NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinding yang kuat

Malam semakin larut, dan kabin mobil itu kini terasa seperti peti es yang membeku. Napas Sophie dan Max keluar dalam bentuk uap putih yang tipis. Di tengah kesunyian hutan yang mencekam, pelukan mereka menjadi satu-satunya pertahanan terakhir. Kesadaran mereka mulai menipis, terseret ke dalam kantuk yang berbahaya akibat suhu ekstrem yang terus merosot.

Tiba-tiba, secercah cahaya terang memecah kegelapan dari arah belakang. Cahaya lampu sorot yang kuat memantul di kaca spion, menyinari kabin mobil yang suram. Suara deru mesin diesel yang berat mendekat dengan cepat, diikuti bunyi decit ban di atas aspal yang dingin.

Sebuah SUV hitam besar berhenti tepat di belakang mobil Max. Detik berikutnya, suara langkah kaki yang terburu-buru menghantam tanah.

BRAK!

Pintu kursi pengemudi ditarik paksa dari luar. Lucas, tangan kanan sekaligus kepala keamanan Max yang paling tepercaya, muncul dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah. Senter di tangannya menyala terang, menyapu pemandangan di dalam kabin.

"Tuan Hoffmann! Nona Adler!" seru Lucas dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan.

Suara keras itu seperti sengatan listrik. Max, yang kepalanya bersandar lemas di bahu Sophie, perlahan membuka matanya yang berat. Sophie juga tersentak bangun, meskipun tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakkan. Pelukan mereka terlepas secara canggung saat kesadaran kembali menghantam.

"Lucas..." suara Max terdengar parau, nyaris hilang.

"Astaga, Tuan! Kami kehilangan sinyal GPS Anda tiga jam lalu," Lucas segera merengkuh bahu Max, membantunya keluar dari mobil. Dua anak buah Lucas lainnya dengan sigap mendekati sisi Sophie, menyampirkan selimut termal yang tebal ke pundaknya.

Sophie menggigil hebat saat udara luar yang lebih dingin menyentuh kulitnya. Ia melihat Lucas yang tampak sangat khawatir, terus memeriksa denyut nadi Max.

"Mobilnya... sistemnya mati total," gumam Max sambil berusaha berdiri tegak, meskipun kakinya gemetar. Ia melirik ke arah Sophie yang sedang dipandu masuk ke dalam mobil SUV yang hangat.

Pandangan mereka bertemu selama satu detik yang intens di bawah sorot lampu mobil. Ada sesuatu yang berubah di mata Max—rasa terima kasih yang tak terucapkan dan pengakuan atas kehangatan yang baru saja mereka bagi. Namun, begitu Lucas menoleh, Max segera mengalihkan pandangannya, kembali mengenakan topeng kaku sang CEO yang dingin.

"Bawa kami pulang," perintah Max dengan nada rendah. "Dan Lucas... siapkan teknisi terbaik untuk memeriksa mobil ini. Aku ingin tahu siapa yang menyentuh sistemnya hingga mogok di tempat tanpa sinyal seperti ini."

Lucas tertegun, menyadari ada nada kecurigaan dalam suara atasannya. Di dalam SUV yang hangat, Sophie membenamkan wajahnya di balik selimut. Ia tahu, meskipun malam ini nyawa mereka terselamatkan, permainan berbahaya di kantor akan menjadi jauh lebih rumit setelah ini.

...****************...

Pagi itu, suasana di kantor Hoffmann Motors terasa sangat tegang. Max tidak keluar dari ruangannya sejak subuh, sementara Lucas dan beberapa tim ahli IT perusahaan terlihat mondar-mandir dengan wajah serius.

Sophie masuk ke ruangan Max untuk membawakan kopi—kali ini tanpa diminta berkali-kali. Ia melihat Max sedang menatap layar monitor besar yang memperlihatkan kode-kode sistem mobilnya semalam.

"Ini kopi Anda, Tuan," ucap Sophie pelan.

Max mendongak. Matanya yang merah karena kurang tidur langsung terkunci pada Sophie. Namun, kali ini tidak ada tatapan menghina. Ia berdiri, berjalan mendekati Sophie, dan tanpa izin, ia memegang pergelangan tangan Sophie, memeriksa apakah wanita itu masih gemetar karena trauma semalam.

"Kau sudah ke dokter? Lucas bilang kau menolak untuk diperiksa semalam," tanya Max dengan suara yang lebih lembut, hampir terdengar cemas.

Sophie menarik tangannya perlahan. "Saya baik-baik saja. Fokus saya adalah bekerja."

"Bekerja?" Max mendengus dingin, namun tatapannya tetap tertuju pada Sophie. "Mobil itu disabotase, Sophie. Seseorang meretas sistem GPS dan mematikan mesinnya tepat di area blank spot. Jika Lucas tidak menemukan kita, kau mungkin sudah..." Max tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Sophie tertegun. "Sabotase? Jadi bukan karena kerusakan teknis?"

