Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Bawahanku mengabarkan soal satu rombongan pasukan Alexander yang mengamankan orang-orang berpakaian aneh. Ah, mereka adalah suku pedalaman yang Alexander bawa dari hutan Daintree." Anggota 0011 mengepalkan tangan erat-erat. "Kenapa mereka dijaga dengan sangat ketat oleh pasukan Alexander?"
Anggota 0011 menerima panggilan dari bawahannya. "Tangkap mereka semua. Aku yakin mereka bisa berguna untuk kita."
Anggota 0011 menutup panggilan, terbang lebih tinggi, mengamati keadaan sekeliling.
"Pasukan lain sudah mengurus orang-orang di berbagai negara. Mereka tidak akan bisa mengganggu pekerjaanku dan yang lain di sini."
Di waktu yang sama, Benji dan pasukannya terus bergerak sembari melindungi suku pedalaman. Mereka tampak waspada dengan kehadiran anggota Galata yang mulai melayangkan serangan terus menerus.
"Keadaan semakin buruk dari waktu ke waktu. Aku dan pasukanku tidak mungkin bisa bertahan selamanya mengingat mereka lebih kuat. Aku harap bantuan segera datang," ujar Benji sembari mengamati keadaan sekeliling.
Anggota suku pedalaman tampak tertidur lelap di dalam mobil setelah mereka menghirup asap. Hal ini dilakukan agar mereka tidak mengalami trauma sekaligus menyulitkan pasukan. Meski begitu, Karnu dan beberapa pria dewasa nyatanya mampu bertahan. Beruntung, mereka bisa memahami maksud dari tindakan ini.
Karnu mengawasi keadaan melalui jendela. Pria itu melihat pasukan yang terbang dengan roket. Ingatannya seketika tertuju pada penyerangan tempo hari.
"Baba." Karnu mengepalkan tangan erat-erat.
Karnu menoleh pada teman-temannya yang bersiaga. Ia memegang sebuah tombak dengan erat, melihat anggota keluarganya yang lain tertidur di sebuah matras panjang.
Xylorr mulai membuka mata, menatap langit-langit mobil. Tubuhnya berguncang bersamaan dengan kendaraan yang melaju sangat cepat di jalanan berbatu. Berbagai bayangan terus hadir bergantian dalam pikirannya.
Xylorr mengingat semua ingatannya setelah suara alarm berbunyi. Hal yang membuatnya sangat khawatir adalah keselamatan keluarganya, Xander, dan juga keluarga pria itu. Ia menganggap dirinya sudah tidak lagi berharga jika situasi buruk terjadi.
"Baha (Ayah)." Karnu segera mendekati Xylorr, memegang tangan ayahnya dengan erat. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang begitu kentara.
"Nehma jeung nu anli duku antuman Alexand, Karnu (Kau dan yang lain harus membantu Alexander, Karnu). Rangu kinya yen Baba jeung narantubaba kalba tangda nganlunu nehma jeung hanbeka (Aku yakin kalau Baba dan teman-temannya akan datang membantumu dan semuanya). Nehma geo duku kinya (Kau juga harus yakin)." Xylorr berbicara dengan napas tersenga-sengal.
Xylorr menutup mata perlahan bersamaan dengan sebuah robot yang mendekat, lantas memeriksa keadaannya. Karnu merasa lega saat melihat keterangan di layar. Ia dan semua anggota suku pedalaman belajar banyak hal.
Anggota Galata terus menyerang pasukan. Mereka mengirim misil, bom, dan juga pasukan robot. Meski keadaan memburuk, pelindung masih aktif menahan serangan.
Benji memberi tanda pada bawahannya untuk mulai menyerang. "Aku dan yang lain akan sampai ke ujung hutan beberapa waktu lagi. Setelah melewati sungai, kami akan melewati hutan yang luas. Fokusku dan yang lain sekarang adalah membawa suku pedalaman ke lokasi yang aman lebih dahulu."
Di lantai tempat, pasukan Galata mulai mengejar rombongan Xander dan pasukannya.
Xander bersiaga penuh, mengawasi keadaan di layar hologram. Ia terkejut saat layar mendadak menampilkan kode merah.
"Sebuah portal terbuka di depan, Tuan. Pasukan Galata muncul dan mulai menyerang pasukan kita. Rombongan 2 sudah mengambil arah lain," ujar Govin.
