kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya yang Membelah Kegelapan
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar yang memekakkan telinga meletus dari dalam mulut gua naga. Cahaya putih kebiruan yang sangat menyilaukan memancar keluar, menghanguskan lumut-lumut purba dan menguapkan butiran air hujan sebelum sempat menyentuh tanah.
Dari balik kepulan asap tebal dan percikan listrik yang masih meliuk-liuk di udara, Penasehat melihat pemandangan yang mengerikan. Naga Petir itu sedang mengamuk, sayapnya yang lebar menghantam dinding-dinding gua hingga menciptakan rekahan besar. Di punggung naga yang bersisik tajam itu, Ratu Layla terlihat, sedang berjuang mempertahankan posisinya. Rambut hitamnya berkibar liar, dan tangannya mencengkeram erat sisik leher sang naga sementara tangannya yang lain terus memancarkan kilatan sihir hitam yang ditujukan langsung ke saraf pusat makhluk tersebut.
naga petir melepaskan gelombang kejut listrik dari seluruh pori-pori sisiknya.
Tubuh Ratu Layla terlempar ke udara seperti daun kering yang diterjang badai.Layla jatuh dari ketinggian, meluncur deras menuju dasar gua yang penuh dengan bebatuan runcing. Melihat hal itu, Penasehat tidak tinggal diam.
Ia merapal kan mantra pelindung dengan kecepatan penuh. Ia melompat maju, membiarkan energi petirnya menyatu dengan aliran udara untuk menangkap tubuh sang Ratu sebelum menghantam lantai batu. Dengan napas tersengal-sengal, Penasehat berhasil mendekap Layla dalam pelukannya,
Keadaan menjadi sangat genting ketika Naga Petir bersiap untuk melepaskan napas badai terakhirnya Penasehat berteriak sekuat tenaga, menggunakan sisa kekuatannya . "Berhenti! Wahai Penguasa Langit!" teriak Penasehat dengan suara yang bergetar
Ia menaruh tubuh Layla yang setengah sadar di lantai gua, lalu berdiri merentangkan tangan di depan naga itu. "Jika kau membunuhnya sekarang, kau hanya akan kembali ke dalam kesunyian yang membosankan ini selamanya! Kesepakatan belum berakhir, dan darah yang kau tumpahkan hanya akan mendatangkan kutukan bagi puncak ini!" Naga itu berhenti sejenak, matanya yang putih menatap tajam ke arah Penasehat,
Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, amarah yang membara di dadanya meledak lebih hebat dari sebelumnya. Ia mendorong Penasehat ke samping dengan kasar, matanya kini berubah menjadi merah pekat,Sambil menggenggam sebuah belati kecil yang telah direndam dalam darah makhluk sihir, Layla berlari dengan kecepatan petir menyambar menuju kepala naga yang sedang merunduk. Naga Petir mencoba mengibaskan kepalanya, namun Layla melompat dengan lincah, menggunakan pilar batu sebagai pijakan untuk meluncur tepat ke arah wajah sang naga.
