NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 (Di balik bayang sang penguasa)

Perjalanan kembali dari kawasan ruko PAUD menuju vila di Sentul terasa sangat berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Di dalam kabin Rolls-Royce yang senyap, Alisha menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap pemandangan kota yang mulai digantikan oleh deretan pepohonan hijau yang rindang. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan, tidak ada lagi keinginan untuk melompat keluar dari mobil. Hati Alisha, yang selama sebulan terakhir terkunci rapat oleh rasa marah dan terkhianati, kini terasa sedikit lebih ringan, meski di saat bersamaan, ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang dalam.

Ia menoleh ke arah Mike. Pria itu sedang fokus mengemudi, tangannya yang kekar mencengkeram setir dengan luwes. Kemeja putihnya yang sedikit terbuka di bagian kerah memperlihatkan garis rahangnya yang tegas. Melihatnya dari sudut pandang yang berbeda—sebagai seorang pria yang telah menghabiskan empat tahun hidupnya dalam kesepian demi rencana yang begitu rumit—membuat Alisha sadar bahwa ia selama ini hanya melihat puncak gunung es dari karakter asli suaminya.

"Kamu melamun," suara bariton Mike memecah keheningan. Ia tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis. "Apa yang sedang dipikirkan oleh Nyonya Raharja yang cantik ini?"

Alisha menarik napas panjang. "Aku hanya sedang berpikir tentang diriku sendiri. Bagaimana bisa aku begitu naif selama ini? Aku mengira aku yang akan menyelamatkanmu, padahal sejak awal, kitalah yang memang sudah ditakdirkan untuk... terjebak dalam skenario ini."

Mike mengerem mobilnya pelan, memarkirkannya di bahu jalan yang teduh di pinggiran kawasan perbukitan, jauh dari kebisingan kota. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Alisha. Tatapan matanya yang elang menatap dalam, mencari kejujuran di balik bola mata Alisha.

"Terjebak bukanlah kata yang tepat, Alisha," ucap Mike, suaranya kini terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan. "Kata yang tepat adalah *terikat*. Aku mengikat takdirku dengan takdirmu karena aku tidak bisa melihat masa depanku jika kamu tidak ada di sana. Apakah itu egois? Ya. Apakah itu manipulatif? Sangat. Tapi apakah itu salah jika pada akhirnya aku memberikan segalanya untuk menjagamu?"

Alisha terdiam. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa cinta tidak seharusnya dibungkus dengan kebohongan. Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia teringat bagaimana Mike begitu perhatian pada ibunya, bagaimana ia memastikan nama kakaknya bersih, dan bagaimana ia menanggung beban perusahaan sendirian.

"Kamu selalu punya cara untuk memenangkan argumen, Mike," gumam Alisha, sedikit kesal namun ada binar pengertian di matanya.

"Aku tidak ingin menang darimu, Alisha. Aku hanya ingin memilikimu," jawab Mike, jemarinya yang hangat terulur, menyelipkan anak rambut Alisha ke belakang telinga. Sentuhan itu tidak lagi terasa seperti ancaman atau dominasi, melainkan sebuah gestur yang sarat akan rasa memiliki yang mendalam.

Malam itu di vila, suasana jauh lebih hangat namun tetap menyimpan misteri. Mike tidak langsung pergi ke ruang kerjanya seperti biasanya. Ia justru mengajak Alisha duduk di teras belakang yang menghadap langsung ke arah perbukitan yang diselimuti kabut malam.

Dua gelas anggur merah tersaji di atas meja kayu. Alisha menyesap minumannya, merasakan kehangatan yang mengalir di kerongkongannya.

"Aku belum pernah menanyakan ini," Alisha membuka suara, memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jangkrik. "Apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan? Kakek bilang kamu memiliki tantangan besar dari paman-pamanmu. Apakah... apakah pernikahan ini benar-benar bisa mengamankan posisimu?"

