kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Pengkhianatan di Langit Fajar
Kegelapan malam menyelimuti Atlas dengan keheningan yang menyesakkan, Ratu Layla, yang tidak bisa memejamkan mata lebih lama lagi, bangkit dari peraduannya. Tanpa pengawalan, ia melangkah menuju Menara Petir. Angin malam yang kencang mempermainkan rambutnya, namun matanya tetap tertuju pada ufuk barat—wilayah faramis yang tersembunyi di balik kabut. Di atas menara itu, Layla merenung sendirian. Pikirannya melayang pada risiko besar yang ia ambil, namun kekejamannya tidak mengizinkan rasa takut untuk menetap.
Keheningan itu pecah ketika langkah kaki yang berat mendekat. Penyihir Petir muncul dari balik bayang-bayang tangga menara, wajahnya tampak lebih kuyu di bawah cahaya bulan yang redup. Ia membungkuk rendah sebelum menyapa sang penguasa.
"Yang Mulia," ucap sang penasehat pelan. "Saya telah menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium. Saya sedang meracik ramuan khusus yang mampu menetralisir sihir kayu milik Penasehat Hutan. Ramuan ini akan membuat akar-akar mereka rapuh seperti ranting kering jika terkena percikan petirku."
Layla menoleh dengan tatapan dingin yang menusuk. "Kapan ramuan itu siap digunakan?"
Penyihir Petir menggaruk kepalanya, tampak canggung di bawah intimidasi Layla. "Itulah masalahnya, Yang Mulia. Proses pemurnian energinya membutuhkan waktu setidaknya dua hari lagi agar stabil. Jika digunakan sekarang, efeknya tidak akan maksimal."
Wajah Layla mengeras, amarah kilat melintas di matanya. "Dua hari? Besok fajar, pasukan kita sudah akan menginjakkan kaki di tanah faramis. Kau memberiku solusi yang basi saat pedang sudah ditarik dari sarungnya. Aku kecewa, Penasehat. Sangat kecewa."
Penyihir Petir hanya bisa terdiam, tangannya terus menggaruk kepala dengan gelisah tanpa berani mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri. Layla membuang muka, kembali menatap kegelapan, mengabaikan keberadaan sang penyihir yang kini tampak tak lebih dari sekadar pelayan yang tidak berguna.
Saat matahari mulai menyembul dengan cahaya kemerahan , Layla memerintahkan terompet perang ditiup. Aula luar istana Atlas bergetar oleh derap langkah pasukan besar. Ribuan Minotaur dengan kapak raksasa, barisan Centaur yang memegang busur panjang, serta sekawanan Griffon yang memenuhi langit. Di barisan paling depan, Naga Api raksasa mendesis, mengeluarkan hawa panas yang membakar udara.
"Serang secara mendadak! Jangan beri mereka waktu untuk merapal mantra!" teriak Layla dari atas punggung Naga Api miliknya.
Delta sang panglima dan Penyihir Petir segera memacu tunggangan mereka, mengikuti sang Ratu yang terbang memimpin armada udara. Pasukan Atlas bergerak seperti badai yang tak terhentikan menuju jantung kekuatan faramis. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melihat garis pertahanan musuh. Di sana, Penasehat Hutan telah menunggu dengan pasukan Orc yang brutal, Echidna yang melata dengan gesit, serta Naga Air yang memancarkan aura dingin.
Pertempuran pecah dengan sangat sengit. Langit menjadi medan laga antara api dan air. Layla memacu naganya untuk langsung menyasar Penasehat Hutan yang berdiri di atas formasi akar raksasa. Namun, tiba-tiba, sebuah serangan balik yang tak terduga datang. Seekor Naga Air milik musuh meluncur dari balik kabut sihir, menyemburkan arus energi yang membekukan sayap Naga Api milik Layla.
Naga sang Ratu meraung kesakitan, kehilangan keseimbangan, dan jatuh menghujam bumi. Layla terlempar ke tanah, dan sebelum ia sempat bangkit, akar-akar sihir yang digerakkan oleh Penasehat Hutan melilit tubuhnya dengan sangat kencang. Dengan tawa kemenangan yang parau, Penasehat Hutan membawa Layla yang terikat menuju puncak sebuah tebing curam di dekat medan laga.
