Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Dalam Darah
Hujan semalam menyisakan hawa lembap yang menyesakkan di paru-paru Jakarta. Bagi Almira, setiap tetes air yang jatuh ke bumi seolah membawa beban dosa masa lalu yang tidak pernah ia minta untuk dipikul. Ia berdiri di depan pintu kamar VIP rumah sakit, tempat ibunya, Nadin, sedang berjuang untuk pulih. Tangannya yang dingin memegang erat tas kecilnya, sementara matanya yang sembab menceritakan kehancuran yang ia alami di pesta semalam.
Ia masuk ke dalam ruangan. Aroma obat-obatan dan suara mesin EKG yang monoton menyambutnya. Di sana, Nadin tampak sedang duduk bersandar, menatap jendela dengan pandangan kosong. Wajah wanita tua itu tampak menua sepuluh tahun dalam semalam.
"Ibu..." bisik Almira.
Nadin menoleh. Begitu melihat putrinya, matanya langsung berkaca-kaca. Ia melihat gaun mahal yang dikenakan Almira—meski sudah tertutup jaket—dan ia melihat luka di mata putrinya. "Almira... Ibu sudah mendengar berita di televisi pagi ini. Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu karena tidak pernah menceritakan siapa ayahmu yang sebenarnya."
Almira luruh di samping ranjang ibunya, membenamkan wajahnya di sprei yang putih bersih. "Jadi itu benar, Bu? Ayah saya adalah Richard Eduardo? Dan ibu... ibu adalah alasan kenapa keluarga mereka hancur?"
Nadin menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti robekan kain tua. "Cinta tidak selalu memilih tempat yang tepat, Almira. Richard adalah satu-satunya pria yang pernah kucintai, tapi aku tidak tahu dia sudah terikat pernikahan politik. Saat aku tahu, semuanya sudah terlambat. Aku mengandungmu. Istri Richard, ibunya Alexander, mengetahuinya. Dia menghancurkan hidupku, mengusirku dari setiap pekerjaan, dan memastikan kita hidup di selokan agar kita tidak pernah mengancam posisi putranya."
Almira mendongak, hatinya terasa seperti diremas. "Jadi, Alexander... dia adalah kakak tiri saya?"
"Bukan," jawab Nadin cepat, menggenggam tangan Almira. "Richard tidak pernah mengakui hubungan kami secara hukum. Di mata dunia, kau tidak punya hubungan darah dengan mereka. Tapi di mata keluarga Eduardo, kau adalah noda yang harus dihapus. Dan sekarang... Alexander melakukannya padamu. Dia memperlakukanmu seperti cara ibunya memperlakukan Ibu."
Penderitaan batin Almira mencapai titik nadir. Ia merasa seperti pion dalam permainan dendam antargenerasi. Kehamilannya sekarang bukan lagi sekadar skandal, melainkan sebuah tragedi yang berulang.
Saat Almira hendak meninggalkan ruangan ibunya untuk mencari udara segar, ia dikejutkan oleh sosok Alexander yang berdiri di lorong rumah sakit. Pria itu tampak berantakan; kemejanya kusut, matanya merah karena kurang tidur, dan auranya tidak lagi seangkuh biasanya.
Begitu melihat Almira, Alex melangkah maju, namun Almira segera mundur, menjaga jarak seolah Alex adalah wabah yang mematikan.
"Almira, dengarkan aku—"
"Dengarkan apa lagi, Alex?" potong Almira, suaranya tajam namun bergetar. "Apakah Anda akan mengatakan bahwa ini semua adalah bagian dari takdir? Bahwa setelah ibu Anda menghancurkan ibu saya, sekarang giliran Anda menghancurkan saya? Apakah ini cara keluarga Eduardo merayakan kemenangan?"
"Aku tidak tahu tentang masa lalu itu sampai semalam!" bentak Alex, frustrasi karena tembok besar yang kini berdiri di antara mereka. "Aku tidak pernah berniat menjadikannya alat balas dendam. Apa yang kurasakan padamu... itu nyata, Almira. Terlepas dari siapa ayahmu atau apa yang dilakukan orang tua kita."
Almira tertawa getir, tawa yang penuh dengan kepedihan. "Nyata? Apa yang nyata, Alex? Obsesi Anda untuk memiliki saya? Cara Anda membelenggu saya di penthouse itu? Atau cara Anda memaksa saya mengandung anak yang awalnya tidak Anda inginkan? Anda hanya mencintai kekuasaan yang Anda miliki atas saya."
