NovelToon NovelToon
Digodain Pocong

Digodain Pocong

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irawan Hadi Mm

Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 15

Wuussss.

Bak terhempas badai, tubuh Samsul dan Duloh terpental jauh usai ditiup si mahluk besar genderuwo.

"Waaaaaaaaaaaaa!"

Jerit ketakutan terlontar dari bibir Samsul dan Duloh, keduanya bahkan gak berani membuka mata.

Brugh.

Brugh.

Mereka terpental jatuh begitu keras.

**

Di tempat lain, dengan waktu yang terus bergulir.

Tok tok tok.

"Sifa, Wati bangun! Udah subuh ini!" seru Yusuf, usai mengetuk pintu kamar Wati.

Tok tok tok.

Yusuf kembali mengetuk pintu, memastikan jika Sifa dan Wati sudah bangun.

"Aye udah bangun, bang!" seru Sifa dari dalam kamar, dengan suara khas orang bangun tidur.

"Bangunin Wati, bagen dia kaga sholat subuh, dia harus tetap bangun subuh." titah Yusuf, sebelum meninggalkan kamar putri tertuanya.

Di dalam kamar. Sifa berseru membangunkan Wati yang terlelap dengan posisi memunggunginya.

"Ti, Wati! Bangun, neng! Udah subuh ini!" Sifa beranjak dari tidurnya, ia menggulung rambut panjangnya yang kini memiliki 2 warna, hitam dan putih. Lalu mengenakan kerudung instan yang ia letakkan di atas nakas.

"Bangun Wati! Jangan buat babeh lu marah lagi! Udah cukup kehebohan semalam, jangan ada kehebohan lagi lu!" cerocos Sifa, sebelum meninggalkan kamar Wati. Tanpa memastikan anak perempuannya itu udah bangun.

Sementara jauh di bawah alam sadar Wati. Ia bahkan gak mendengar seruan Sifa, indra pendengarannya seakan di tuli kan dengan satu hal yang ia gak tau. Wati berada di sebuah tempat yang dia juga tidak tahu tempat apa itu.

"Kok gelap bangat si! Ini di mana lagi!" gumam Wati penuh tanya.

Wati mengedarkan pandangannya, sejauh mata memandang, hanya ada hamparan tanah gersang. Dengan langit gelap di terangi cahaya bulan. Dinginnya angin yang berhembus, seakan membuat kulitnya membeku. Wati merasa ketakutan, dia kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana dan harus kemana.

"Ya allah, dingin banget! Ini dimana si? Ngapa sepi amat ya!" Wati terus melangkah, berharap menemukan ujung dari tanah lapang yang ia lalui ini. Jalan itu seperti tak berujung, benar-benar aneh.

Wati yang merasa takut, teringat pada kedua orang tua dan adiknya.

"Beeeeh, nyak! Sarip! Kalian dimana?" seru Wati dengan suara lantang, berharap Yusuf, Sifa dan Sarip mendengarnya.

Sayangnya bukan suara salah satu keluarga yang ia harapkan, melainkan suara pria yang tampak familiar di telinga Wati. Salah satu pemuda yang sangat dibenci kedua orang tuanya yang kini menggema di telinga Wati.

"Wati sayang!"

Wati melebarkan matanya, dia gemetaran, tatapannya mengedar, mencari sosok yang memanggil namanya. Keningnya berkerut, di tidak asing dengan suara itu.

"Bang! I- itu bang Samsul kan? Abang dimana, bang!" teriak Wati dengan tatapan penuh harap.

Suara Samsul kembali menggema, "Abang di sini!"

Wati berlari ke arah suara Samsul berada, dimana Wati dihadapkan dengan area yang banyak ditumbuhi pohon bambu yang rimbun.

"Tunggu Wati, bang!" timpal Wati dengan hati berbunga. Dia pikir itu benar-benar Samsul.

Namun sayangnya baru setengah jalan, suara Sifa dari arah lain menyerukan namanya. Membuat Wati menghentikan langkahnya dan berbalik badan.

“Watiiiii! Lu mau kemana, neng?” seru Sifa dengan suaranya yang khas, naik satu oktaf.

“Nyak! Babeh, Sarip? Ya allah, Wati dari tadi cari kalian!” seru Wati dengan wajah berbunga senang.

“Sini, po! Jangan kesono!” Sarip melambaikan tangannya.

“Wati, sini!” seru Samsul dengan suara yang terdengar lembut, diantara pohon bambu.

Wati menoleh ke arah Samsul, tampak pria yang biasa ia lihat kumel, kaos berbalut jaket, dan celana yang banyak robek. Kini terlihat rapi dan menggoda, belum lagi senyum Samsul yang seakan meneduhkan hati Wati.

“Sini Wati! Abang menunggu mu!” Samsul melambaikan tangannya, lalu mengulurkan kedua tangan. Seakan siap menyambut kehadiran Wati dalam hidupnya.

