NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Singgasana Di Atas Tanduk Monster

Aula utama Kastil Kerajaan Beast berubah menjadi medan perang tanpa suara. Arion tetap berdiri tegak di tengah kepungan ratusan tombak.

Ekspresinya datar, seolah- olah kematian yang mengintainya dari segala arah hanyalah embusan angin lalu.

Ketenangannya yang tidak manusiawi itu justru menciptakan lubang ketakutan di hati para penjaga.

"CUKUP! TURUNKAN SENJATA KALIAN!"

Sebuah suara melengking penuh otoritas pecah dari balkon lantai dua.

Semua mata mendongak.

Di sana, berdiri seorang wanita ras Beast dengan jubah sutra merah darah yang megah.

la adalah Putri Pertama, kakak dari Elara.

Namun, alih-alih menunjukkan kelegaan melihat adiknya kembali, matanya yang tajam justru memancarkan kebencian yang dikemas dalam keanggunan politik.

"Kau membawa kekacauan ke rumah kita, Elara?"

ucap Putri Pertama dengan nada meremehkan.

"Dan kau membawa... manusia rendahan ini ke aula ayahanda?" Elara gemetar, ia hendak bicara namun suaranya tertahan di tenggorokan.

Politik perebutan takhta di kerajaan ini jauh lebih tajam daripada mata pedang mana pun.

Tiba-tiba, pintu besar di belakang singgasana terbuka.

Empat sosok raksasa melangkah keluar, mengenakan zirah berat yang memancarkan aura keganasan.

Mereka adalah Empat Komandan Ksatria Beast, pilar pertahanan tertinggi kerajaan.

"Jadi ini manusia yang berani mengusik ketenangan kita?"

salah satu komandan bertubuh singa menggeram, suaranya menggetarkan kaca-kaca aula.

"Baunya sangat... lemah."

Pertumpahan darah hampir meledak, namun para ajudan Arion bergerak lebih cepat dari kedipan mata.

CRACK!

Lantai marmer di bawah kaki Hanz hancur saat ia melangkah maju, menghalangi komandan raksasa di depannya.

"Jika kau ingin mengukur kekuatan, cari lawan yang sebanding, anjing kecil," geram Hanz dengan nada yang jauh lebih berat.

"Menarik... Ada juga manusia yang setara denganku..." balas Gorgos,

Komandan divisi barat yang memiliki kepala badak purba.

Di sudut lain, Liora sudah berada di samping Borg , komandan pemburu yang dikenal memiliki kecepatan kilat, ujung belatinya menempel tepat di nadi leher sang komandan.

"Ssst... jangan banyak bicara. Aku paling suka memotong lidah yang terlalu berisik," bisik Liora dengan seringai liar.

Sebas tidak tinggal diam.

la melepaskan mana yang sangat murni, menekan komandan ketiga Garl yang tadi mengejek Arion hingga ksatria Beast itu terpaksa berlutut satu kaki.

"Tuanku adalah tamu agung. Jika kau tidak bisa menghormatinya, maka kau tidak butuh kepala untuk berpikir," ucap Sebas dengan nada dingin yang mematikan.

Namun, kejutan terbesar datang dari Nyx. Menggunakan teknik Dua Bayangan, satu sosoknya menahan komandan keempat, sementara sosok aslinya secara ajaib sudah berdiri di balkon lantai dua.

Belatinya yang hitam pekat menempel erat di leher Putri Pertama.

"Satu perintah darimu untuk menyerang, maka kepalamu akan jatuh ke lantai bawah sebelum prajuritmu melangkah," bisik Nyx di telinga sang Putri yang kini membeku pucat.

Suasana aula mendadak sunyi senyap.

Empat komandan terkuat Beast tertahan, dan putri mereka disandera.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, Arion mulai bergerak.

la meletakkan tangan kirinya di atas gagang pedang di pinggangnya -sebuah isyarat bahwa predator sesungguhnya baru saja bangun. Arion berjalan perlahan menuju anak tangga singgasana.

la melepaskan aura intimidasi yang selama tujuh tahun ini ia tekan di dalam kegelapan penjara. Aura itu begitu pekat, begitu dingin, hingga para prajurit yang menghalangi jalannya gemetar hebat.

Insting hewani mereka berteriak bahwa sosok di depan mereka bukanlah manusia biasa, melainkan maut yang berjalan.

"Politik, takhta, dan kesombongan..." suara Arion bergema rendah, menyapu seluruh aula.

"Kalian terlalu sibuk dengan hal-hal kecil, hingga lupa bahwa naga sedang mengetuk pintu kalian."

Arion terus melangkah, menaiki anak tangga satu per satu, menuju singgasana emas Raja Beast yang masih kosong.

la berhenti tepat di depan kursi kekuasaan itu, lalu berbalik membelakangi singgasana, menatap seluruh penghuni kastil dengan mata ungu yang menyala redup.

"Katakan pada Rajamu," ucap Arion sambil melirik ke arah pintu ruang pribadi raja.

"Jika dia terlalu takut untuk keluar, maka aku tidak keberatan untuk mencoba betapa nyamannya kursi ini."

Tanpa berkata-kata lagi, Arion memutar tubuhnya dan menduduki singgasana emas Raja Beast dengan gerakan yang begitu alami, seolah-olah kursi itu memang diciptakan untuknya.

la menyandarkan punggungnya, menopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap berada di hulu pedangnya.

"Masuklah," perintah Arion.

Suaranya tidak keras, namun bergema di setiap sudut aula.

