NovelToon NovelToon
Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Agen Wanita / Time Travel
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amber Mist

Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Perjamuan Musim Dingin dan Siasat Baru [2]

Cui Er menelan ludah sebelum melanjutkan. "Selir Hua sengaja menyusun rencana ini untuk memancing Anda keluar. Dia telah menghasut Ibu Suri dengan mengatakan bahwa Anda, sebagai Permaisuri sah, harus hadir dalam perjamuan tersebut untuk menunjukkan pertobatan dan memohon berkah bagi keselamatan pasukan kekaisaran yang akan pergi bertempur di utara. Rencana aslinya adalah... dia akan mengatur agar Anda mengalami 'kecelakaan' mematikan di tengah hutan berburu, seolah-olah Anda diserang oleh binatang buas atau panah nyasar."

Xiao Cui yang berdiri di samping ranjang langsung memucat. "Permaisuri! Ini adalah jebakan maut! Hutan berburu kekaisaran sangat luas dan berbahaya. Jika Selir Hua mengirim pembunuh bayaran di sana, tidak akan ada orang yang bisa menolong kita!"

Mendengar hal itu, Meilin tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, sepasang mata elangnya berkilat penuh gairah bertempur. Baginya, berdiam diri di Istana Dingin terlalu lama hanya akan memperlambat rencana balas dendamnya. Hutan berburu, medan terbuka, dan taktik gerilya adalah keahlian utamanya sebagai mantan agen elit The Ghost. Selir Hua mengira sedang menjebak seekor domba, tanpa menyadari bahwa dia sedang mengundang seekor serigala lapar ke daerah perburuannya sendiri.

"Ini bukan jebakan maut untukku, Xiao Cui," ujar Meilin dengan senyuman tipis yang sangat dingin dan memikat. "Ini adalah panggung yang disediakan Selir Hua agar aku bisa mengumumkan kepulanganku ke istana belakang secara resmi."

Meilin menoleh kembali ke arah Cui Er. "Cui Er, kembali dan katakan pada Selir Hua bahwa aku menerima perintah Ibu Suri dengan patuh. Katakan padanya aku akan hadir dalam kondisi 'lemah dan sakit-sakitan' agar dia tidak curiga."

"Baik, Permaisuri!" Cui Er membungkuk dalam, merasa ngeri sekaligus takjub melihat bagaimana wanita muda di depannya ini selalu bisa membalikkan ancaman menjadi peluang keuntungan.

---

Tiga hari kemudian, Aula Perjamuan Berburu di pinggiran hutan kekaisaran tampak berdiri dengan megah. Ratusan lampion merah digantung di antara tenda-tenda sutra besar milik para bangsawan dan menteri kabinet. Aroma daging panggang dan anggur hangat menguar di udara, bercampur dengan tawa riuh para pangeran yang mengenakan pakaian pelindung kulit untuk bersiap berburu.

Di takhta tertinggi, Kaisar Long Feng duduk dengan jubah kebesaran emas hitam berukir naga ekor lima yang sangat berwibawa. Wajah tampannya tampak datar, matanya yang tajam menyapu seluruh aula perjamuan, mengabaikan Selir Hua yang duduk di sampingnya sambil terus bergelayut manja dan menuangkan anggur untuknya.

Pikiran Long Feng saat ini sepenuhnya tertuju pada laporan Gao Zan yang mengatakan bahwa Permaisuri Lin akan hadir hari ini atas perintah Ibu Suri. Rubah kecil, kau benar-benar berani keluar dari sarangmu, batin sang Kaisar dengan kilatan penuh ketertarikan yang tertahan.

"Permaisuri Lin Meilin memasuki aula perjamuan!" teriak kasim gerbang dengan suara melengking.

Seketika, seluruh aula yang tadinya bising mendadak sunyi senyap. Ratusan pasang mata para menteri dan nyonya bangsawan langsung tertuju ke arah pintu masuk. Mereka semua penasaran ingin melihat kondisi permaisuri yang telah dibuang dan dikabarkan sekarat itu.

Dari balik tirai salju, sesosok wanita melangkah masuk perlahan dibantu oleh seorang pelayan kecil. Meilin mengenakan jubah sutra polos berwarna putih pudar dengan sulaman benang perak sederhana di ujungnya. Wajahnya dirias dengan bedak arang hitam tipis di bawah matanya agar terlihat agak pucat dan lemas, namun hal itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan struktur wajahnya yang luar biasa cantik dan anggun.