Dengan gerakan yang sangat kejam dan tanpa ragu, Layla menghujamkan belati sihirnya tepat ke mata kiri sang naga. Raungan kesakitan yang membelah angkasa terdengar hingga ke kaki gunung,Cairan biru kental yang bersinar mulai mengucur dari mata naga itu, namun Layla tidak berhenti di situ. Saat naga itu membuka mulutnya untuk berteriak, Layla justru melompat masuk ke dalam kerongkongan naga yang menganga lebar. Penasehat yang menyaksikan hal itu jatuh terduduk, mengira penguasanya telah melakukan tindakan bunuh diri yang paling konyol. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Di dalam tubuh Naga Petir, Layla mulai mengamuk. Ia melepaskan ledakan sihir hitam secara bertubi-tubi, menghantam organ-organ dalam sang naga dengan energi penghancur. Ia mencakar dinding kerongkongan dan mengalirkan aliran listrik hitamnya langsung ke jantung makhluk purba tersebut. Bau daging terbakar dan uap sihir memenuhi bagian dalam tubuh naga itu. Naga Petir tersebut mulai meronta-ronta dengan liar, menabrakkan tubuhnya ke dinding gua dalam upaya putus asa untuk mengeluarkan Layla dari dalam dirinya. Namun, Layla justru semakin dalam merasuk, merobek apa pun yang bisa ia sentuh,
Setelah beberapa menit yang penuh dengan suara hantaman dan geraman tertahan, gerakan Naga Petir mulai melambat. Sayapnya yang perkasa terkulai lemas di atas lantai gua, dan guntur yang biasanya menyelimuti tubuhnya perlahan memudar hingga hanya menyisakan percikan kecil yang lemah. Naga itu akhirnya tumbang, kepalanya menghantam tanah dengan dentuman keras yang menggetarkan seluruh gunung. Ia jatuh pingsan akibat trauma yang luar biasa. Tak lama kemudian, dari balik mulut naga yang masih mengeluarkan asap, Ratu Layla merangkak keluar. Tubuhnya tertutup lendir biru dan darah naga, wajahnya terlihat pucat namun dipenuhi dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan yang belum pernah dilihat oleh Penasehat
Malam pun tiba, menyelimuti dunia dalam kegelapan yang pekat,Naga Petir yang kini telah sadar, tidak lagi menunjukkan kesombongan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Ratu Layla,Layla, yang kini mengenakan jubah baru yang disediakan oleh Penasehat, berdiri di atas moncong naga itu dengan angkuh. "Bawa kami ke Atlantis," perintahnya dingin. Tanpa suara, naga itu membentangkan sayapnya yang robek dan terbang membelah awan badai, membawa Layla dan Penasehat menuju kerajaan Atlantis
Saat mereka tiba di atas wilayah pesisir Atlantis, langit yang tenang seketika berubah menjadi medan tempur elektrik. Layla memerintahkan naga itu untuk memuntahkan seluruh cadangan petirnya ke arah pemukiman dan barak-barak pasukan Atlantis di garis pantai. Kilat-kilat raksasa menyambar dari langit, menghancurkan bangunan-bangunan indah yang terbuat dari karang dan batu laut. Penasehat pun turut membantu dengan merapal kan mantra badai yang memicu gelombang pasang, menciptakan kekacauan total bagi pasukan manusia serigala dan putri duyung yang sedang berjaga.
Sebagian wilayah pinggiran Atlantis hancur lebur, terbakar oleh suhu tinggi dari petir naga dan runtuh oleh ledakan sihir Layla. Ratu Atlantis, sang siluman rubah, sempat muncul ke permukaan dengan amarah yang meluap, mencoba memanggil Hydra dan Naga Tanah untuk membalas serangan. Namun, posisi Layla yang berada jauh di langit membuat serangan darat Atlantis sulit menjangkaunya.
Setelah memastikan bahwa kehancuran yang ditimbulkan sudah cukup , Layla memberikan aba-aba untuk mundur. "Cukup untuk hari ini. Biarkan mereka meratapi reruntuhan itu," ucap Layla sambil menatap siluet Ratu Atlantis dari kejauhan dengan tatapan meremehkan. Naga Petir itu pun memutar haluan, mengepakkan sayapnya kuat-kuat untuk meninggalkan wilayah musuh
Setibanya di istana megah Kerajaan Atlas, suasana kemenangan tidak lantas membuat Ratu Layla menjadi lembut. Begitu turun dari punggung Naga Petir di halaman istana, ia langsung meluapkan amarahnya. Layla memarahi naga itu di hadapan para pengawal dan pelayan, mencaci-makinya karena dianggap terlalu lambat dalam menghancurkan benteng utama Atlantis. Naga Petir, makhluk purba yang dulunya dipuja seperti dewa, kini hanya bisa diam tertunduk menerima hinaan dari seorang wanita . "Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini, di bawah pengawasanku! Kau akan menjadi anjing penjaga langit Atlas, dan jika kau berani terbang satu jengkal pun tanpa izin dariku, aku akan merobek jantungmu dari dalam!" ancam Layla sebelum memerintahkan prajurit Minotaur untuk membangun rantai sihir raksasa
Di tengah ketegangan itu, seorang penjaga berlari tergesa-gesa menuju Ratu Layla. Dengan suara gemetar, "Yang Mulia... Telur-telur itu... Telur Hydra telah menetas!" Mata Layla seketika berbinar . Ia langsung melangkah menuju ruang bawah tanah, diikuti oleh Penasehat.
