Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan
Helikopter mendarat dengan mulus di atap gedung perkantoran Eduardo Group tepat saat matahari mulai mengintip di ufuk timur. Warna langit yang tadinya hitam pekat perlahan berubah menjadi ungu kemerahan, seolah menandakan bahwa hari yang baru telah tiba—hari di mana semua kebohongan akan terbongkar.
Alex turun lebih dulu, wajahnya tampak sangat segar meskipun ia tidak tidur semalaman. Ketegangan yang sebelumnya menghiasi wajahnya kini berganti dengan ketenangan yang mematikan. Ia membantu Almira turun, memegang pinggang istrinya dengan posesif seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa wanita ini adalah hartanya yang paling berharga.
"Rendy, sudah siap semuanya?" tanya Alex tanpa menoleh.
"Sudah, Tuan. Wartawan dari semua media besar sudah berkumpul di aula utama. Mereka mengira Anda akan mengumumkan pengunduran diri karena tekanan saham," jawab Rendy dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
Alex menatap Almira. Istrinya itu mengenakan pakaian sederhana yang dipinjam dari staf kantor, namun aura keberanian terpancar jelas dari matanya. "Al, kamu siap? Kamu tidak perlu bicara kalau tidak mau. Cukup berdiri di sampingku."
Almira menarik napas dalam-dalam dan menggenggam kotak besi karatan itu lebih erat. "Aku siap, Alex. Demi Ayah, aku harus melakukan ini."
Di aula utama, suasana sangat riuh. Ratusan wartawan saling berbisik, kamera-kamera sudah terpasang rapi membidik podium kosong. Di barisan paling depan, Nadia Mahendra duduk dengan anggun, mengenakan kacamata hitam dan senyum kemenangan. Di sampingnya, beberapa anggota dewan direksi yang berkhianat tampak sedang tertawa kecil, yakin bahwa hari ini adalah hari kejatuhan Alexander Eduardo.
Tiba-tiba, pintu besar terbuka. Suasana seketika hening.
Alex melangkah masuk. Ia berjalan tegak, tanpa tongkat, tanpa ragu. Langkah kakinya yang mantap bergema di seluruh ruangan, membuat semua orang terkesima. Di belakangnya, Almira berjalan dengan kepala tegak, tidak lagi menunduk malu seperti biasanya.
Saat mereka naik ke podium, kilatan lampu kamera meledak seperti kembang api. Nadia Mahendra melepaskan kacamatanya, matanya menyipit melihat pemandangan di depannya. Ada yang salah, pikirnya. Alex tidak terlihat seperti orang yang akan menyerah.
Alex berdiri di depan mikrofon, menatap satu per satu orang di ruangan itu dengan tatapan dingin.
"Selamat pagi semuanya," suara Alex terdengar berat dan berwibawa melalui pengeras suara. "Terima kasih sudah datang. Saya tahu banyak dari kalian yang menunggu saya untuk menyerahkan takhta saya karena skandal 'waris' yang sengaja diciptakan oleh orang-orang yang haus kekuasaan."
Alex melirik ke arah Nadia. Nadia hanya mendengus sinis.
"Selama beberapa hari ini, istri saya, Almira, telah dihina oleh publik. Dia disebut sebagai pelayan yang tidak pantas, wanita yang hanya mengejar harta. Tapi hari ini, saya akan menunjukkan kepada kalian siapa sebenarnya Nyonya Eduardo."
Alex memberi isyarat kepada Almira. Almira maju satu langkah dan meletakkan kotak besi itu di atas meja podium. Alex membuka kotak itu dan mengeluarkan surat yang sudah menguning tersebut.
"Ini adalah surat wasiat rahasia dari ayah saya, Richard Eduardo. Di dalamnya tertulis dengan sangat jelas, bahwa ayah Almira adalah pemilik sah dari lima belas persen saham perusahaan ini sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa ayah saya."
Seluruh ruangan mendadak gaduh. Wartawan mulai berebut untuk mengambil foto surat itu yang ditampilkan melalui layar besar di belakang panggung.
"Artinya," lanjut Alex dengan nada lebih keras, "istri saya bukan hanya pendamping saya. Secara hukum, dia adalah pemegang saham tunggal terbesar setelah saya. Ketentuan 'kemurnian waris' yang kalian agung-agungkan itu sama sekali tidak berlaku, karena keluarga Almira dan keluarga Eduardo sudah terikat secara hukum dan darah sejak lama."
