NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pukul delapan malam, sisa-sisa hujan sore tadi masih meninggalkan hawa sejuk di pelataran rumah besar keluarga Baskara. Namun, di dalam ruang kerja pribadi Sofia Baskara, atmosfernya justru terasa panas dan tegang. Ruangan itu berbau kayu cendana, dipenuhi rak buku setinggi langit-langit dan sebuah meja bundar kecil di sudut ruangan, tempat biasa Sofia mengeksekusi keputusan-keputusan penting keluarga.

Radit duduk di salah satu kursi beludru, sementara ibunya duduk di hadapannya, menyesap teh herbal dengan keanggunan yang mengintimidasi.

"Jadi," Sofia membuka suara, meletakkan cangkir porselennya tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. "Kamu ke sini sendirian malam-malam tanpa pacarmu yang hebat itu. Ada apa, Raditya? Apa kalian bertengkar karena stroller bayi yang Ibu kirim?"

Radit memijat pangkal hidungnya, teringat kembali bagaimana wajah Kirana yang memerah menahan amarah di kantor tadi siang.

"Ibu, kiriman tadi siang itu benar-benar berlebihan," kata Radit dengan nada selembut mungkin, mencoba bernegosiasi. "Kirana itu wanita yang profesional. Di kantor, dia fokus pada pekerjaan. Tiba-tiba ada paket stroller bayi datang ke kubikel sekretaris. Ibu tahu kan itu membuat dia jadi bahan gosip satu gedung? Aku tidak mau dia merasa tidak nyaman bekerja hanya karena kita terlalu terburu-buru."

Sofia menyandarkan punggungnya, menatap anak laki-lakinya dengan pandangan menyelidik nan tajam.

"Terburu-buru? Radit, usiamu sudah hampir kepala tiga. Perusahaan sudah stabil di tanganmu. Ibu hanya ingin memastikan kamu punya seseorang yang mendampingimu, seseorang yang tulus. Dan dari apa yang Ibu lihat dua malam lalu, Kirana adalah orangnya" jelas sang Ibu.

"Iya, Ibu. Aku tahu Kirana itu luar biasa," potong Radit cepat. "Tapi kami baru pacaran beberapa bulan. Kami masih dalam tahap pengenalan yang mendalam. Tolong beri kami ruang. Jangan kirim barang-barang bayi atau buku program hamil lagi ke kantor. Aku mohon."

Sofia terdiam cukup lama. Ruangan itu hening, hanya ditemani detak jarum jam dinding antik.

"Baik" ujar Sofia akhirnya, membuat Radit sedikit bernapas lega. Namun, kelegaan itu langsung lenyap saat ibunya melanjutkan kalimatnya. "Ibu tidak akan mengirim barang apa pun lagi ke kantor kalian. Tapi, Ibu punya satu syarat. Sebuah peringatan."

Radit menegakkan posisi duduknya, alarm waspada di kepalanya berbunyi.

"Syarat apa?"

"Bulan depan adalah acara ulang tahun pernikahan mendiang Ayah dan Ibu yang ke-35. Ibu akan mengadakan perjamuan kecil di hotel kita, mengundang keluarga besar dan beberapa kolega bisnis terdekat," Sofia menatap Radit lurus-lurus. "Ibu ingin kamu membawa Kirana ke acara itu, dan secara resmi mengumumkan pertunangan kalian di depan semua orang."

Deg.

Jantung Radit serasa berhenti berdetak. Pertunangan resmi? Di depan keluarga besar dan kolega bisnis? Itu artinya kebohongan mereka akan dikunci oleh komitmen legal yang hampir mustahil untuk dibatalkan tanpa memicu skandal besar.

"Ibu, itu... bukankah itu terlalu cepat?" protes Radit, suaranya naik satu oktav.

"Cepat atau lambat itu relatif, Raditya," balas Sofia tenang namun tak terbantahkan. "Jika kalian memang saling mencintai dan sudah memikirkan masa depan bahkan membahas anak kembar tiga, seperti yang kamu katakan sendiri maka bertunangan bulan depan bukan masalah, kan? Kecuali..." Sofia menyipitkan matanya, "ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Ibu?"

Radit menahan napas. dia tahu betul ibunya. Sekali saja dia menunjukkan keraguan atau penolakan yang tidak masuk akal, insting detektif Sofia akan langsung membongkar kontrak palsunya dengan Kirana.

Dengan sekuat tenaga, Radit memaksakan senyum santai andalannya.

"Tentu saja tidak ada yang disembunyikan, Ibu. Baiklah... aku akan mendiskusikan hal ini dengan Kirana. Kami akan datang ke acara itu."

Sementara itu, di sebuah apartemen minimalis yang rapi di pinggir Jakarta, Kirana sedang duduk di karpet bulu di depan televisi yang menyala tanpa benar-benar dia tonton. Di pangkuannya terdapat draf laporan kerja mingguan, namun pikirannya melayang jauh ke momen di kantin siang tadi.

