NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balas Dendam Alina

Suara goresan pena tinta emas di atas kertas putih terdengar nyaring di ruangan yang sunyi.

Alina duduk di kursi kerjanya yang ergonomis, menatap dokumen di hadapannya dengan tatapan tanpa emosi. Itu adalah Surat Pemutusan Hubungan Kerja Sama antara PT. Abraham Textile Group dan CV. Maju Karya Sejahtera—perusahaan milik ayah Sisca.

Hanya selembar kertas. Namun, di tangan Alina, kertas ini memiliki daya ledak setara bom nuklir bagi keluarga Angela.

"Ternyata semudah ini," gumam Alina lirih.

Ia tidak perlu menyewa preman. Ia tidak perlu melakukan kekerasan fisik. Ia hanya perlu melakukan pekerjaannya: audit.

Dari hasil pemeriksaan Alina semalam, ia menemukan bukti bahwa ayah Sisca telah melakukan mark-up harga kardus kemasan sebesar 20% selama dua tahun terakhir, memanfaatkan kelengahan bagian pengadaan lama. Selain itu, kualitas bahan yang dikirim sering di bawah standar.

Alina menutup map merah itu, lalu menekan tombol interkom di meja kerjanya.

"Mbak Dini, tolong kirimkan surat ini via kurir kilat ke alamat CV. Maju Karya sekarang juga. Dan kirimkan salinan digitalnya via email ke Pak Budi Santoso. Tembusan ke bagian keuangan untuk pembekuan pembayaran tagihan berjalan."

"Baik, Bu Alina," jawab suara di seberang sana.

Alina menyandarkan punggungnya. Ia melirik jam dinding. Pukul 10.00 pagi.

"Tiga... dua... satu..." Alina menghitung mundur.

Tepat saat hitungan berakhir, telepon di mejanya berdering. Lampu indikator berkedip merah.

Alina tersenyum miring. Ia membiarkan telepon itu berdering tiga kali sebelum mengangkatnya dengan nada suara yang sangat profesional.

"Kantor CEO Abraham Textile, Alina berbicara."

"HEH! Apa-apan ini?!" Suara bentakan kasar seorang pria tua terdengar meledak di telinga Alina. Itu Budi Santoso, ayah Sisca. "Kenapa ada email pemutusan kontrak?! Saya mau bicara sama Pak Wisnu! Sekarang!"

"Mohon maaf, Pak Budi," jawab Alina tenang, sambil memutar-mutar pulpennya. "Pak Wisnu sedang tidak bisa diganggu. Segala urusan vendor sudah dilimpahkan sepenuhnya kepada saya sebagai kepala operasional vendor."

"Kamu siapa?! Berani-beraninya kamu memutus kontrak sepihak! Perusahaan saya sudah suplai lima tahun! Saya kenal baik sama Wisnu!"

"Saya Alina Oktavia. Dan keputusan pemutusan kontrak itu didasarkan pada temuan audit internal, Pak," Alina menekankan kata 'audit'. "Kami menemukan indikasi penggelembungan harga dan manipulasi kualitas barang sejak tahun 2024. Sesuai pasal 12 di kontrak, kami berhak memutus kerja sama tanpa pesangon dan mem-blacklist perusahaan Bapak."

Di ujung sana, suara Budi Santoso tercekat. Ia panik. Tuduhan itu benar, dan ia tidak menyangka ada yang menelitinya sedetail itu.

"Tapi... tapi tagihan bulan ini bagaimana? Itu nilainya dua ratus juta! Kami butuh uang itu untuk operasional!" suaranya kini memelas, kepanikan mulai merayap.

"Tagihan dibekukan sebagai ganti rugi atas selisih harga yang Bapak mainkan selama ini. Silakan cek email untuk rincian denda yang harus Bapak bayar," jawab Alina dingin.

Terdengar suara keributan di seberang telepon. Suara Budi berteriak pada seseorang, lalu suara wanita yang sangat familiar mengambil alih telepon.

"Heh, Pelakor! Kamu sengaja ya?!"

Sisca. Suara melengking itu membuat Alina menjauhkan gagang telepon sedikit dari telinganya.

