Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28🩷 Podcast horor
5 menitnya Rifal nyatanya sudah sampai di 20 menit. Namun Dea justru masih anteng, tak protes apalagi sampai berdiri tiba-tiba demi membuat Rifal enyah dari pangkuannya. Bahkan---kini seperti mulai nyaman tak terganggu oleh keadaan dan posisi mereka ini.
Terang saja, ia justru sibuk bermain tok-tok'an, meski dengan sebelah tangan dan setengah badan. Bosan dengan itu, ia bermain game online, sempat mencolek Rifal hanya untuk, "aku minta hotspot..."
Definisi Rifaldi Elvan Januar adalah donaturku, itu diamini Dea. Rifal seperti bertindak semaunya, pada Dea...secandu itu rupanya setelah memaksa Dea untuk selalu ikut dengannya, mencium Dea, dan merasa seperti memiliki. Namun Dea juga terima-terima saja, anteng-anteng saja, justru terkesan senang, seperti---simbiosis mutualisme.
Dan Rifal tak sungkan memberikan ponselnya pada Dea yang tak ia beri password itu. Rifal tersenyum dalam hati, hal sepele namun begitu penting menurutnya.
Dea telah lulus uji klinis, ia adalah gadis yang tak mudah cranky dengan modelan dirinya yang seperti ini. Ia bisa dan tau cara membuat dirinya sendiri nyaman tanpa harus tantrum pada Rifal. Bahkan Hana tidak begini, sering mengeluh saat Rifal asik sendiri atau memintanya menunggu tidur sekejap. Tasya dan Tian...keduanya sering bertengkar karena Tian yang terlalu maniak game online dan sering menganggurkannya.
Begitu asiknya Dea, ia sampai tak sadar sedang diperhatikan Rifal yang sudah membuka matanya sejak tadi. Ia membuat gerakan menggeliat agar Dea sadar jika dirinya sudah bangun.
"Eh," ia langsung menyudahi game miliknya lalu mematikan sambungan hotspotnya dari ponsel Rifal.
Dea terlihat menggerakkan kakinya dengan ujung rok sedikit kusut.
"Pulang sekarang yuk." Dea melirik jam di pergelangan tangan sembari menyerahkan minum padanya, dimana Rifal langsung meneguknya.
"Yuk."
Seperti biasa, Rifal akan memutari blok hingga nantinya Dea akan muncul dari belakang blok tanpa harus melewati rumah Gibran atau Inggrid dan Willy.
Mama akan selalu tau jika Dea diantar Rifal, dan Dea menyebut Rifal ojek dan jajan gratis.
"Tadi Gibran kesini, De...mama bilang masih les." Ujar mama yang sepertinya sudah mulai membongkar-bongkar lemari dan mengepak barang-barang yang jarang bahkan hanya koleksi saja. Sebagiannya bahkan sudah mulai dipaketkan ke Jogja.
"Tapi mama ada bilang kalo aku sering dianter Rifal?" tanya Dea sudah berhasil membuka sepatu dan melengos ke kamar mandi.
Mama meringis, "keceplosan."
Dea mele nguh, "duhhh. Mama pake keceplosan..."
"Maaf ya De, tapi kenapa sih...toh Rifal baik kan, masa iya yang lain ngga terima?"
Susah ia menjelaskan pada orangtua, tentang hal ini. Karena sudah pasti akan salah di mata mereka.
Dea diam, melengos ke kamar, "ma, nanti aku ke rumah Gibran ya?!"
"Iya."
Tak mungkin mama tak mengijinkan, sebab rumah Gibran hanya beberapa langkah saja dari rumah.
Dea, dengan kaos kebesaran dan celana pendek, stelan yang memang biasa ia pakai jika di rumah mengikat rambutnya menjadi cepol Korea, dengan poni yang ia turunkan sekenanya, sembari membawa dua cup mie pop berjalan ke arah rumah Gibran.
"Gibran, main yukkk!" seru Dea dari luar, di saat hari sudah menunjukan tanda-tanda kejinggaannya.
Tante Silvi yang muncul dan tersenyum, "masuk De...biasanya juga langsung buka pager."
Dea mengangguk memasukan tangannya melewati celah pagar demi membuka kuncinya.
"Gibran tadi ke rumah aku, ya?" tanya Dea masuk dengan sandal jepitnya.
Tante Silvi menoleh ke belakang, "Gib, nih Dea nyariin. Masuk deh...Tante lagi bikin makan malem, eh malah bawa pop mie."
"Mau ngajakin nonton podcast horor..." jawab Dea pada Tante Silvi, dimana hal itu adalah kebiasaan dua anak ini yang Tante Silvi tau.
Duduk berdua di ayunan teras balkon, sambil nontonin podcast horor dan makan mie cup.
Gibran menatap malas, "ngapain kesini, katanya lagi les..."
