Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Penangkapan di Depan Gerbang
"Plat nomor B 1234 CD. Mobil Avanza Silver. Oke, itu dia."
Elena menurunkan ponselnya, menatap sebuah mobil keluarga sederhana yang melaju pelan dari ujung jalan kompleks perumahan elit itu. Matahari pagi Jakarta terasa menyengat di kulit, tapi bagi Elena, ini adalah hangatnya kebebasan.
Dia berdiri di pinggir trotoar, tepat di luar gerbang tinggi rumah Kairo yang sudah dia kunci gemboknya dari luar. Di sebelahnya, koper kabin perak berdiri tegak, siap digeret kemanapun takdir—atau lebih tepatnya, uang—membawanya.
"Akhirnya," gumam Elena sambil menghembuskan napas lega. "Selamat tinggal rumah neraka. Selamat tinggal suami bipolar."
Mobil taksi online itu menyalakan lampu sein kiri, bersiap menepi. Elena sudah memegang gagang kopernya, senyum lebar terukir di wajahnya.
Dia membayangkan apartemen studio di Kuningan yang akan dia sewa. Sempit, mungkin. Tapi tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada tatapan merendahkan, dan yang paling penting, tidak ada Kairo Diwantara.
Namun, senyum itu lenyap dalam hitungan detik.
Tiba-tiba, suara decitan ban yang memekakkan telinga terdengar dari arah berlawanan.
Ciiittt!
Sebuah mobil Alphard hitam besar melaju kencang, memotong jalur, dan membanting setir tepat di depan taksi online yang hendak berhenti.
Mobil taksi itu mengerem mendadak. Sopirnya membunyikan klakson panjang karena kaget.
"Woy! Hati-hati dong kalau nyetir!" teriak sopir taksi itu sambil melongok keluar jendela.
Tapi teriakan sopir itu langsung tercekat di tenggorokan saat melihat siapa yang turun dari pintu belakang Alphard hitam itu.
Pintu mobil mewah itu terbuka kasar. Kairo Diwantara melompat turun.
Pria itu masih mengenakan setelan jas lengkap yang sama seperti saat berangkat sepuluh menit lalu, tapi auranya kini berantakan. Wajahnya merah padam, rambutnya sedikit acak-acakan karena disisir kasar dengan jari, dan matanya...
Mata itu menyala gelap, menatap lurus ke arah Elena seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Elena mematung di tempat. Pegangannya pada koper mengerat.
"Kairo?" bisik Elena tak percaya. "Kenapa dia balik lagi? Pesawatnya jatuh? Kok nggak mati?"
Kairo tidak menjawab. Dia tidak bicara. Dia berjalan lebar-lebar menghampiri Elena, langkah kakinya menghentak aspal dengan kemarahan yang nyata.
Tanpa basa-basi, tangan kekar Kairo menyambar gagang koper Elena.
"Hei! Lepas!" teriak Elena saat kopernya ditarik paksa. "Itu barangku!"
"Masuk mobil," geram Kairo rendah. Suaranya bergetar, menahan ledakan emosi.
"Tidak mau!" Elena mempertahankan kopernya, terjadi tarik-menarik konyol di pinggir jalan. "Aku sudah pesan taksi! Aku ada urusan! Lepaskan kopernya, Kairo! Kau mau merusak roda koperku hah?!"
Kairo tidak peduli pada roda koper. Dia mengangkat koper itu dengan satu tangan—seolah isinya kapas—lalu melemparkannya ke arah Reza yang baru saja turun dari kursi depan dengan wajah pucat.
"Masukkan ke bagasi. Kunci," perintah Kairo pada asistennya.
Reza menangkap koper itu dengan gugup. "B... baik, Tuan."
Kairo kembali menatap Elena. Dia mencengkeram pergelangan tangan istrinya, menariknya menjauh dari taksi online.
"Kau pikir kau mau kemana, Sora?" desis Kairo tepat di depan wajah Elena. Napasnya memburu. "Aku baru pergi sebentar dan kau sudah berdiri di pinggir jalan seperti gembel yang mau minggat?"
