"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tak Terduga
Rania berjalan dengan tergesa, hampir menabrak seseorang saat buru-buru keluar dari ruangan itu.
“Hati-hati, Mbak.”
Suara berat itu membuat Rania membeku sejenak.
Ia menegakkan wajahnya—dan ya, orang itu.
Reyhan.
Pria itu terlihat datar, namun tatapannya menelisik. Lebih ke… penilaian.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Reyhan, terdengar basa-basi.
Rania mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menjawab.
“Sepertinya tidak, Pak,” ucapnya tenang, dengan berkas yang masih ditutupi di wajahnya. “Saya staf bagian kreatif di sini.”
Reyhan sempat mempersempit mata. Seolah mencoba membaca lebih dalam.
Namun sebelum ia sempat berkata lebih lanjut—
“Reyhan!”
Suara berat Radit terdengar dari belakang.
Langkahnya cepat, tangannya terangkat menyapa.
“Lama gak ketemu,” sambung Radit sambil menjabat tangan adik tirinya.
Reyhan tersenyum tipis. “Masih sering ngatur orang, kak?”
“Masih,” jawab Radit sambil tertawa. “Gimana kabarmu?”
“Kurang baik, tapi masih bisa diatasi.”
Radit mengangguk sedikit tersenyum, lalu melirik ke arah Rania yang masih berdiri kaku.
“Oh ya, staf ku. Tadi, buru-buru mau ke toilet, kan?” ucap Radit pura-pura cuek.
Rania mengangguk cepat. “Iya, Pak. Saya permisi dulu.”
“Silakan,” jawab Radit tanpa nada aneh.
Rania berjalan cepat ke lorong, tapi saat ia berbalik untuk melihat sekali lagi ke belakang…
Ia mendengar Reyhan menyebut nama Radit dengan sebutan “Kak.”
Dan di situlah segalanya runtuh.
Meski tidak meledak, sesuatu di dalam dada Rania pecah. Ia menoleh ke arah cermin kecil di dinding lorong. Wajahnya masih terjaga. Tapi pikirannya tidak.
"Jadi benar…"
"Radit… kakaknya Reyhan."
"Dan aku... sedang terikat kontrak gila ini dengan kakak dari laki-laki yang pernah menghancurkanku."
---
Sementara itu, kembali pada kejadian sebelumnya.
Reyhan kini bersandar santai di sofa hitam di sudut ruangan. Setelan jasnya rapi, senyumnya tenang. Di hadapannya, Radit duduk menyilangkan kaki, tangan kirinya memainkan pulpen di atas meja.
“Kantor kamu makin megah aja. Aku baru ngelilingin dua lantai, dan udah capek,” celetuk Reyhan, terkekeh.
Radit tersenyum tipis. “Makanya, jangan dateng sebagai tamu. Dateng sebagai investor. Biar dikasih kopi gratis dan tour khusus.”
Reyhan tertawa. “Kayaknya aku harus pertimbangin.”
Beberapa detik hening, sebelum Reyhan mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Ngomong-ngomong… waktu itu, kamu batalin pertemuan kita di restoran. Aku udah di sana duluan, nunggu hampir sejam.” Nadanya masih tenang, tidak menuntut. Hanya ingin tahu.
Radit sedikit menggeser duduknya.
“Maaf, Rey. Aku tau itu kelihatan nggak sopan,” ucapnya perlahan. “Tapi saat itu… aku dapet kabar soal karyawan baru yang bikin kekacauan. Harus aku tangani langsung.”
“Hmm.” Reyhan mengangguk, terlihat berpikir. “Karyawan yang mana?”
“Bagian editorial. Ada laporan soal penyalahgunaan data dan kebocoran konsep desain. Ternyata cuma miskomunikasi sih, tapi ya… tetap harus ditangani.”
“Berat juga ya sekarang jadi kamu,” gumam Reyhan. “Dulu kita masih bisa bolos rapat bareng. Sekarang kamu udah sibuk ngurus satu gedung penuh.”
Radit terkekeh. “Sibuk sih iya, tapi masih waras.”
