Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Es di Hutan Hijau
"Beku."
Satu kata itu meluncur dari bibir pucat Su Yan.
Seketika, suhu di rawa berlumpur itu anjlok drastis. Uap air di udara memadat menjadi kristal-kristal es tajam yang melayang di sekelilingnya. Lumpur becek di bawah kaki mereka mengeras menjadi lapisan permafrost putih yang licin.
WUSH!
Tanpa peringatan, puluhan jarum es seukuran lengan melesat ke arah Li Tian seperti hujan panah.
"Cepat!" batin Li Tian.
Dia tidak mundur. Sebaliknya, dia melesat maju, menggunakan Tulang Emas-nya untuk menahan dampak suhu dingin. Tangan kanannya bergerak cepat, menepis jarum-jarum es itu.
Trang! Trang! Trang!
Sarung tangan perunggunya beradu dengan es yang sekeras baja. Percikan bunga es beterbangan.
"Hanya menangkis?" Su Yan mengangkat alisnya sedikit. "Mengecewakan."
Dia menghentakkan kakinya.
"Teknik Pedang Teratai Es: Mekar!"
Dari tanah beku di bawah kaki Li Tian, sebuah bunga teratai es raksasa tiba-tiba tumbuh, kelopak-kelopaknya yang tajam mencoba mengatup dan mengurung Li Tian di dalamnya.
"Sial, teknik area!" Li Tian melompat vertikal ke udara untuk menghindar.
Namun, Su Yan sudah memperhitungkannya. Dia melompat menyusul, tubuhnya seringan bulu angsa. Di tangannya, sebuah pedang kristal es terbentuk dari udara kosong.
"Kau terbuka," kata Su Yan dingin. Dia menebas horizontal di udara.
Gelombang Qi es berbentuk bulan sabit meluncur ke arah Li Tian yang sedang melayang tanpa pijakan.
Di situasi normal, ini adalah skakmat.
Tapi Li Tian menyeringai.
"Terbuka? Tidak, aku sedang memancing."
Li Tian memutar tubuhnya di udara. Dia mengangkat tangan kanannya.
"Gandakan!"
DUM!
Otot lengannya membesar sedikit. Aura hijau meledak. Li Tian tidak menangkis tebasan es itu, dia mencengkeramnya.
KRAAAK!
Tangan Li Tian menangkap gelombang energi pedang itu, meremasnya hingga hancur menjadi serpihan salju yang tidak berbahaya.
Mata Su Yan membelalak. Menghancurkan Qi pedang dengan tangan kosong di udara?
Li Tian memanfaatkan momentum ledakan itu untuk meluncur ke arah Su Yan.
"Sekarang giliranku, Nona Es!"
Li Tian memadatkan Qi di ujung jari-jarinya.
"Cakar Penghancur!"
Dia mencakar ke arah bahu Su Yan. Bukan untuk melukai fatal, tapi untuk memaksanya mundur.
Su Yan bereaksi cepat. Dia menyilangkan pedang esnya untuk menangkis.
CLANG!
Bentrokan itu menghasilkan gelombang kejut yang menerbangkan salju di sekitar mereka.
Pedang es Su Yan retak!
Kekuatan penetrasi Cakar Penghancur ditambah Gandakan terlalu besar untuk ditahan oleh kondensasi Qi biasa.
Su Yan terdorong mundur, mendarat dengan anggun di atas dahan pohon, namun wajahnya kini terlihat serius. Dia menatap pedang esnya yang retak, lalu menatap sarung tangan perunggu Li Tian.
"Pusaka itu..." gumam Su Yan. "Bukan Kelas Fana. Itu mampu menghancurkan struktur Qi-ku."
Li Tian mendarat di samping tiang bendera. Dia tidak langsung mengambilnya, melainkan menatap Su Yan waspada.
"Kau kuat," puji Li Tian tulus. "Hampir saja aku jadi patung es."
