NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBANGUNAN YANG TAK BERHENTI DAN HARI HARI YANG LEBIH BAIK

Mentari pagi menyinari gunung-gunung Papua yang indah, menyinari Sekolah Hadian Papua yang baru saja dibuka dua minggu yang lalu. Qinara, yang sekarang berusia enam belas tahun lebih enam bulan, berdiri di teras sekolah, memandang anak-anak yang sedang belajar di taman. Beberapa dari mereka sedang membaca buku di bawah pohon, yang lain sedang melukis gambar tentang gunung dan sungai di sekitarnya. Semua terlihat penuh semangat dan harapan.

Laras mendekatinya dengan cangkir teh jahe yang dia buat sendiri. Ini adalah salah satu hari pertama dia bekerja sebagai guru di sekolah ini—setelah dibebaskan bersyarat, dia memutuskan untuk pindah ke Papua untuk membantu mengajar anak-anak di daerah yang terpencil. "Qinara, lihat mereka—mereka senang banget belajar. Aku senang bisa membantu di sini," ucapnya dengan suara lemah, matanya penuh rasa syukur.

Qinara mengangguk, menyentuh kotak pemberian ayahnya yang selalu ada di sisinya. Di dalamnya, sekarang ada foto keluarga baru—dia, Laras, Pak Rio, Pak Santoso, Pak Slamet, Siti, Rudi, dan beberapa anak dari panti asuhan. "Ya, Ibu. Ayahmu pasti senang melihat kita bekerja bersama untuk membantu orang lain. Ini adalah keluarga yang dia inginkan, bukan?" jawab dia dengan senyum.

Pak Rio muncul dengan surat dari organisasi internasional yang bekerja di bidang pendidikan. "Qinara, ini dari Yayasan Pendidikan Global. Mereka ingin memberikan dana untuk membangun tiga sekolah lagi di Papua—di daerah yang lebih jauh dan sulit dijangkau. Mereka juga ingin kamu menjadi konsultan untuk merancang kurikulum mereka."

Qinara membaca surat itu dengan mata yang penuh kegembiraan. Ini adalah langkah besar untuk membantu lebih banyak anak-anak di Papua. "Aku akan terima, Pak Rio. Kita akan mulai mencari lokasi minggu depan. Kita tidak boleh berhenti sampai semua anak di Indonesia bisa sekolah."

Sore hari, mereka berjalan ke desa terdekat untuk bertemu dengan orang tua anak-anak. Warga desa sangat senang melihat mereka, dan banyak yang menawarkan bantuan untuk pembangunan sekolah baru. Seorang kepala desa, Bapak Yoseph, berkata, "Qinara, kamu telah memberikan harapan kepada kita. Sebelum ini, anak-anak kita tidak bisa sekolah, tapi sekarang mereka punya kesempatan untuk mencapai impian mereka. Terima kasih banyak."

"Kita semua bekerja bersama-sama, Bapak. Ini adalah untuk masa depan anak-anak kita," jawab Qinara dengan senyum.

Keesokan harinya, Qinara dan timnya mulai menjelajahi daerah sekitar untuk mencari lokasi sekolah baru. Jalanan sangat sulit—mereka harus berjalan melewati hutan lebat dan sungai yang deras. Tapi mereka tidak menyerah—mereka tahu bahwa ada banyak anak-anak di sana yang menunggu kesempatan untuk belajar.

Selama perjalanan, mereka bertemu dengan sekelompok anak-anak yang tinggal di rumah-rumah sederhana di pinggiran hutan. Anak-anak itu tidak pernah sekolah, dan mereka tidak bisa membaca atau menulis. Qinara merasa sedih melihatnya, tapi juga semakin tekad untuk membangun sekolah di sana. "Kamu mau sekolah, kan?" tanya dia kepada seorang anak perempuan kecil yang bernama Sari.

Sari mengangguk dengan antusias. "Iya, Kak Qinara! Aku mau sekolah agar bisa menjadi guru dan membantu anak-anak lain!" jawab dia dengan suara lemah tapi tegas.

Qinara memeluk Sari. "Tenang, nanti kita akan bangun sekolah di sini. Kamu pasti bisa sekolah."

Setelah beberapa hari menjelajahi, mereka menemukan tiga lokasi yang cocok untuk sekolah baru. Mereka segera mulai merencanakan pembangunan, dengan bantuan dari warga desa dan sukarelawan dari Jakarta dan Yogyakarta.

Selama bulan-bulan berikutnya, pembangunan sekolah berjalan lancar. Qinara menghabiskan semua waktu luangnya di sana—setiap akhir pekan dan liburan sekolah. Dia membantu mengawasi pekerjaan tukang, berbicara dengan orang tua anak-anak, dan mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Dia juga bekerja sama dengan duta khusus PBB untuk pendidikan anak-anak dari negara lain. Mereka sering berbicara melalui video call, berbagi pengalaman dan ide untuk meningkatkan pendidikan di negara berkembang. Seorang duta dari India berkata, "Qinara, model Sekolah Hadian telah membantu ribuan anak di India. Kamu telah mengubah hidup banyak orang."

Qinara tersenyum. "Kita semua bekerja bersama-sama untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Ini adalah pesan ayahku yang ingin aku sampaikan."

