Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Mereka tiba-tiba saja berdatangan ke sekitar kediaman utama. Apa mungkin mereka sudah menyadari serangan ini?" Pemimpin Galata bernomor 0011 mengamati Miguel yang lari dari dalam rumah. "Pria itu lagi-lagi menyadari kehadiranku dan pasukanku. Dia adalah orang pertama yang harus dihabisi."
Edward, Caesar, Franklin, Theron, Troy, Tyler, Leonel, dan Leandro mendapatkan informasi mengenai target utama yang harus mereka hadapi. "Miguel."
Si pemimpin pasukan bersiap memberi tanda pada semua anggota utama untuk menyerang. Target pertama mereka adalah melumpuhkan para pengawal yang berjaga. Dengan kondisi mereka yang tembus pandang, mereka akan dengan mudah menyerang lawan.
Xander, Govin, Mikael, dan para pengawal lain bergegas keluar dari kediaman.
"Xander." Edward menggertakkan gigi, memelotot tajam. Kepalan tangannya semakin kuat bersamaan dengan amarah dan gairahnya yang menggebu-gebu. "Aku pasti akan menghabisimu, Xander."
"Kendalikan dirimu, Edward." Caesar mencengkeram bahu Edward, tidak mengalihkan pandangan sekalipun dari Miguel dan Xander. "Jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu, kau hanya akan merusak kesempatan ini. Sekali kau melakukan kesalahan, kita akan berakhir di tangan orang-orang itu."
Edward mengembus napas panjang. "Aku mengerti, Ayah."
Saat angin berembus kencang, si pemimpin pasukan memberi tanda untuk menyerang. Deretan peluru bergerak sangat, merobek udara. Di detik-detik saat peluru akan mendarat, alarm kencang tiba-tiba berbunyi di seluruh antero kediaman.
Xander sontak terkejut saat deretan peristiwa mendadak bermunculan dalam pikirannya. Pria itu sontak menahan napas saat melihat banyak orang bersenjata yang terbang di depannya.
Xander bergumam, "Ini adalah tanda bahwa ...."
Bersamaan dengan ingatannya yang kembali sepenuhnya, sebuah gelombang mendadak muncul dari patung-patung yang berada di sekeliling rumah. Gelombang-gelombang itu berubah menjadi pelindung yang menghalangi serangan pasukan Galata.
Semua anggota pasukan Galata terkejut saat serangan mereka tertahan di udara. Untuk sesaat, semua perangkat mereka mendadak tidak berfungsi sehingga mereka tertarik ke bawah. Di saat itulah, patung-patung berubah menjadi semacam kotak yang menyebarkan peralatan canggih pada semua orang, termasuk Xander.
Di waktu yang sama, alat-alat canggih mulai keluar dari pohon-pohon, bergerak menuju para pengawal yang berjaga di lokasi. Robot-robot mulai bermunculan, termasuk dari para hewan yang menjadi robot. Suara alarm terus berbunyi, memberi tanda pada semua orang di kediaman utama untuk waspada.
"Kita diserang! Siapkan pasukan!" ujar Govin sembari menghubungi semua orang.
Xander bergegas meninggalkan teras, memasuki kediaman bersama Govin dan para pengawal. Di waktu yang sama, Miguel bergegas memimpin pasukan untuk bertahan sekaligus menyerang lawan.
Robot-robot mendadak bermunculan dari dalam tanah, pepohonan, patung, atap bangunan, termasuk danau.
"Apa yang terjadi?" Edward tercengang melihat semua robot dan alat-alat yang canggih yang sudah melekat pada semua anggota pasukan Xander. Tubuhnya terus meluncur ke bawah bersama teman dan pasukan Galata yang lain. "Sejak kapan Xander .... Dasar bajingan! Aku pasti akan menghabisimu."
Miguel mengentak lantai, dan seketika saja tubuhnya melesat ke udara dengan sangat cepat. Ia menghimpun kekuatan di tangan kanan, menghantam pukulan pada pemimpin pasukan sekuat mungkin.
Anggota 0011 seketika terhempas ke belakang dengan sangat kuat, melewati anggota-anggota lain, hingga akhirnya terlempar ke danau.
