"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Pagi itu, kantor Kencana Jewelry terasa jauh lebih cerah bagi Kirana. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar di ruangannya seolah membawa harapan baru. Di lehernya, kalung safir pemberian Arka melingkar manis, memberikan sensasi dingin yang menenangkan setiap kali liontin itu menyentuh kulitnya.
Kirana sesekali menyentuhnya dengan ujung jari, sebuah refleks bawah sadar yang membawa ingatannya kembali pada malam di panti asuhan dan makan malam intim di penthouse Arka.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Kirana merasa ia tidak perlu memanggul beban dunia sendirian. Ia merasa memiliki sekutu, seorang pelindung, dan mungkin... seseorang yang mencintainya apa adanya, bukan karena jabatannya.
Namun, beberapa kilometer dari sana, di menara kaca Mahendra Group, atmosfer di ruang kerja Surya Mahendra justru terasa mencekam.
Surya berdiri membelakangi ruangan, menatap arus lalu lintas Jakarta yang padat di bawahnya. Arka duduk santai di sofa kulit, menyilangkan kaki dengan gaya angkuh yang menjadi ciri khasnya.
"Waktumu hampir habis, Arka," suara Surya terdengar berat dan penuh ancaman. "Pihak konsorsium Singapura sudah mengirimkan draf kontrak final pagi ini. Penawaran mereka jauh lebih menggiurkan secara finansial dibandingkan Kencana Jewelry. Jika hari ini kau tidak membawa daftar vendor eksklusif itu sebagai jaminan stabilitas pasokan, aku akan membatalkan semua pembicaraan dengan perusahaan Kirana. Aku tidak punya waktu untuk mengurus manajer yang terlalu idealis."
Arka menyesap espresso-nya dengan tenang, sedikit pun tidak terusik oleh kemarahan ayahnya. "Ayah, dalam memburu sesuatu yang berharga, kita tidak boleh terburu-buru menggunakan kekerasan. Kirana bukan wanita yang bisa ditekan dengan ancaman kontrak. Dia harus merasa bahwa memberikan informasi itu bukan sebagai bentuk transaksi bisnis, melainkan sebagai bentuk 'keselamatan' bagi hubungan pribadi kami."
Arka berdiri, merapikan jasnya. "Hari ini adalah jadwal penandatanganan draf awal. Aku pastikan, mahkota berharga milik Kencana Jewelry, daftar vendor itu akan ada di meja Ayah sebelum matahari terbenam."
Surya berbalik, matanya yang tajam dan cekung menatap putranya dengan sinis. "Kau terlalu menikmati permainan ini, Arka. Hati-hati. Ingat, ini tentang kekuasaan dan bisnis, bukan tentang seberapa hebat kau bisa merayu wanita. Jangan sampai kau sendiri yang terjerat dalam jaring laba-laba yang kau pasang sendiri."
Arka tertawa kecil, tawa yang penuh dengan kesombongan dan ketiadaan empati. "Terjebak? Aku? Jangan bercanda, Ayah. Aku tahu persis di mana aku berdiri dan di mana ia akan jatuh."
Siang harinya, Arka tiba di kantor Kirana. Namun, kali ini ia tidak membawa buket bunga besar atau senyum kemenangan. Ia datang dengan wajah yang dibuat tampak sangat letih; bahunya sedikit merosot, dan lingkaran hitam di bawah matanya - yang sebenarnya adalah hasil polesan makeup tipis yang sangat presisi - memberikan kesan bahwa ia baru saja melewati malam yang penuh beban.
"Arka? Ada apa? Kau terlihat sangat kacau," tanya Kirana segera, rasa cemas langsung menyergapnya saat melihat kondisi pria itu. Ia berdiri dari kursi manajernya dan menghampiri Arka.
Arka menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya di kursi depan meja Kirana seolah-olah ia sudah kehabisan tenaga. "Ayahku... dia benar-benar sulit, Kirana. Dewan komisaris mendesaknya untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan Singapura sore ini pukul lima. Mereka menganggap Kencana Jewelry terlalu tertutup dan berisiko untuk investasi sebesar ini."
Kirana tertegun, tangannya tanpa sadar memegang meja. "Tapi kita sudah sepakat untuk memulai proses administrasi minggu depan setelah audit internal selesai."
"Aku tahu! Aku sudah berjuang mati-matian di rapat dewan pagi tadi," Arka meraih tangan Kirana, menggenggamnya dengan erat. Suaranya sedikit bergetar, sebuah akting yang sangat meyakinkan. "Aku bilang pada mereka bahwa aku menjamin integritasmu dengan namaku sendiri. Tapi mereka butuh satu bukti nyata. Mereka ingin verifikasi vendor utama untuk memastikan bahwa pasokan berlian mentah kita tidak akan terganggu oleh krisis logistik global."
Kirana menarik tangannya pelan, sebuah keraguan besar muncul di matanya. "Arka, kau tahu itu adalah jantung dari perusahaan kami. Jika aku membukanya tanpa kontrak final yang sudah dilegalisir, aku tidak hanya melanggar kode etik, tapi aku mengkhianati kepercayaan pemilik Kencana Jewelry."
