NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: ANCAMAN EDWARD

#

Setelah istirahat, pelajaran dilanjut lagi. Tapi Dyon nggak bisa fokus. Pikirannya melayang terus ke Ismi—senyumnya, kata-katanya, tangannya yang hangat waktu pegang tangan Dyon tadi.

*Kita berdua pasti berhasil. Bareng-bareng.*

Bareng-bareng.

Dyon senyum sendiri—kecil, tapi nyata. Guru Fisika di depan kelas lagi jelasin sesuatu tentang hukum Newton—suaranya kayak dengung lebah, bikin ngantuk. Tapi Dyon nggak peduli.

Dia buka buku tulis. Halaman kosong. Ambil pulpen—tintanya udah mau habis, goresannya tipis.

Tulis: *Arsitek*.

Terus coret. Tulis lagi: *Dyon Syahputra, S.T.*

Coret lagi.

Tulis: *Mimpi buat Mama Papa*.

Nggak dicoret.

Dia liatin tulisan itu lama. Pulpen ngetuk-ngetuk meja—bunyi kecil yang bikin anak sebelahnya ngelirik kesel. Tapi Dyon nggak sadar.

*Bisa nggak ya, gue beneran jadi arsitek?*

Pikiran realistis langsung muncul: nggak mungkin. Kuliah mahal. Biaya hidup mahal. Gue aja makan sehari sekali. Gimana mau kuliah?

Tapi... tadi Ismi bilang—*nggak ada yang mustahil*.

Ismi percaya.

Dan entah kenapa... itu cukup buat bikin Dyon mau coba percaya juga.

Bel pulang bunyi. Anak-anak pada berebut keluar—ribut, berisik. Dyon tetep duduk bentar. Rapiin buku, masukin tas—tas ransel sobek di samping yang dia tambal pakai isolasi hitam.

Keluar kelas. Koridor rame—siswa berlalu-lalang, ada yang ketawa, ada yang lari-larian.

Dyon jalan pelan ke arah toilet. Pengen cuci muka—gerah, keringetan.

Masuk toilet. Sepi. Bau pesing menyengat kayak biasa. Dia ke wastafel, buka keran—air ngalir pelan. Cuci muka pakai tangan. Dingin. Seger.

Angkat kepala—liat cermin retak di depan. Mukanya basah. Mata masih agak bengkak—bekas nangis kemarin.

"Udah ganteng belum, Sampah?"

Suara dari belakang. Dingin. Sinis.

Dyon langsung kaku. Jantungnya berhenti sedetik.

Nengok pelan.

Edward.

Berdiri di pintu toilet. Tangan dilipet di dada. Senyum miring—senyum yang nggak pernah sampe ke mata. Matanya tajam. Dingin. Kayak predator lagi liat mangsa.

"Ed... Edward," Dyon mundur satu langkah. Punggungnya nyentuh wastafel.

Edward melangkah masuk. Pelan. Sepatu kulit mahalnya bunyi nyaring di lantai keramik basah. Pintu toilet ditutup—dikunci dari dalam.

Klik.

Bunyi kunci itu bikin Dyon langsung panik.

"Kenapa... kenapa kunci pintu?" tanya Dyon. Suaranya gemetar.

Edward nggak jawab. Dia terus melangkah—sampe berdiri tepat di depan Dyon. Jarak cuma sejengkal. Napasnya bau rokok—kuat, nyengat.

"Gue... gue lihat tadi," kata Edward pelan. Tapi nadanya... ngancam. "Lo duduk sama Ismi. Ngobrol. Senyum-senyum. Pegang tangan."

Dyon menelan ludah. Tenggorokannya kering.

"Itu... itu cuma—"

"CUMA APA?!" Edward teriak tiba-tiba. Tangannya nyengkeram kerah seragam Dyon—tarik keras, bikin kepala Dyon nyaris ngebentur cermin. "LO PIKIR GUE BUTA?!"

Dyon nahan nafas. Sakit. Rusuknya yang masih patah protes keras.

"Edward... kumohon... lepasin—"

"DIAM!" Edward ngedekin muka—hidung mereka hampir nyentuh. Matanya melotot. "Dengerin gue baik-baik, Sampah. Ismi itu... ISMI ITU PUNYAKU! GUE UDAH LAMA NGINCER DIA!"

Dyon ngerasa lehernya dicengkeram—keras, bikin nafas sesak. Edward dorong dia ke dinding—kepala Dyon nabrak keramik, bunyi gedebuk keras.

"Akh!" Dyon meringis. Matanya berkunang-kunang.

"Lo tau nggak," Edward bisik—suaranya rendah, berbahaya. "Gue udah ngejar Ismi dari kelas sepuluh. Gue kasih bunga, gue kasih hadiah, gue lakuin semuanya. Tapi dia? Dia nolak! NOLAK! Bilang dia nggak tertarik!"

Cengkeraman di leher makin kencang. Dyon nggak bisa nafas—mulutnya nganga, nyoba nyedot udara tapi nggak masuk.

"Terus... terus tiba-tiba lo datang," Edward lanjut. Mukanya merah. Urat di leher menonjol. "SAMPAH KAYAK LO! MISKIN! LUSUH! NGGAK PUNYA APA-APA! Dia... dia malah senyum sama lo. Malah bawain bekal. Malah PEGANG TANGAN LO!"

