SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pembalasan di Balik Pintu Gubuk
Malam telah jatuh di Desa Awan Hijau, namun keheningan malam itu terasa mencekam, seolah-olah alam semesta sedang menahan napas menunggu sebuah tragedi. Di dalam gubuk reyot yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu lapuk, bau asap minyak tanah yang menyengat bercampur dengan aroma debu yang menyesakkan dada. Di sudut ruangan, di atas tumpukan jerami kering yang gatal, Lin Xiao duduk bersila dengan mata terpejam.
Ia baru saja selesai menstabilkan Energi Nirwana Hitam yang baru saja ia bangkitkan. Setiap kali energi itu mengalir melalui nadinya, Lin Xiao bisa merasakan kekuatan yang dingin namun luar biasa kuat, sangat berbeda dengan energi Phoenix yang dulu ia miliki. Jika energi Phoenix terasa seperti matahari yang hangat, energi ini terasa seperti jurang maut yang tak berdasar.
BRAKK!
Pintu gubuk yang sudah rapuh itu ditendang dengan kekuatan penuh hingga engselnya terlepas dan menghantam lantai tanah dengan suara keras. Debu beterbangan di udara, tertiap angin malam yang masuk melalui pintu yang terbuka lebar.
Bibi Lin melangkah masuk dengan wajah yang merah padam, urat-urat di lehernya menonjol karena amarah yang meluap-luap. Di tangannya, ia memegang sebuah kayu pemukul cucian yang tebal, alat yang selama bertahun-tahun telah meninggalkan bekas luka di punggung Lin Xiao.
Namun, kali ini dia tidak sendirian.
Di belakangnya, muncul sosok pria paruh baya dengan perut buncit yang mengenakan jubah sutra berwarna hijau tua. Dialah Kepala Desa Lin, orang yang paling ditakuti di desa ini bukan karena kebijaksanaannya, melainkan karena kekuatan kultivasi tahap ketiganya dan sifatnya yang pendendam. Matanya yang kecil menatap Lin Xiao dengan kebencian yang mendalam.
"Dasar anak haram! Kau benar-benar sudah bosan hidup, ya?!" jerit Bibi Lin, suaranya yang melengking membuat telinga terasa sakit. "Kau berani memukul putra Kepala Desa sampai pingsan dan patah tulang? Kau pikir kau siapa?! Selama ini kau hanyalah sampah yang kami pelihara karena rasa kasihan, tapi kau justru menggigit tangan yang memberimu makan!"
Lin Xiao tidak segera menjawab. Ia perlahan membuka matanya. Untuk sekejap, kilatan ungu gelap muncul di pupil matanya sebelum kembali normal. Ia berdiri dengan gerakan yang sangat tenang, begitu anggun hingga tampak asing di dalam gubuk yang kumal itu. Ia menepuk-nepuk debu dari pakaiannya, seolah-olah kehadiran dua orang berkuasa itu hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.
"Memberiku makan?" Lin Xiao akhirnya bersuara. Suaranya rendah, dingin, dan memiliki nada otoritas yang membuat Bibi Lin tanpa sadar mundur satu langkah. "Bibi, mari kita bicara jujur untuk sekali saja dalam hidupmu. Selama lima tahun ini, aku bekerja lebih keras dari kerbau di sawah. Aku memakan sisa-sisa makanan basi yang bahkan babi pun akan memalingkan wajahnya. Aku tidur di gudang yang bocor sementara kau menikmati harta yang ditinggalkan orang tuaku. Jika ada yang berhutang di sini, itu adalah kau yang berhutang nyawa padaku."
Mendengar kata 'harta', wajah Bibi Lin sejenak memucat. Ia tidak menyangka gadis yang biasanya selalu menunduk ketakutan ini bisa bicara seselaras itu. Namun, rasa malu karena ditantang di depan Kepala Desa membuatnya semakin kalap.
"Harta apa?! Orang tuamu hanya meninggalkan beban dan kutukan!" teriak Bibi Lin sambil mengayunkan kayu pemukulnya ke arah kepala Lin Xiao.
Namun, sebelum kayu itu sempat menyentuh sehelai rambutnya, Lin Xiao bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga hanya terlihat seperti bayangan.
TAK!
Lin Xiao menangkap kayu itu dengan dua jari saja. Kekuatan yang ia salurkan melalui Energi Nirwana Hitam membuat kayu tebal itu langsung retak.
