Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Sunyi, Hati yang Terbuka
Mereka tiba saat fajar hampir pecah.
Kabut tipis menyelimuti perbukitan di pinggir kota, menutup jalan tanah yang berliku seperti selimut abu-abu. Rumah itu berdiri sendiri—bangunan tua dengan cat pudar, dikelilingi pepohonan pinus dan kebun liar yang lama tak terurus. Tidak ada rumah tetangga dalam jarak pandang. Tidak ada suara selain angin dan burung pagi.
Matteo mematikan mesin. Keheningan menyambut.
“Tempat ini… jauh,” gumam Carmela.
“Memang sengaja,” jawab Matteo. “Dulu dipakai orang yang ingin menghilang sementara.”
Carmela menatapnya. “Dan kamu?”
Matteo membuka pintu, menghirup udara dingin. “Aku pernah membutuhkannya.”
Mereka masuk. Di dalam, rumah itu sederhana—ruang tamu kecil, dapur dengan kompor lama, dua kamar, dan kamar mandi sempit. Debu menempel di banyak sudut, tapi semuanya masih berfungsi. Matteo menyalakan lampu. Cahaya kuning redup membuat ruangan terasa hangat, meski sunyi.
Carmela meletakkan tasnya, lalu menoleh pada Matteo. Wajahnya pucat, keringat dingin masih menempel di pelipis. Luka di lengannya kembali merembes.
“Kamu duduk,” katanya tanpa menunggu jawaban.
Matteo menurut. Ia duduk di kursi kayu dekat meja makan, bahunya jatuh, napasnya berat. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Carmela melihatnya benar-benar kelelahan.
Ia mengambil kotak P3K dari dapur—entah sejak kapan ada di sana—lalu berlutut di depan Matteo. Tangannya bekerja hati-hati, membersihkan luka, mengganti balutan. Matteo memperhatikannya diam-diam.
“Kamu terbiasa melakukan ini?” tanyanya.
Carmela tersenyum kecil. “Aku terbiasa merawat orang lain. Dulu.”
Matteo ingin bertanya lebih jauh, tapi memilih diam. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan datang sendiri.
Saat Carmela mengikat perban, jari-jarinya menyentuh kulit Matteo. Sentuhan itu sederhana, tapi ada sesuatu yang menahan napas di antara mereka. Matteo menelan ludah.
“Kamu tidak harus—”
“Aku mau,” potong Carmela lembut.
Ia mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, dekat, jujur. Matteo menghela napas panjang, seperti menyerah pada sesuatu yang telah lama ia lawan.
“Terima kasih,” katanya.
Bukan sekadar untuk perban.
Pagi merambat perlahan. Carmela membuka jendela, membiarkan cahaya masuk. Mereka minum kopi pahit dari cangkir lama, duduk berseberangan di meja kecil. Tidak banyak kata, tapi keheningan tidak terasa canggung. Ini keheningan yang mengizinkan bernapas.
“Berapa lama kita di sini?” tanya Carmela akhirnya.
“Dua hari,” jawab Matteo. “Mungkin tiga. Tergantung.”
“Pada siapa?”
“Pada mereka,” jawab Matteo jujur. “Dan pada aku.”
Carmela mengangguk. “Kamu masih belum cerita banyak.”
Matteo memutar cangkirnya pelan. “Aku tahu.”
“Dan aku masih di sini,” lanjut Carmela. “Bukan karena bodoh. Tapi karena aku ingin tahu apa yang kuhadapi.”
Matteo mengangkat pandangannya. “Kalau aku bicara, kamu mungkin pergi.”
“Kalau kamu diam,” jawab Carmela, “aku pasti menjauh.”
Itu bukan ancaman. Itu batas.
Matteo terdiam lama. Lalu ia berdiri, berjalan ke jendela, memandangi pepohonan. Saat ia bicara lagi, suaranya lebih rendah.
“Aku pernah membuat keputusan yang menyelamatkanku… dengan mengorbankan orang lain,” katanya. “Bukan orang baik. Tapi juga bukan orang yang pantas dibuang begitu saja.”
Carmela mendengarkan tanpa memotong.
“Keputusan itu membuatku naik,” lanjut Matteo. “Dan membuat beberapa orang jatuh. Mereka tidak lupa. Mereka tidak memaafkan.”
