NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PATAH HATI SALMA

Kamar itu tak begitu luas, namun cukup—cukup untuk menampung seluruh beban yang ia pikul mulai hari ini.

Dan malam ini, dinding-dindingnya seolah bergerak mendekat, bukan untuk menghimpit, melainkan untuk memeluknya dengan cara yang paling menyakitkan.

​Lampu utama sengaja ia matikan, hanya ada pendar redup dari lampu kecil yang menyala di atas nakas. Cahaya kuning itu memantul di mata Salma yang sembap, mempertegas gurat lelah yang biasanya ia sembunyikan di balik riasan tipis saat di luar sana.

"Kenapa ya, Ma..." Lirih Salma dalam pelukan Desi. "... Takdir tidak pernah memberikan ku kesempatan untuk bahagia. Bahagia seperti apa rasanya hatiku dimiliki oleh orang yang aku cinta, bahagia untuk merasakan seperti apa laki-laki memperlakukan aku dengan baik meski dalm hal yang sederhana. Rasanya... setiap momen itu adalah salah satu kesalahan yang harus aku miliki."

Desi tertegun. Ia mempererat dekapannya, mencoba menyalurkan kehangatan, namun ia merasakan tubuh Salma menegang hebat. Di dalam pelukan itu, Desi bisa merasakan betapa rapuhnya tulang-tulang putrinya, betapa panas suhu tubuh yang coba disembunyikan Salma selama ini di balik senyum "aku baik-baik saja."

​Setiap isakan Salma yang tertahan di dada Desi terasa seperti sembilu. Ada rasa sakit fisik yang menjalar dari tubuh Salma ke dalam jiwanya sendiri. Desi terpaku saat jemarinya tanpa sengaja menyentuh luka lebam di punggung Salma—sebuah rahasia yang selama ini tertutup rapat oleh kain baju dan kedisplinan yang kaku.

​Ia tidak menyangka bahwa di balik ketegaran yang selalu ia tuntut dari anaknya, Salma menyimpan luka sedalam itu.

​Selama ini, Desi mengira disiplin keras adalah cara terbaik untuk melindungi Salma dari kerasnya dunia. Ia menuntut kesempurnaan, nilai yang tinggi, dan kepatuhan tanpa syarat. Namun, ia tidak menyangka bahwa setiap teguran kerasnya adalah satu goresan baru, dan setiap tuntutannya adalah beban yang akhirnya mematahkan pundak anaknya sendiri.

​"Maafin Mama, Salma... Maaf," Bisik Desi dengan suara yang pecah.

​Air mata Desi jatuh, membasahi puncak kepala Salma. Ia baru menyadari bahwa dalam usahanya membentuk Salma menjadi pribadi yang kuat, ia justru hampir menghancurkan detak jantung hatinya sendiri. Rasa sakit yang dirasakan Salma kini menjadi cermin bagi kegagalannya sebagai seorang ibu.

Salma menggeleng. "Mama gak perlu minta maaf. Ini pilihan yang aku buat. Tapi kenapa... setiap pilihan yang aku lewati selalu jatuh ke dalam lubang yang sama.... bahkan ini lebih menyakitkan."

Desi membisu.

Salma kemudian beranjak, ia duduk di sebrang Desi sambil meraih secangkir air putih di nakas. ​"Mama pernah membayangkan gak... seperti apa rasanya aku menggerebek Erwin yang sedang tidur bersama wanita lain?"

​Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Salma, ia lalu menyeruput minumnya yang kini terasa luruh di tenggorokannya yang kering. "Kalau Putra yang gak kasih tahu aku... mungkin semuanya akan terus berlanjut. Aku dengan semua kebodohanku, bersarang pada cinta yang tak seharusnya bersamaku, dan..."

"Tunggu." Sela Desi pelan, penuh hati-hati. "Pu-Putra?"

Salma mengangguk. "Dia murid aku, Ma." Tambahnya. "Dia yang bawa aku pada Erwin hingga akhirnya aku tahu semua."

Hening.

Desi masih bergeming. Jemarinya yang tadi memegang pinggiran meja perlahan melemas. Bayangan sosok Putra—anak laki-laki yang mungkin hanya dianggap Salma sebagai tanggung jawab profesinya, kini menjelma menjadi benang merah yang menghubungkan Salma dengan kenyataan pahit tentang Erwin. Namun ia tak peduli, seberapa kuat pedulinya pemuda yang bernama Putra itu kepada anaknya.

​Di luar, suara rintik hujan mulai mengetuk kaca jendela, namun suara itu kalah nyaring dibanding detak jantung Salma yang berpacu, di antara luka, kesedihan, air mata, kelegaan, dan kebahagiaan, semua campur aduk antara perasaannya terhadap Erwin dan juga Putra.

Sungguh, mencintai Erwin ternyata menjadi tugas paling mustahil yang pernah ia emban. Berkali-kali ia mencoba membuka hati atas rasa sakitnya di masa lalu, menyusun kepingan kasih yang tersisa, berharap semua akan berubah, namun yang ia tuai hanyalah luka yang kian menganga dan kekecewaan yang membeku. Di saat dunianya nyaris runtuh dalam sunyi, Putra hadir. Lelaki itu datang bukan sekadar menyapa, melainkan membasuh luka-luka lama dengan ketulusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Salma..." Kata Desi akhirnya, kembali bicara. "Kamu tahu... patah hati terbesar Mama?"

Salma menggeleng polos. Sepolos hatinya untuk mengerti tentang cinta.

"Itu adalah melihat kamu terluka."

Salma membisu sesaat. Detik berikutnya, ia mengangguk. "Aku emang kecewa, Ma. Aku marah... terluka. Aku nangis... dan bahkan merasa hancur. Tapi..."

Salma berpaling menatap langit-langit kamarnya. Bulat bola matanya membaur disana, seakan menangkap semua kata yang berkumpul di atas sana. "... aku merasa lega. Entah. Rasanya, setelah aku mengucapkan kata yang selama ini aku jaga untuk minta pisah dengan Erwin, hati aku gak seberat sebelumnya."

Kemudian, Salma tertawa tanpa ia sadari, di antara kesedihan yang tak seharusnya ia resapi lagi dan di antara pahit yang harus kembali ditelannya. "Lucunya aku baru menyadari kekecewaan ini. Sakit memang..." Katanya, sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Tapi akan segera pulih."

Salma menatap Desi lagi. "Mama gak usah khawatir. Besok atau lusa... aku akan sembuh. Lagipula, aku sudah terbiasa dengan luka dan rasa kecewa karena mencintai sendirian."

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!