Beberapa bulan kemudian, tiga sekolah baru di Papua selesai dibangun. Ini adalah bangunan sederhana tapi nyaman, dengan dua kelas masing-masing, satu perpustakaan, dan satu ruang kesehatan. Dinding-dindingnya dicat dengan warna-warni, dan dinding kelas dipenuhi lukisan anak-anak yang menggambarkan kehidupan di hutan dan gunung Papua.

Hari pembukaan ketiga sekolah di Papua diadakan pada hari ulang tahun ayahnya yang ke-52. Lebih dari 1.000 orang datang ke acara itu—warga desa, pejabat lokal, sukarelawan, dan anak-anak yang akan bersekolah. Qinara berdiri di panggung, mengenakan baju tradisional Papua yang cantik. Dia memegang tongkat kayu yang diberikan Pak Santoso dan kotak pemberian ayahnya.

"Hari ini, kita merayakan ulang tahun ayahku yang ke-52 dan pembukaan tiga sekolah baru di Papua. Ini adalah hari yang spesial, karena kita telah mencapai target besar—sepuluh sekolah di seluruh Indonesia, yang membantu lebih dari 2.000 anak-anak miskin dan yatim."

Dia melihat ke arah anak-anak yang berdiri di depan panggung, termasuk Sari yang sekarang siap untuk mulai sekolah. "Untuk anak-anak di sini—jangan pernah melupakan impianmu. Kamu semua memiliki potensi untuk menjadi orang yang hebat. Pendidikan akan membantumu mencapai itu, dan kita semua akan ada di sini untuk membantumu."

Suara tepuk tangan yang meriah terdengar, bergema di antara gunung-gunung Papua. Kemudian, Gubernur Papua berdiri dan memberikan pidato. "Qinara adalah pahlawan bagi rakyat Papua dan Indonesia. Dia telah membangun sekolah yang tidak hanya memberikan pendidikan, tapi juga kasih sayang dan harapan. Kita bangga padanya."

Setelah pidato, mereka melakukan upacara pemotongan pita untuk ketiga sekolah sekaligus. Qinara memotong pita dengan tongkatnya, dan semua orang bersorak kegembiraan: "Hidup Qinara! Hidup Sekolah Hadian! Hidup Papua!" Anak-anak kemudian memasuki kelas untuk pertama kalinya, dengan wajah yang penuh kegembiraan dan harapan.

Sore hari, mereka kembali ke Sekolah Hadian Papua yang pertama, di mana ada pesta perayaan. Bu Minah yang telah pindah ke Papua bersama Pak Joko, membuat makanan tradisional Papua dan Indonesia—papeda, rendang, dan nasi tumpeng. Anak-anak menyanyi lagu dan menari tari tradisional Papua, sementara orang tua dan pejabat berbincang tentang masa depan daerah.

Di saat itu, Pak Slamet mendekatinya dengan bunga mawar putih yang dia tanam di kebun sekolah. Dia sudah sangat tua dan sulit berjalan, tapi dia tetap ingin hadir di acara ini. "Qinara, aku tidak bisa membayangkan seberapa jauh kamu telah datang. Dari anak kecil yang menangis karena kehilangan ayah, menjadi orang yang mengubah hidup ribuan anak di seluruh dunia. Aku sangat bangga padamu," kata dia dengan suara lemah.

"Terima kasih, Pak Slamet. Tanpa kamu, aku tidak akan pernah sampai di sini. Kamu adalah bapak angkatku," jawab Qinara, memeluknya dengan erat.

Malam itu, Qinara berdiri di teras sekolah, memandang langit malam yang penuh bintang. Dia memegang kotak pemberian ayahnya, yang sekarang sudah penuh dengan surat, foto, medali, dan bukti-bukti pencapaiannya. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

Dia menyenyum, dan air mata mengalir deras. Dia tahu bahwa dia telah melewati jalanan yang panjang, tapi masih ada banyak lagi yang harus dilakukan. Jaringan Sekolah Hadian telah mencapai sepuluh cabang di Indonesia, dan telah diadopsi di lima negara lain. Tapi dia tidak ingin berhenti—dia ingin membangun lebih banyak sekolah, membantu lebih banyak anak, dan menyebarkan pesan ayahnya ke seluruh dunia.

Pak Rio mendekatinya dengan surat baru dari PBB. "Qinara, ini dari Sekretaris Jenderal. Mereka ingin mengundangmu untuk berbicara di konferensi PBB kedua di Swiss tahun depan. Mereka ingin kamu berbicara tentang perkembangan sekolah dan pesan harapan untuk dunia."

Qinara membaca surat itu dan merasa hati dia penuh kegembiraan. Ini adalah kesempatan untuk menyebarkan pesan ayahnya lebih jauh. "Aku akan pergi, Pak Rio. Aku ingin memberitahu dunia bahwa kita bisa membuat perbedaan, jika kita punya tekad dan kasih sayang."

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak hari yang lebih baik untuk dijalani. Qinara siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari keluarga yang dibangun dari hati, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Ayahnya selalu menyertainya, dan warisan ayahnya akan hidup selamanya di hatinya, di jaringan Sekolah Hadian, dan di setiap anak yang dia bantu di seluruh dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!