Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Pagi hari pun tiba.
Salju benar-benar menutupi jalanan dan hutan, bahkan sebagian rumah Rudy juga tertutupi salju. Beberapa robot di kerahkan olehnya untuk membersihkan jalan sekitar rumah.
Rachel pun menghampiri Rudy didepan rumah yang sedang melihat para robot membersihkan jalanan.
"Tebal sekali saljunya." katanya
"Kau baru bangun ya.? aku sudah menyiapkan makanan untukmu di dalam."
"Ya, aku sudah memakannya." sahutnya dengan wajah gelisah.
Rudy pun melihatnya.
"Apa ada masalah.?"
"Tidak, aku hanya berfikir, kalau robot itu ada di istana, mungkin bisa sangat membantu membersihkan salju dengan cepat. Tapi semua orang pasti membuat rumor tidak enak."
"Kalau kau mau, kau bisa membawanya satu. Tapi kau benar-benar akan di anggap sebagai penyihir agung yang mampu menggerakkan logam."
Rachel tersenyum
"Ya kau benar. Mungkin aku akan di tangkap lalu di bakar hidup-hidup. hahaha."
"Itu gak lucu."
"Pakaian yang kau buat ini juga aneh, pada dasarnya wanita menggunakan gaun tebal dan mengembang di bawah, sedangkan pakaian yang kau miliki ini sedikit membentuk lekuk tubuh. Yaa meskipun nantinya ini di anggap kurang sopan."
"Apa itu terlihat aneh.? aku rasa pakaian ini cocok untukmu."
"Benarkah.? Ehm, kalau begitu aku akan memakainya terus."
"Memang, pakaian abad ini terlalu berlebihan, terlalu banyak perhiasan dan corak motif di mana-mana. Tapi aku lihat kemarin di kota, masih banyak orang yang memakai pakaian biasa tanpa motif."
"Masalah pakaian itu tergantung status sosial, bahkan antara bangsawan saja berbeda. Yang lebih mencolok itu pakaianku, lebih banyak motif emas di mana-mana."
"Gaun motif emas ya, aku belum pernah lihat kau memakai pakaian seperti itu. Apa tidak terlalu berat.?"
"Dibandingkan dengan pakaian yang kau buat ini, gaun istana jauh lebih berat. Lebih berat lagi saat menghadiri acara resmi, seperti pesta atau pertemuan antar bangsawan. Apalagi aku seorang kaisar perempuan, dari atas ujung rambut sampai ke bawah, penuh dengan perhiasan."
"Hmm." sahut Rudy sambil melihat Rachel. "Aku jadi semakin penasaran dengan penampilan mu yang seperti itu."
Puk. Rachel memeluk Rudy.
"Mari kita ke istana, aku tunjukan padamu."
"Hm.?" sahut Rudy terkejut
"Sekarang saatnya kau harus datang ke rumahku, kau juga harus tau istana yang aku tinggali itu seperti apa."
"Aku sih gak ada masalah, tapi bagaimana kau akan menjelaskan kepada orang-orang disana.? bukankah tidak semua orang bisa masuk istana.?"
"Benar, bahkan lalat pun sulit untuk masuk. Tapi tenang saja, ada aku disini. Kita masuk lewat jalan rahasia, dan anggap saja kau adalah bangsawan yang tinggal dari jauh."
"Apa itu masuk akal.?"
"Sudah ikuti aja apa kataku. Ayo kita pergi sekarang." sahutnya tersenyum sambil menggandeng Rudy.
"Eh tunggu, apa aku tidak perlu membawa apa-apa.?"
"Ah, kau benar, cream wajahnya ketinggalan."
....
Beberapa saat kemudian.
Mereka berdua pun berjalan melewati jalan bersalju. bahkan cuaca disana masih turun salju.
"Apa benar ini jalannya.?" kata Rudy sambil melihat peta dari sofline nya.
"Tidak mungkin aku salah, memang ini jalan rahasianya."
"Hmm, apa kau setiap hari melewati hutan ini.? apalagi saat malam hari kau tidak membawa lampu."
"Ya, tiap hari aku datang lewat sini sendirian."
Rudy pun melihat Rachel yang tersenyum, ia pun bergumam dalam hati. "Di era ini, mungkin masih banyak bandit dan hewan buas berkeliaran. Apalagi srigala atau macan, bagaimana dia bisa tenang melewati jalan seperti ini ini setiap hari.?"
Rudy melihat titik koordinasi di petanya, jalan yang di laluinya itu, berputar ke suatu tempat yang jauh dari kota.