Sentuhan kulit saat dia merapikan rambut Radit, tatapan mata pria itu yang mendadak tulus dan dalam semuanya terasa terlalu nyata untuk sebuah akting seharga bonus kontrak.

"Fokus, Kirana. Dia itu bosmu. Dia pria random yang menyebalkan" gumam Kirana pada dirinya sendiri, menepuk-nepuk kedua pipinya agar tersadar.

Tiba-tiba, ponselnya di atas meja bergetar panjang. Nama 'Radit (Bos Random)' tertera di layar. Kirana menghela napas sebelum menggeser tombol hijau.

"Selamat malam, Radit. Bagaimana pertemuan dengan Ibu Anda? Apakah masalah stroller sudah selesai?" tanya Kirana langsung.

Tidak ada jawaban instan dari seberang telepon. Hanya terdengar suara helaan napas berat dari Radit, sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang Raditya Baskara yang biasanya langsung berceloteh tanpa titik koma.

"Kirana..." suara Radit terdengar rendah dan agak serak di ujung telepon. "Bisa kita ketemu sebentar? Aku ada di depan lobi apartemenmu."

Kirana terkejut bukan main. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.

"Sekarang? Ada masalah darurat di perusahaan?"

"Bukan soal perusahaan. Ini... soal kita. Ada sesuatu yang harus kukatakan langsung."

Mendengar nada suara Radit yang begitu serius, firasat buruk Kirana kembali bangkit.

"Baik. Tunggu di lobi, saya turun sekarang."

Lima menit kemudian, Kirana sudah berada di lobi apartemen, mengenakan celana jins dan kardigan rajut longgar. Dia melihat Radit sedang bersandar di salah satu pilar marmer dekat pintu masuk, menatap keluar ke arah rintik hujan yang kembali turun. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Pria itu tampak lelah.

Begitu melihat Kirana mendekat, Radit menegakkan badannya.

"Ada apa, Radit? Wajah Anda seperti orang yang baru saja kehilangan tender puluhan milia," ujar Kirana, mencoba mencairkan suasana dengan candaan kecil yang biasanya disukai Radit.

Namun Radit tidak tertawa. Dia menatap Kirana dengan pandangan yang membuat jantung Kirana berdesir aneh, tatapan penuh rasa bersalah sekaligus kebingungan.

"Kirana, aku minta maaf" kata Radit pelan. "Aku baru saja pulang dari rumah Ibu. Dan... situasinya makin tidak terkendali."

Kirana melipat kedua tangannya di dada, wajahnya kembali menegang.

"Apa yang dikatakan Ibu Sofia?"

Radit menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan berita yang dia tahu akan mengguncang dunia sekretarisnya yang serba teratur itu.

"Ibu meminta kita untuk mengumumkan pertunangan resmi di acara perjamuan keluarga besar bulan depan. Jika tidak, dia akan tahu kalau hubungan kita ini palsu."

Dunia Kirana serasa berputar mendengar kata 'pertunangan'. Langkah kakinya mundur selangkah secara refleks.

"Pertunangan? Anda bercanda, kan? Kontrak kita hanya untuk pura-pura pacaran demi menghindari perjodohan, Radit! Bukan untuk mengikat diri dalam komitmen resmi seperti pertunangan!"

"Aku tahu, Kirana! Aku sudah mencoba menolaknya, tapi Ibu memberikan peringatan" jawab Radit frustrasi, melangkah maju untuk mendekati Kirana. "Kalau kita menolak, Ibu akan menyelidiki semuanya. Dan jika dia tahu aku membohonginya menggunakan sekretarisku sendiri, dia bukan cuma akan marah padaku, tapi reputasimu di industri ini juga akan tamat karena dianggap terlibat dalam penipuan keluarga Baskara."

Kirana merasakan matanya mulai memanas karena campur aduk antara rasa takut, marah, dan kecewa.

"Lalu kenapa dari awal Anda menyeret saya ke dalam masalah ini?! Saya hanya ingin bekerja dengan tenang, Radit! Saya butuh pekerjaan ini!" suara Kirana mulai bergetar.

Melihat Kirana yang mulai berkaca-kaca, benteng pertahanan Radit runtuh sepenuhnya. Tanpa memikirkan Pasal 3 atau batas jarak tiga puluh sentimeter yang selalu diminta Kirana, Radit maju dan langsung menggenggam kedua pundak Kirana dengan erat.

"Aku tahu aku egois, Kirana. Aku benar-benar minta maaf" kata Radit, suaranya melembut, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Kirana yang mulai basah. "Tapi demi Tuhan. Saat aku mengatakan pada Ibu kalau aku menyukaimu, saat aku memikirkan masa depan bersamamu, entah mengapa, belakangan ini ego dalam diriku berharap kalau semua kebohongan ini benar-benar nyata."

Kirana tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan. Di bawah lampu lobi apartemen yang temaram, di antara deru suara hujan di luar, batas antara kepura-puraan kontrak dan kenyataan di antara mereka berdua resmi mengabur malam itu.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!