"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Hampir Ketahuan di Mal
Hampir ketahuan di mal menjadi sebuah mimpi buruk yang sangat nyata saat Gwenola melihat sesosok pria yang sangat familiar sedang berjalan ke arahnya. Ia sedang berdiri di depan sebuah toko buku besar sambil memegang tas belanjaan berisi beberapa alat tulis sekolah yang sangat mahal. Di sampingnya, Xavier berdiri dengan sangat tegak sambil terus memegang pergelangan tangannya seolah tidak ingin melepaskan buruannya sedikit pun.
Mata Gwenola membelalak saat ia mengenali guru wali kelasnya sedang melangkah mendekat dengan tumpukan buku di tangan pria paruh baya tersebut. Panik seketika melanda seluruh saraf di tubuhnya hingga ia merasa lututnya menjadi sangat lemas dan sangat tidak bertenaga. Ia segera menarik lengan baju Xavier dengan sangat kencang agar pria itu segera menjauh dari area yang sangat terbuka tersebut.
"Ada apa denganmu, kenapa kau mendadak menjadi sangat gelisah seperti ini?" tanya Xavier dengan kening yang berkerut sangat dalam.
Gwenola tidak sempat menjawab dan justru mendorong tubuh besar Xavier masuk ke dalam sebuah lorong sempit yang berada di antara deretan toko pakaian. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin sambil berusaha mengatur napasnya yang sudah mulai terengah-engah akibat rasa takut yang luar biasa. Ia melihat gurunya lewat hanya beberapa meter dari tempat persembunyian mereka tanpa menyadari keberadaan siswi sekolah menengah atas miliknya.
"Guru wali kelasku baru saja lewat di depan sana, jika dia melihatku bersamamu maka tamatlah riwayatku!" bisik Gwenola dengan suara yang sangat gemetar.
Xavier hanya menyeringai kecil sambil menatap wajah Gwenola yang nampak sangat menggemaskan saat sedang berada dalam kondisi yang sangat terpojok. Ia sama sekali tidak merasa takut akan ketahuan karena baginya seluruh isi pusat perbelanjaan ini bisa ia beli hanya dalam waktu sekejap mata. Namun, melihat reaksi Gwenola yang sangat ketakutan justru memberikan sebuah hiburan tersendiri bagi pimpinan perusahaan yang sangat angkuh tersebut.
"Kenapa kau begitu malu mengakui hubungan kita di depan umum, apakah aku nampak seperti pria yang memalukan bagimu?" tanya Xavier dengan nada yang sangat penuh dengan intimidasi.
Gwenola menatap Xavier dengan pandangan yang sangat nanar sekaligus sangat penuh dengan rasa benci yang tertahan di balik kelopak matanya. Ia tidak ingin dunia sekolahnya yang tenang hancur berantakan karena skandal pernikahan rahasia dengan seorang penguasa bisnis yang sangat kejam. Baginya, setiap detik yang ia habiskan di bawah pengawasan Xavier adalah sebuah beban yang sangat berat dan sangat menyiksa batinnya yang masih sangat labil.
"Ini bukan masalah malu, tapi kau tahu sendiri bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak berdarah yang sangat tidak masuk akal!" tegas Gwenola sambil mencoba melepaskan diri.
Xavier justru semakin mendekatkan tubuhnya hingga Gwenola bisa merasakan detak jantung pria itu yang sangat tenang namun sangat penuh dengan otoritas. Ia mencengkeram kedua bahu Gwenola dan menatapnya dengan sorot mata yang seolah ingin menelan seluruh keberanian yang tersisa di dalam diri istrinya. Suasana di lorong sempit tersebut menjadi sangat panas meskipun pendingin ruangan di pusat perbelanjaan ini sudah bekerja dengan sangat maksimal.
"Kontrak atau bukan, kau tetaplah milikku dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menyembunyikan kenyataan itu," ucap Xavier dengan suara yang sangat rendah.
Gwenola merasa sangat sesak karena ia menyadari bahwa Xavier mulai benar-benar terobsesi untuk mengendalikan setiap inci dari kehidupan sosial dan pribadinya. Ia memejamkan mata saat merasakan jemari kasar Xavier mulai mengusap pipinya dengan gerakan yang sangat lembut namun tetap terasa sangat mengancam. Kelembutan yang tidak terduga ini selalu berhasil membuat pertahanan Gwenola runtuh dan ia merasa sangat benci pada dirinya sendiri karena hal tersebut.
"Tolong, biarkan aku menjalani sisa masa sekolahku dengan tenang tanpa harus melibatkan dunia gelapmu," pinta Gwenola dengan air mata yang mulai menetes perlahan-lahan.
Xavier terdiam sejenak sambil menatap lelehan air mata di pipi Gwenola yang nampak sangat kontras dengan pencahayaan lampu pusat perbelanjaan yang sangat terang. Ia melepaskan cengkeramannya dan memberikan ruang bagi Gwenola untuk kembali bernapas dengan lebih bebas meskipun rasa canggung masih menyelimuti mereka. Tanpa berkata apa-apa lagi, pimpinan perusahaan tersebut berbalik badan dan memberikan isyarat agar Gwenola mengikutinya menuju pintu keluar pribadi.
