NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alarm merah di mansion

Waktu berjalan tanpa permisi, mengubah rintihan bayi menjadi derap langkah kaki yang memenuhi setiap sudut koridor mansion Vance. Sepuluh tahun telah berlalu sejak Aurelia pertama kali dibawa pulang dengan selimut merah jambunya. Kini, kediaman yang dulunya dingin dan kaku itu telah berubah menjadi medan tempur penuh keceriaan, drama, dan—tentu saja—keganasan protektif dari seorang Brixton Vance yang rambutnya mulai dihiasi sedikit uban di pelipis, namun ketajamannya tidak berkurang sedikit pun.

Leo, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi replika sempurna ayahnya; cerdas, atletis, dan memiliki sorot mata yang bisa membuat nyali lawan bicaranya menciut. Sementara itu, Aurelia, si bungsu yang baru menginjak usia sembilan tahun, adalah perpaduan maut antara kecantikan lembut Alana dan kecerdikan serta keras kepala milik Brixton. Aurelia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa membuat Brixton berlutut hanya dengan satu kedipan mata, namun ia juga yang paling sering membuat jantung ayahnya hampir berhenti berdetak.

Pagi itu, ketenangan sarapan keluarga Vance hancur berkeping-keping oleh sebuah kalimat sederhana yang keluar dari bibir mungil Aurelia.

"Papa, nanti sore ada teman sekolahku yang mau mampir. Namanya Julian. Dia ingin meminjam buku catatan sejarahku," ucap Aurelia sambil mengoleskan selai stroberi pada roti panggangnya dengan tenang.

Seketika, denting sendok yang beradu dengan piring kristal terhenti. Brixton, yang sedang membaca laporan pasar saham di tabletnya, membeku. Ia menurunkan tabletnya perlahan, wajahnya berubah menjadi sangat serius seolah-olah baru saja mendengar berita tentang invasi asing.

"Julian?" Brixton mengulang nama itu dengan nada yang sangat rendah, seolah nama itu adalah mantra terkutuk. "Siapa Julian? Mengapa dia tidak punya buku catatan sendiri? Apakah dia tidak mampu membeli buku? Aku bisa membelikan dia satu toko buku jika itu artinya dia tidak perlu datang kemari."

Alana, yang duduk di seberang Brixton, berusaha menahan tawa sambil menyesap tehnya. "Suamiku, tenanglah. Ini hanya teman sekolah. Mereka hanya belajar bersama."

"Belajar bersama?" Brixton beralih menatap Alana dengan tatapan tidak percaya. "Istriku, itu adalah kalimat kode tertua di dunia. Belajar bersama adalah pintu masuk menuju... menuju hal-hal yang tidak kuinginkan!"

Leo, yang sedang sibuk memakan sereal, ikut menimpali tanpa menoleh. "Aku tahu Julian. Dia anak kapten tim sepak bola junior. Dia sering mencuri pandang ke arah Aurelia saat jam istirahat."

Kalimat Leo bak bensin yang disiramkan ke dalam api. Brixton berdiri dari kursinya. "Curi pandang?! Leo, kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Di mana sistem keamananmu sebagai kakak?"

"Aku sudah menendang bolanya tepat ke arah wajahnya minggu lalu, Pa. Secara tidak sengaja, tentu saja," jawab Leo tenang sambil mengangkat bahu.

"Bagus, Jagoan. Itu anakku," gumam Brixton bangga, namun kepanikannya kembali muncul saat menatap Aurelia yang tampak tidak peduli.

Kepanikan luar biasa melanda mansion sepanjang hari itu. Brixton tidak berangkat ke kantor. Ia membatalkan semua rapat pentingnya hanya untuk satu tujuan: Operasi Pengamanan Aurelia.

Ia memanggil kepala keamanan mansion dan memerintahkan untuk memeriksa latar belakang keluarga anak bernama Julian tersebut. "Aku ingin tahu siapa orang tuanya, berapa nilai rapornya, dan apakah dia pernah memiliki catatan kenakalan di taman kanak-kanak!"