Layla menoleh ke arah Penasehat dengan tatapan menuntut."Penasehat, aku tidak ingin menunggu mereka tumbuh secara alami. Aku butuh mesin pembunuh ini sekarang juga," ucapnya
"Tapi Yang Mulia, ramuan itu membutuhkan pengorbanan energi yang sangat besar, dan bayi-bayi ini mungkin tidak akan bertahan karena tekanan pertumbuhannya yang terlalu cepat," protes Penasehat dengan nada rendah. Namun, Layla hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang mematikan. "Lakukan, atau kau sendiri yang akan menjadi bahan campuran ramuan itu. Aku ingin Hydra ini setinggi menara istana dalam waktu satu bulan!" Tanpa pilihan lain, Penasehat pun mulai menyiapkan kuali besar dan berbagai bahan kimia sihir, memulai proses alkimia gelap yang akan mengubah bayi-bayi mungil itu menjadi monster raksasa yang mengerikan.
Malam di istana Atlas terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun di luar sana para pekerja terus membangun rantai untuk sang Naga Petir. Ratu Layla duduk di balkon pribadinya yang menghadap langsung ke arah tempat peristirahatan naga tersebut. Ia sesekali melemparkan potongan daging segar ke bawah, seolah-olah sedang memberi makan hewan peliharaan biasa. Mereka sempat berbincang dalam sunyi, di mana Layla membanggakan visinya tentang dunia yang hanya mengenal satu penguasa. Ia menceritakan bagaimana ia akan menggunakan kekuatan petir naga tersebut untuk membakar seluruh hutan dan mengeringkan lautan jika Atlantis tidak segera menyerah. Naga Petir hanya mendengarkan dengan tatapan kosong,
Di tengah percakapan searah itu, Panglima Delta datang mendekat. Ia berjalan dengan langkah yang masih sedikit pincang,"Yang Mulia, saya ingin melaporkan bahwa moral pasukan sedikit terganggu dengan—" Namun, belum sempat Delta menyelesaikan kalimatnya, Layla mengangkat tangannya dengan kasar. Ia bahkan tidak menoleh ke arah panglimanya itu. "Pergi dari hadapanku, Delta. Aku sedang tidak ingin mendengar keluhan dari seorang pecundang yang bahkan tidak bisa memenangkan pertempuran sederhana di pantai. Urus saja barak mu yang bau itu, dan jangan kembali sampai kau punya rencana yang lebih baik daripada sekadar beristirahat," usir Layla dengan nada yang sangat menghina.
Delta tertegun, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa setianya selama bertahun-tahun dibalas dengan penghinaan yang begitu menyakitkan di depan makhluk purba yang baru saja ditaklukkan,Dengan kepala tertunduk dan hati yang penuh dengan gejolak kekecewaan, Delta berbalik dan meninggalkan balkon sang Ratu tanpa mengucapkan sepatah kata pun
Setelah mengusir Delta, Layla merasa kelelahan yang luar biasa menyerang tubuhnya. Efek samping dari penggunaan sihir hitam saat bertarung di dalam tubuh naga mulai terasa, sendi-sendinya kaku dan jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia meninggalkan balkon dan masuk ke dalam kamar mewahnya yang dipenuhi dengan dekorasi emas dan perak. Tanpa melepas jubah kebesarannya, ia merebahkan diri di atas tempat tidur sutra yang empuk.