NovelToon NovelToon
Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Perjuangan Suamiku:Istriku Surgaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Salju Merah di Zurich

Zurich, Januari 2026. Langit di atas Swiss tidaklah biru, melainkan kelabu pekat, seolah-olah awan sendiri enggan menatap kekejaman yang tersembunyi di balik pegunungan Alpen. Tian berdiri di balkon sebuah apartemen sewaan di distrik perbankan, menatap butiran salju yang jatuh perlahan. Udara dingin yang menusuk hingga ke tulang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa dingin yang membeku di lubuk hatinya.

Di atas meja kayu di belakangnya, tergeletak denah digital fasilitas bawah tanah milik The Circle yang dikenal dengan nama "The Vault". Fasilitas ini bukan hanya bank data, tapi juga tempat penyimpanan protokol Project Heaven yang menjadi satu-satunya harapan bagi nyawa Arka, bayinya yang baru berusia enam bulan.

"Setahun yang lalu aku bertaruh nyawa di air laut yang hangat, sekarang aku harus bertaruh di tengah es," bisik Tian pada bayangannya sendiri di kaca jendela.

Tangannya meraba kalung salib pemberian Mega di balik seragam taktisnya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Mega yang hancur dan tangisan Arka yang membiru. Rasa bersalah itu membakar jiwanya. Ia merasa seperti dikutuk; setiap kali ia mencoba menjadi pria biasa, dunia menariknya kembali menjadi mesin pembunuh.

Malam semakin larut saat Tian mulai bergerak menuju pinggiran kota, tempat sebuah terowongan kereta api tua yang menjadi akses masuk tersembunyi ke The Vault. Dengan teknologi sensor 2026 yang mampu mendeteksi detak jantung dari jarak satu kilometer, Tian harus menggunakan alat pemutus sinyal biometrik yang sangat berisiko. Alat itu memaksa detak jantungnya melambat hingga ke titik nadi yang sangat rendah—nyaris mendekati kematian klinis—agar ia terlihat seperti benda mati di mata radar keamanan.

"Bertahanlah, Tian. Sedikit lagi," ia menyemangati dirinya sendiri saat rasa pening akibat kurangnya oksigen mulai menyerang otaknya.

Ia merayap di antara celah ventilasi udara yang sempit. Di bawahnya, ia bisa melihat para ilmuwan The Circle sibuk dengan tabung-tabung reaksi berisi cairan emas—cairan yang sama yang kini menjadi "susu" paksa bagi anaknya. Kemarahannya hampir meledak saat melihat mereka memperlakukan nyawa manusia seperti angka dalam laporan lab.

Tiba-tiba, lampu di koridor laboratorium di bawahnya berkedip merah. Suara langkah kaki yang berat dan teratur mendekat. Tian menahan napas. Dari celah ventilasi, ia melihat sosok yang sangat ia kenal.

Itu Paman Hasan.

Namun, pria itu bukan lagi paman yang hangat yang dulu mengajarinya cara memancing di dermaga. Gerakannya kaku, presisi, dan matanya memancarkan sinar neon merah yang mengerikan tanda dari implan neural yang menghapus empati manusia. Hasan kini adalah Cyber-Predator milik The Circle.

"Aku mencium aroma yang tidak asing di sini," suara Hasan terdengar berat dan terdistorsi secara mekanis melalui pengeras suara di lehernya.

Tian merasakan air mata mengalir di pipinya. Melihat orang yang paling ia hormati berubah menjadi robot tak berjiwa adalah siksaan yang lebih berat daripada dipukuli Si Jagal. Ia memegang pisau hitam pemberian Hasan, pisau yang seharusnya ia gunakan untuk memotong tali pusar penderitaan keluarganya, namun kini mungkin harus ia gunakan untuk merobek dada gurunya sendiri.

"Paman... apa yang mereka lakukan padamu?" batin Tian menjerit pilu.