Mike menyesap anggurnya, menatap jauh ke arah kegelapan hutan di depan mereka. Ekspresinya berubah menjadi lebih gelap, lebih serius. "Keluarga Raharja bukanlah keluarga biasa, Alisha. Mereka adalah sekumpulan predator yang mengenakan setelan jas mahal. Setelah Ayah tiada, paman-pamanku merasa mereka berhak mengambil alih kursi CEO. Mereka menganggapku terlalu muda, terlalu idealis, dan yang paling parah... mereka menganggapku lemah karena aku belum memiliki keturunan."

Mike menoleh pada Alisha, senyuman sinis muncul di wajahnya. "Rumor mandul itu adalah senjata mereka. Mereka menggunakannya untuk menekan Kakek, mengatakan bahwa aku tidak layak mewariskan dinasti Raharja karena garis keturunanku akan terputus. Mereka ingin menggantikanku dengan sepupuku, yang mana akan menjadi awal dari kehancuran perusahaan yang sudah dibangun Ayah dengan susah payah."

"Dan pernikahan kita?" tanya Alisha pelan.

"Pernikahan kita adalah pukulan balik," jawab Mike mantap. "Dengan menikahi gadis yang tulus dan 'bukan dari kalangan pebisnis' seperti dirimu, aku tidak hanya mematahkan argumen mereka tentang perjodohan strategis, tapi aku juga membuktikan bahwa aku bisa mengendalikan hidupku sendiri. Kakek Surya kini sepenuhnya berada di pihakku karena dia melihatmu sebagai anugerah. Dan selama Kakek di pihakku, paman-pamanku tidak akan berani menyentuh kursi CEO-ku."

Alisha merasa dadanya sesak. Ia baru menyadari bahwa selama ini, setiap tindakannya—setiap langkah kecil yang ia ambil—telah menjadi bagian dari catur besar yang dimainkan Mike. Namun anehnya, kali ini ia tidak merasa marah. Ia merasa... menjadi bagian dari perlindungan Mike.

"Jadi, aku hanyalah bidak catur yang cantik untukmu?" tanya Alisha, mencoba menantang, meski suaranya sedikit gemetar.

Mike tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar jujur dan tidak dibuat-buat. Ia meletakkan gelasnya, lalu bangkit dari kursinya dan berdiri di samping Alisha. Ia merengkuh pundak istrinya, menariknya untuk bersandar di dadanya yang bidang.

"Bidak catur?" Mike menggelengkan kepalanya. "Tidak, Alisha. Kamu adalah ratuku. Kamu adalah satu-satunya bagian dari hidupku yang tidak bisa kurelakan untuk kalah. Jika bidak catur bisa dikorbankan demi kemenangan, maka kamu... kamu adalah tujuan dari kemenangan itu sendiri. Aku tidak akan pernah mengorbankanmu."

Alisha mendongak, menatap wajah pria itu dalam keremangan cahaya lampu taman. Ia bisa melihat lelah di balik mata elang itu. Lelah karena memikul tanggung jawab besar, lelah karena harus terus-menerus bermain peran sebagai pria yang dingin dan tak tersentuh.

"Kamu bisa beristirahat di dekatku, Mike," bisik Alisha tanpa sadar.

Kalimat itu seolah menjadi kunci yang membuka pintu tersembunyi di hati Mike. Pria yang selama ini terlihat tak tertembus itu perlahan menurunkan bahunya yang tegang. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan dahi mereka hingga bertemu.

"Aku sudah menunggu lama sekali untuk mendengar kalimat itu dari bibirmu," bisik Mike serak.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah dering ponsel yang tajam di atas meja memecah suasana intim di antara mereka. Nama 'Kevin' muncul di layar ponsel Mike. Dengan satu helaan napas panjang, Mike menjawab panggilan itu.

"Ada apa?" suara Mike kembali dingin, kembali ke mode CEO yang tak kenal ampun.

"Mike, ada berita buruk," suara Kevin terdengar mendesak di seberang sana. "Pamanmu, Pak Hardi, baru saja mengadakan rapat darurat dengan dewan komisaris. Mereka mempertanyakan alasan kenapa kamu memberikan hibah ruko dan dana besar untuk yayasan pendidikan di saat perusahaan sedang mengalami fluktuasi saham. Mereka menuduhmu menyalahgunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi dan 'mengungkit masa lalu' yang seharusnya sudah terkubur."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!