“Masih waras, tapi kelihatannya capek,” kata Reyhan sambil menatap Radit lebih tajam. “Kamu baik-baik aja, kan?”
Radit menahan napas sejenak. Ia tau maksud pertanyaan itu luas. Bisa tentang bisnis, bisa juga soal pribadi.
“Sejauh ini baik,” jawabnya diplomatis. “Cuma... lagi banyak hal yang harus disesuaikan.”
Reyhan mengangguk pelan. “Kita semua begitu. Tapi ingat, Kak, keluarga tetap tempat kita balik, ya. Apapun yang terjadi.”
Nada itu, hangat — tapi mengandung bias nilai keluarga yang selama ini justru membuat Radit selalu merasa terkungkung.
Radit hanya membalas dengan senyum kecil. “Iya. Aku tau, Rey.”
Setelah beberapa menit diskusi ringan soal perusahaan, Reyhan mulai berjalan kecil, mengelilingi ruangan itu. Ia melirik Radit yang tampak sibuk membuka-buka dokumen, lalu berucap ringan.
“Papa bilang udah ketemu sama calon istri kamu.”
Radit langsung menoleh cepat. “Hah?”
Reyhan tertawa kecil. “Iya. Katanya… kamu bener-bener berhasil bikin Papa yakin. Aku kaget sih. Setahu aku, beliau selalu skeptis soal perempuan mana pun yang dekat sama kamu.”
Radit menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menarik napas dalam.
“Yah… kadang orang yang kelihatan biasa aja di awal, ternyata bisa meyakinkan dalam satu pertemuan,” jawab Radit dengan nada menggantung.
“Aku seneng sih denger itu. Berarti kamu tinggal selangkah lagi buat nerima semua hakmu. Saham, aset, dan nama besar Mahendra Group sepenuhnya.” balas Reyhan, tenang.
Radit tersenyum kecil. “Kayaknya begitu.”
“Tapi lucu ya,” gumam Reyhan, “Kamu hampir dapetin semuanya, sedangkan aku masih nyari seseorang yang bahkan gak bisa aku lacak.”
Radit diam. Ekspresinya berubah.
“Siapa?” tanyanya pelan, walau dalam hati ia sudah takut mendengarnya.
Reyhan memainkan sendok kecil di sisi cangkir kopinya, seperti ragu bicara.
“Perempuan yang pernah singgah di hidupku.”
Radit langsung membeku.
“Dia pergi dua tahun lalu. Gak ninggalin jejak. Gak bawa apapun kecuali...”
Reyhan tersenyum pahit, tapi nada bicaranya tetap tenang. “Aku… bukan laki-laki yang baik waktu itu. Tapi tetap aja, kehilangan dia tuh rasanya… aneh. Hampa.”
Radit menatap saudaranya dalam diam. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Tapi kamu… kamu bisa nemuin perempuan yang bisa bikin Papa percaya. Bahkan aku lihat dari cara kamu ngomong… kayaknya kamu juga percaya sama dia.”
Radit menelan ludah. Ingin bicara, ingin menjelaskan… tapi lidahnya kelu. Semuanya terlalu rumit, terlalu dalam untuk sekadar dibuka dalam satu percakapan.
Lalu Reyhan tersenyum hangat, menepuk bahu Radit.
“Selamat ya. Aku tulus bahagia buat kamu.”
Radit hanya bisa membalas dengan anggukan kecil. Tapi di balik matanya, pikirannya sedang berkecamuk.
Setelah obrolan itu selesai, Reyhan melangkah keluar dari ruangan itu dengan ekspresi tenang. Ia hendak turun ke lantai bawah, saat pandangannya terpaku pada salah satu dinding besar di lorong menuju ruang galeri perusahaan.
Sebuah foto besar terpampang di sana.
Wajah seorang wanita dengan senyum anggun namun kuat. Di bawah foto itu tertulis:
"Wanita Kuat: Pilar di Balik Keberhasilan Kampanye Mahendra Visual"
Reyhan membeku.
Kakinya tak bisa bergerak. Matanya tak salah lihat.
