Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Dua Latihan Dalam Satu Tubuh
Pagi di BALLERINA MURDERER selalu dimulai dengan cara yang sama.
Keheningan.
Bukan keheningan kosong, melainkan keheningan yang dipenuhi napas tertahan, langkah-langkah ringan, dan bunyi kain sepatu balet yang bergesekan dengan lantai kayu. Aula utama diterangi cahaya pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi, memantul di cermin besar yang membentang dari ujung ke ujung ruangan.
Di hadapan cermin itu, tubuh-tubuh kecil bergerak serempak.
Musik klasik mengalun pelan, ritmenya teratur, nyaris menenangkan. Nada piano mengiringi plié yang dilakukan perlahan, lalu tendu yang ditarik panjang, dan relevé yang ditahan hingga betis bergetar. Setiap gerakan diulang berkali-kali, bukan untuk keindahan semata, melainkan untuk membentuk ketaatan mutlak pada disiplin tubuh.
Bella Shofie berdiri di barisan depan.
Posturnya sempurna, seolah tulang-tulangnya diciptakan khusus untuk balet. Punggungnya tegak tanpa dipaksa. Lehernya jenjang dan rileks. Setiap kali ia bergerak, tubuhnya mengikuti alur musik dengan presisi yang hampir tak manusiawi.
Gerakannya halus. Bersih. Nyaris tanpa cela.
Jika seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang BALLERINA MURDERER masuk ke aula itu pagi ini, mereka hanya akan melihat seorang gadis kecil berbakat yang lahir untuk menari. Seorang penari balet sejati.
Namun para murid lain melihat lebih dari itu.
Mereka memperhatikan Bella dengan jarak yang tak pernah ada sebelumnya. Tidak ada lagi bisikan ringan atau tawa kecil di sela latihan. Tidak ada lagi senyum ramah atau ajakan berbagi botol air saat istirahat.
Setiap kali Bella bergerak, mata-mata kecil itu mengikutinya.
Diam. Waspada. Takut.
Mereka tidak tahu persis apa yang berubah, tetapi mereka merasakannya. Sesuatu dalam diri Bella telah bergeser, dan perubahan itu membuatnya berbeda dari mereka.
“Fokus!” bentak Catherine dari sisi ruangan.
Suara sepatu haknya memantul di lantai kayu saat ia berjalan menyusuri barisan murid.
“Balet tidak mengenal rasa gentar. Jika tubuhmu ragu, panggung akan memakannya hidup-hidup.”
Tidak ada yang berani menjawab.
Latihan berlanjut hingga keringat membasahi tengkuk dan otot-otot kaki terasa panas. Musik berhenti, dan para murid menurunkan tangan mereka dengan napas terengah, lega karena satu sesi telah berakhir.
Bagi sebagian murid, hari mereka selesai sampai di situ.
Namun tidak bagi Bella Shofie.
Saat murid-murid lain mulai meninggalkan aula, mengambil tas dan berbicara pelan satu sama lain, Madam Doss berdiri di ambang pintu. Tubuhnya tegap, wajahnya dingin, kehadirannya seperti bayangan yang tak bisa dihindari.
“Bella,” panggilnya singkat.
Satu kata itu cukup.
Bella melangkah mendekat tanpa bertanya, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Ia sudah terbiasa dipanggil tanpa penjelasan. Di tempat ini, pertanyaan sering kali dianggap kelemahan.
“Kau tetap berlatih balet seperti mereka,” ucap Madam Doss sambil menatap lurus ke matanya.
“Tubuhmu adalah alat seni. Jangan rusak itu.”
Madam Doss berhenti sejenak, lalu suaranya menurun, lebih pelan namun jauh lebih berat.
“Tapi setelah matahari turun, kau milik kami.”
Bella mengangguk kecil.
Ia sudah memahami aturan tak tertulis di BALLERINA MURDERER. Ada hal-hal yang hanya terjadi setelah cahaya menghilang. Hal-hal yang tidak tercermin di cermin aula utama.
Latihan malam dilakukan di aula bawah.
Ruangan itu berbeda dari aula pagi. Tidak ada musik. Tidak ada cermin. Tidak ada cahaya lembut yang memanjakan mata. Lampu redup menggantung rendah, menciptakan bayangan panjang di lantai beton.
Di ruangan ini, balet kehilangan romantismenya.
“Gerakanmu terlalu lembut,” kata Madam Doss tanpa emosi.
“Keindahan tanpa niat membunuh hanya akan membuatmu mati.”
Bella berdiri di tengah ruangan.
Ia memperbaiki posisinya.
Ia menari.
Gerakan pertamanya adalah pirouette, berputar cepat dan seimbang. Namun saat tubuhnya berputar, tangannya sudah menarik pistol dari sabuk. Arabesque yang seharusnya menjadi simbol keindahan berubah menjadi posisi menembak satu kaki, tubuhnya tetap terangkat, stabil, dan mematikan.
Lompatan kecil mendarat dengan ringan, diakhiri dengan suara tembakan yang memecah kesunyian.
Balet tetap balet.
Namun kini, setiap gerakan memiliki tujuan lain.
Peluru dilepaskan bukan untuk merusak tarian, melainkan untuk menyempurnakannya. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Tidak ada langkah tanpa makna. Setiap tarikan pelatuk menyatu dengan ritme tubuhnya.
Madam Doss memperhatikan tanpa berkedip.
“Kau mengerti,” ucapnya akhirnya.
“Balet adalah cara menyembunyikan pembunuhan.”
Latihan malam berakhir lebih cepat dari biasanya.
Bella dibawa menyusuri lorong terdalam BALLERINA MURDERER. Lorong yang jarang dilewati. Lorong yang dindingnya dingin dan sunyi, seolah menyimpan rahasia yang tidak pernah diucapkan keras-keras.
Tempat ini hanya dimasuki oleh sedikit orang.
Tempat bagi mereka yang tidak hanya bertahan, tetapi dipilih.
Ruangan itu sederhana. Tidak ada senjata dipajang. Tidak ada target. Hanya sebuah kursi di tengah dan cahaya redup yang menggantung di atasnya.
“Kau tetap penari,” kata Madam Doss.
“Tapi mulai malam ini, kau juga anggota khusus.”
Seorang pria bertato mendekat. Tangannya penuh tinta, matanya fokus.
Bella duduk membelakangi mereka dan membuka pakaian latihannya. Punggungnya kecil, masih terlalu muda untuk memikul makna yang akan diukir di sana.
Jarum menyentuh kulit.
Rasa perih menjalar perlahan, namun Bella tidak bersuara. Ia menahan rasa sakit seperti menahan posisi balet yang sulit—diam, fokus, patuh.
Tulisan itu perlahan terbentuk di punggungnya.
BALLERINA MURDERER.
Di bawahnya, gambar pisau yang tajam dan sederhana.
“Ini bukan akhir baletmu,” ucap Madam Doss.
“Ini hanya membuatmu menari di panggung yang berbeda.”
Saat semuanya selesai, Bella berdiri di depan cermin kecil di sudut ruangan.
Seorang penari kecil menatap balik.
Namun kini, di punggungnya, tertanam identitas yang tak bisa dilepas.
Ia masih berlatih balet keesokan paginya. Masih menari. Masih bermimpi tentang panggung dan lampu sorot.
Namun BALLERINA MURDERER telah memastikan satu hal:
Jika dunia memaksanya memilih, tarian Bella tidak akan berakhir dengan jatuh—melainkan dengan darah yang sunyi.
...Bersambung ~...