Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Malam sabtu biasanya menjadi waktu bagi Mori untuk mengurung diri di kamar, tenggelam dalam tumpukan novel atau mengerjakan latihan soal olimpiade. Namun, malam ini rencananya gagal total ketika Mamanya mengetuk pintu kamar dengan wajah memohon.
"Mor, tolong beliin sate ayam di persimpangan depan ya? Mama lagi pengen banget, tapi kaki Mama lagi pegel banget abis arisan tadi," ucap Mamanya.
Mori menghela napas pendek. Ia hanya mengenakan celana training hitam dan kaos kebesaran berwarna abu-abu, rambutnya hanya dicepol asal-asalan. "Yaudah, Ma. Mori berangkat."
Ia menyambar tas selempang kecilnya untuk menaruh dompet dan ponsel. Karena malas berdandan, ia sengaja menarik tudung jaketnya—meskipun cuaca malam itu tidak terlalu dingin—hanya agar ia tidak perlu menyapa siapa pun yang mungkin ia kenal di jalan.
Persimpangan jalan menuju tukang sate itu cukup ramai. Di sana terdapat sebuah coffee shop kekinian bernama "The Spot" yang menjadi tempat nongkrong favorit anak muda. Mori mempercepat langkahnya, menundukkan kepala sedalam mungkin saat ia harus melewati deretan motor yang terparkir di depan kafe tersebut.
Namun, matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenal.
Di salah satu meja outdoor, duduk seorang cowok dengan jaket varsity hitam. Ia sedang memegang gelas kopi, tertawa bersama beberapa temannya—termasuk Jojo yang tampak paling berisik. Cahaya lampu kafe yang kekuningan menonjolkan rahang tegas dan fitur wajahnya yang rupawan. Lian.
Mori membeku sesaat. Aduh, kenapa dia harus ada di sini?! batinnya panik.
Dengan gerakan cepat, Mori mengangkat tas selempang kecilnya untuk menutupi sisi wajahnya yang menghadap ke arah kafe. Ia berjalan setengah berlari, mencoba terlihat seperti pejalan kaki asing yang sedang terburu-buru.
Namun, Lian bukanlah orang yang mudah dikelabui. Di saat teman-temannya sedang asyik membahas modifikasi motor, mata tajam Lian menangkap gerakan yang mencurigakan dari seorang gadis dengan tudung jaket dan tas yang menutupi wajah. Aroma parfum, postur tubuh, dan cara berjalan itu... Lian mengenalnya luar biasa baik.
Senyum miring Lian mengembang. Ia meletakkan gelas kopinya dengan suara denting yang pelan.
"Liat siapa tuh," gumam Lian pelan, yang langsung membuat teman-temannya menoleh.
"Wih, ada yang lagi nyamar jadi buronan ya?" seru Jojo yang langsung menyadari siapa gadis itu.
Mori mengira ia sudah aman saat ia melewati batas parkiran kafe. Namun, suara langkah kaki yang berat dan cepat di belakangnya membuatnya merinding.
"Mau lari kemana, Tuan Putri?" suara berat itu menyapa tepat di samping telinganya.
Mori tersentak, hampir saja menjatuhkan tasnya. Ia menurunkan tas itu dan menatap Lian dengan wajah yang sudah merah padam—antara kesal dan malu karena ketahuan sedang berpenampilan "rumahan".
"Lian! Ngapain sih lo pake ngejar segala!" ketus Mori.
Di belakang mereka, di depan kafe, Jojo dan teman-teman Lian mulai bersiul-siul panjang.
"Fuit-fuiiiiiitttt! Gaspol, Li! Jangan sampe lepas buronannya!" teriak Jojo sambil tertawa terbahak-bahak.
Lian sama sekali tidak menoleh ke arah teman-temannya. Ia justru melangkah maju, memperpendek jarak dengan Mori sampai gadis itu terpaksa mundur satu langkah ke arah tembok toko yang sudah tutup.
"Pantesan tadi di kelas lo bilang nggak bisa diajak keluar, ternyata mau kencan sama tukang sate ya?" goda Lian. Matanya menatap intens ke arah wajah Mori yang polos tanpa riasan, namun justru terlihat jauh lebih manis di matanya.
"Gue disuruh nyokap! Dah ah, minggir, gue mau antre sate," Mori mencoba mendorong bahu Lian, tapi cowok itu tetap kokoh di tempatnya.
Lian justru merapikan tudung jaket Mori yang sedikit miring. "Lo mau beli sate dengan penampilan kayak gini? Rambut berantakan, muka cemberut... orang-orang bakal ngira lo lagi galau gara-gara abis gue tolak di panggung kemarin."
"Kebalik, Lian! Gue yang nolak lo!" koreksi Mori cepat dengan nada kesal.
Lian tertawa rendah. "Oh iya, gue lupa. Efek terlalu cinta jadi suka lupa fakta."
Lian tidak membiarkan Mori berjalan sendirian ke tukang sate. Dia berjalan di samping Mori, menyesuaikan langkahnya yang panjang dengan langkah pendek Mori. Dia bahkan dengan berani mengambil tas selempang Mori dan menyampirkannya di bahunya sendiri.
"Lian, balikin tas gue! Malu diliat orang, lo pake jaket keren tapi bawa tas cewek kecil gitu!" protes Mori.
"Biarin. Biar orang tau kalau gue lagi jagain cewek gue," jawab Lian santai.
Di depan gerobak sate yang berasap, Lian berdiri tegap di samping Mori. Dia menepis asap sate yang mengarah ke wajah Mori dengan tangannya. Saat Mori hendak membayar, Lian sudah lebih dulu menyodorkan selembar uang seratus ribuan kepada tukang satenya.
"Lian, gue punya uang sendiri!"
"Simpen aja buat jajan besok. Ini bagian dari 'layanan antar' gue malam ini," ucap Lian. Dia menerima bungkusan sate itu dan menentengnya.
Mereka berjalan pulang menuju rumah Mori yang hanya berjarak beberapa blok. Suasana malam yang sejuk dan lampu-lampu jalan yang remang membuat suasana menjadi sangat berbeda dengan di sekolah. Tidak ada Vano, tidak ada Alina, dan tidak ada teriakan histeris siswi-siswi lain.
"Mor," panggil Lian saat mereka sudah hampir sampai di depan gerbang rumah Mori.
"Apa?"
"Besok-besok kalau mau keluar malam, kabarin gue. Biar lo nggak perlu repot-repot nutupin muka pake tas lagi. Gue bakal pastiin nggak ada yang berani liatin lo selain gue," ucap Lian dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat serius.
Mori menatap mata Lian. Di bawah cahaya lampu merkuri jalanan, visual Lian benar-benar terlihat sangat tulus. Sisi red flag-nya yang posesif tetap ada, tapi kali ini terasa lebih seperti perlindungan daripada kekangan.
"Gue masuk dulu. Makasih satenya," ucap Mori pelan sambil mengambil bungkusan sate dan tasnya dari tangan Lian.
"Mimpiin gue ya, Mor," Lian mengedipkan matanya sebelum berbalik kembali menuju kafe tempat teman-temannya menunggu.
Mori masuk ke dalam rumah dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menyentuh pipinya yang terasa panas. Di meja makan, ia baru sadar bahwa tudung jaketnya masih terpasang rapi, persis seperti saat Lian merapikannya tadi.
"Bencana..." gumam Mori sambil tersenyum tipis tanpa ia sadari. Ia mulai sadar, bahwa ia tidak benar-benar benci saat Lian mengejarnya tadi.