"Aku bukan minggat! Aku pindah!" balas Elena tak kalah sengit. Dia mencoba melepaskan cengkeraman Kairo, tapi tenaga pria itu jauh di atasnya. "Aku sudah bilang, kan? Aku butuh ruang! Lepaskan aku, sakit tahu!"
Sementara mereka berdebat, sopir taksi online yang malang itu turun dari mobilnya, bingung melihat keributan rumah tangga orang kaya.
"Mbak? Jadi naik tidak? Argonya sudah jalan nih..."
Reza langsung menghampiri sopir itu. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya dan menyelipkannya ke tangan si sopir.
"Pak, tolong pergi sekarang. Orderannya dibatalkan. Ini uang ganti ruginya. Anggap saja Bapak tidak melihat apa-apa," bisik Reza cepat.
Sopir itu melihat uang di tangannya—jumlahnya lima kali lipat tarif normal. Matanya berbinar. Tanpa banyak tanya, dia langsung masuk mobil, tancap gas, dan menghilang dari lokasi kejadian.
"Taksiku!" seru Elena putus asa melihat satu-satunya jalan keluarnya kabur.
"Lupakan taksi sampah itu," Kairo menarik Elena, menyeretnya menuju gerbang rumah yang terbuka. "Kita masuk. Sekarang."
"Aku tidak mau masuk! Aku punya janji temu jam sepuluh!" Elena meronta, kakinya menahan aspal, mencoba mengerem. "Kairo, kau gila ya?! Kau ada rapat di Singapura! Kenapa kau malah di sini mengurusi istrimu yang mau pergi?!"
Kairo berhenti mendadak. Dia memutar tubuhnya, menatap Elena dengan tatapan terluka yang tertutup amarah.
"Karena istriku mau pergi dengan membawa koper saat suaminya sedang dinas luar kota!" bentak Kairo. Suaranya menggema di halaman rumah yang sepi.
"Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku akan membiarkanmu lari menemui laki-laki itu?"
Elena mengerjap. "Laki-laki? Laki-laki apa?"
"Jangan pura-pura bodoh!" Kairo mendorong gerbang besi itu menutup dengan tendangan kakinya, lalu kembali menyeret Elena masuk ke dalam rumah. "Kau senyum-senyum sendiri di CCTV. Kau dandan rapi. Kau bawa koper. Siapa dia? Selingkuhanmu? Mantan pacarmu yang dulu kau tangisi itu?"
Mereka masuk ke ruang tamu. Kairo menghempaskan tangan Elena. Wanita itu terhuyung sedikit, menabrak sofa, tapi segera berdiri tegak, merapikan kemejanya yang kusut.
Elena menatap Kairo dengan tatapan tidak percaya. Dia tertawa. Tawa yang kering dan penuh ejekan.
"Wow," ucap Elena sambil bertepuk tangan pelan. "Imajinasimu luar biasa, Kairo. Kau harusnya jadi penulis skenario sinetron, bukan CEO. Bakat dramamu sia-sia di kantor."
"Jawab aku!" Kairo maju selangkah, mengabaikan sarkasme Elena. "Siapa laki-laki itu? Berapa dia bayar kamu sampai kamu mau meninggalkan rumah ini demi dia?"
"Namanya Budi!" teriak Elena asal.
Mata Kairo membelalak. "Budi? Siapa Budi?!"
"Budi Santoso! Agen properti dari Century Utama 21!" Elena berteriak balik, wajahnya memerah karena kesal dituduh sembarangan.
"Aku mau bertemu agen properti, Kairo! Aku mau sewa apartemen! Apartemen studio kecil di Kuningan! Sendirian! Tanpa laki-laki, tanpa kamu, tanpa drama!"
Kairo terdiam sejenak. Kata "Apartemen" dan "Agen Properti" berputar di kepalanya.