Tak hanya itu, Brixton sibuk mengatur ulang posisi para pelayan. Ia meminta semua pelayan pria yang berusia muda untuk bekerja di area kebun belakang, dan hanya membiarkan pelayan senior yang berada di area ruang tamu. Ia bahkan sempat berpikir untuk memasang detektor logam di pintu masuk, namun Alana segera menghentikannya sebelum kegilaan itu berlanjut.

"Brixton, cukup!" seru Alana sambil menarik tangan suaminya masuk ke dalam kamar. "Kau bertingkah seolah-olah seorang perdana menteri akan datang untuk negosiasi senjata. Dia hanya anak laki-laki berusia sembilan tahun!"

"Sembilan tahun adalah usia yang berbahaya, Istriku!" Brixton bersikeras sambil membenarkan letak dasinya yang sebenarnya sudah sempurna. "Laki-laki pada usia itu mulai belajar cara merayu. Aku tidak akan membiarkan Aurelia jatuh pada rayuan murahan tentang buku sejarah."

"Lihat dirimu," Alana tertawa sambil merapikan kerah baju Brixton. "Pria paling ditakuti di dunia bisnis, bergetar ketakutan karena seorang anak kecil bernama Julian."

Brixton menarik Alana ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan gusar. "Aku hanya tidak ingin ada pria lain yang mengambil perhatiannya dariku, Istriku. Dia tetap putri kecilku yang memakai pita pink."

Sore pun tiba. Sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan gerbang. Julian, seorang anak laki-laki berambut pirang dengan wajah yang cukup tampan dan pakaian yang sangat rapi, turun dengan membawa ransel. Ia tampak sangat gugup saat menatap mansion Vance yang megah.

Brixton berdiri di balkon lantai dua, mengamati melalui teropong (yang entah didapat dari mana). Di sampingnya, Leo ikut mengamati dengan tangan bersedekap.

"Dia memakai minyak rambut, Pa. Itu mencurigakan," komentar Leo.

"Sangat mencurigakan. Dan lihat sepatu itu, terlalu bersih untuk seorang anak laki-laki. Dia pasti mencoba membuat kesan," sahut Brixton tajam.

Mereka berdua turun ke ruang tamu tepat saat Julian dipersilakan masuk oleh Bibi Martha. Julian berdiri dengan kaku di tengah ruangan yang luas itu. Saat ia melihat Brixton yang berdiri tegak dengan aura mengintimidasi, anak itu tampak ingin menghilang dari sana.

"Selamat sore, Tuan Vance," ucap Julian dengan suara yang sedikit mencicit.

Brixton tidak menjawab. Ia hanya menatap Julian dari atas sampai bawah selama hampir satu menit penuh tanpa berkedip. Keheningan itu sangat mencekam.

"Duduk," perintah Brixton pendek, menunjuk ke sofa tunggal yang letaknya cukup jauh dari posisi Aurelia nantinya.

Aurelia turun dari tangga dengan riang. "Hai, Julian! Kau sudah sampai."

Saat Aurelia ingin duduk di samping Julian, Brixton berdehem sangat keras. "Aurelia, duduk di kursi itu. Jarak pandang yang baik untuk belajar adalah satu setengah meter. Untuk kesehatan mata."

Alana muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi biskuit dan jus. Ia memberikan pandangan peringatan pada Brixton agar berhenti mengintimidasi tamu kecil mereka.

"Silakan dinikmati, Julian. Jangan hiraukan Tuan Vance, dia hanya sedang... terlalu bersemangat," ucap Alana manis.

Keseruan terjadi di sela-sela mereka belajar. Brixton tidak meninggalkan ruangan itu. Ia duduk di kursi kerjanya yang berada di sudut ruang tamu, berpura-pura membaca dokumen, namun telinganya terpasang lebar. Setiap kali Julian tertawa mendengar cerita Aurelia, Brixton akan berdehem atau menjatuhkan pulpennya agar perhatian mereka teralih.

Leo pun tidak kalah sibuk. Ia mondar-mandir di depan mereka sambil membawa bola basketnya, sengaja memantul-mantulkannya ke lantai untuk menciptakan kebisingan.

