Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Langkah kaki Suzanne yang tergesa-gesa terdengar menjauh, diikuti oleh dentuman pintu kamar sayap kiri yang tertutup dengan sangat keras.
Keheningan yang tegang mendadak menguasai area dapur yang mewah itu.
Sisa-sisa aroma masakan pagi yang hangat seolah kontras dengan atmosfer dingin dan beracun yang ditinggalkan oleh pertengkaran hebat beberapa saat lalu.
Lydia Gonne mendengus kasar. Ia melepaskan pegangannya pada lengan jubah mandi Willem, lalu memperbaiki posisi duduknya di atas kursi bar konter dapur.
Wajahnya yang semula memasang senyum kemenangan kini berubah menjadi gurat kekesalan yang amat kentara.
Matanya yang dilapisi riasan tipis menatap ke arah koridor kosong tempat Suzanne menghilang, memancarkan rasa tidak suka yang mendalam.
"Jangan biarkan dia berlaku tidak sopan di hadapanmu, Honey," ucap Lydia dengan nada suara yang sengaja dibuat merajuk namun sarat akan provokasi.
Ia melirik Willem yang masih berdiri mematung dengan rahang yang mengeras.
"Dia hanya parasit. Tidak pantas dia berteriak-teriak di depan kita seperti itu, seolah-olah dia memiliki hak penuh atas tempat ini. Dia akan semakin berbuat ulah jika kau tidak memberikan unit hukuman yang setimpal padanya."
Willem menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gejolak amarah yang sempat disulut oleh perlawanan tak terduga dari Suzanne.
Pria itu menyugar rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengangguk pelan.
"Aku akan memberikannya peringatan nanti," kata Willem singkat, suaranya terdengar berat dan dipenuhi beban pikiran.
Otaknya masih memikirkan kalimat terakhir Suzanne tentang warisan sang Daddy yang hampir saja ia bocorkan.
"Jangan hanya peringatan," potong Lydia cepat, tidak puas dengan respons datar kekasihnya.
Ia berdiri dari kursi, melangkah mendekati Willem, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu, mengabaikan fakta bahwa tanda merah di leher mereka berdua tampak begitu mencolok di bawah cahaya lampu dapur.
"Peringatan verbal tidak akan pernah membuatnya kapok, Willem. Wanita sepertinya harus diberi pelajaran fisik. Berikanlah pukulan sesekali. Agar ke depannya dia bisa lebih berhati-hati dan tahu posisinya sebagai menumpang di rumah ini."
Deg.
Willem menatap tepat ke dalam manik mata kekasihnya.
Ada jeda beberapa detik di mana pria itu hanya diam, mencerna saran ekstrim yang keluar dari bibir Lydia.
Meskipun Willem sangat membenci Suzanne, menganggapnya sebagai beban finansial, dan tidak ragu untuk melontarkan makian verbal yang paling kejam setiap hari, namun ada satu garis pembatas moralitas legal yang masih ia pertahankan di dalam kepalanya.
Dia adalah seorang eksekutif muda Daendels Group; terlibat dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga yang bisa divisum akan menghancurkan reputasinya seketika di mata publik dan sang ayah.
Willem melepaskan tangan Lydia dari lehernya dengan perlahan namun tegas.
"Tidak, Baby," ucap Willem dengan nada menolak. "Aku tidak bisa memukulnya."
Lydia menyipitkan matanya, merasa cukup kesal mendengar alasan pria di depannya.
Ia menarik mundur tubuhnya, melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi cemberut yang kentara, merasa bahwa Willem terlalu berlembut hati pada wanita yang jelas-jelas sudah mengibarkan bendera perang terhadap mereka pagi ini.
Namun, Willem tidak memedulikan kekesalan Lydia; pikirannya sudah terlanjur tersita oleh bagaimana cara mengendalikan Suzanne agar tidak bertindak nekat ke pengadilan sebelum seluruh aset Daendels resmi jatuh ke tangannya.
... * * *...
Sementara itu, di dalam kamarnya, Suzanne bergerak dengan sangat cepat.
Ia tidak sudi menghabiskan satu menit pun lebih lama di dalam apartemen yang sama dengan pasangan menjijikkan itu.
Setelah mengganti pakaian rumahnya dengan blus lengan panjang berwarna biru pucat yang longgar dan celana kain hitam, ia menyambar tas bahunya serta kacamata hitam yang tergeletak di atas meja rias.
Suzanne benar-benar ingin kembali ke rumah sakit pagi ini.
Berada di samping brankar ayahnya yang terbaring koma jauh lebih menenangkan jiwanya daripada harus menghirup udara yang sama dengan jalang suaminya di apartemen ini.
Sambil berjalan menuju pintu keluar apartemen, ia sengaja tidak menoleh ke arah dapur, melangkah lebar melewati ruang tamu, dan menutup pintu unit nomor 202 dengan sentakan cepat.
Suzanne berjalan menyusuri koridor marmer yang sunyi menuju area lift privat.