Wati menoleh ke arah Samsul, dengan 2 langkah maju ke arah pemuda itu.

“Ya allah, di sana ada bang Samsul!”

Dalam sekejap, Samsul menyembunyikan tangan kanannya di belakang. Lalu memperlihatkan ke depan dengan sebuket bunga mawar yang ia ulur ke depan.

“Bunganya cantik bangat, bang!” beo Wati.

“Bunga ini buat kamu, Wati sayang! Sini, Wati! Abang mau bicara sama kamu!” bujuk Samsul dengan nada mendesak.

Tanpa ragu, Wati melangkah menghampiri Samsul.

“Watiiiiii!” bentak Yusuf, membuat Wati menghentikan langkahnya. Wanita itu bahkan menoleh ke arah sang ayah.

Wati menelan salivanya dengan sulit, mendapati tatapan marah dari sang ayah.

“Beh!” beo Wati dengan suara bergetar takut.

“Berani lu nyamperin Samsul! Lu bukan lagi anak babeh dan nyak, Wati!” seru Yusuf dengan penuh emosi.

Wati mengepakkan tangannya kesal, di hadapkan dengan 2 pilihan yang sulit. Di mana ada sang ayah dan keluarganya, berdiri di tengah hamparan kebun bunga yang bermekaran dengan indah.

“Ya allah, ada nyak, babeh, dan ade gua si toa Sarip.” gumam Wati, menatap ketiganya penuh kasih sayang.

Sementara di sisi lain, ada pria yang sudah nyangkut di hati kecilnya. Nama Samsul sudah terpatri di sanubari Wati tanpa bisa ia usir dari pikiran dan hatinya.

Samsul tersenyum lebar, melambaikan tangannya saat Wati menoleh ke arahnya.

“Kita bakal punya keluarga kecil yang bahagia, Wati! Abang mau nikahin lu, Wati! Kita bangun rumah tangga yang penuh cinta dan bahagia!” ujar Samsul panjang kali lebar dengan tatapan meyakinkan.

“Sini, po! Po harus nurut sama babeh! Perkataan orang tua itu pembawa berkah po! Jangan ampe babeh sumpah serapahin, po! Po kaga bakal tenang nantinya!” jelas Samsul dengan lantang.

Deg.

“Babeh gak setuju sama bang Samsul, kapan aya bisa hidup bahagia kalo babeh dan nyak aja kaga kasih restu.” pikir Wati, otaknya sedikit berpikira lempeng.

“Sini Wati! Nyak sama babeh mau jodohin lu sama pria yang pantes buat lu! Pria yang bisa bimbing lu! Bukan preman kelas teri macam Samsul! Itu bocah ora bisa buat lu bahagia, Wati! Hidup lu bakal menderita kawin sama dia!” cerocos Sifa dengan tatapan galak.

“Persetan dengan restu orang tua, Wati! Kita bisa bahagia tanpa orang tua, Wati! Abang janji bakal buat kamu bahagia, gak bakal ada pertengkaran di rumah tangga kita! Cuma kamu, manusia yang akan abang ratu kan!” bujuk Samsul.

Wati kembali melangkah mengahmpiri Samsul, otaknya seakan terpengaruh dengan perkataan Samsul.

‘Bang Samsul benar! Kita pasti bisa bahagia. Cepat atau lambat, pasti babeh sama nyak bakal restuin hubungan kita.’ pikir Wati dengan tatapan yang di penuhi dengan wajah Samsul.

“Pooo! Jangan, po! Jangan kesana! Di sana cuma bikin hidup po sengsara! Ingat surga ada di bawah telapak kaki ibu, po! Jangan bantah orang tua, po!” teriak Sarip.

“Dasar anak bego! Otak lu pake Wati! Jangan karena cinta, otak lu jadi miring, Wati!” seru Yusuf dengan penuh emosi.

“Po! Buka mata po lebar lebar! Nyebut istigfar po!” teriak Sarip.

Samsul memggenggam erat jemari Wati, mencium punggung tangan wanitanya dengan bangga.

“Kamu gak akan salah dengan keputusan mu, Wati!” beo Samsul, dengan seringai di bibirnya.

“Uugghhh sa- sakit, bang!” Wati meringis kesakitan, saat Samsul semakin erat menggenggam tangannya.

Kreek kreeek.

“Akkkhhh sakit!” jerit Wati, saat Samsul berhasil mematahkan tulang jemari ramping Wati.

“Pooooo!” Samsul berteriak dengan suara terdengar panik.

Sreeeeek.

Bugh, dugh, dugh, bugh.

***

Bersambung…

1
astutiq
semangat terus buat author
Uswatun Chasanah
jangan lupa up thor
Jafar Hafso
lanjutkan terus up thor
Farlan
semangat terus kak
Ina
jangan lupa up thor
Ina
lanjutkan thor
Ina
keren banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!