Arka berdiri, berjalan menuju jendela dan memunggungi Kirana. Ia memberikan jeda yang cukup lama untuk menciptakan tekanan emosional. "Aku mengerti. Mungkin aku yang terlalu naif," suaranya terdengar parau. "Aku mengira hubungan kita sudah melampaui sekadar kode etik perusahaan. Aku mengira kita sudah berada di tahap saling percaya sepenuhnya."
Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hati Kirana. Saling percaya. Kata-kata itu adalah kelemahan terbesarnya sekarang.
"Bukan begitu, Arka... Aku hanya perlu melindungi posisiku..."
"Aku hanya tidak ingin kehilangan proyek ini, Kirana. Dan jujur saja..." Arka berbalik, matanya tampak berkaca-kaca, sebuah mahakarya manipulasi. "Aku tidak ingin kehilangan alasan untuk terus bertemu denganmu setiap hari. Jika kontrak ini jatuh ke tangan Singapura, Ayahku akan mengirimku ke sana untuk memimpin operasional selama satu tahun penuh sebagai hukuman atas kegagalanku. Kita akan terpisah."
Jantung Kirana mencelos. Pikiran untuk berpisah dari Arka, pria yang baru saja memberinya harapan tentang kebahagiaan, terasa jauh lebih menakutkan daripada risiko profesional mana pun. Logikanya yang dingin mulai mencair di bawah tekanan ketakutan akan kehilangan cinta.
Kirana mengambil napas dalam-dalam. "Baiklah," ucapnya lirih. "Aku akan memberikan daftar itu padamu sekarang. Tapi Arka, kau harus berjanji padaku... ini hanya untuk mata Ayahmu dan dewan komisaris. Tidak boleh ada salinan lain, dan tidak boleh ada pihak luar yang tahu."
Arka berjalan cepat ke arah Kirana dan memeluknya dengan sangat erat, menyembunyikan seringai kemenangan di balik bahu wanita itu. "Terima kasih, Kirana. Kau tidak tahu betapa berartinya ini bagiku. Kau baru saja menyelamatkan masa depan kita berdua."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kirana membuka brankas tersembunyi di balik lukisan di ruangannya. Ia mengambil sebuah map terenkripsi yang berisi data vendor eksklusif berlian mentah dari Afrika dan batu mulia dari pedalaman Kalimantan. Aset paling berharga yang membuat Kencana Jewelry tetap berada di puncak.
"Ini jantung perusahaanku, Arka. Tolong jaga baik-baik," ucap Kirana saat menyerahkan map itu.
"Dengan nyawaku," jawab Arka, sebuah janji palsu yang paling pahit yang pernah ia ucapkan.
Sore harinya, Arka bertemu dengan Dion di sebuah bar tersembunyi yang remang-remang. Arka melemparkan map biru itu ke atas meja kayu dengan kasar, seolah itu bukan barang berharga.
"Ini dia. Mahkota kebanggaan sang Ratu Es," ujar Arka dengan nada penuh kebanggaan yang bengis.
Dion membuka map tersebut dan matanya membelalak melihat nama-nama vendor yang selama ini menjadi misteri di industri perhiasan. "Gila! Ini daftar yang sudah diincar oleh banyak konglomerat selama puluhan tahun. Kau benar-benar mendapatkan kuncinya, Arka! Hanya dengan modal seuntai kalung safir dan beberapa tetes air mata buaya?"
Arka menuangkan wiski ke gelasnya, menyesapnya dengan nikmat. "Wanita adalah makhluk yang digerakkan oleh emosi, Dion. Beri mereka rasa aman yang palsu, buat mereka merasa seperti pahlawan yang sedang menyelamatkan hidupmu, dan mereka akan dengan sukarela menyerahkan kunci kerajaan mereka kepadamu."
"Jadi, apa langkah selanjutnya? Kau akan langsung menghilang?" tanya Dion.
Arka menyeringai, pikirannya sudah menyusun skenario penutup yang megah. "Belum. Lusa malam adalah pesta ulang tahun Mahendra Group. Aku akan menjadikannya tamu kehormatan. Aku ingin dia merasa berada di puncak dunia, di depan semua orang penting di Jakarta, sebelum aku menjatuhkannya ke jurang yang paling dalam. Itu akan menjadi penutup yang sangat dramatis untuk taruhan mobil sport-mu."
Malam itu, di apartemennya, Kirana merasa sangat gelisah. Ada firasat buruk yang terus mengusik batinnya. Ia merasa telah melakukan kesalahan besar, namun ia mencoba menenangkan dirinya dengan memikirkan wajah Arka. Ia memutuskan untuk menelepon Arka, sekadar ingin mendengar suaranya untuk meredakan kegelisahannya.
Namun, Arka tidak mengangkat teleponnya.
Arka sedang berada di sebuah kelab malam eksklusif, merayakan keberhasilannya bersama teman-teman sirkelnya. Ponselnya tergeletak di meja di tengah riuhnya dentuman musik. Nama 'Kirana' muncul berulang kali di layar yang bergetar.