Semua pasukan Xander segera bergerak menyerang pasukan Galata. Mereka melayangkan tembakan sekaligus menghajar dengan pukulan maupun tendangan.
Miguel menghajar anggota-anggota Galata yang bergerak turun hingga mereka terdorong dan saling menubruk satu sama lain.
Serangan misil meluncur dari para robot bersama Miguel dan pasukan yang bergerak maju sehingga pasukan Galata terdorong mundur.
"Mereka memiliki alat yang setara dengan kita," ujar anggota 0046, melirik Edward sekilas.
"Alexander memang mengenal orang-orang itu."
Edward terkejut, terlempar saat terkena serangan misil. "Dasar brengsek!"
Pertarungan terjadi di beberapa titik, di mana lokasi utama berada di sekitar kediaman utama. Miguel dan pasukan berhasil memukul mundur meski pada akhirnya pasukan Galata mampu menggunakan kembali peralatan mereka.
Draco tertawa terbahak-bahak melihat kejadian tadi. "Ah, kau ternyata sudah mempersiapkan semua ini, Xander. Kau memang lawan yang sangat pantas untukku."
Draco berdiri dari kursi. Topeng dan seragam pertempurannya seketika terpasang ditubuhnya. "Apa mungkin kau sudah tahu identitas asliku, Xander?”
Suara alarm terus terdengar berkali-kali di saat dentuman dan kepulan asap terdengar dan terlihat dari berbagai lokasi.
Karnu segera memerintahkan semua anggota suku pedalaman untuk mengikuti Benji dan pasukan ke ruangan rahasia. Ia melihat para robot berkeliaran di sekitarnya.
Karnu melirik sebuah tombol perak di tangannya. Ia mencengkeram kuat benda informasi, memberi tanda pada semua orang untuk bergerak cepat. Pria itu mengamati Xylorr yang berada di kursi roda dalam penjagaan anggota suku, para pengawal, dan para robot.
Karnu berada di posisi belakang di mana anggota lain berada di posisi depan dan samping kiri dan kanan. Ia berlari paling akhir setelah memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Baba," gumam Karnu.
Karnu mengingat semua kembali ingatannya setelah mendengar suara alarm yang sangat keras. Ia sudah mendengar dari Xylorr maupun Benji soal kemungkinan musuh berbahaya yang menyerang tempat ini.
"Tong eunsi (Jangan takut)!” teriak Karnu sembari mengacungkan tombak ke atas. Anggota yang lain melakukan hal serupa.
Anggota suku pedalaman memasuki sebuah mobil besar. Setelah semua siap, kendaraan bergerak sangat cepat menuju hutan. Para robot mengitari kendaraan, memasang penghalang. Di waktu yang sama, Benji memimpin pasukan untuk melindungi suku pedalaman sekaligus memerintahkan anggotanya untuk menghadang musuh yang berdatangan.
"Hari ini ternyata tiba," ujar Benji yang bergerak terbang bersama para anggotanya. Ia meliuk-liuk di udara, melayangkan tembakan beruntun pada musuh yang bergerak maju.
Pertarungan menyebar hingga ke berbagai titik. Suhni, Jyrik, dan beberapa anak suku pedalaman yang lain mengamati pertarungan dari kaca mobil, terkagum saat melihat pasukan Xander bertarung dengan pasukan musuh. Sayangnya, mereka harus duduk karena orang tua mereka menarik mereka.
Di waktu yang sama, Lizzy, Lydia, Samuel, Sebastian, dan Larvin mengikuti para pengawal menuju ruangan rahasia. Dari arah lain, Larson datang bersama Alexis dan para pengawal.
Alexis terdiam karena banyak kilasan peristiwa yang mendadak muncul dalam pikirannya. Ia mengamati Larson yang tengah menggendongnya, beralih pada sebuah kotak yang ia genggam sejak tadi.
Alexis hanya diam saat melihat Lizzy, Lydia, Samuel, Sebastian, dan Larvin sangat mengkhawatirkannya. Ia mengamati keadaan sekeliling di mana para pengawal bersenjata lengkap dan para robot yang bergerak mengikuti.
Alexis menoleh pada sebuah robot anjing yang bergerak di dekat Larson. Ia mendadak bangun dari pangkuan Larson, berusaha turun.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