Mendengar perintah itu, pintu aula besar terbuka lebar.

Puluhan pasukan Black Knight yang tadinya menunggu di luar kini berderap masuk dengan formasi yang sempurna, mengisi setiap jengkal ruang kosong di aula mewah itu.

Hanz, Liora, Nyx, dan Sebas melepaskan tekanan mereka pada para komandan Beast, namun tetap berdiri siaga di garis depan, menghadap langsung ke arah singgasana tempat Arion berada.

Para Komandan Beast-Gorgos, Borg, Garl, dan Zane-terengah-engah.

Mereka ingin menyerang manusia yang dengan lancang menduduki takhta suci mereka, namun kehadiran Pasukan Black Knight yang mengepung aula membuat mereka sadar bahwa satu langkah salah akan mengubah kastil ini menjadi kuburan massal.

"Apa yang kau lakukan, manusia?!" Putri Valerica berteriak menuruni tangga, ia berlari berusaha masuk, namun di tahan oleh ksatrianya, karna mereka tau batas ini memisahkan kematian dan kehidupan. Jika Putri mereka masuk kesana, ia tidak akan bisa kembali.

"Turun dari sana! Itu bukan tempat untuk makhluk rendahan sepertimu!" Arion tidak menghiraukannya.

Matanya justru tertuju pada Elara yang berdiri mematung di tengah aula.

Wajah sang putri pucat pasi, matanya berkaca-kaca menatap ke arah kamar pribadi raja di balik singgasana.

"Sebas," panggil Arion datar.

"Berikan laporanmu. Kenapa udara di kastil ini tidak tercium seperti bau seorang Raja, melainkan bau kematian?"

Sebas melangkah maju, membuka sebuah gulungan kecil yang baru saja ia terima dari agen bayangannya.

"Tuan Muda, sepertinya ada rahasia yang disimpan rapat di dinding emas ini. Berita yang tidak pernah sampai ke telinga luar... Raja Beast sedang berbaring lemah, sekarat di ranjangnya."

Keheningan yang mencekam menyelimuti aula. Para komandan Beast tertunduk, sementara Valerica menggigit bibirnya dengan emosi yang tertahan.

"Dan yang lebih menarik," lanjut Sebas dengan nada penuh arti,

"Raja mulai jatuh sakit tepat sehari setelah keberangkatan Putri Elara menuju kediaman Anda, Tuan Muda. Seolah-olah... pelindung terakhir kerajaan ini sengaja diracuni saat putri yang ia sayangi tidak berada di sisinya."

Mata Arion berkilat dingin.

la menatap ke arah Valerica yang kini tampak gelisah.

"Begitu rupanya," gumam Arion.

la mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru aula, ke arah para ksatria Beast yang tampak bimbang antara harga diri dan ketakutan.

"Kalian membiarkan orang asing menduduki takhta ini, sementara Raja kalian sedang meregang nyawa akibat pengkhianatan dari dalam? Kerajaan Beast ternyata jauh lebih busuk daripada kerajaan manusia."

Arion berdiri dari singgasana emas itu, langkahnya menuruni anak tangga dengan keanggunan yang mematikan.

Jubah hitamnya menyapu lantai marmer saat ia berhenti tepat di depan Elara.

Sang putri masih mematung, tubuhnya gemetar hebat menatap pintu besar kamar ayahnya yang dijaga ketat oleh ksatria Beast yang tampak bimbang.

Arion membungkukkan sedikit tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Elara.

Suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh gadis itu di tengah kebisingan aula yang mencekam.

"Berhenti gemetar, Elara," bisik Arion dingin.

"Ayahmu sedang sakit keras. Dia sedang meregang nyawa di balik pintu itu, dan kau adalah satu-satunya alasan kenapa aku belum meratakan tempat ini."

Mata Elara membelalak.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Informasi itu menghantamnya lebih keras daripada pedang mana pun.

la menoleh ke arah Arion dengan tatapan hancur, namun ia melihat ketegasan yang mutlak di mata ungu tuannya.

"Antar aku ke kamar ayahandamu," perintah Arion, kali ini dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh para penjaga.

Elara mengangguk pelan, jemarinya yang dingin meraih ujung jubah Arion, mencari kekuatan.

Dengan langkah gontai namun pasti, sang putri memimpin jalan menuju pintu suci tersebut.

Para penjaga gerbang kamar raja sempat hendak menyilangkan tombak mereka, namun tatapan tajam Arion dan aura membunuh dari para ajudan di belakangnya membuat nyali mereka menciut. Mereka mundur, membiarkan Arion dan Elara lewat.

Putri Valerica berteriak dari luar pintu dengan wajah yang kini pucat pasi karena panik,

"Jangan biarkan manusia itu masuk! Dia akan membunuh Ayahanda!"

Arion berhenti sejenak di ambang pintu, namun ia bahkan tidak menoleh ke arah Valerica.

"Jika aku ingin dia mati, dia sudah mati sejak aku menginjakkan kaki di kota ini," ucap Arion tanpa nada.

"Aku masuk untuk melihat apakah monster yang kalian puji sebagai Raja masih layak untuk kuselamatkan."

Pintu besar itu terbuka dengan derit berat, memperlihatkan sebuah ruangan luas yang dipenuhi aroma obat-obatan yang tajam dan bau kematian yang menyesakkan.

Di sana, di atas ranjang raksasa, terbaring sosok yang dulunya merupakan penguasa rimba yang ditakuti, kini hanya menyisakan bayang- bayang dari dirinya yang dulu.

Bersambung...

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!