"Leo, bisakah kau bermain di luar?" tanya Aurelia kesal.

"Ini rumahku juga, dik. Aku sedang melatih otot lenganku," jawab Leo datar.

Puncaknya adalah saat Julian mengeluarkan sebatang cokelat dari tasnya. "Ini untukmu, Aurelia. Sebagai terima kasih karena sudah meminjamkan catatan."

Brixton langsung berdiri seolah ada alarm kebakaran yang berbunyi. Ia menghampiri meja mereka dalam dua langkah besar. "Cokelat? Aurelia tidak boleh makan cokelat sembarangan. Kandungan gulanya bisa merusak giginya yang baru tumbuh."

Brixton mengambil cokelat itu dari tangan Julian, lalu memberikannya pada Leo. "Leo, buang ini... atau makan saja. Aurelia akan makan buah organik yang sudah disiapkan Papa."

Julian tampak hampir menangis. Ia segera menutup bukunya. "A-aku rasa aku harus pulang sekarang, Aurelia. Terima kasih untuk catatannya."

"Tapi kita belum selesai..." ucapan Aurelia terputus saat Julian sudah berlari menuju pintu keluar seolah dikejar hantu.

Setelah Julian pergi, Aurelia berdiri dengan tangan di pinggang, menatap Ayahnya dengan mata yang berkilat marah namun tetap menggemaskan.

"Papa! Kau mengusirnya!"

"Aku tidak mengusirnya, Sayang. Dia hanya... sepertinya dia ada janji mendesak," jawab Brixton tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia kembali menjadi pria yang lembut dan segera menggendong Aurelia meskipun putrinya itu sudah cukup besar. "Ayo, lupakan Julian. Papa sudah memesankan es krim favoritmu dan kita bisa menonton film bersama malam ini."

Alana yang menyusul ke ruang tamu hanya bisa tertawa tak habis pikir. Ia menghampiri suaminya, mencubit pelan pinggang Brixton. "Kau benar-benar luar biasa, Suamiku. Kau baru saja menghancurkan cinta monyet pertama putri kita."

"Baguslah," jawab Brixton sambil mencium pipi Aurelia yang masih merajuk. "Tidak boleh ada cinta-cintaan sampai dia berusia tiga puluh tahun."

"Tiga puluh?! Papa!" teriak Aurelia protes.

"Baiklah, dua puluh sembilan setengah," tawar Brixton yang disambut dengan tawa riuh dari Leo dan Alana.

Malam itu, kemeriahan terjadi di ruang keluarga. Meskipun ada drama kepanikan di sore hari, kebahagiaan tetap menjadi pemenang di kediaman Vance. Brixton duduk di antara Alana dan kedua anaknya, merasa sangat puas karena bentengnya masih kokoh.

Sumpah di atas luka di masa lalu kini telah benar-benar berubah menjadi sumpah untuk menjaga kebahagiaan yang ia miliki sekarang. Brixton menyadari bahwa tantangan di masa depan akan semakin besar seiring tumbuhnya Aurelia dan Leo, namun ia tidak takut. Selama ia memiliki Alana di sampingnya sebagai penyeimbang kegilaannya, dan selama anak-anaknya masih ingin berada dalam pelukannya, Brixton Vance adalah pria yang paling kaya di seluruh jagat raya.

"Istriku," bisik Brixton saat anak-anak sudah mulai mengantuk di depan televisi.

"Ya, Suamiku?"

"Besok tolong ingatkan aku untuk memesan pagar tambahan di sekitar sekolah Aurelia."

Alana hanya bisa memutar bola matanya dan mencium bibir suaminya, menghentikan kegilaan pria itu dengan cinta yang tidak pernah padam. Di mansion itu, masa lalu telah terkubur, dan setiap hari adalah bab baru yang penuh dengan warna, tawa, dan tentu saja—sedikit keposesifan dari seorang Papa Brixton.

1
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
Peachy: Sabar sengg, suaminya emang agak agak alana nih.🥹
total 1 replies
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!