Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 12
Satu bulan sudah berlalu, Aruna juga sudah mulai terbiasa dengan kegiatannya di markas milik Bima. Bahkan semakin hari, semakin berat pelatihan yang dia dapat karena di samakan dengan anggota lainnya sebagai algojo. Pelatihan menjadi seorang Algojo jauh lebih berat di banding dengan anggota biasa.
"Selamat pagi sayang ..." seorang wanita datang memanggil Bima saat Aruna akan pergi ke sekolah.
"Kamu sudah kembali rupanya? Kenapa tidak mengabariku kalau akan datang ke sini? Aku pasti akan menjemputmu ke bandara," jawab Bima menyambut wanita yang datang bersama dengan dua anaknya.
Bima memeluk dan mencium wanita itu tanpa tahu malu. Bahkan menciumnya di bibir, Aruna melewati mereka begitu saja tanpa menyapa orang-orang yang sangat dia hafal tabiatnya termasuk kedua anaknya. Neraka untuknya sepertinya akan bertambah saya Bima menghadirkan mereka. Aruna tak peduli. Dia ingin segera menyelesaikan nerakanya empat tahun lagi.
"Loh kok dia main pergi saja tidak menyapa tantenya yang baru saja datang? Bahkan seolah tak mengenal kami!" Kaget wanita yang tak lain saudari tiri ibunya bernama Dewi.
Kedua anaknya bernama Rendra dan Kanaya yang usianya sama dengan dia. Hanya saja dia masih duduk di sekolah menengah pertama sedangkan Rendra kelas tiga sekolah menengah atas. sepertinya Bima akan memasukkan Rendra ke sekolah yang sama dengannya. Sudah bisa di tebak oleh Aruna.
"Aruna!" penggil Bima merasa kesal dengan tingkah gadis kecil itu.
"Maaf Tuan! Bukankah anda yang mengatakan sendiri kalau saya di anggap tak ada di rumah ini? Jadi untuk berbasa basi dengan mereka juga rasanya tidak perlu. Lagi pula bukan urusan saya apapun yang akan kalian lakukan. Permisi! Saya harus pergi ke sekolah!" jawab Aruna tegas membuat Bima mengepalkan tangannya menahan amarah.
Dengan liciknya Dewi mengusap tangan Bima dan berusaha menenangkan pria itu.
"Tidak apa-apa, Mas! Mungkin Aruna belum bisa menerima kehadiran aku. Apalagi jika dia tahu kalau kita akan menikah!" jawab Dewi.
"Tak usah pedulikan anak itu!" jawab Bima.
"Kenapa? Kenapa tem-ba-kanmu banyak yang meleset?" tanya Ramon.
Satu bulan Aruna selalu melakukan semua latihannya dengan sempurna. Hari ini pertama kalinya Aruna melakukan kesalahan. Itu semua karena emosinya yang sedang tidak baik-baik saja. Aruna hanya diam saja.
"Kita istirahat dulu," ajak Ramon yang di angguki Aruna. Sepertinya dia memang perlu menenangkan diri.
"Ada apa?" tanya Edwin.
"Dia sedang tidak fokus, mungkin sedang ada yang dia fikirkan," jawab Ramon yang membawa botol minuman dingin untuk Aruna.
Semenjak ada Aruna di sana, mereka memang mulai menyimpan berbagai minuman kemasan dingin. Biasanya hanya ada minuman ke-ras. Tapi karena menghargai Aruna mereka menyesuaikan diri. Edwin mengambil botol minuman itu dan membawanya kepada Aruna.
"Minumlah, agar kamu lebih tenang!" Edwin duduk di sebelah Aruna yang sedang termenung.
"Teriak kasih Om!"jawab Aruna mengambilnya. Setelahnya mereka sama-sama terdiam, cukup lama, Edwin membiarkan Aruna lebih tenang.
"Kapan tugas pertama aku Om?" tanya Aruna tanpa melihat ke arah Edwin yang ada di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Edwin.
"Hanya ingin tahu bagaimana adrenalin di lapangan," jawab Aruna.
"Aku harus meminta izin kepada ayahmu, malam ini kami ada tugas," jawab Edwin.
