Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Neraka Makin Dalam
Dua puluh satu hari Lestari hidup di rumah ini. Dua puluh satu hari dia jadi budak. Dua puluh satu hari dia bertahan dengan cara yang dia sendiri nggak tau gimana bisa.
Badannya makin kurus. Tulang belikatnya mulai kelihatan menonjol di punggung. Pipinya cekung. Matanya... matanya kehilangan cahaya yang tadinya—walau redup—masih ada.
Sekarang? Kosong.
Setiap pagi bangun jam setengah empat. Shalat subuh. Masak. Beresin rumah. Nyuci. Ngepel. Semuanya. Sendirian.
Tangannya penuh luka. Luka lama belum sembuh, luka baru udah datang. Plester udah nggak cukup lagi—dia cuma bisa biarin aja, biar mengering sendiri, jadi keropeng yang gatal tapi nggak boleh digaruk.
Kakinya juga. Betisnya ada bekas luka goresan kaca yang belum sembuh total. Setiap jalan sakit, tapi ya gimana—dia tetep harus jalan, tetep harus kerja.
Makan? Sekali sehari. Kadang cuma nasi sama garam. Kadang dapet sisa sayur yang udah dingin, udah basi dikit. Perutnya sering bunyi, tapi dia udah biasa. Udah nggak peduli lagi.
Yang paling bikin dia takut sekarang bukan kelaparan.
Bukan kerja berat.
Bukan makian Wulandari.
Tapi—
Suara motor Dyon.
Suara motor bebek tua yang knalpot nya bolong, bunyi nya berisik banget—ngeeeng ngeeeeng—suara yang bikin jantung Lestari langsung dag-dig-dug setiap kali denger.
Karena kalau Dyon pulang...
Pasti ada yang terjadi.
Pasti.
Malam itu—Kamis malam, sekitar jam sepuluh—Lestari lagi nyuci piring di dapur. Piring makan malam yang baru aja selesai—dia belum makan, masih nunggu Dyon sama Wulandari selesai.
Tangannya basah, penuh busa sabun. Rambutnya diikat asal pake karet, beberapa helai lepas nempel di leher yang basah keringetan.
Tiba-tiba—
NGEEENG NGEEENG NGEEENG.
Suara motor.
Lestari berhenti nyuci. Tangannya diem di tengah-tengah, piring masih di tangan, air netes dari piring ke lantai—tip tip tip.
Jantungnya langsung keras. Keras banget. Kayak mau copot.
Suara motor berhenti di depan rumah. Mesin dimatiin. Terus suara standar motor dibanting—KRANG.
Pintu gerbang dibuka kasar—KRIIEEEET BRAK.
Langkah kaki berat. Nggak stabil. Gontai.
Mabuk lagi.
Lestari menelan ludah. Tangannya gemetar. Piring yang dipegangnya hampir jatuh, untung keburu dipegang erat.
Pintu rumah dibuka keras—BRAK—sampe nabrak tembok.
"LESSSTAAARIII!"
Suara Dyon. Keras. Cadel parah. Marah.
Lestari nutup mata sebentar. Tarik napas dalam. Buang pelan.
Tangannya cepet-cepet mengelap di kain lap—kain lap yang udah item kotor—terus dia keluar dari dapur.
Dyon berdiri di ruang tamu. Bajunya—kaos oblong kuning yang udah dekil—basah keringetan. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah. Merah banget. Bukan cuma merah ngantuk. Merah marah.
Di tangannya ada botol—botol bir kosong yang masih digenggam erat.
Wulandari keluar dari kamarnya, masih pake daster tidur, rambut konde nya udah lepas sebagian. "Yon, lo kenapa ribut-ribut? Ibu mau tidur—"
"DIAM MAH!" Dyon membentak sambil melempar botol bir ke arah sofa—botol nya nabrak sandaran sofa, untung nggak pecah, cuma bunyi gedebuk keras.
Wulandari melongo. Baru kali ini Dyon teriak ke dia.
"Kamu... kamu mabuk lagi ya? Darimana aja—"
"GUE BILANG DIAM! Gue lagi KESEL, Mah! Kesel banget!"
Lestari berdiri di pintu dapur. Nggak berani maju. Nggak berani mundur. Cuma berdiri, tangan didepan, rapat, gemetar.
Dyon noleh ke arahnya. Matanya menyipit. Terus melebar.