Hasan berhenti tepat di bawah ventilasi tempat Tian bersembunyi. Pria tua itu mendongak. Sinar merah dari matanya menyapu langit-langit. Tian mencengkeram belatinya, siap untuk melompat dan mengakhiri penderitaan pamannya, atau justru menjadi korban dari monster yang ia cintai.

Tiba-tiba, alarm di seluruh fasilitas itu berbunyi dengan nada yang berbeda. Bukan alarm penyusupan, melainkan alarm "Kegagalan Subjek". Sebuah layar besar di laboratorium menampilkan status biometrik yang mendadak merah: SUBJECT ARKA - JAKARTA: CRITICAL. Aristha (yang ternyata selamat dari ledakan bunker tahun lalu) muncul di layar dengan senyum iblisnya. "Kau terlambat satu menit, Tian. Dosis cadangan di Jakarta baru saja kami sabotase secara jarak jauh. Pilih sekarang: Ambil penawarnya di sini dan hadapi Hasan, atau saksikan layar ini sampai jantung anakmu benar-benar berhenti." Paman Hasan tiba-tiba melompat ke arah ventilasi dengan kecepatan kilat, menghancurkan penutup besi itu dengan satu pukulan tangan besinya yang kuat.

Tian merasakan dunianya seolah berhenti berputar saat melihat grafik jantung Arka yang meliuk tajam di layar monitor laboratorium. Setiap desah napasnya kini terasa seperti bara api yang membakar kerongkongan. Di hadapannya, tangan mekanis Paman Hasan telah mencengkeram tepian ventilasi, merobek baja setebal lima sentimeter itu seolah-olah hanya selembar kertas tisu.

"Paman! Sadarlah! Ini aku, Tian!" raung Tian sambil melompat turun, mendarat di lantai laboratorium yang dingin dengan tumpuan yang sempurna.

Hasan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendarat dengan dentuman berat yang menggetarkan lantai marmer. Mata merah neon-nya terkunci pada sosok Tian, memindai tanda-tanda vital mantan muridnya itu seolah sedang membidik mangsa. Tanpa peringatan, Hasan menerjang. Gerakannya melampaui batas kecepatan manusia biasa; sebuah pukulan keras menghujam ulu hati Tian, melemparkan tubuh pria itu hingga menghantam tabung-tabung kaca berisi zat kimia.

Prangg!

Tian terbatuk darah, namun matanya tetap tertuju pada layar yang menampilkan wajah Aristha. "ARISTHA! HENTIKAN INI! KAU INGIN DATA ITU, KAN? AKAN KUBERIKAN!"

Tawa Aristha menggema di seluruh ruangan melalui speaker langit-langit. "Sudah terlambat untuk negosiasi, Macan. Aku ingin melihat apakah cinta seorang ayah bisa mengalahkan kekuatan teknologi yang aku ciptakan. Jika kau bisa mengalahkan Hasan dalam lima menit, aku akan melepaskan kunci enkripsi dosis Arka. Jika tidak... yah, kau bisa memesan peti mati kecil sepulangmu nanti."

Tian bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia menatap Hasan yang kembali bersiap untuk menyerang. Air mata Tian jatuh, bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. Ini adalah siksaan psikologis yang paling kejam. Ia harus menghancurkan orang yang telah memberinya "hidup" agar ia bisa menyelamatkan "nyawa" anaknya sendiri.

"Maafkan aku, Paman..." bisik Tian.

Ia mencabut belati hitamnya. Kali ini, ia tidak lagi menghindar. Saat Hasan meluncurkan serangan berikutnya, Tian bergerak dengan teknik yang dulu diajarkan Hasan sendiri menggunakan kekuatan lawan untuk menjatuhkannya. Ia memutar tubuhnya, menangkap lengan logam Hasan, dan menusukkan belatinya ke celah sendi mekanis di bahu pamannya.