"Dia pasti akan mengizinkannya. Dia pasti akan sangat suka dan bahagia jika aku pulang dalam keadaan terlu-ka parah!" jawab Aruna dingin.
Edwin menatap Aruna dengan penuh tanya. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Dia merasa tak tega kepada Aruna, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan pernah kasihani aku Om! Aku sudah terbiasa dari kecil harus kuat dan tak boleh menangis. Karena aku adalah robot Pak Bima Empat tahun lagi. Aku harap jika nanti aku berhasil lolos dari Kematian, dia akan mengurangi lagi waktu tahanannya padaku," jelas Aruna yang sadar jika Edwin penasaran.
"Om adalah tangan kanan Tuan Bima. pasti lebih tahu sifat dia dari siapapun. Jika tanpa ada kesepakatan dengannya, aku tak kan pernah bisa bebas selamanya dari dia," tambah Aruna.
"Jika sudah bebas apa yang akan kamu lakukan?" tanya Edwin.
"Entah aku belum berfikiran kesana. Saat ini targetku hanya bisa cepat bebas saja. Om bisa bantu aku kan? Agar aku bisa segera bebas, dengan secepatnya menjadi algojo kalian!" jawab Aruna.
"Itu tak mudah Aruna. Kamu harus bekerja keras dan menguasai semua bidang. Bukan hanya masalah fisik dan bertarung. Tapi skill yang lainnya," jelas Edwin.
"Makanya Om Edwin bantu aku secepatnya. Karena hanya om yang bisa, bukankah Tuan Bima juga memintamu untuk menjadikanku sebagai algojo. Satu tahun apa kau bisa?" tanya Aruna.
"Perlu bertahun-tahun untuk menjadi Algojo, sepertinya Tuan Bima memang sengaja agar kamu terus berada di sini. Dia tahu jika ingin menjadi Algojo itu sangat sulit, tak semudah yang kamu pikirkan. minimal tiga atau empat tahun baru bisa," jelas Edwin.
"Ajarkan aku lebih cepat Om, aku mohon!" pinta Aruna.
"Apa kamu yakin? Baru satu bulan saja kamu sudah tak fokus, bagaimana mau melangkah ke level selanjutnya, apalagi menjadi Algojo," tanya Edwin meyakinkan.
"Maaf untuk hari ini. Aku janji akan kembali fokus seperti biasanya setelah ini Om!" jawab Aruna yang sudah lebih tenang dengan perasaannya.
Pikirannya hanya terdistrek dengan keberadaan tante dan kedua anaknya. Walau dia tak tahu pada akhirnya akan seperti apa. Dia tak peduli dengan hubungan mereka. Karena toh dia bukan anaknya Bima. Seperti yang dia katakan.
"Om ..." panggil Aruna kembali saat Edwin berdiri dan akan pergi dari sana. Tanpa menjawab pria itu berbalik.
"Apa boleh Om minta kepada Tuan Bima agar aku tinggal di sini saja..agar kalian tidak perlu mengantarkan aku setiap malam ke rumah. Sehingga aku juga bisa langsung istirahat. Bukannya dia ingin menjadikan aku sebagai algojo secepatnya?" pinta Aruna dia sudah mencoba berbicara yang masuk akal.
"Aku akan coba bicarakan dengannya," jawab Edwin.
"Terima kasih Om!" jawab Aruna beranjak dan kembali ke tempat latihan menem-bak bersama dengan yang lainnya.
Edwin melihat pancaran mata Aruna penuh harap. Aruna merasa lebih nyaman tinggal di tempat ini daripada di rumah megah ayahnya. Walau di tempat ini semuanya laki-laki, tapi mereka bahkan menghargai dirinya. Dan merasa lebih aman berada di sini. Di rumah sudah di pastikan nerakanya akan semakin bertambah berat. Edwin menatap Aruna dari kejauhan, memperhatikan anak itu dengan seksama. Ada banyak luka yang di pendamnya sendirian, ada lu-ka mendalam yang suatu hari akan menjadi bom waktu untuk Bima karena dendam anak perempuannya itu. Apakah dia harus membantunya? setidaknya membiarkan dia tinggal di sini.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/