"Kamu pasti hasut Pak Wisnu kan?! Dasar wanita ular! Asal kamu tahu ya, gara-gara kamu, Papa jadi stres! Kami butuh uang cair buat bayar cicilan rumah dan mobil Rendy! Kamu mau bikin kami melarat hah?!"

Alina tertawa kecil. Tawa yang sangat pelan namun menusuk.

"Halo, Bu Sisca. Senang mendengar suaramu yang... panik," ucap Alina. "Saya tidak menghasut siapa pun. Saya hanya bekerja profesional. Kalau perusahaan Ayahmu jujur, saya tidak akan punya alasan memecatnya. Salahkan Ayahmu yang korup, jangan salahkan auditor yang bekerja."

"Bohong! Awas kamu ya, aku laporin kamu! Aku bakal datang ke kantor kamu dan jambak mulutmu!" ancam Sisca histeris. Hormon kehamilan dan ancaman kemiskinan membuatnya tidak rasional.

"Silakan datang," tantang Alina santai. "Tapi perlu diingat, Bu Sisca. Kantor ini punya sekuriti ketat. Jika Ibu membuat keributan, saya tidak segan melaporkan Ibu atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Dan oh ya... Bapak Wisnu sangat benci keributan."

Alina memberi jeda dramatis.

"Pikirkan baik-baik, Sisca. Suamimu, Rendy, gajinya cuma guru, kan? Kalau bisnis Ayahmu bangkrut, siapa yang akan membiayai gaya hidupmu? Siapa yang akan bayar cicilan mobil mewah Rendy? Siapa yang akan bayar biaya melahirkanmu di rumah sakit VIP?"

Hening. Pertanyaan Alina menohok tepat di jantung ketakutan terbesar Sisca.

"Kalian menghancurkan hidupku enam bulan lalu," bisik Alina, suaranya berubah menjadi desis yang mematikan. "Kalian membunuh anakku dan meninggalkanku miskin. Sekarang... rasakan bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan besok mau makan apa."

Klik.

Alina menutup telepon sepihak.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Rasanya... lega. Sangat lega.

Ternyata menghancurkan mereka semudah membalikkan telapak tangan. Selama ini, kekuatan Sisca hanyalah uang orang tuanya. Dan kekuatan Rendy hanyalah menumpang pada Sisca. Ketika keran uang itu ditutup, mereka hanyalah manusia lemah yang tidak bisa apa-apa.

Pintu ruangan Wisnu terbuka. Pria itu berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu sambil melipat tangan di dada. Ia mendengar sebagian percakapan itu karena pintu penghubung sedikit terbuka.

"Sudah selesai?" tanya Wisnu datar.

"Sudah, Pak. CV. Maju Karya resmi masuk daftar hitam," lapor Alina.

"Reaksi mereka?"

"Histeris. Seperti dugaan."

Wisnu mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang bangga.

"Bagus. Sekarang mereka akan sibuk mencari pinjaman sana-sini untuk menutupi gaya hidup mereka. Kamu baru saja melempar bensin ke dalam rumah tangga mereka."

Wisnu berjalan mendekat ke meja Alina, meletakkan sebuah kartu nama baru di sana.

"Langkah selanjutnya, hubungi bank tempat Rendy mengambil kredit mobil dan rumah. Kebetulan bank itu adalah mitra bisnis kita. Pastikan mereka tahu bahwa penjamin utama Rendy—mertuanya—sedang dalam masalah keuangan. Bank biasanya panik kalau tahu debiturnya bermasalah."

Mata Alina berbinar. Ide Wisnu jauh lebih jahat dan taktis.

"Bapak jenius," puji Alina tulus.

"Saya bukan jenius, Alina. Saya hanya pebisnis yang tahu cara mematikan lawan tanpa menyentuh," Wisnu berbalik badan. "Lanjutkan kerjamu. Biarkan mereka terbakar pelan-pelan."

Alina menatap kartu nama bank itu. Tangannya meraih gagang telepon lagi.

Ternyata benar kata orang, balas dendam adalah hidangan yang paling nikmat disajikan saat dingin. Dan hari ini, Alina sedang menikmati hidangan pembukanya dengan sangat lahap.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!