Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Rei berjalan tanpa arah, menyusuri jalanan hutan. Ia menatap sekitar, dan hanya menemukan pepohonan rindang di sekitar daerah itu. “Ini di mana, aku bahkan tak tahu tempat apa ini?.”
Kemudian sebuah mobil melintas di tempat itu, mobil Volkswagen beetle yang tua dan sedikit reot, melintasi tempat itu. Pemilik mobil itu kemudian menghentikan mobilnya tepat di samping Rei. “Nona, apa kau tersesat.” Ucap seorang pria tua padanya.
Rei pun mengangguk, “aku bisa memberimu tumpangan, langit sudah gelap, dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Kau bisa ikut denganku jika kau mau.” Mendengar hal itu Rei pun tak ada pilihan lain. Ia sebenarnya takut, setengah tak percaya. Namun tampaknya pria itu memang baik.
“Tuan, apakah bisa mengantarku saja ke kantor polisi terdekat. Aku harus kembali ke rumah, keluargaku pasti sangat khawatir sekarang.” Pria tua itu pun mengangguk, menyanggupi ucapan Rei dan kini menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.
“Jika begitu maka masuklah, aku akan mengantarmu sebelum langit semakin mendung.” Rei yang mendengar hal itu pun kemudian mengangguk, ia lalu masuk ke dalam mobil pria itu.
Pria tua itu kini melajukan mobilnya, memang tak cepat. Namun setidaknya cukup untuk sampai ke kantor polisi dalam waktu kurang dari 1 jam.
*****
Di sisi lain, Ivana kini telah di bawa masuk oleh Agres ke dalam Villa itu. Agres kini menyuruh Ivana duduk di meja makan, memberikan hidangan yang layak untuk gadis itu. Meja itu benar-benar penuh dengan makanan yang mewah, mulai dari cake, daging sapi hingga ayam panggang. Ada juga beberapa pencuci mulut lain, seperti macaroon dan juga beberapa buah-buahan dan masih banyak yang lain.
Ivana kini duduk, pelayan membawakannya garpu serta pisau untuk peralatan ia makan. Para pelayan itu memotongkan daging, memberikan segelas air dan juga menuangkan Wine. Agres juga kini duduk di hadapan Ivana. Kedua tangannya ia taruh di atas meja, menatap Ivana yang tampak sangat ketakutan.
“Kau teka perlu takut padaku, makanlah. Aku tak suka melihat gadis yang tidak kurus sepertimu, kau boleh menganggap aku kakak. Jangan cemas soal apa pun, amarah Saga itu hanya sebentar.”
Ivana yang semula takut menatap Agres, ia kini menjadi berani menatapnya. “Apa jika aku makan ini, kau akan memulangkan aku ke rumah. Aku rindu pada mamaku, dia sendirian di rumah. Hanya ada para pembantu yang ia anggap orang asing.” Ucapan Ivana itu terdengar miris, padahal jika di ingat, nyonya wingston bahkan tak pernah memperlakukannya layak seperti seharusnya.
“Kau itu terlalu naif Ivana, kau terlalu lemah. Itulah mengapa mereka terlalu mudah menyakitimu. Jika aku bilang Saga akan menikahimu, orang yang seharusnya menjadi kakakmu malah mengurungmu, apa kau juga akan memaafkan Saga suatu hari nanti.”
Ivana pun mengangguk, gadis itu memang sangat-sangat lembut, entah apa yang ia alami sampai-sampai terus membuatnya berkecil hati. “Aku bukanlah orang yang pendendam, namun aku tak akan mau menikah dengan kak Saga. Dia adalah calon suami kakakku. Dan bukan hakku untuk berharap lebih. Meski itu terdengar naif, namun aku juga masih mengharapkan kebebasan. Jadi tolong aku tuan Agres, tolong pulangkan Jane. Dia hanya ingin membantuku melarikan diri dari mama. Dia tidak ada sangkut pautnya antara aku dengan Saga.”
Mendengar hal itu, tatapan Agres berubah menjadi tatapan yang tajam dan penuh intimidasi. “Jangan kau pikir kami akan melepaskan dia, dia sudah terlalu jauh untuk ini nona Ivana. Kelompok kami, tidak seharusnya di ketahui oleh orang biasa seperti Jane. Kami adalah sekelompok orang-orang elite, dan hanya beberapa orang petinggi yang menggunakan jasa kami. Dan kelompok kami masih sangat jauh dari kata tertutup. Jika kau ingin Jane selamat, maka beritahu padaku. Di mana gadis bernama Rei itu.” Ucap Agres tanpa basa-basi.