Edward lempar Dyon—keras. Dyon jatuh ke lantai toilet yang basah, becek. Kepalanya nabrak closet—sakit, langsung benjol.

"Hah... hah..." Dyon batuk-batuk. Pegang leher yang sakit. Nafasnya ngos-ngosan.

Edward jongkok di depan Dyon. Pegang rahang Dyon—paksa ngadep ke atas.

"Dengerin gue baik-baik," kata Edward pelan—tapi setiap kata kayak racun. "Ismi itu punyaku. Keluarga gue... kaya. Bapak gue pengusaha tambang—partner bapaknya Ismi. Mereka udah rencana... jodohin gue sama Ismi."

Dyon terkejut. Dijodohin?

"Jadi lo ngerti sekarang?" Edward senyum—senyum paling jahat yang pernah Dyon liat. "Ismi... PASTI jadi istri gue. Udah diatur. Cuma masalah waktu."

"Tapi... tapi Ismi nggak suka sama lo," Dyon bisik. Entah kenapa dia nekat ngomong itu.

Tamparan keras. Pipi Dyon miring. Telinga berdenging.

"LO PIKIR GUE PEDULI DIA SUKA ATAU NGGAK?!" Edward teriak. "Yang penting dia JADI PUNYA GUE! Mau dia suka atau nggak, dia TETEP AKAN NIKAH SAMA GUE!"

Dyon ngerasa dadanya sesak. Bukan karena sakit. Tapi karena... sedih. Sedih buat Ismi. Dijodohin sama orang kayak Edward.

"Kalau lo... kalau lo berani dekati dia lagi," Edward berdiri. Nunjuk Dyon dengan jari telunjuk—kayak lagi ngancam anak kecil. "Aku hancurkan lo. Dan semua yang lo sayangi."

"Aku... aku nggak punya siapa-siapa lagi," kata Dyon pelan.

"Oh ya?" Edward nyengir. "Anak becak—Andra itu namanya kan? Terus... si Leonardo. Mereka... sahabat lo kan?"

Jantung Dyon langsung dag-dig-dug.

"Jangan... jangan libatin mereka—"

"DIAM!" Edward injak dada Dyon—keras, bikin rusuk patahnya kayak ditusuk pisau. Dyon teriak kesakitan. "Gue bisa apa aja, Sampah. Gue bisa bikin Andra dikeluarin sekolah. Gue bisa bikin Leonardo kehilangan posisi ketua osis. Gue... GUE BISA BIKIN MEREKA MENDERITA KAYAK LO!"

Air mata Dyon keluar. Nggak sanggup nahan.

"Jadi..." Edward angkat kaki. "Lo pilih. Mau terus dekatin Ismi dan liat sahabat lo menderita? Atau... lo menjauh dari Ismi dan mereka aman?"

Pilihan kejam.

Pilihan yang nggak adil.

Edward buka kunci pintu. Jalan keluar—tapi sebelum keluar sepenuhnya, dia nengok lagi.

"Oh iya," katanya santai. "Kalau lo ngadu ke siapa pun... Ismi yang bakal kena. Gue bakal bikin dia malu. Gue sebarkan foto-foto yang... buruk tentang dia. Lo ngerti kan?"

Dyon membeku. Foto? Foto apa?

"Tenang aja," Edward ketawa. "Foto itu editan. Tapi... orang-orang percaya kok. Apalagi kalau udah tersebar di medsos. Nama baik Ismi... HANCUR."

Edward pergi. Pintu ditutup.

Dyon tergeletak di lantai toilet. Dingin. Basah. Bau.

Tangannya ngepal—keras, kuku nusuk telapak tangan sampe berdarah.

*Bajingan... bajingan...*

Tapi... dia nggak bisa ngapa-ngapain.

Edward punya kuasa. Punya uang. Punya koneksi.

Sementara Dyon? Cuma punya... niat.

Dan niat aja nggak cukup di dunia ini.

Dia duduk perlahan. Bersandar di dinding toilet yang dingin. Kepala nunduk. Air mata netes ke lantai—campur sama air kotor.

*Ismi... maafin aku.*

Tapi...

Tunggu.

Dia inget kata-kata Ismi tadi.

*Nggak ada yang mustahil, Dyon. Kamu cuma perlu percaya sama dirimu sendiri.*

Dyon angkat kepala. Ngelap air mata kasar pakai punggung tangan.

*Ancaman adalah bahasa orang yang takut kehilangan.*

Edward ngancam... karena dia takut. Takut kehilangan Ismi.

*Dan aku nggak akan mundur hanya karena anjing menggonggong.*

Dyon berdiri pelan. Kakinya gemetar. Tapi dia paksa berdiri.

Keluar dari toilet. Cuci muka lagi di wastafel luar—bersihin bekas air mata.

Tatap cermin.

Mata yang tadinya ketakutan... sekarang ada api.

Api kecil.

Tapi nyala.

"Lo bisa ngancam," bisik Dyon ke bayangannya sendiri. "Tapi gue... gue nggak akan lari."

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi keberanian tanpa kekuatan cuma bunuh diri yang lambat. Dan aku... aku harus cari cara untuk jadi lebih kuat. Atau mati mencoba.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!