Melihat pemimpin mereka tertangkap, pasukan Raja Gris mulai bergerak mundur secara strategis, memancing pasukan Atlas untuk terpojok. Penasehat Hutan berdiri di tepi tebing, memegang ujung ikatan yang melilit Layla. Di bawah tebing itu, sebuah kawah besar berisi bara api yang membara siap melahap apa pun yang jatuh ke dalamnya.
"Berhenti!" teriak Penasehat Hutan kepada Delta dan Penyihir Petir yang baru saja mendarat di bawah tebing. "Ikuti perintahku atau Ratu kalian akan menjadi abu!"
Delta dan Penyihir Petir terbelalak ngeri. Mereka melihat Layla yang biasanya sangat berkuasa kini tak berdaya di ujung tebing. Raja Gris muncul di samping penasehatnya, menatap rendah ke arah pasukan Atlas.
"Atlas akan runtuh hari ini," desis Raja Gris. Tanpa peringatan lebih lanjut, ia memberikan dorongan kuat pada tubuh Layla.
Ratu Layla terjatuh ke arah bara api yang menyala-nyala. Namun, di saat yang kritis itu, Penyihir Petir mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. "Badai Petir Surgawi!" teriaknya. Langit yang cerah mendadak menjadi gelap, dan ribuan sambaran petir menghantam barisan Orc serta memecah konsentrasi Penasehat Hutan.
Di saat yang sama, Delta memacu Griffon-nya dengan kecepatan luar biasa. Ia menukik tajam ke dalam kawah, melewati lidah api yang menyambar-nyambar, dan berhasil menangkap tubuh Layla tepat sebelum ia menyentuh bara api. Raja Gris yang melihat rencananya gagal segera melarikan diri ke dalam perlindungan sihir Penasehat Hutan, menghilang di balik hutan kabut yang pekat.
Pasukan Atlas segera melakukan penarikan mundur setelah mengamankan sang Ratu. Delta membawa Layla kembali ke istana dengan pengawalan ketat.
Sesampainya di dalam aula istana, suasana justru semakin kacau. Bukannya bersyukur karena selamat, kegagalan serangan mendadak itu memicu perpecahan. Di tengah aula, Penyihir Petir dan Delta saling berteriak, menyalahkan satu sama lain atas ketidaksiapan strategi.
"Jika ramuan mu sudah jadi, naga-naga itu tidak akan jatuh!" bentak Delta.
"Dan jika kau tidak ceroboh dalam memimpin barisan depan, kita tidak akan terjebak!" balas Penyihir Petir tak kalah sengit.
Ketegangan semakin menjadi ketika pemimpin Centaur kembali ikut campur. "Mungkin kita harus mempertimbangkan untuk bernegosiasi dengan Raja Gris sebelum semuanya terlambat," usul sang Centaur.
"Diam kau! Negosiasi adalah bahasa bagi pecundang!" Delta mengejek dengan nada menghina.
Ketiganya terus beradu argumen, saling melempar tuduhan dan teori strategi yang tidak masuk akal. Ratu Layla, yang masih mengenakan pakaian perangnya yang kotor dan robek, hanya terduduk diam di takhtanya. Ia menatap mereka semua dengan pandangan kosong, namun di balik diamnya, tersimpan amarah yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Perdebatan itu berlangsung terus hingga matahari sore menyinari aula dengan cahaya keemasan, namun hingga kegelapan kembali datang, tidak ada satu pun kesepakatan yang tercapai.
Keheningan di aula istana Atlas setelah perdebatan sengit itu terasa lebih mencekam daripada gemuruh perang. Ratu Layla masih terduduk kaku di takhta emasnya, mengabaikan Delta dan para pemimpin pasukan yang akhirnya mundur dengan rasa kesal yang tertahan. Cahaya rembulan mulai merayap masuk melalui celah jendela tinggi, memantul pada zirah Layla yang retak. Namun, di balik dinding emosi yang dingin itu, sebuah gejolak fisik yang tak terduga mulai menyiksa tubuhnya. Rasa mulas yang tajam, seperti ribuan jarum yang menusuk perutnya, membuat sang Ratu mengerang pelan. Ia menyentuh perutnya yang masih rata, namun ia bisa merasakan denyut kehidupan yang asing di sana.