang gadis, lalu melompat.

Tubuh mereka menembus tirai air terjun, jatuh bebas melewati hembusan angin dan cipratan dingin yang membekukan kulit. Dunia seolah hening sejenak sebelum akhirnya…

BYURRR!

Mereka menghantam air dengan keras. Dentuman dari tubuh yang menyentuh permukaan menggema di seluruh lembah. Air memercik ke segala arah, menciptakan kabut putih di sekitar kolam yang tersembunyi di balik air terjun.

Di atas sana, Serigala Taring Panjang mendarat di ujung tebing. Cakarnya mencengkeram bebatuan yang nyaris runtuh. Ia menatap ke bawah dengan tatapan membara, hanya untuk mendapati dua sosok itu menghilang dalam pusaran arus.

Binatang buas itu meraung keras, suara yang menggema ke segala penjuru hutan, mengguncang dedaunan dan membuat burung-burung di pepohonan terbang kocar-kacir.

Dengan raungan itu, keberadaan mereka berdua kini menjadi misteri, lenyap ditelan derasnya arus di bawah sana.

1
DownBaby
Lanjut thor
DownBaby
aSetelah sekain lama akhirnya Jihan ada yg bantu💪
DownBaby
siapa kah itu?
DownBaby
WHAT?! SEMAKIN MENARIK
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!