Ivana tak bisa memilih, tak mungkin baginya untuk memberitahu di mana keberadaan Rei, ia bahkan tak tahu, kini gadis itu ada di mana. Apakah dia masih ada dalam hutam itu, atau sudah pergi dari sana. Ivana benar-benar tidak tahu.
“Aku tidak tahu di mana dia, kami berpisah saat kau menangkapku.” Agres tak percaya dengan apa yang Ivana ucapkan.
“Saat aku menangkapmu, jelas kau sama sekali tidak melawan, kau bahkan hanya menurut. Kau tak melawan sedikit pun, seolah kau memang kembali ke sini dan yang pastinya sudah merencanakan sesuatu dengan gadis bernama Rei itu.”
Ivana menggelengkan kepalanya, dengan wajahnya yang pucat ia hanya tersenyum. “Kau bilang aku bisa menganggapmu sebagai kakak, namun perilakumu ini bahkan jauh lebih buruk dari kakak yang terburuk. Andai kakakku masih berada di dunia ini, dia pasti akan mencariku ke seluruh dunia jika ia tahu aku menghilang.”
Agres menghembuskan napasnya panjang, “tolong jangan buang kesedihan di sini. Semua orang punya cerita sedihnya masing-masing dan tidak bisa di samakan dalam hal itu.” Mendengar hal itu Ivana pun hanya mengangguk, ia kemudian mulai menatap daging di hadapannya. Ia sepertinya tampak takut jika memakan itu, ia takut jika hal serupa akan terjadi padanya.
“Pantas saja kau kurus kering, rupanya kau pemilih jika soal makanan. Tenanglah, kami tidak memasukkan racun ke dalam makanan itu. Kau bisa memakannya dengan tenang.”
Ivana pun kemudian memakannya, rasanya benar-benar sangat enak, dan Ivana suka itu. Danuel turun dari anak tangga bersama dengan Martin. Mereka kini semuanya duduk di meja makan, Martin ikut makan di sebelah Ivana, pria itu tampaknya jauh lebih membuat Ivana tenang dari pada berhadapan dengan Agres.
“Ivana, makanlah, daging sapi ini benar-benar enak.” Ujar Martin sebari menaruh potongan daging sapi di piring Ivana.
“Benarkah?”
“Hem, ini akan menjadi sangat enak jika kau menambahkan saus BBQ ini.”
Ivana pun menuruti ucapan Martin, ia kemudian memakan daging panggang itu, dan benar saja. Ivana benar-benar sangat menyukainya.
Agres ingin mencoba berbicara kembali dengan Ivana, namun ia tertahan oleh Danuel, “Danuel, apa-apaan kau?”
“Aku tahu maksudmu Agres, namun jangan sekarang, kasihan dia. Jangan buat dia tambah stres, kasihan dia.”
Agres kini tampak kesal, ia bahkan memutar bola matanya malas dan memalingkan wajahnya dari Danuel. Danuel menatap interaksi antara Ivana dan Martin, ia tersenyum melihat hal itu. “Saga, apa kau benar-benar akan mengunci senyuman itu, kau harus melihatnya sendiri. Ivana benar-benar manis saat tersenyum, Ivana, jika suatu saat Saga benar-benar berubah dan tak seperti apa yang kau harapkan, aku mohon padamu. Tolong mengertilah. Dan tolong maafkan Saga atas semuanya.” Ucap Danuel dalam hati.
*****
Kini mobil pria tua itu telah sampai di depan kantor polisi, tampak seperti bangunan biasa. Di sekitar kantor itu masih hutan. Rei pun kini turun dari mobil pria tua itu, dan pria tua itu pun pergi meninggalkan Rei yang telah berada di depan kantor polisi.
“Kak Ivana, Jane, tunggulah aku. Aku akan menyelamatkan kalian, dan akan aku bongkar, semua kebusukan dari pria-pria brengsek itu.” Rei pun menatap kantor polisi itu, namun jauh dari lupuk hatinya, ia sebenarnya sedikit tak percaya akan hal itu. Namun jika bukan ini, maka di mana lagi, ini hanyalah desa kecil terperosok.
Rei menghembuskan napasnya dalam-dalam, “Ayo Rei, kau pasti bisa.” Ujar Rei mencoba menyemangati dirinya sendiri, ia pun kini pergi menuju kantor polisi itu.
Thor