"Kau juga," jawab Su Yan datar. "Fisikmu tidak masuk akal. Kau seperti binatang roh berbentuk manusia."
"Terima kasih atas pujiannya."
Suasana hening sejenak. Angin dingin berhembus di antara mereka.
"Jika kita terus bertarung," kata Su Yan perlahan, "Kita akan menghabiskan terlalu banyak Qi. Dan waktu ujian terbatas."
"Benar," Li Tian mengangguk. "Dan selagi kita sibuk di sini, Zhao Feng dan yang lain mungkin sedang memanen bendera di tempat lain."
"Jadi?" Su Yan menatap bendera di samping Li Tian.
Li Tian tersenyum licik. "Bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Bendera ini milikku karena aku yang sampai di tiangnya duluan. Sebagai gantinya... aku akan memberitahumu lokasi bendera berikutnya."
Su Yan mengerutkan kening. "Kau tahu lokasinya?"
"Aku punya... insting yang bagus," kata Li Tian, menepuk hidungnya. Tentu saja, itu adalah indra pelacak Zu-Long.
Su Yan menatap mata Li Tian, mencari kebohongan. Dia tidak menemukannya.
"Baiklah," kata Su Yan, menghilangkan pedang esnya. "Tapi jika kau menipuku, aku akan memburumu sampai ke ujung dunia dan membekukan darahmu."
Li Tian tertawa kecil. "Galak sekali. Pergilah ke arah Timur Laut, sekitar dua kilometer dari sini. Di dalam gua beruang."
Su Yan mengangguk singkat. Tanpa basa-basi, dia berbalik dan melesat pergi secepat angin salju, meninggalkan jejak beku di belakangnya.
"Gadis yang menarik," gumam Li Tian.
"Dia berbahaya," koreksi Zu-Long. "Dia belum mengeluarkan 'Inti Es'-nya. Jika dia serius, dia bisa membekukan seluruh hutan ini. Jangan cari masalah dengannya sampai kau setidaknya mencapai Bangkit Jiwa."
Li Tian mencabut Bendera Naga itu dan menyimpannya di balik jubah.
"Satu bendera didapat. Sisa sembilan."
Tiba-tiba, Zu-Long berbicara lagi, suaranya terdengar waspada.
"Bocah, ada pergerakan besar dari arah Selatan. Lima... tidak, sepuluh orang. Dan auranya... mereka menggiring sesuatu."
Li Tian melompat ke atas pohon tertinggi. Dia melihat ke arah Selatan.
Debu beterbangan. Pohon-pohon tumbang.
Di kejauhan, terlihat rombongan Zhao Feng sedang berlari kencang. Tapi mereka tidak sedang mengejar bendera. Mereka sedang dikejar.
Di belakang mereka, seekor Ular Piton Batu raksasa sepanjang dua puluh meter sedang mengamuk, menghancurkan segala yang ada di depannya.
Dan di atas kepala ular itu... tertancap sebuah Bendera Naga.
"Oh," Li Tian menyeringai lebar. "Sepertinya Zhao Feng mendapat tangkapan besar."
"Ular itu Tingkat 2 Awal (Setara Bangkit Jiwa Awal)," kata Zu-Long. "Terlalu kuat untuk murid luar. Kecuali mereka bekerja sama."
Li Tian melihat Zhao Feng dan kelompoknya lari ke arah... Altar Pusat?
"Licik," gumam Li Tian. "Dia mau memancing ular itu ke Altar Pusat agar para Tetua turun tangan membunuhnya, lalu dia mengambil benderanya di saat terakhir?"
"Atau mungkin dia ingin melemparkan ular itu ke peserta lain untuk mengurangi saingan," tambah Zu-Long.
Mata Li Tian berkilat.
"Kalau begitu, mari kita bantu dia 'mengurangi saingan'. Aku ingin bendera itu."
Li Tian melesat mengejar rombongan Zhao Feng dari atas pepohonan. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.