"LO! LO KEMANA AJA?! GUE PANGGIL DARI TADI!"
"A—aku... aku di dapur... lagi nyuci piring—"
"NYUCI PIRING?!" Dyon jalan mendekat. Langkahnya nggak stabil, oleng ke kiri ke kanan. "GUE UDAH PULANG, LO HARUSNYA SAMBUT GUE DI PINTU! BUKAN NYUCI PIRING!"
Lestari mundur selangkah. "Ma—maaf... aku nggak tau kamu mau pulang sekarang... aku—"
"MAAF?! MAAF LO PIKIR CUKUP?!"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Lestari. Pipinya yang udah memar dari minggu lalu—memar yang belum sembuh—kena lagi. Keras banget sampe kepala Lestari miring ke kanan, rambut nya nutupin muka.
Lestari terhuyung, tangannya nahan pipi. Panas. Perih banget. Kayak dibakar.
"Mas... kumohon... jangan... aku nggak salah apa-apa..." Suaranya pelan, bergetar, hampir nggak kedengeran.
"NGGAK SALAH?!" Dyon ketawa. Ketawa nya nyaring, kayak orang kesetanan. "Lo... lo tau nggak gara-gara siapa gue jadi sial?! GARA-GARA KAMU!"
"A—aku... aku nggak ngerti—"
"MAIN SLOT! GUE MAIN SLOT DI WARNET! UDAH KELUAR MODAL SEJUTA! Udah mau menang, tinggal satu spin lagi—ZEUS! ZEUS! ZEUS!" Dyon teriak-teriak sendiri, tangannya gerak-gerak kayak orang lagi main slot. "Tinggal ZEUS satu lagi gue jackpot lima juta! TAPI MALAH BONCOS! HABIS SEMUA! GARA-GARA KAMU!"
Lestari... nggak ngerti. Slot? Zeus? Apa hubungannya sama dia?
Tapi logika nggak berlaku buat orang mabuk.
"Kamu... kamu bawa sial ke hidup gue! Sejak nikah sama lo, gue dipecat, gue kalah judi terus, gue—GUE RUGI TERUS!"
"Itu... itu bukan salahku, Mas... itu... kamu yang—"
PLAK!
Tamparan lagi. Kali ini pipi kanan. Keras. Lebih keras dari yang tadi.
Lestari jatuh. Kakinya nggak kuat nahan, jatuh ke lantai, pantatnya nabrak keras, tangan nya menyangga badan tapi tetep sakit.
"SALAH KAMU LAHIR! SALAH KAMU ADA DI DUNIA INI!"
Dyon narik kerah daster Lestari, ngangkat badannya setengah—kaki Lestari masih nyentuh lantai tapi badannya udah terangkat, cengkraman Dyon di kerah bikin lehernya sesak.
"Mas... mas sakit... lepas... kumohon..." Lestari nyoba lepasin tangan Dyon tapi nggak kuat. Tangannya cuma nempel di tangan Dyon, lemah.
"LO PIKIR GUE PEDULI LO SAKIT?!"
Dyon melempar Lestari—beneran melempar—ke samping. Badan Lestari melayang sebentar terus nabrak meja. Pinggangnya nabrak ujung meja keras—BRAK—sampe meja nya geser.
"AAAHH!" Lestari teriak kesakitan. Pinggangnya... ya ampun pinggangnya kayak patah. Tangannya langsung pegang pinggang, tubuhnya meringkuk di lantai.
"Dyon! Dyon udah cukup! Jangan—" Wulandari coba maju, tapi Dyon noleh ke arahnya dengan tatapan menyeramkan.
"Mamah mau bela dia?! Mamah mau bela istri gue yang bawa sial ini?!"
Wulandari diem. Melangkah mundur. Tangannya didepan, kayak mau melindungi diri. "Bu... Ibu nggak bela... Ibu cuma... kamu jangan sampe bunuh dia, Yon... nanti kita yang repot..."
Bunuh.
Kata itu... kata itu bikin Lestari merinding total. Merinding parah.
Dia menatap Wulandari. Menatap dengan mata berkaca-kaca, berharap—entah kenapa masih berharap—kalau mertua nya ini bakal nolongin.
Tapi Wulandari cuma balik badan. Masuk ke kamarnya. Nutup pintu.
Nggak nolongin.
Lestari sendirian.
Sendirian sama Dyon yang mabuk, yang marah, yang... yang nggak waras.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