"Jangan gunakan tangan kotor ini untuk menyentuhku lagi," ucap Lin Xiao datar. Dengan satu sentakan, ia membuat Bibi Lin terpental ke belakang hingga jatuh terduduk di atas tungku masak yang dingin.
Kepala Desa Lin yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju. Aura kuning kusam mulai terpancar dari tubuhnya, menandakan ia sedang mengerahkan energi kultivasi tahap ketiganya.
"Cukup! Aku tidak peduli iblis apa yang sedang merasukimu, Lin Xiao. Tapi menyakiti putraku adalah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Berlututlah sekarang, biarkan aku mematahkan kedua tanganmu sebagai balasan, dan aku mungkin akan membiarkanmu hidup sebagai budak selamanya."
Lin Xiao menatap Kepala Desa dengan tatapan meremehkan, seolah ia sedang melihat seekor serangga yang mencoba menantang naga. "Hanya karena kau mencapai tahap ketiga, kau pikir kau adalah penguasa dunia? Benar-benar katak di bawah tempurung."
"Matilah kau, jalang!" Kepala Desa berteriak marah. Ia menerjang maju dengan pukulan bertenaga yang ditujukan langsung ke dada Lin Xiao.
Lin Xiao tidak menghindar. Ia ingin menguji sejauh mana kekuatan tubuh barunya. Ia mengepalkan tangan kanannya, membiarkan energi hitam membungkus tinjunya seperti sarung tangan tak kasat mata.
DUAARR!
Benturan dua energi itu menciptakan gelombang
udara yang menerbangkan barang-barang di dalam gubuk. Namun, hasilnya sangat mengejutkan. Kepala Desa Lin adalah orang yang terlempar. Ia menghantam dinding bambu hingga jebol dan tersungkur di tanah berlumpur di luar gubuk. Ia terbatuk-batuk, mengeluarkan darah segar bercampur gigi yang tanggal.
Bibi Lin menjerit histeris melihat pelindungnya kalah dalam satu serangan. Ia merangkak di lantai, mencoba menjauh dari Lin Xiao yang kini melangkah keluar gubuk dengan perlahan.
Lin Xiao berdiri di atas tubuh Kepala Desa yang mengerang kesakitan. Ia menginjak dada pria itu dengan kaki kecilnya, namun tekanan yang diberikan terasa seperti beban ribuan kilogram batu.
"Ampun... tolong ampuni aku..." rintih Kepala Desa, matanya penuh dengan ketakutan yang murni. Ia menyadari bahwa gadis di depannya ini bukanlah Lin Xiao yang ia kenal. Ini adalah monster dalam wujud manusia.
"Aku bisa saja membunuhmu sekarang, dan tidak akan ada yang bisa menghentikanku," bisik Lin Xiao, suaranya sedingin angin musim dingin. "Tapi aku butuh saksi. Beritahu seluruh desa ini, bahwa Lin Xiao yang dulu telah mati. Dan jika ada yang berani mengusik ketenanganku lagi, aku tidak akan hanya mematahkan tulang, aku akan menghapus nama kalian dari muka bumi."
Ia melepaskan injakannya dan menoleh ke arah Bibi Lin yang menggigil ketakutan di pintu. "Bibi, kotak perunggu itu. Berikan padaku sekarang, atau kau akan menyusul suamimu ke liang lahat."
Dengan tangan yang gemetar hebat, Bibi Lin masuk ke dalam dan mengambil sebuah kotak kecil yang tersembunyi di bawah lantai papan. Kotak itu adalah satu-satunya peninggalan ibu kandung Lin Xiao yang selama ini disita oleh bibinya.
Lin Xiao menerima kotak itu. Ia bisa merasakan getaran aneh dari dalam kotak tersebut, seolah ada sesuatu yang mengenali jiwanya. Ia kemudian memanggul kembali dua ikat kayu bakar yang tadi ia bawa, seolah-olah perkelahian hebat baru saja tidak terjadi.
"Mulai detik ini, aku pergi dari desa ini. Jangan pernah mencariku, jangan pernah menyebut namaku," ucap Lin Xiao sebelum berbalik dan berjalan menuju kegelapan hutan yang pekat.
Di belakangnya, Desa Awan Hijau tetap sunyi, namun ketakutan telah tertanam dalam di hati mereka. Sang Phoenix telah benar-benar bangkit dari abunya, dan tujuannya kini hanyalah satu: Ibu Kota Kekaisaran Phoenix, tempat di mana dendamnya menanti untuk dituntaskan.