“Dan sekarang mereka mencarimu,” simpul Carmela.
Matteo mengangguk. “Dan mereka akan menggunakan apa pun yang dekat denganku.”
Carmela berdiri, mendekat. “Termasuk aku.”
Matteo berbalik. Tatapan mereka bertaut, berat.
“Karena itu aku ingin kamu pergi,” katanya pelan.
“Bukan begitu caranya,” jawab Carmela. “Kamu tidak bisa memutuskan sendirian.”
Matteo menghela napas. “Aku tidak tahu cara lain untuk melindungimu.”
“Belajarlah,” kata Carmela lembut. “Bersama aku.”
Kata bersama menggantung di udara, seperti janji yang belum diucapkan.
Siang hari, hujan turun lagi. Mereka terjebak di dalam rumah, waktu melambat. Carmela membersihkan dapur, Matteo memperbaiki engsel pintu. Aktivitas kecil, domestik, terasa asing namun menenangkan.
Di sela-sela itu, Matteo merasakan sesuatu yang tidak ia duga: ketenangan. Bukan karena dunia tiba-tiba aman—justru karena ada seseorang yang memilih tinggal meski tahu risikonya.
Sore menjelang, Matteo merasakan pusing. Carmela memperhatikannya.
“Kamu demam,” katanya setelah menyentuh dahi Matteo. “Kamu harus berbaring.”
“Aku baik-baik saja.”
“Berbaring,” ulang Carmela, nada suaranya tidak memberi ruang bantahan.
Matteo menurut. Di kamar kecil, Carmela mengganti kompres, menyelimuti Matteo. Ia duduk di tepi ranjang, mengawasinya.
“Kamu bisa tidur,” kata Matteo pelan.
“Aku akan di sini.”
“Kenapa?” tanyanya, suara serak.
Carmela berpikir sejenak. “Karena aku ingin kamu bangun dan melihat seseorang masih ada.”
Matteo menutup mata. Untuk sesaat, ia terlihat rapuh—tanpa strategi, tanpa rencana.
“Aku tidak pernah pandai menjaga orang,” katanya lirih.
“Belajar pelan-pelan,” jawab Carmela. “Aku juga.”
Malam turun. Hujan berhenti. Matteo tertidur. Carmela tetap duduk, membaca buku lama yang ia temukan di rak. Sesekali ia menatap Matteo, memastikan napasnya teratur.
Di kepalanya, pertanyaan berputar—tentang masa depan, tentang ancaman, tentang pilihan. Tapi di balik semua itu, ada perasaan lain yang tumbuh: rasa memiliki yang tidak menuntut.
Matteo terbangun menjelang tengah malam. Ruangan temaram. Carmela tertidur di kursi, kepalanya bersandar, buku jatuh di pangkuan. Matteo bangkit pelan, mengambil selimut, menyelimutinya.
Gerakan itu membangunkan Carmela.
“Maaf,” katanya pelan.
“Tidak,” jawab Matteo. “Terima kasih.”
Mereka duduk berhadapan, jarak dekat. Di luar, angin menggerakkan pepohonan.
“Ada satu hal lagi,” kata Matteo. “Yang belum kukatakan.”
Carmela menunggu.
“Aku menyimpan sesuatu,” lanjutnya. “Sesuatu yang jika ditemukan… bisa mengakhiri semuanya. Bukan hanya untukku.”
Carmela menarik napas. “Kamu akan memberitahuku?”
“Tidak sekarang,” kata Matteo jujur. “Tapi aku akan. Sebelum kamu mendengarnya dari orang lain.”
Carmela mengangguk. “Itu cukup… untuk saat ini.”
Mereka tidak berciuman. Tidak ada adegan besar. Hanya dua orang yang duduk dekat, berbagi kelelahan dan kepercayaan yang rapuh.
“Apapun yang terjadi,” kata Carmela pelan, “jangan memutuskan sendiri.”
Matteo menatapnya lama. “Baik.”
Janji kecil. Tapi nyata.
Malam itu, di rumah sunyi di perbukitan, mereka menemukan sesuatu yang lebih berbahaya dari ancaman luar: keinginan untuk saling menjaga.
Dan Carmela tahu—ketenangan ini sementara.
Tapi ia juga tahu—ia siap membayar harganya.