"Bawa semua belanjaanmu dan jangan pernah lagi berpikir untuk pergi ke tempat umum tanpa seizinku secara tertulis," perintah Xavier tanpa menoleh sedikit pun.
Gwenola mengikuti langkah kaki Xavier dengan perasaan yang sangat hancur sekaligus sangat marah pada keadaan yang sangat tidak adil bagi dirinya. Saat mereka berjalan menuju area parkir bawah tanah, Gwenola tanpa sengaja melihat sebuah bayangan seseorang yang sedang memotret mereka dari kejauhan. Sosok itu menggunakan pakaian serba hitam dan nampak sangat mahir dalam menyembunyikan keberadaannya di balik tiang-tiang beton yang sangat besar.
"Xavier, aku rasa ada seseorang yang sedang mengikuti kita sejak tadi di dalam sana!" teriak Gwenola sambil menunjuk ke arah tiang beton tersebut.
Xavier segera menarik Gwenola ke belakang punggungnya yang sangat lebar dan ia mengeluarkan sebuah alat komunikasi kecil untuk memanggil tim keamanan pribadinya. Ia tidak melihat siapa pun di sana, namun insting pimpinan perusahaan miliknya mengatakan bahwa ada bahaya besar yang sedang mengincar mereka. Wajahnya yang tadi nampak tenang kini berubah menjadi sangat beringas seolah ia siap untuk menghancurkan siapa pun yang berani mengganggu ketenangannya.
"Segera blokir seluruh akses keluar dari area parkir ini dan periksa setiap kendaraan yang lewat tanpa terkecuali!" perintah Xavier kepada kepala tim keamanan.
Suara sirine sirine sirine dari mobil pengawal mulai terdengar bersahut-sahutan di dalam area parkir yang sangat luas dan sangat sunyi tersebut. Gwenola menggenggam jas Xavier dengan sangat erat karena ia merasa sangat ketakutan akan terjadinya baku tembak atau kekerasan lainnya di tempat ini. Ia mulai menyadari bahwa setiap kali ia mencoba untuk keluar dari kediaman mewah, bahaya selalu mengikuti langkah kakinya seperti bayangan yang sangat setia.
"Masuk ke dalam mobil dan jangan pernah menurunkan kaca jendela sedikit pun sampai kita tiba di rumah dengan selamat," ucap Xavier sambil mendorong Gwenola masuk ke dalam kendaraan.
Xavier berdiri di luar mobil sambil menatap ke sekeliling area parkir dengan pandangan yang sangat tajam dan sangat penuh dengan kewaspadaan yang tinggi. Ia melihat sebuah amplop cokelat tergeletak tepat di tempat bayangan misterius tadi berdiri beberapa saat yang lalu di balik tiang. Dengan perlahan-lahan ia mengambil amplop tersebut dan membukanya dengan tangan yang nampak sangat tenang namun menyimpan kekuatan yang sangat besar.
Di dalam amplop tersebut terdapat sebuah kartu plastik yang nampak sangat mengilap dan berisi informasi mengenai transaksi keuangan yang sangat mencurigakan. Kartu itu bukanlah kartu kredit biasa, melainkan sebuah akses menuju sebuah rekening rahasia yang selama ini digunakan oleh musuh-musuh bisnisnya. Xavier menyadari bahwa musuh tidak hanya mengincar nyawa Gwenola, namun juga ingin menghancurkan seluruh kekaisaran bisnis yang sudah ia bangun dengan darah dan air mata.
"Mereka sudah mulai bermain dengan api, maka aku akan memberikan mereka neraka yang paling panas yang pernah ada," gumam Xavier dengan nada yang sangat mematikan.
Ia masuk ke dalam mobil dan melemparkan kartu plastik tersebut ke atas pangkuan Gwenola yang sedang duduk dengan wajah yang sangat pucat pasi. Gwenola menatap benda tersebut dengan penuh rasa bingung karena ia sama sekali tidak memahami arti dari kartu yang nampak sangat mewah namun sangat berbahaya itu. Ia melihat Xavier mulai mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi, membelah jalanan kota yang masih sangat padat oleh kendaraan bermotor lainnya.
"Mulai hari ini, kau tidak akan lagi membawa uang tunai ke sekolah, gunakan saja benda itu jika kau butuh sesuatu," ucap Xavier secara tiba-tiba.
Gwenola merasa ada sesuatu yang salah karena instruksi Xavier nampak sangat berlawanan dengan ancaman bahaya yang baru saja terjadi di area parkir tadi. Ia mencoba untuk bertanya namun raut wajah Xavier yang sangat kaku membuatnya kembali menelan seluruh pertanyaan yang sudah berada di ujung lidahnya. Kartu plastik itu terasa sangat dingin di dalam genggamannya, seolah menyimpan sebuah kutukan yang akan segera mengubah seluruh jalan hidupnya di sekolah menengah atas.