Wajah Nadia Mahendra berubah menjadi pucat pasi. Ia berdiri dari kursinya, tangannya gemetar. "Itu palsu! Alex, kau pasti memalsukan surat itu hanya untuk menyelamatkan posisimu!"
Alex tersenyum sinis. "Silakan periksa keaslian tanda tangan dan stempelnya, Nadia. Pengacara keluarga tertua kami sudah memverifikasinya pagi ini. Dan satu hal lagi..."
Alex menekan tombol di remot kontrolnya. Layar besar di belakangnya berubah, menampilkan foto-foto pria berbadan besar yang menyerang mereka di desa semalam, beserta bukti transfer uang dari rekening pribadi Nadia kepada kelompok preman tersebut.
"Kau mencoba mencuri dokumen ini semalam di rumah lama istri saya. Kau mencoba menggunakan kekerasan karena kau tahu posisi hukummu lemah. Itu namanya percobaan perampokan dan penyerangan berencana, Nadia."
Polisi yang sudah bersiaga di belakang ruangan segera bergerak maju. Nadia mencoba mundur, namun ia sudah terkepung. Anggota dewan direksi yang tadi duduk di sampingnya langsung memalingkan wajah, pura-pura tidak mengenal wanita itu.
"Nona Nadia Mahendra, Anda ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan," ucap salah satu petugas polisi.
Nadia berteriak histeris, menyumpah serapah, tapi ia tetap diseret keluar dari aula. Seluruh wartawan sibuk mengabadikan momen kejatuhan wanita yang dulunya begitu berkuasa itu.
Setelah keributan mereda, Alex kembali menatap Almira. Ia memegang tangan istrinya di depan semua kamera yang masih menyala.
"Almira bukan sekadar wanita yang merawat saya saat saya lumpuh. Dia adalah alasan kenapa saya ingin menjadi pria yang lebih baik. Mulai hari ini, siapa pun yang menghina istri saya, berarti berurusan langsung dengan seluruh kekuatan Eduardo Group."
Almira tidak bisa menahan air matanya lagi. Tapi kali ini, ini adalah air mata lega. Ia merasa beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya terangkat seketika. Ia menatap ke arah kamera, seolah ingin menunjukkan kepada netizen dan semua orang yang menghujatnya bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya.
Setelah konferensi pers berakhir, Alex membawa Almira ke ruang kerjanya yang luas di lantai atas. Ia mengunci pintu dan langsung memeluk istrinya dengan sangat erat.
"Sudah selesai, Al. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu," bisik Alex di sela-sela pelukannya.
Almira menyandarkan wajahnya di dada Alex, menghirup aroma parfum suaminya yang sangat ia sukai. "Terima kasih, Alex. Terima kasih sudah percaya padaku."
Alex melepaskan pelukannya sebentar, menangkup wajah Almira dengan kedua tangannya. Ia melihat mata Almira yang masih sedikit basah, tapi pancaran kecantikannya terlihat sangat luar biasa hari ini. Rasa bangga karena telah berhasil melindungi istrinya membangkitkan kembali hasrat yang mendalam di hati Alex.
Ia menarik Almira lebih dekat, mencium bibirnya dengan sangat lembut namun penuh perasaan. Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, dunia luar yang bising seolah hilang. Hanya ada mereka berdua.
"Kita akan pulang ke Bogor sore ini. Kita akan ajak Adrian ke makam Ayahmu untuk memberikan penghormatan terakhir secara layak," kata Alex setelah melepaskan ciumannya.
Almira mengangguk, tersenyum lebar. "Aku mau, Alex. Ayah pasti bangga banget liat kita."
Hasrat untuk terus berada di dekat Almira membuat Alex enggan melepaskan istrinya. Ia memeluk Almira dari belakang saat mereka berdua menatap pemandangan kota Jakarta dari jendela besar di ruang kerja. Kali ini, kota itu tidak lagi terlihat menakutkan bagi Almira. Jakarta kini menjadi saksi bisu kemenangannya.
"Al," panggil Alex pelan.
"Iya?"
"Aku sayang kamu. Benar-benar sayang. Bukan karena saham, bukan karena apa pun. Tapi karena kamu adalah Almira yang tetap tinggal saat aku tidak punya apa-apa."
Almira berbalik, melingkarkan lengannya di leher Alex. "Aku juga sayang kamu, Alex. Dulu, sekarang, dan selamanya."