Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Sembuh
Hujan turun tanpa peringatan.
Bukan hujan deras yang gaduh, melainkan rintik panjang yang konsisten—seperti ingatan yang tidak pernah benar-benar pergi. Carmela berdiri di balik jendela besar, menatap taman yang basah, sementara di belakangnya Matteo berbicara dengan suara rendah melalui telepon.
Ia tidak perlu mendengar kata-katanya untuk tahu: ada sesuatu yang tidak beres.
Matteo mematikan panggilan. Ia berdiri diam beberapa detik, seolah sedang memilih kata yang tepat, atau mungkin memilih kejujuran mana yang siap ia lepaskan malam ini.
“Ada seseorang yang ingin bertemu,” katanya akhirnya.
Carmela tidak berbalik. “Siapa?”
“Seseorang dari hidupmu sebelum aku.”
Kalimat itu membuat udara di ruangan berubah.
Carmela menutup mata. Nama itu bahkan belum diucapkan, tapi tubuhnya sudah mengenali getarannya.
“Dia datang sendiri?” tanya Carmela pelan.
“Tidak,” jawab Matteo. “Dia membawa masa lalu.”
Nama itu akhirnya disebut di ruang kerja Matteo, di antara dinding yang dipenuhi buku dan rahasia.
Adrian Valen.
Seseorang yang pernah mengenal Carmela sebelum dunia mengeras, sebelum pilihan-pilihan menjadi tajam dan menyakitkan. Seseorang yang tahu versi dirinya yang belum terbentuk oleh luka.
“Dia menghubungi orang-orang lama,” kata Matteo. “Bukan untuk ancaman. Untuk… jawaban.”
Carmela duduk perlahan. Jari-jarinya saling bertaut. “Dia tidak pernah pandai melepaskan.”
Matteo menatapnya. Tatapan yang tidak menghakimi—namun penuh pertanyaan yang selama ini ia simpan.
“Siapa dia bagimu?” tanya Matteo.
Carmela mengangkat wajahnya. “Dia adalah alasan aku pernah percaya bahwa cinta cukup untuk bertahan hidup.”
Matteo menelan ludah. Itu bukan jawaban yang ingin ia dengar—tapi itulah kejujuran.
Pertemuan itu terjadi dua hari kemudian, di sebuah kafe kecil yang dipilih Carmela sendiri.
Netral. Tenang. Tidak ada simbol kekuasaan. Tidak ada bayangan masa kini.
Adrian sudah duduk ketika Carmela datang.
Ia terlihat lebih tua—tidak banyak, tapi cukup untuk menandai waktu yang tidak bisa diulang. Tatapannya masih sama: lembut, namun menyimpan kegelisahan.
“Kau terlihat… utuh,” katanya.
Carmela tersenyum kecil. “Aku bekerja keras untuk itu.”
Mereka berbicara tentang hal-hal ringan terlebih dahulu. Cuaca. Kota. Kenangan kecil yang tidak menyakitkan. Hingga akhirnya Adrian meletakkan cangkirnya dan menatap Carmela lebih dalam.
“Kau menghilang,” katanya. “Tanpa penjelasan.”
Carmela mengangguk. “Aku pergi agar tidak hancur.”
“Dan kau kembali dengan dunia yang berbeda,” lanjut Adrian. “Dengan dia.”
Nama Matteo tidak disebut, tapi keberadaannya terasa di setiap jeda.
“Aku tidak datang untuk merebutmu,” kata Adrian cepat. “Aku hanya ingin tahu… apakah aku pernah berarti.”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada yang Carmela duga.
“Kau berarti,” jawab Carmela jujur. “Kau adalah bagian dari siapa aku dulu.”
“Dan sekarang?”
Carmela menarik napas. “Sekarang aku adalah seseorang yang memilih untuk bertahan, bukan berharap.”
Adrian tersenyum pahit. “Dia mengajarkanmu itu?”
“Tidak,” jawab Carmela. “Dunia memaksaku. Dia mengajariku untuk tidak kehilangan diriku di tengahnya.”
Matteo menunggu.
Itu keputusan yang tidak mudah, dan ia tahu itu. Ia bisa saja mengirim orang. Mengawasi. Mengendalikan situasi.
Tapi untuk pertama kalinya, ia memilih percaya tanpa syarat.
Dan kepercayaan itu mengungkap sesuatu yang lebih menyakitkan daripada cemburu: ketakutan akan digantikan oleh versi Carmela yang lebih sederhana, lebih lembut—versi yang tidak membutuhkan dunia kerasnya.
Ketika Carmela kembali sore itu, Matteo berdiri di dekat jendela yang sama seperti malam hujan itu.
“Bagaimana?” tanyanya.
Carmela meletakkan tasnya. Ia menatap Matteo lama—terlalu lama.
“Dia bukan ancaman,” katanya. “Tapi masa lalu memang selalu meminta diakui.”
Matteo mengangguk. “Dan kau?”
“Aku memilih masa kini,” jawab Carmela. “Dengan semua risikonya.”
Matteo mendekat. “Kau tidak berutang penjelasan.”
“Aku berutang kejujuran,” balas Carmela. “Padamu.”
Malam itu, mereka duduk di lantai ruang kerja, bersandar pada sofa.
Tidak ada jarak. Tidak ada pelindung.
“Aku takut,” kata Matteo tiba-tiba.
Carmela menoleh. Matteo jarang—hampir tidak pernah—mengucapkan kalimat itu tanpa diikuti strategi.
“Apa yang kau takuti?” tanya Carmela lembut.
“Bahwa suatu hari kau akan lelah dengan dunia ini,” kata Matteo. “Dengan aku. Dan aku tidak tahu bagaimana menjadi seseorang yang cukup… tanpa semua ini.”
Carmela meraih tangannya. “Aku tidak mencintaimu karena kekuatanmu.”
“Lalu karena apa?” suara Matteo serak.
“Karena kau tidak memintaku mengecil agar bisa berdiri di sisimu.”
Matteo menutup mata. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan air matanya jatuh—tanpa suara, tanpa drama.
“Aku tidak tahu bagaimana mencintai tanpa kehilangan kendali,” katanya.
Carmela mendekat, dahi mereka bersentuhan. “Dan aku tidak tahu bagaimana bertahan tanpa cinta yang jujur. Kita belajar bersama.”
Keesokan harinya, Matteo menerima laporan.
Adrian telah pergi. Tidak meninggalkan pesan. Tidak meninggalkan jejak.
“Dia tahu kapan harus berhenti,” kata Matteo.
“Tidak,” jawab Carmela pelan. “Dia akhirnya mengerti bahwa beberapa cerita memang tidak untuk diselesaikan—hanya untuk dikenang.”
Matteo menatap Carmela dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai seseorang yang ia lindungi. Melainkan sebagai perempuan yang memilih, dan tahu konsekuensinya.
“Kau berubah,” kata Matteo.
“Tidak,” Carmela tersenyum kecil. “Aku hanya berhenti lari.”
Malam turun dengan tenang yang aneh.
Tidak ada ancaman. Tidak ada panggilan darurat. Hanya mereka berdua, makan malam sederhana, dan kelelahan yang manis.
“Besok kita akan menghadapi dunia lagi,” kata Matteo.
Carmela mengangguk. “Tapi malam ini…”
“Adalah milik kita,” Matteo menyelesaikan kalimatnya.
Mereka tidak membutuhkan janji. Tidak membutuhkan sumpah.
Karena cinta mereka malam itu tidak berisik—hanya kuat.
Dan di kejauhan, masa lalu akhirnya diam.