“Rania...?” gumamnya lirih.
Jantungnya berdetak kencang. Matanya menyusuri setiap inci foto itu—dan tidak ada yang berubah. Itu benar-benar dia.
Tanpa pikir panjang, Reyhan langsung memutar arah kembali ke ruang kerja Radit.
“Dia ada di sini. DIA ADA DI SINI!” serunya dalam hati.
Namun sayang, ruangan Radit sudah kosong.
Tidak ada jejak. Tidak ada suara. Bahkan secangkir kopi pun sudah dibersihkan. Seperti Radit menghilang hanya dalam beberapa menit.
Reyhan meremas gagang pintu, frustrasi.
“Kenapa dia ada di sini? Kenapa sekarang?!”
Ia hendak berbalik pergi, namun langkahnya terhenti.
Tubrukan keras.
Beberapa berkas jatuh ke lantai.
Rania terpaku. Matanya membelalak. Napasnya tercekat.
Reyhan pun diam. Keduanya seperti terperangkap di waktu yang membeku.
“Rania…” ucap Reyhan nyaris tak terdengar.
Rania buru-buru menunduk, memunguti berkas yang jatuh. “Maaf, saya buru-buru.”
Reyhan menahan lengannya, membuatnya berhenti. “Rania, bener feelingku. ini aku.”
“Maaf, Anda salah orang,” elak Rania cepat.
“Rania…” ulang Reyhan, suara pria itu terdengar emosional. “Kamu ada di sini… Ya Tuhan.”
Reyhan menghampiri dan menarik tubuhnya ke pelukan, seperti seseorang yang telah kehilangan arah dan akhirnya menemukan cahaya.
Namun Rania langsung mendorongnya.
"Reyhan! Jangan seenaknya!”
Dengan cepat, ia menarik Reyhan masuk ke ruang arsip kecil yang kosong. Pintu ditutup. Rania berdiri dengan dagu terangkat dan mata menyala.
“Jangan pernah lakuin itu lagi!”
“Rania… kamu nggak tahu gimana aku nyari kamu selama ini…”
“Aku gak peduli!” potong Rania tegas.
“Aku di sini karena kerja. Bukan buat masa lalu. Kamu gak usah muncul dan merusak apa yang udah aku bangun.”
Reyhan menatapnya penuh harap. “Aku cuma pengen kita bicara…”
Rania menggeleng cepat. “Nggak ada yang perlu dibicarakan. Aku bukan siapa-siapa kamu lagi, Reyhan.”
“Tapi aku masih—”
“Aku gak minta kamu bicara!” bentak Rania lirih, menahan agar suaranya tak terdengar keluar.
Ia menunduk sejenak, menenangkan napasnya.
Lalu ia menatap Reyhan tajam. “Kamu boleh melihatku di sini, aku gak akan ganggu. Tapi aku minta satu hal…”
Reyhan mengangguk pelan.
> “Mulai detik ini, kamu bersikap seperti orang asing ke aku. Jangan sapa, jangan kenal. Di kantor ini, aku bukan Rania, aku bukan siapa-siapa kamu. Kalau kamu hancurin ini, aku bakal bener-bener benci kamu.”
Reyhan tercekat. Luka di wajahnya jelas terlihat.
Namun ia tahu… ia yang salah dulu. Dan sekarang, ia tak punya hak memaksa.
“Aku ngerti… Tapi tolong, kasih aku waktu. Aku cuma pengen tahu kabar kamu, dan anak kita. Gimana kamu bisa...”
“Enggak,” potong Rania lagi. “Satu kata lagi, aku bakal ajukan pengunduran diri kalau kamu tetap maksa.”
Reyhan membeku.
Akhirnya, Rania membuka pintu dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Reyhan berdiri sendiri di ruang itu, tenggelam dalam pikirannya. Sementara di luar sana, langkah Rania cepat dan terarah. Namun hatinya… bergetar.
“Kenapa dia harus jadi adik Radit… dari semua orang di dunia ini…” gumamnya, nyaris tak bersuara.