"Apartemen?" ulang Kairo, nadanya sedikit menurun tapi kecurigaannya belum hilang. "Untuk apa sewa apartemen? Rumah ini kurang besar buatmu?"
"Rumah ini terlalu sesak!" Elena merentangkan tangannya, menunjuk sekeliling ruangan mewah itu. "Sesak oleh egomu! Sesak oleh aturannya! Aku tidak bisa kerja di sini. Aku tidak bisa napas. Kau selalu curiga, selalu marah. Aku butuh kantor. Aku butuh tempat di mana aku bisa jadi diriku sendiri tanpa harus diawasi CCTV-mu itu!"
Elena mengatur napasnya yang memburu. Dia menunjuk dada Kairo dengan telunjuknya yang gemetar.
"Dan asal kau tahu ya, Tuan Posesif. Kalau aku mau selingkuh, aku tidak akan bawa koper besar. Aku akan pergi lenggang kangkung bawa tas tangan, lalu check-in di hotel bintang lima pakai kartu kreditmu. Itu baru selingkuh yang cerdas. Membawa koper itu tandanya pindahan! Pindahan!"
Penjelasan itu masuk akal. Sangat masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ukuran Sora yang dulu.
Tapi Kairo tidak bisa menerima logika itu.
Rasa takut kehilangan yang tadi mencengkeram jantungnya di jalan tol belum hilang sepenuhnya. Bayangan Elena pergi meninggalkannya masih menghantui.
Dia tidak peduli alasannya agen properti atau presiden sekalipun. Intinya, Elena mencoba pergi.
"Aku tidak percaya," kata Kairo dingin.
Elena melongo. "Apa?"
"Aku tidak percaya padamu," Kairo melangkah mendekat. "Kau pembohong ulung. Kemarin kau bohong soal live streaming, kau bilang cuma iseng ternyata kau jualan. Kau bohong soal analisis saham, kau bilang baca di TV padahal kau punya data di komputer. Mulutmu penuh tipu muslihat, Sora."
"Itu bukan bohong! Itu strategi!" bela Elena.
"Sama saja!" Kairo menyambar tas tangan Elena yang masih tersampir di bahu wanita itu.
"Hei! Apa-apaan kau!" Elena mencoba merebut tasnya kembali.
Kairo dengan mudah menahan tubuh Elena dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengaduk isi tas itu dengan kasar.
Dia mengeluarkan dompet Elena. Membukanya. Mengambil KTP. Mengambil kartu ATM. Dan yang paling penting... mengambil paspor hijau milik Elena.
"Kairo! Itu melanggar hukum! Kembalikan!" Elena memukul lengan Kairo, mencakar jas mahalnya. "Itu dokumen pribadiku!"
Kairo memasukkan dokumen-dokumen itu ke saku jas dalamnya, tepat di dekat jantungnya.
"Mulai hari ini," kata Kairo dengan suara final, menatap Elena dari ketinggian tubuhnya. "Tidak ada apartemen. Tidak ada agen properti bernama Budi. Tidak ada keluar rumah."
"Kau tidak berhak!" teriak Elena. Matanya berkaca-kaca karena marah. "Aku bukan barangmu! Aku manusia merdeka!"
"Kau istriku!" bentak Kairo, wajahnya mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Di atas kertas, di mata hukum, dan di rumah ini, kau milikku. Tanggung jawabku. Kalau kau kabur dan bikin malu, nama baikku yang hancur."
Kairo mundur selangkah, merapikan jasnya yang sedikit berantakan akibat cakaran Elena.
"Kau tahanan rumah, Sora. Mulai detik ini. Aku akan ganti semua kode kunci pintu. Aku akan tambah penjaga di gerbang. Kau tidak akan melangkah satu jengkal pun keluar dari pagar itu tanpa izinku."
Elena menatap suaminya dengan napas tertahan. Dia melihat keseriusan di mata hitam itu. Kairo tidak main-main. Pria ini benar-benar berniat mengurungnya.