"Kenapa tidak diangkat? Si Manajer Cantik itu sepertinya sedang rindu," tanya salah satu teman Arka sambil tertawa.
"Biarkan saja," jawab Arka sambil merangkul seorang model di sampingnya. "Ikan sudah di dalam pukat. Tidak perlu lagi diberi umpan setiap saat. Dia sudah tidak berguna lagi selain untuk pertunjukan lusa malam."
Tanpa sengaja, saat Arka hendak memasukkan ponselnya ke saku jasnya yang diletakkan di sofa, jarinya menekan tombol 'terima'. Sambungan telepon terhubung tepat saat Arka kembali ke tengah percakapan yang riuh.
Di seberang sana, di kamarnya yang sunyi, Kirana mendengar suara musik yang memekakkan telinga. Ia tertegun. Bukankah Arka bilang dia sedang kelelahan karena rapat dewan?
"Arka? Kau di mana?" tanya Kirana dengan suara bergetar.
Suara musik sedikit menjauh saat Arka berjalan ke area balkon kelab yang lebih sepi, namun ia masih tidak sadar bahwa teleponnya tersambung ke Kirana.
"...*hahaha, kau harus lihat wajahnya tadi, Dion! Saat dia menyerahkan map itu, dia benar-benar mengira aku mencintainya. Dia pikir dia sedang menyelamatkan 'masa depan kita'. Padahal, dia hanya sedang menyelamatkan isi saldo rekening bank-ku dan memenangkan taruhanku* !" suara Arka terdengar sangat jelas, dingin, angkuh, dan penuh ejekan yang kejam.
Dion terdengar menyahut, suaranya juga penuh tawa. "*Kasihan Kirana. Si Ratu Es ternyata cuma bongkahan es murahan yang gampang cair hanya karena sedikit drama panti asuhan*."
"*Lusa malam, di pesta perusahaan, aku akan mengumumkan kerja sama dengan Singapura menggunakan data vendor miliknya. Dia akan melihat sendiri bagaimana 'kekasihnya' ini menghancurkan perusahaannya di depan matanya sendiri. Dan soal taruhan mobil sport merah itu... pastikan kuncinya sudah siap di kantongmu, Dion* !"
Klik. Sambungan terputus.
Kirana berdiri mematung di tengah kamar apartemennya yang mewah namun kini terasa seperti penjara yang mencekam. Ponselnya terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai marmer dengan bunyi retakan yang tajam. Dunianya seolah berhenti berputar. Oksigen di sekitarnya seolah-olah ditarik keluar secara paksa.
Suara Arka terus terngiang di kepalanya seperti ribuan jarum yang menusuk otaknya. Taruhan... Hanya menyelamatkan saldo bank... Dia mengira aku mencintainya.
Kirana memegang kalung safir di lehernya. Ia menariknya dengan kekuatan penuh hingga rantai perak itu putus dan meninggalkan luka gores yang perih di kulit lehernya. Ia menatap liontin biru itu yang kini tergeletak di telapak tangannya. Perhiasan itu tidak lagi tampak indah, ia tampak seperti mata iblis yang sedang menertawakan kebodohannya.
Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya, rasa sakit karena dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia izinkan untuk masuk ke hatinya. Namun, di atas rasa sakit itu, ada rasa malu yang lebih besar karena ia telah mengkhianati perusahaan dan dirinya sendiri demi sebuah ilusi.
Kirana tidak menangis. Tidak ada air mata yang keluar. Matanya yang tadi penuh dengan kehangatan kini berubah menjadi sangat dingin, jauh lebih dingin dari es mana pun yang pernah ada di dunia ini. Kemarahan yang murni dan membara mulai menggantikan rasa sedihnya.
"Kau ingin drama, Arka Mahendra?" bisik Kirana dengan suara yang rendah namun sarat dengan kebencian yang mendalam. "Aku akan memberimu sebuah pertunjukan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Kau ingin menghancurkanku? Maka aku akan memastikan kau ikut terbakar bersamaku."
Malam itu, Kirana tidak tidur. Ia tidak meratapi nasibnya. Ia duduk di depan laptopnya dengan mata merah namun fokus. Sebagai Manajer Pemasaran, ia memiliki akses ke banyak hal, termasuk beberapa celah keamanan digital yang pernah ia diskusikan dengan tim IT saat mereka mengintegrasikan sistem Mahendra Group. Ia mulai menyusun rencana balas dendam yang sistematis.
Jika Arka ingin menjatuhkannya di puncak pesta lusa malam, maka Kirana akan memastikan bahwa panggung itu akan menjadi makam bagi reputasi Mahendra Group. Ia mulai menyusun data, menyiapkan bukti-bukti manipulasi pasar yang pernah ia dengar secara tidak sengaja dari percakapan telepon Arka, dan menyiapkan sebuah kejutan digital yang akan diputar di layar besar pesta tersebut.
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, Kirana tidak akan bermain dengan hati. Ia akan bermain dengan api, dan ia siap untuk melihat Arka hangus di dalamnya.
...----------------...
**Next Episode**.....