"Ini sudah sekitar 1 jam kita jalan, apa masih belum sampai.?"
"Sebentar lagi kita sampai pintu masuk jalan rahasia."
Rudy hanya mengikutinya saja. lalu, mereka sampai di sebuah bukit yang menjulang ke atas.
"Ini dia jalan rahasianya."
"Wah, tinggi sekali bukitnya." sahut Rudy sambil melihat ke atas.
Rachel pun berlari ke sebuah goa yang ada disana. lalu ia mengambil sebuah obor yang di sembunyikan olehnya disana.
"Huft" ia meniup obor itu dan menyala.
Rudy pun menghampirinya dengan terkejut.
"Bagaimana bisa obor itu menyala?" tanya Rudy penasaran.
"Ah, obor ini menyimpan arang panas didalamnya, jadi saat tutupnya di buka, aku tinggal meniupnya saja."
"Begitu ya, baru tau ada cara seperti itu. Kenapa gak pakai senter aja."
"Sencer.? apa itu.?"
"Senter, alat penerangan yang bisa mengeluarkan cahaya."
"Apa kau punya alat itu.?" tanya Rachel
"Sebentar." Rudy mencari senter portable di sakunya, "Wah sepertinya aku tidak membawanya." kata Rudy sambil meraba seluruh pakaiannya.
"Yasudah, pakai ini saja. Ayo kita masuk." kata Rachel sambil masuk kedalam goa.
Tit. Rudy pun menandai tempat itu di petanya.
"Ini sedikit gelap Rachel. bahkan penerangannya hanya sekitar 5 meter kedepan. Kita pakai Axiom saja."
"Apa Axiom bisa mengeluarkan cahaya.?"
"Bahkan cahayanya jauh lebih baik dari pada senter. Tunggu sebentar, Orion, panggil Axiom 02 ke titik koordinat yang aku tandai, masuk melewati goa."
[Confirm]
"Kita tunggu disini." kata Rudy
"Titik koordinat.?"
"Kita berada di dalam goa, pada dasarnya, Axiom akan membaca kita berada di bawah tanah. Kalau tidak ada titik koordinat pintu masuk, dia akan melubangi goa ini."
"Melubangi.?" sahut Rachel sambil melihat ke atas goa. "Ini bukit yang besar, sedangkan Goa ini berada di bawah. Apa bisa dilubangi.?"
"Jangankan melubangi bukit, melubangi bulan pun bisa."
"Ah, aku tidak paham."
"Ya sudah, Axiom sudah datang."
Wong. Axiom 02 berada di depan mereka, Rudy pun membuka keyboard hologram disana. lalu. Tak tik tak tik. Ia membuat program baru untuk Axiom 02.
Dan Rachel hanya melihatnya dengan terkejut. "Woo, apa ini.? ada cahaya disini." katanya dan ingin ia sentuh dengan jarinya.
"Jangan di sentuh, sedikit saja kau sentuh, goa ini bisa meledak."
Dengan spontan, Rachel langsung menarik jarinya. "Benarkah? huft"
Rudy tersenyum.
"Tunggu 5 menit, aku masukkan program baru dulu."
"Ehm oke." sahutnya dengan bingung.
2 menit berlalu, Rachel mondar-mandir di belakang Rudy, dan Rudy masih fokus membuat program dengan sangat cepat.
5 menit berlalu, Rachel berjongkok dan bermain kayu di tanah. lalu Tit, [Program Error]
"Sialan. Huft. tunggu sebentar lagi Rachel." kata Rudy sambil memejamkan matanya dan berimajinasi.
Rachel hanya melihatnya dengan bingung.
Tak tik tak tik taktik.....
10 menit berlalu [Program Error]
15 menit berlalu [Program Error]
20 menit berlalu [Confirm]
"Huh, akhirnya selesai juga." sahutnya sambil menoleh kebelakang dan melihat Rachel yang sedang bersandar di dinding goa sambil menyilangkan tangan.
"Apa sudah selesai.?"
"Ya, lihatlah." Tak. Sebuah cahaya yang sangat terang menyinari goa itu bahkan bayangan pun tidak ada, seperti lampu di ruang operasi kedokteran.
Rachel langsung menutup matanya.
"Ini terang sekali Rudy. aku tidak bisa melihat."
"Jangan melihat cahayanya, lihat saja jalan ke depan."
"Ah oke." sahut Rachel sambil melihat ke depan Goa.
"Ini seperti siang hari, jelas sekali jalannya. bahkan semut pun bisa terlihat."
"Ayo jalan." kata Rudy.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya.
....