"Kau gila," bisik Elena. "Kau benar-benar gila, Kairo. Ini penjara, bukan pernikahan."
"Sebut sesukamu," Kairo berbalik badan, hendak berjalan menuju ruang kerjanya. "Reza! Bawa koper Nyonya kembali ke kamar. Dan pastikan pintu gerbang digembok ganda."
"Baik, Tuan," sahut Reza dari luar dengan suara gemetar.
Kairo merasa menang. Dia berhasil menggagalkan pelarian istrinya. Dia berhasil mengamankan asetnya. Jantungnya mulai berdetak normal kembali.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar bunyi bip-bip beruntun.
Suara notifikasi pesan.
Bukan dari ponselnya. Tapi dari ponsel Elena yang juga dia sita dan dia genggam di tangan kirinya.
Layar ponsel itu menyala terang di tangan Kairo.
Kairo, yang masih diliputi rasa curiga soal "laki-laki lain", refleks mengangkat ponsel itu. Dia ingin tahu siapa yang menghubungi istrinya di saat genting begini. Apakah si "Budi"?
Tapi nama yang tertera di layar bukan Budi.
Nama kontaknya disimpan dengan huruf kapital penuh kebencian: BELLA - ULAR BERBISA.
Kairo mengernyit. Bella? Bella Winata? Istri dari saingan bisnisnya yang bangkrut itu?
Pesan itu muncul di layar kunci. Panjang. Penuh emotikon tertawa yang mengejek.
Kairo membaca pesan itu dalam hati.
From: BELLA - ULAR BERBISA
"Heh, Istri Sampah! :P Masih hidup lo? Gue denger dari anak-Anak, lo dikurung di rumah ya gara-gara stress? Hahaha! Mending lo dateng deh ke pesta gue besok di Hotel Mulia. Gue mau pamerin tas baru gue.
Oh iya, sekalian gue mau nanya... bener gak sih gosipnya laki lo si Kairo itu lagi main gila sama sekretarisnya di Singapura? Kasian deh lo, udah mandul, bego, diselingkuhin pula. Kalau lo gak dateng besok, berarti bener ya gosipnya kalau lo malu dan mau dicerai? Dasar wanita buangan! Ditunggu ya, pecundang! xoxo"
Kairo membaca pesan itu dua kali.
Matanya menyipit. Keningnya berkerut dalam.
Kata-kata kasar itu... "Istri Sampah", "Mandul", "Bego", "Diselingkuhin".
Kairo menoleh perlahan ke arah Elena.
Elena masih berdiri di tempat yang sama, memeluk dirinya sendiri dengan wajah marah dan benci menatap Kairo. Dia tidak tahu apa isi pesan itu, dia hanya melihat Kairo menatap ponselnya dengan ekspresi aneh.
"Kembalikan ponselku," kata Elena dingin. "Atau kau mau bajak WhatsApp-ku juga?"
Kairo tidak menjawab. Dia kembali menatap layar ponsel itu.
Jadi, ini yang dihadapi Sora setiap hari? Pesan-pesan sampah dari wanita-wanita sosialita yang mulutnya beracun ini?
Kairo tahu Sora dulu sering pulang menangis setelah pesta teh. Kairo selalu menganggapnya lebay dan cengeng. "Abaikan saja mereka," kata Kairo dulu.
Tapi membaca sendiri kata-kata yang begitu merendahkan... menghina dirinya juga (dituduh selingkuh dengan sekretaris? Cuih, sekretarisnya saja laki-laki bernama Reza!), membuat darah Kairo mendidih dengan cara yang berbeda.
Ini bukan cemburu. Ini tersinggung.
Ada orang lain yang berani menghina miliknya?
Menghina Kairo Diwantara dan istrinya?
Kairo menatap Elena lagi. Kali ini tatapannya tidak lagi penuh amarah posesif, tapi penuh perhitungan dingin.
"Siapa Bella ini?" tanya Kairo tiba-tiba, suaranya tenang namun mematikan.