Percikan listrik biru menyambar, menyengat tangan Tian hingga mati rasa, namun ia tidak melepaskannya. Hasan meraung, sebuah suara yang terdengar seperti perpaduan antara teriakan manusia dan deru mesin yang rusak. Di tengah pergulatan itu, mata merah Hasan berkedip, sempat berubah menjadi warna aslinya cokelat tua yang penuh kehangatan selama sepersekian detik.

"Ti... an... bu... nuh... a... ku..." bisik Hasan dengan suara parau yang asli, sebelum kesadaran mekanisnya kembali mengambil alih.

Tian merasakan jantungnya seolah diremas. Ia harus memilih: menghancurkan satu-satunya keluarga yang tersisa di sisinya, atau membiarkan Arka tewas di Jakarta. Waktu di layar monitor menunjukkan angka 02:00. Dua menit tersisa sebelum dosis maut menyuntikkan racun ke dalam nadi bayinya.

Tian berhasil menekan Hasan ke lantai, ujung belatinya tepat berada di atas pusat kontrol neural di leher pamannya. Namun, tiba-tiba pintu laboratorium terbuka, dan Mega muncul di layar raksasa lainnya bukan di Jakarta, tapi di sebuah ruangan yang identik dengan tempat Tian berada sekarang. Mega sedang memegang senjata, menodongkan ke kepalanya sendiri. "Jangan lakukan itu, Mas! Aristha berbohong! Arka tidak di Jakarta, Arka ada di tangan mereka di sini! Jika kau membunuh Paman Hasan, mereka akan meledakkan ruangan tempat Arka berada!" Tian membeku.

1
grandi
pasti ada harapan
grandi
Tian selalu kuat ya💪
grandi
sesaknya minta ampun dah/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Di novel 2027 udah dateng ya thor🤣 Happy new year Thor/Facepalm/
christian Defit Karamoy: sebenarnya tahunnya emang saya buat begitu agar lebih menyenangkan 😄
trimakasih selalu suport ya 🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Biar makin semangatt ni Aku bagi /Rose/
christian Defit Karamoy: trimakasih kakakku🙏😍
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semoga tian ga kenapa-napa
christian Defit Karamoy: ikuti terus ya qila🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Banyak banget rintangan nya Tian, semoga tetap kuat ya💪
christian Defit Karamoy: iya kak😭
total 1 replies
studibivalvia
penulisan rapi jadi enak banget bacanya 😎 yuk terus lanjutkan kak semangat
christian Defit Karamoy: siap kak trimakasih🙏
total 1 replies
Arceusssxara
💪
christian Defit Karamoy: siap kak🙏
total 1 replies
Panda%Sya(🐼)
Gas terus thor. Sampai tujuan
christian Defit Karamoy: siap trimakasih kak🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ceritanya bagus, semangat terus up nya thor
christian Defit Karamoy
iya bang/Sob/
Panda%Sya(🐼)
Si manusia satu itu, sangat kejam sekali huh😤
Kenjiro Dominic
span thor
christian Defit Karamoy: siap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
ibumu bohong mega jangan dipercai, kesel banget aku sama nenek tua ini rasanya pengen ku pukul pakai kayu mulutnya 1000×
christian Defit Karamoy: /Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
christian Defit Karamoy
amin🙏
Kasychan`●⑅⃝😽
lanjut thor
christian Defit Karamoy: siyap😄
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
yang sabar ya Tian ini ujian
christian Defit Karamoy: /Sob/
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
semangat terus Tian, ayo jangan nyerah dulu💪☺
christian Defit Karamoy: siap qila🙏
total 1 replies
Kasychan`●⑅⃝😽
beginilah orang klau sudah cinta dengan seseorang, ia akan melakukan apapun bahkan nyawapun dia pertaruhkan demi orang yang dia cintai, beruntung banget ya mega, btw semangat terus thor up nya, semoga karyanya bisa ramai ya☺
christian Defit Karamoy: amin amin qila🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!