"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Pilihan di Ujung Waktu
Suara monitor jantung Mega yang melemah di layar besar di depan Tian adalah melodi yang menusuk hati. Di sekitar Pulau Bidadari Tua, gema pertempuran masih terdengar, tetapi bagi Tian, hanya detak jantung istrinya yang menjadi pusat dunianya. Udara terasa tipis, dan setiap napas terasa berat.
"Mega..." bisik Tian, suaranya dipenuhi kepedihan.
Aristha, yang tertangkap dan tidak berdaya, tertawa sinis. "Terlambat, Macan. Teknologi kami lebih unggul dari cintamu."
Kata-kata itu memicu sesuatu dalam diri Tian. Bukan amarah membabi buta, melainkan tekad dingin yang mematikan. Ia menatap Aristha dengan mata yang berkilat berbahaya.
"Kau akan bertanggung jawab atas semua ini," ujar Tian dengan suara datar, menggenggam erat kerah baju Aristha.
Di Jakarta, di dalam kamar ICU yang tegang, Jenderal Yudha mendesak tim medis. "Terus berusaha! Jangan biarkan Tian berjuang sendirian di sana!"
Tim medis bekerja keras, mencoba segala cara untuk menstabilkan kondisi Mega. Di sudut ruangan, Paman Hasan menggenggam tangan Ibu Tian, memberikan kekuatan dalam keheningan yang mencekam.
Kembali ke pulau, saat Tian menarik Aristha, jam tangan di pergelangan Aristha mengeluarkan suara.
"Tunggu... lihat..." Aristha terengah, menunjuk ke jam tangannya yang retak. "Protokol... Resuscitation... ada di sana..."
Tian melihat tombol darurat hijau berkedip di layar jam tangan itu. Sebuah protokol darurat yang bisa mengaktifkan chip di jantung Mega.
"Aktifkan," perintah Tian, suaranya tegas.
Dengan tangan gemetar, Aristha menekan tombol itu. Jenderal Yudha di Jakarta melihat perubahan di monitor. Sinyal dikirimkan, dan sebuah detak jantung muncul di layar.
Bip.
Satu detak. Kemudian...
Bip... Bip...
"Pasien kembali! Detak jantungnya kembali!" seru dokter di Jakarta.
Tian merasakan lega yang luar biasa, namun layar besar itu juga menunjukkan gambar yang membuat darahnya mendidih. Pasukan Aristha yang lain sedang menuju kamar ICU di Jakarta, berniat menyelesaikan apa yang gagal dilakukan oleh teknologi.
"Ini belum berakhir," Aristha tersenyum mengejek. "Mereka akan sampai di sana sebentar lagi."
Tian melihat jarak ribuan mil yang memisahkannya dari Mega. Ia tidak punya cara untuk berada di sana tepat waktu.
"Paman Hasan!" teriak Tian ke alat komunikasinya. "Mereka datang! Lindungi Mega!"
Tian melihat Paman Hasan yang terluka, bangkit berdiri dengan susah payah. Hasan menatap ke arah kamera, ekspresinya penuh keyakinan.
"Jaga Mega, Macan. Paman akan menahan mereka," jawab Hasan dengan suara serak.
Paman Hasan mengambil posisi di depan pintu ICU, siap menghadapi ancaman yang datang. Di Pulau Bidadari Tua, Tian menatap Aristha dengan tatapan yang bertekad. Helikopter Yudha mendarat di atap. "Kau akan menghadapi konsekuensi perbuatanmu, Aristha. Kau akan melihat bagaimana aku memastikan Mega aman dan menghancurkan kekuasaanmu." Tian menarik Aristha menuju helikopter, bersiap untuk langkah selanjutnya dalam perjuangannya untuk melindungi keluarganya dan mencari keadilan.
Tian merasakan paru-parunya seolah terbakar saat ia menyeret Aristha menuju helikopter yang baling-balingnya menderu membelah badai. Setiap langkah di atas landasan pacu yang licin itu adalah langkah menuju pertaruhan terakhir. Di telinganya, suara napas Paman Hasan yang berat melalui interkom terdengar seperti detak jam kematian. Ia tahu, di Jakarta, di lorong rumah sakit yang dingin itu, paman yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri tengah bersiap menjadi tameng hidup demi Mega dan ibunya.
"Jangan mati, Paman. Aku memerintahkanmu untuk tetap hidup!" raung Tian ke arah mikrofon, namun hanya suara statis dan desing peluru yang menyahut dari seberang.
Aristha tersenyum dengan sisa-sisa keangkuhannya, meski wajahnya sudah bersimbah darah. "Kau menyelamatkan jantungnya, Tian, tapi kau tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka dari orang-orangku yang haus darah. Cinta adalah kelemahan yang akan membuatmu kehilangan segalanya."
Tian berhenti mendadak, menatap Aristha dengan sorot mata yang begitu kelam hingga membuat tawa pria itu terhenti. Ia tidak lagi melihat Aristha sebagai manusia, melainkan sebagai kepingan terakhir dari teka-teki berdarah ini.
"Kau salah," desis Tian, suaranya kini tenang namun menggetarkan tulang. "Cinta bukan kelemahanku. Cinta adalah alasan kenapa aku masih membiarkanmu bernapas sampai detik ini. Karena aku ingin kau melihat bagaimana seorang 'pecundang' sepertiku meruntuhkan seluruh dunia yang kau bangun dengan keserakahan."
Tian mendorong Aristha masuk ke dalam helikopter Yudha dengan kasar. Ia menatap ke arah laut lepas, ke arah Jakarta, tempat surganya sedang berjuang. Pikirannya melayang pada janji sucinya di altar bahwa ia akan menjadi pelindung terakhir. Dan malam ini, di awal 2026 yang penuh darah ini, Tian akan membuktikan bahwa tidak ada teknologi atau kekuasaan yang lebih kuat daripada seorang suami yang tidak lagi memiliki rasa takut.