"Kau salah!" Alex mencengkeram bahu Almira, namun kali ini ia tidak kasar. Ia tampak seperti pria yang sedang memohon untuk hidupnya sendiri. "Aku menyelidiki berkas-berkas ayahku semalaman. Aku menemukan surat-surat itu. Ibuku memang kejam pada Nadin, tapi ayahku... dia mencintai ibumu sampai hari terakhirnya. Aku tidak ingin kita berakhir seperti mereka, Almira. Aku tidak ingin kau bersembunyi di selokan lagi."
"Tapi Anda sudah membuat saya berada di selokan yang lebih dalam, Alex. Selokan penghinaan publik."
Di tempat lain, Elara tidak tinggal diam. Keberhasilannya membongkar rahasia di pesta semalam hanyalah permulaan. Ia kini duduk di kantor ayahnya, Tuan Mahendra, menyusun rencana untuk menjatuhkan posisi Alex sebagai CEO Eduardo Group.
"Ayah, skandal ini terlalu besar untuk diabaikan," ucap Elara sambil mengikir kukunya dengan santai. "Pemegang saham tidak akan mau dipimpin oleh pria yang meniduri adik tiri—atau setidaknya, anak dari selingkuhan ayahnya. Ini menjijikkan bagi citra perusahaan."
Tuan Mahendra mengangguk. "Aku sudah menyiapkan mosi tidak percaya. Tapi Alex punya satu kartu as: janin di rahim gadis itu. Jika anak itu lahir dan terbukti darah Eduardo, posisi Alex akan semakin kuat sebagai pelestari dinasti."
Elara tersenyum licik. "Maka kita harus memastikan anak itu tidak pernah melihat dunia, atau setidaknya, memastikan Alex percaya bahwa anak itu bukan miliknya."
Malam itu, Alex membawa Almira kembali ke penthouse. Kali ini, tidak ada paksaan fisik. Almira kembali karena ia tahu, tanpa uang Alex, pengobatan ibunya akan terhenti dalam hitungan jam. Ia terjepit dalam belenggu yang ia benci namun ia butuhkan.
Mereka duduk di ruang makan yang sangat luas, namun terasa sangat sunyi. Alex meletakkan sebuah dokumen di atas meja.
"Apa ini?" tanya Almira tanpa minat.
"Perjanjian pernikahan," jawab Alex datar. "Aku akan menikahimu secara sah minggu depan. Dengan begitu, posisi ibumu akan aman selamanya, dan anak kita akan memiliki nama Eduardo secara resmi. Tidak ada yang bisa menyebutnya anak haram lagi."
Almira menatap dokumen itu dengan pandangan kosong. "Anda ingin menikahi saya untuk menyelamatkan perusahaan Anda, bukan?"
"Aku ingin menikahimu karena aku tidak sanggup membiarkanmu pergi," aku Alex, suaranya sangat rendah. "Persetan dengan perusahaan. Jika aku harus kehilangan takhtaku untuk menjagamu tetap di sini, aku akan melakukannya. Tapi aku butuh kau setuju, Almira. Aku butuh kau berada di sampingku untuk melawan Elara dan dewan direksi."
Almira menatap mata Alex. Ia melihat kegelapan di sana, tapi ia juga melihat secercah ketulusan yang menakutkan. Ia menyadari bahwa hubungannya dengan Alex telah berubah dari sekadar majikan-pembantu menjadi aliansi yang rapuh di tengah badai.
"Saya akan menandatanganinya," ucap Almira dingin. "Tapi jangan pernah berharap saya akan mencintai Anda. Pernikahan ini hanya untuk ibu saya dan anak ini. Di luar itu, kita tetap orang asing."
Alex merasakan nyeri yang tajam di dadanya, namun ia mengangguk. "Cukup. Itu sudah cukup untuk saat ini."
Penderitaan batin Almira tidak berkurang dengan status barunya sebagai calon istri. Ia merasa telah menjual jiwanya kepada iblis demi keselamatan orang-orang yang ia cintai. Sementara itu, sikap arogan Alex mulai terkikis oleh rasa posesif yang lebih dalam—rasa takut kehilangan yang membuatnya bersedia melakukan apa saja, termasuk menghancurkan siapa pun yang mencoba memisahkan mereka.
Malam itu, Almira tidur di kamar yang berbeda, mengunci pintunya dari dalam. Di luar pintu, Alexander berdiri cukup lama, menyentuh kayu pintu itu seolah ia bisa merasakan kehadiran Almira di baliknya. Ia tahu, dengan menandatangani perjanjian itu, ia telah memulai perang besar. Perang melawan Elara, perang melawan keluarganya sendiri, dan yang paling sulit: perang melawan kebencian di hati wanita yang paling ia inginkan.
Di dalam rahim Almira, sang janin terus tumbuh, menjadi satu-satunya jembatan antara dua jiwa yang hancur oleh masa lalu yang kelam.