Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Keajaiban
Keringat dingin bercucuran di dahi Li Hua. Ia mencengkeram pinggiran ranjang hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit di kakinya bukan sekadar rasa sakit fisik; itu adalah rasa sakit yang membawa trauma mendalam. Penyakit yang dulu membuatnya merangkak di jalanan seperti binatang, kini kembali menagih tempat di tubuh barunya.
"Mengapa?" bisiknya parau. "Aku sudah kembali... aku sudah menjadi Ratu. Mengapa kutukan ini mengikutiku?"
Ia teringat desas-desus di dunianya yang dulu: Setiap keajaiban menuntut tumbal. Mungkin, jiwa Li Hua terlalu berat untuk ditanggung oleh tubuh Permaisuri Xuan yang rapuh, atau mungkin takdir ingin mengingatkannya bahwa ia tidak akan pernah bisa benar-benar lari dari siapa dirinya sebenarnya.
Ruang Kerja Kaisar: Intrik yang Memanas
Sementara itu, di sisi lain istana, Kaisar Tian Long tidak bisa memejamkan mata. Ia memandangi laporan dari mata-matanya tentang pergerakan Selir Yue dan klan keluarganya.
"Yang Mulia," seorang pengawal bayangan muncul dari kegelapan. "Selir Yue telah mengirim pesan rahasia ke luar istana. Tampaknya mereka sedang menghubungi seorang tabib hitam dari wilayah perbatasan."
Tian Long menyipitkan mata. "Tabib hitam? Untuk apa?"
"Informasi yang kami dapatkan... mereka mencari cara untuk membuktikan bahwa Permaisuri yang sekarang adalah 'roh jahat' yang merasuki tubuh asli Permaisuri Xuan. Mereka mencurigai perubahan kepribadiannya yang drastis."
Tian Long terdiam. Ia sendiri merasakan perubahan itu. Permaisuri Xuan yang dulu hanya peduli pada bedak dan perhiasan, kini bicara tentang "akar kekaisaran" dan menatap dunia dengan mata seorang pejuang. Namun, Tian Long menyadari satu hal: ia jauh lebih menyukai "roh" yang sekarang daripada istrinya yang dulu.
"Terus awasi mereka. Jangan biarkan siapapun mendekati paviliun Permaisuri tanpa izin dariku," perintah Kaisar.
Paviliun Permaisuri: Rahasia di Balik Tirai
Tiga hari telah berlalu sejak hukuman isolasi dimulai. Di dalam paviliun, Li Hua berjuang menyembunyikan kondisinya. Ia memerintahkan Mei Lin untuk tidak membiarkan siapapun masuk, dengan alasan ia sedang bermeditasi dan berdoa.
Namun, rasa sakit itu semakin tak tertahankan. Betisnya kini membiru, dan setiap langkah yang ia ambil terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
"Yang Mulia," Mei Lin masuk dengan wajah pucat. "Selir Yue memaksa masuk. Ia membawa Tabib Istana senior, katanya atas perintah Ibu Suri untuk memastikan kesehatan Anda karena Anda terus mengurung diri."
Li Hua tersentak. Ini adalah jebakan. Jika Tabib Istana memeriksa kakinya dan menemukan gejala penyakit rakyat jelata yang aneh ini, mereka akan menganggapnya sebagai kutukan atau tanda bahwa ia bukan lagi Permaisuri yang suci.
"Jangan biarkan mereka masuk, Mei Lin! Itu perintah!" seru Li Hua.
BRAKK!
Pintu paviliun didorong terbuka dengan kasar. Selir Yue melangkah masuk dengan senyum kemenangan, diikuti oleh seorang tabib tua dengan janggut panjang dan beberapa pengawal.
"Kakak Permaisuri, mengapa begitu tertutup?" ujar Selir Yue dengan nada manis yang berbisa. "Kami semua khawatir. Ibu Suri takut racun tempo hari masih tersisa di tubuhmu. Tabib, segera periksa Yang Mulia."
Li Hua mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Ia terduduk kembali di kursi panjangnya, dengan cepat menarik gaun merahnya yang lebar untuk menutupi kakinya hingga ke lantai.
"Berani sekali kau melanggar perintahku, Yue!" suara Li Hua menggelegar, meski ia harus menahan perih yang luar biasa.
"Ini demi kebaikanmu, Kakak," Yue memberi isyarat pada tabib. "Tabib, periksa denyut nadinya... dan periksa apakah ada tanda-tanda 'hawa hitam' di kaki atau tangannya."
Tabib itu mendekat. Li Hua mengepalkan tangan, siap untuk melakukan apapun—bahkan jika ia harus menggunakan kekerasan. Namun, tepat saat tangan tabib itu hendak menyentuh pergelangan tangan Li Hua, sebuah suara dingin menghentikan segalanya.
"Sejak kapan Selir memiliki wewenang untuk memeriksa Permaisuri tanpa kehadiranku?"
Kaisar Tian Long berdiri di ambang pintu. Auranya begitu menekan hingga Tabib Istana itu langsung berlutut gemetar. Selir Yue memucat, senyumnya hilang seketika.
"Yang... Yang Mulia Kaisar... Hamba hanya khawatir"
"Keluar," potong Tian Long pendek. "Semua. Keluar."
Tanpa berani membantah, Yue dan rombongannya mundur dengan terburu-buru. Ruangan itu kini hanya menyisakan Tian Long dan Li Hua yang masih duduk terpaku.
Tian Long berjalan mendekat. Ia tidak bicara. Matanya tertuju pada tangan Li Hua yang mencengkeram erat kain gaun di bagian kakinya. Dengan gerakan yang tidak terduga, Kaisar berlutut di depan Li Hua—sebuah tindakan yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh seorang penguasa tertinggi.
"Apa yang kau sembunyikan, Xuan?" tanya Tian Long lembut, namun tajam.
"Bukan apa-apa, Yang Mulia..."
Tanpa peringatan, Tian Long menyibakkan kain gaun merah itu. Matanya melebar saat melihat memar keunguan yang menjalar di kulit pualam Li Hua. Ia menyentuh bagian yang bengkak itu, dan Li Hua merintih kesakitan.
Tian Long mendongak, menatap mata Li Hua yang kini berkaca-kaca. Bukan rasa jijik yang ada di mata Kaisar, melainkan sebuah pemahaman yang dalam.
"Penyakit ini... ini bukan penyakit bangsawan," bisik Tian Long. "Ini adalah penyakit 'Lumpuh Hitam' yang hanya menyerang rakyat jelata di distrik kumuh. Bagaimana mungkin Permaisuri sepertimu memilikinya?"
Li Hua menyadari bahwa ia tidak bisa lagi berbohong. Di bawah tatapan Kaisar yang seolah menembus jiwanya, ia membisikkan sebuah rahasia yang bisa mengakhiri hidupnya.
"Karena jiwa yang kau lihat sekarang... memang tidak pernah berasal dari istana ini, Yang Mulia."