"Tidak. Seseorang ingin aku—atau kita—terjebak di sana." Max melangkah lebih dekat, menyudutkan Sophie ke arah meja. "Mulai hari ini, kau tidak boleh pergi ke mana pun tanpa pengawasanku. Kau dalam bahaya karena berada di sampingku."

"Saya bisa menjaga diri saya sendiri, Tuan Hoffmann," balas Sophie, mencoba mempertahankan harga dirinya.

"Tidak, kau tidak bisa!" bentak Max, namun kemudian ia merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan di depan wajah Sophie. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milikku. Termasuk orang yang mencoba mencelakaimu semalam."

Kata-kata "milikku" membuat jantung Sophie mencelos. Di tengah ancaman bahaya yang nyata, Sophie menyadari bahwa Max bukan lagi sekadar bos yang menyebalkan, melainkan pria yang mulai terobsesi untuk menjadikannya pusat dunianya.

Ruangan CEO yang luas itu mendadak terasa sempit saat Max melangkah maju, mempersempit jarak hingga Sophie bisa mencium aroma parfum kayu dan sisa ketegangan dari tubuh pria itu. Kata-kata "milikku" masih menggantung di udara, menciptakan getaran yang seharusnya membuat wanita mana pun luluh.

Namun, Sophie Adler bukan wanita sembarangan.

Sophie menatap lurus ke dalam mata Max yang berkilat obsesif. Alih-alih tersipu atau takut, ia justru memberikan tatapan paling dingin yang pernah Max lihat—sebuah tatapan yang mengisyaratkan bahwa jiwa Sophie berada di tempat yang tak tersentuh oleh kekuasaan Max.

"Saya bukan milik siapa pun, Tuan Hoffmann," ucap Sophie dengan suara yang begitu tenang hingga terdengar seperti desir angin musim dingin. "Kontrak yang saya tanda tangani adalah kontrak kerja, bukan sertifikat kepemilikan budak. Anda membayar untuk waktu dan otak saya, bukan untuk hidup saya."

Max tertegun, tangannya yang tadi hendak menyentuh bahu Sophie tertahan di udara. "Setelah apa yang terjadi semalam... setelah kau memelukku agar kita tidak mati membeku, kau masih bisa bicara seformal ini?"

"Apa yang terjadi semalam adalah naluri bertahan hidup manusia, bukan sebuah pengakuan emosional," balas Sophie tanpa berkedip. "Jika yang berada di samping saya semalam adalah orang asing atau bahkan musuh sekalipun, saya akan melakukan hal yang sama agar tidak mati konyol di hutan. Jangan mencampuradukkan kemanusiaan dengan loyalitas pribadi."

Max merasakan sebuah hantaman telak di harga dirinya. Ia, yang mulai goyah dan merasa bahwa Sophie adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayai di tengah sabotase ini, justru ditolak mentah-mentah. Niat awal Max untuk menghancurkan Sophie demi balas dendam keluarganya kini terasa kabur, tertutup oleh keinginan protektif yang asing bagi hatinya yang keras.

"Kau benar-benar tidak punya hati, ya?" gumam Max, suaranya sedikit parau.

"Hati saya sudah mati sepuluh tahun lalu, Tuan. Saat keluarga Anda memutuskan bahwa keluarga saya pantas dihancurkan," Sophie melangkah mundur, memutus jarak intim di antara mereka. Ia merapikan jas kerjanya dengan gerakan yang sangat mekanis.

"Sekarang, jika Anda mengizinkan, saya akan kembali ke meja saya untuk memproses data keuangan yang Anda minta. Itu adalah satu-satunya alasan saya berada di sini," lanjut Sophie.

Sophie berbalik dan berjalan keluar dengan langkah yang sangat stabil. Pikirannya sama sekali tidak terganggu oleh kata-kata manis atau tatapan cemas Max. Di balik wajah dinginnya, otak Sophie sedang bekerja keras: Sabotase mobil itu berarti ada celah di sistem keamanan Max. Jika aku bisa menemukan siapa peretasnya, aku mungkin bisa menemukan bukti bagaimana mereka meretas keuangan ayahku sepuluh tahun lalu.

Bagi Sophie, Max hanyalah jembatan menuju kebenaran. Ia tidak boleh membiarkan rasa kasihan semalam berubah menjadi kelemahan.

Sementara itu, Max berdiri mematung di tengah ruangannya. Ia menatap pintu yang tertutup dengan perasaan frustrasi yang memuncak. Ia yang seharusnya menjadi predator, kini merasa seperti tawanan dari asistennya sendiri. Ia ingin membenci Sophie, ia ingin memecatnya, tapi ia menyadari satu kenyataan pahit: ia lebih takut kehilangan tatapan dingin Sophie daripada kehilangan seluruh perusahaannya.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!