Langkah kakinya terasa berat, seiring dengan pertahanan mentalnya yang perlahan mulai runtuh.
Ancaman Willem tentang memotong biaya perawatan ayahnya terus berdengung di telinganya seperti lonceng kematian.
Bagaimana jika Willem benar-benar melakukannya hari ini?
Dari mana ia harus mencari uang ribuan dolar dalam sekejap untuk menebus obat-obatan dosis tinggi sang ayah?
Air mata yang sejak di dapur tadi ia tahan dengan sekuat tenaga kini mulai mendesak keluar, membasahi pipinya yang pucat.
Tepat di depan pintu lift logam yang berkilau, sesosok remaja jangkung sedang berdiri bersandar pada dinding koridor.
Aiden Luther Stone, dengan seragam high school-nya yang rapi, tas ransel hitam yang tersampir di satu bahunya, dan aroma maskulin yang familier, sedang bersiap masuk ke lift untuk pergi ke sekolah.
Remaja itu awalnya sedang memeriksa sesuatu di ponselnya, namun pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang tidak beraturan dari arah koridor.
Aiden mendongak, dan sedetik kemudian, tubuhnya menegak kaku.
Ia cukup terkejut melihat Suzanne berdiri di sana.
Bukan karena sekadar melihat wanita yang memenuhi isi kepalanya sejak semalam itu mendadak muncul di hadapannya, melainkan karena melihat kondisi fisik wanita itu saat ini.
Suzanne tidak sempat memakai kacamata hitamnya dengan benar.
Di balik helai rambutnya yang sedikit berantakan, Aiden bisa melihat dengan sangat jelas sepasang mata jernih itu kini tampak bengkak, merah, dan sembab.
Jejak-jejak air mata segar masih mengalir di pipinya, menampilkan gurat kerapuhan yang teramat sangat dari seorang wanita yang beberapa jam lalu bersikap begitu dingin menolaknya di dalam mobil.
"Hey... kenapa??" tanya Aiden dengan cepat, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dalam dan sarat akan rasa khawatir yang masif.
Langkah kakinya yang panjang langsung bergerak maju, memangkas jarak di antara mereka dalam dua detik.
Rasa posesif dan protektif yang besar seketika membakar dadanya melihat wanita yang telah ia klaim berada dalam kondisi sehancur ini.
Suzanne yang mendadak ditanya dengan nada selembut dan sekhawatir itu justru tidak mampu lagi menahan bendungan emosinya.
Alih-alih menjawab atau bersikap sinis seperti biasanya, pertahanan mentalnya runtuh total.
Dia sangat sensitif jika menyangkut sang ayah—satu-satunya alasan mengapa ia masih bertahan hidup dan menahan seluruh hinaan Willem Daendels selama ini.
Pertanyaan penuh perhatian dari Aiden laksana pemantik yang meledakkan seluruh rasa sakit yang ia pendam sendiri.
Suzanne kembali sesenggukan, bahunya berguncang hebat seiring dengan tangisnya yang pecah di keheningan koridor privat tersebut.
Dalam kondisi batin yang teramat rapuh, bingung, dan membutuhkan sandaran, Suzanne mengabaikan seluruh batasan usia, moralitas, atau status pernikahan yang ia agung-agungkan tadi.
Grep.
Suzanne melangkah maju dan langsung memeluk tubuh tegap Aiden.
Ia menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata tepat di dada bidang remaja delapan belas tahun tersebut, mencengkeram kain seragam sekolah Aiden dengan erat, menumpahkan seluruh rasa frustrasi dan ketakutannya atas kekejaman Willem di sana.
Aiden sempat mematung selama satu detik, terkejut dengan tindakan Suzanne yang tiba-tiba memeluknya.
Namun, begitu merasakan kehangatan tubuh kecil Suzanne yang bergetar hebat di dalam dekapannya, serta mendengar suara tangis wanita itu yang begitu menyayat hati, insting pelindung seorang Stone langsung mengambil alih sepenuhnya.
Aiden melingkarkan kedua lengannya yang besar dan kuat mengelilingi tubuh Suzanne, mendekap wanita itu dengan sangat erat seolah ingin menyerap seluruh rasa sakit yang sedang mendera jiwanya.
Tangannya yang lebar bergerak naik, mengusap punggung Suzanne dengan gerakan perlahan yang menenangkan, sementara dagunya bersandar nyaman di atas kepala Suzanne, menghirup dalam-dalam aroma vanilla manis yang memabukkan dari rambut wanita itu.
"Sstt... aku di sini. Ada aku, Anne," bisik Aiden serak, tepat di telinga Suzanne, menggunakan nama samaran yang wanita itu berikan.
Di dalam dekapan hangat dan kokoh remaja yang memiliki tinggi tubuh jauh di atasnya itu, Suzanne entah bagaimana merasakan sebersit rasa aman yang sudah sangat lama tidak ia dapatkan dari siapa pun di dunia ini.
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