Dea menghampiri tersenyum, "gue sama Rifal ngga ada apa-apa, cuma----" kaki Dea mengetuk-ngetuk lantai dengan gadis ini yang memutar bola matanya ke atas berpikir.
Gibran mengusap wajah Dea kasar, "ngga usah dijawab gue udah tau."
"Gib..." ngemie yuk, masa gue udah bawa-bawa mie gini ngga Lo gubris..." gerutunya saat Gibran memilih melengos tak peduli.
"Balik sana. Gue udah makan, De...ajak berandalan itu aja."
"Ck. Asli nih? Ya udah, gue balik kalo gitu...padahal gue mau cerita, mau jelasin." Dea merengut menurunkan mie cup itu dan berbalik badan, "Tante, Gibran ngambek." alih-alih menyerah, Dea justru mengadu, "tante, Gibrannya ngambek sama Dea. Udah ngga mau main lagi, aku pulang ya...jangan jadi benci sama mama, ini cuma masalah anak-anak aja!"
Gibran bereaksi, sementara Tante Silvi hanya tertawa, "apa-apaan sih, childish." Gibran kembali dan merebut mie cup di tangan Dea lalu berjalan ke arah dapur untuk menyeduhnya, Dea tergelak. Caranya ini selalu ampuh untuk membungkam Gibran.
Dua remaja ini sudah duduk di atas ayunan panjang, dengan bantal sofa di pangkuan dan satu cup mie untuk masing-masing, tripod berdiri tegak memajang ponsel Gibran dimana, ia lah yang berlangganan jadi member salah satu konten creator podcast.
*Balik lagi di cerita horor wawak part ke 280*...
*Srupuuuttt*....Bibir Dea menyeruput mie dari cupnya, "emmh, dari Kalimantan.." serunya selalu mengulang ucapan si host. Lalu Gibran akan menimpali dengan mitos dan informasi yang ia tau tentang sosok yang dibicarakan.
Tante Silvi muncul dan memotret keduanya disana, "nih ada...lagi makan mie sambil nonton podcast kaya biasa." Ucapnya di telfon. Oke, sepertinya itu mama Dea yang ada di sebrang telfon sana.
Cukup lama mereka khusyuk menonton podcast, sampai mie di cup hampir habis. Jika Gibran akan menaruh serta keripik pedas, maka Dea hanya akan menyeruput kuah bersama sisa ampasnya sampai surut.
"Ini tuh kalo di Bandung ada ngga sih?"
"Ngga tau. Kayanya ku yang ngga nyebrang sampe Bandung. Takut air laut." Jawab Gibran.
Dea tertawa bahkan sampai tersedak kuah mienya. Ohokk...ohookk..."pedes!"
Gibran ikut heboh mengambilkan air, "nah kan...nah kan." Tangannya menaruh cup mie di bawah kaki lalu refleks menepuk-nepuk punggung Dea, "ekhem...De." refleksnya lagi ikut berdehem.
Dea sampai dibuat berlinang air mata dan menyedot terisak air di hidungnya.
Gibran kembali membungkuk mengambil tisu dari bawah yang ia siapkan tadi, tidak memberikan itu pada Dea namun mengelap ekor mata Dea dan mengelap basah di bawah hidung Dea.
"Biar gue aja."
Jarak yang sudah dipangkas sejak tadi oleh Gibran tak membuatnya kembali memundurkan diri sembari menatap Dea, "apa? Ada ingus ya?" tanya Dea justru membuat Gibran menggeleng.
Wajahnya itu terus maju hingga hampir tak berjarak dengan bibir yang siap mengecup bibir Dea.
Dea bukan lagi *anak polosan*, ia sangat tau situasi dan gelagat lelaki jika sudah begini. Wajahnya ia tarik ke samping demi menghindari apa yang siap Gibran lakukan sambil terus mengelap hidung dan ekor matanya mendadak canggung. Hingga akhirnya Gibran menghentikan diri dan beralih jadi mengecup kening Dea.
Cup!
"De, gue sayang sama Lo."
Dea menarik alisnya sebelah dan menoleh kembali.
"Lo jangan jalan bareng Rifal lagi. Gue cemburu."
.
.
.
.
.
ini air mataku balek lagi nih, aku sedih... kenapa kamu bikin jokes bapak² sih Rio 🥺
jadi LDR nggak ada di kamus percintaan mu kan fal
tapi gak tau juga seh kalau kamu tipe nya mengusahakan nggak LDR, misal Dea pindah tempat tinggal , kamu nyusul
blm baca tp komen dulu ini...
kaget bngt kenapa udah puluhan bab tp GK dpt notif auto nangis kejer ini AQ
😭😭😭😭😭 pdhl AQ tengok bolak balik profil teh sin juga GK ada.... hah gilakkk....
yg penting msh dlm jangkauan & pengawasan Rifal 🤗
padah Rifal bilang niat nikahin