Xander mengepalkan tangan erat-erat. "Pastikan rombongan dua tetap aman."
Kendaraan mendadak berguncang hebat hingga Xander harus mengaktifkan pengaman di bajunya. Pasukan Galata melancarkan serangan bertubi-tubi.
"Galata menyerang dengan kekuatan penuh, Tuan. Pelindung sebelah kiri dan belakang mengalami kerusakan sehingga tidak akan mampu menahan serangan daya ledak besar dalam waktu lama. Pasukan di bagian belakang sudah mulai menyerang."
Xander mengamati pasukannya melayangkan serangan pada anggota Galata yang berusaha menerobos. Ledakan terjadi saat dua serangan saling beradu, disusul oleh angin yang berembus ke sekeliling. Di waktu yang sama, para robot berupaya untuk memperbaiki pelindung di saat pasukan robot lain membantu pasukan menyerang dan bertahan.
Xander beralih pada rombongan kedua yang sudah bergerak jauh dari posisinya dan pasukannya sekarang. Ia tidak memungkiri bahwa dirinya sangat ketakutan sekarang. Bayangan kehidupan lamanya yang penuh kesulitan terus menghantuinya. Akan tetapi, dibanding terus tenggelam dalam ketakutan, ia memilih untuk melakukan beragam cara agar keluarganya selamat dan aman.
"Aku sudah memilih jalan ini, dan aku akan tetap melangkah sesulit apa pun jalannya." Xander mengepalkan tangan erat-erat.
Sebuah portal berukuran besar seketika muncul di depan. Titik-titik kecil keluar dan bergerak ke sekeliling. Titik-titik itu berubah menjadi pasukan Galata dalam jumlah banyak.
Xander sontak tercengang, menekan tangannya yang mendadak gemetar. Matanya menunjukkan titik-titik kecil yang kemudian berubah menjadi serangan-serangan.
Xander merasakan tubuhnya berguncang-guncang selama beberapa kali. Suara alarm terdengar menyakitkan. "Ah."
Asap mengepul ke sekeliling. Beberapa robot mulai jatuh dan hancur sebelum menyentuh tanah. Terlihat lubang di beberapa bagian pelindung, disusul beberapa anggota pasukan yang berjatuhan dari udara.
"Serangan barusan menghancurkan lebih dari setengah pelindung, Tuan. Sebanyak dua puluh robot hancur karena mereka memasang pelindung tambahan," ujar Govin.
Xander mengamati keadaan sekeliling di layar, menggertakkan gigi.
Govin meneruskan, "Selain itu, musuh sudah mengepung kita dari berbagai sisi, termasuk dari arah kediaman utama. Jumlah mereka nyaris dua kali lipat dari pasukan kita. Kita terjebak di hutan sekarang, Tuan."
Xander melihat tangan dan kaki Govin yang bergetar. "Aku tidak pernah melihat Govin setakut ini sebelumnya," gumamnya.
Pasukan Galata melayangkan serangan secara bersamaan dari berbagai arah. Pasukan dan para robot mengaktifkan pelindung. Saat serangan meledak, pasukan dan para robot membalas dengan mengirimkan serangan. Akan tetapi, serangan itu dapat dengan mudah di halau oleh lima orang.
Xander mengamati informasi di layar. "Orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan. Mereka juga berasal dari pasukan level tinggi."
Xander anggota Galata berkemampuan khusus seketika menyerang para robot dair jarak jauh dan menghajar pasukan Xander dari jarak dekat. Satu per satu anggota pasukan Xander tumbang dan tidak sadarkan diri.
Semua anggota pasukan Galata mempersiapkan serangan. Senjata mereka bercahaya, dan dalam sekejap serangan dahsyat kembali meluncur.
Ledakan-ledakan besar seketika terjadi, saling bersahutan hingga keadaan bergetar kuat. Pohon-pohon tumbang dan hancur, begitu pun dengan tanah yang berlubang.
Xander melompat dari kursi, terbang ke atas. Ia melihat Govin mendorongnya saat sebuah serangan muncul. "Govin!"
Xander terpelanting meski akhirnya ia selamat karena bantuan Mikael, Lorien, dan beberapa anggota pasukan yang lain. Sementara itu, Govin ambruk di tanah dengan perut yang mengeluarkan darah.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