"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Sembunyi di Balik Jok Mobil
Sembunyi di balik jok mobil menjadi pilihan yang sangat mengerikan saat sorot lampu senter mulai menyapu kaca kendaraan dengan sangat kasar. Maya Anindya melipat tubuhnya sekecil mungkin di ruang sempit yang dipenuhi dengan debu serta aroma karet yang menyengat indra penciumannya. Dia menahan napas hingga dadanya terasa sesak sementara jantungnya berdegup sangat kencang laksana suara derap langkah kuda yang sedang berlari.
"Tetaplah diam dan jangan melakukan gerakan sekecil-pun sampai saya memberikan tanda aman," bisik Arga Dirgantara dengan nada yang sangat rendah namun penuh penekanan.
Lelaki perwira itu segera keluar dari mobil sambil menutup pintu dengan suara dentuman yang cukup keras untuk mengalihkan perhatian para penjaga. Dia berdiri tegak menantang angin malam yang sangat dingin sementara tangannya terlipat dengan tenang di depan dada bidangnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah sekelompok petugas jaga yang tampak sangat curiga dengan kepulangannya yang mendadak.
"Apakah ada masalah yang sangat mendesak sehingga Anda semua harus memeriksa kendaraan pribadi saya dengan cara yang kasar seperti ini?" tanya Arga Dirgantara dengan suara yang menggelegar.
Para petugas itu segera menurunkan lampu senter mereka dengan gerakan yang sangat kikuk karena merasa terintimidasi oleh wibawa sang perwira. Mereka tidak menyangka bahwa pemilik kendaraan tersebut adalah orang yang sangat berpengaruh serta memiliki catatan prestasi yang sangat gemilang di markas komando. Keheningan yang sangat mencekam menyelimuti halaman rumah dinas tersebut selama beberapa detik yang terasa sangat panjang bagi Maya.
"Mohon maaf Letnan Satu Arga karena kami hanya menjalankan perintah untuk memeriksa setiap kendaraan yang baru saja masuk dari arah luar," ucap salah satu petugas dengan nada yang sangat gemetar.
Maya Anindya yang masih meringkuk di lantai mobil merasa air matanya mulai mengalir membasahi karpet kendaraan yang sangat kasar serta dingin. Dia merasa sangat terhina karena harus bersembunyi laksana seorang buronan padahal dia sama sekali tidak melakukan kejahatan apa-pun. Rasa benci terhadap kontrak pernikahan ini semakin tumbuh subur di dalam relung hatinya yang paling dalam seiring dengan meningkatnya rasa takut yang dia alami.
"Jika pemeriksaan ini sudah selesai maka sebaiknya Anda semua segera kembali ke pos penjagaan masing-masing sebelum saya melaporkan kejadian ini!" tegas Arga Dirgantara tanpa memberikan toleransi sedikit-pun.
Setelah langkah kaki para petugas itu menjauh serta menghilang di balik kegelapan malam, Arga segera membuka pintu belakang mobil dengan gerakan yang sangat tangkas. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya bangkit dari posisi yang sangat tidak nyaman tersebut namun Maya justru menepisnya dengan sangat kasar. Gadis remaja itu keluar dari mobil dengan wajah yang sangat pucat serta penuh dengan kemarahan yang sudah meluap-luap.
"Sampai kapan saya harus hidup di bawah bayangan ketakutan serta kebohongan yang sangat menyiksa ini, Tuan Letnan?" tanya Maya Anindya dengan suara yang parau akibat menangis.
Arga Dirgantara hanya terdiam membisu sambil menatap punggung istrinya yang berlari masuk ke dalam rumah dengan langkah yang sangat goyah. Dia menyadari bahwa beban yang dia berikan kepada gadis sekolah menengah atas itu memang sudah sangat melampaui batas kewajaran. Pria itu menghela napas panjang lalu melangkah masuk sambil membawa tas sekolah milik Maya yang tertinggal di atas jok.
Saat dia meletakkan tas tersebut di atas meja ruang tamu, sebuah benda kecil berwarna emas terjatuh dari saku samping yang tidak tertutup rapat. Arga memungut benda itu lalu menatapnya dengan penuh rasa heran karena dia baru menyadari keberadaan sebuah cincin di dalam tas.