Meskipun langkah kakinya sengaja dibuat tampak agak berat dan lemah, postur tubuh Meilin tetap tegak lurus bagai sebatang pohon bambu di tengah badai. Tatapan matanya yang datar dan sedingin es menyapu seluruh aula, memberikan tekanan mental tak kasat mata yang membuat beberapa menteri tua refleks menundukkan kepala mereka. Aura seorang permaisuri agung sejati terpancar kuat dari tubuhnya, membuat pakaian mewahnya yang pudar justru terlihat lebih berkelas daripada jubah emas berlapis milik Selir Hua.

Selir Hua yang melihat penampilan Meilin seketika meremas sapu tangan sutranya hingga kuku-kukunya memutih. Wanita jalang ini! Bagaimana bisa dia masih memiliki keagungan seperti itu setelah tiga bulan kubuang ke Istana Dingin?! batin Selir Hua penuh kedengkian.

Meilin berjalan hingga berhenti di tengah aula, lalu menekuk sedikit lututnya untuk memberi hormat formal. "Lin Meilin memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar, semoga Yang Mulia panjang umur dan dipenuhi berkah."

Suaranya yang jernih, tenang, dan stabil bergema di seluruh aula perjamuan, sama sekali tidak terdengar seperti suara seorang wanita penakut yang biasanya langsung menangis tersedu-sedu di depan Kaisar.

Long Feng menatap wanita di bawahnya. Detak jantung sang Kaisar sedikit berpacu saat melihat penampilan Meilin yang sesungguhnya di bawah cahaya terang—bukan lagi penyamaran sebagai sarjana pria atau jubah tidur berlumuran darah. Kecantikan Meilin saat ini begitu murni namun tajam, seperti sebilah belati yang dibalut kain sutra putih.

"Bangkitlah, Permaisuri," ujar Long Feng, suara baritonnya yang berat terdengar berwibawa namun memiliki nada kehangatan tersembunyi yang membuat Selir Hua di sampingnya tersentak kaget. Kaisar tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu pada Permaisuri Lin di masa lalu.

Meilin berdiri tegak kembali, matanya sempat beradu dengan mata elang Long Feng selama satu detik penuh perhitungan. Di bawah tatapan mata pria itu, Meilin bisa merasakan pesan tersembunyi: Permainan baru telah dimulai, Rubah Kecil.

"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Meilin datar, lalu berjalan menuju kursi kayu sederhana di sudut paling belakang aula—tempat duduk yang sengaja diatur oleh pelayan Selir Hua untuk menghinanya.

Namun, Meilin sama sekali tidak peduli dengan posisi tempat duduknya. Ia duduk dengan anggun, menerima secangkir teh hangat dari Xiao Cui, dan mulai memetakan tata letak para pengawal di sekitar aula. Melalui indra pendengarannya yang tajam berkat latihan Qi, ia bisa mendengar bisikan rahasia dari dua pengawal berbaju hijau di balik pilar dekat tenda perburuan.

"Pastikan panah beracun itu sudah siap. Begitu Permaisuri memasuki zona barat hutan setelah ritual persembahan, langsung eksekusi tanpa meninggalkan jejak," bisik salah satu pengawal dengan suara yang teramat pelan.

Meilin menyesap teh krisannya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan namun mematikan. Zona barat hutan... Bagus sekali. Selir Hua, terima kasih telah memilihkan tempat pemakaman yang indah untuk orang-orangmu sendiri.

Siasat baru telah matang di kepala cerdas sang agen rahasia. Perjamuan musim dingin ini tidak akan menjadi akhir dari riwayat hidup Lin Meilin, melainkan awal dari pembantaian berdarah bagi siapa saja yang berani bermain-main dengan nyawanya.

1
sasa adzka
cerita makin keren ey 😍😍
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
Amber Mist: 😍 baik lah terima kasih
total 1 replies
Lina Hibanika
jangan kasih ampun pelayan calutak seperti itu mah
Amber Mist: uda baca ampe bab brp kakak?
total 1 replies
sasa adzka
wahhh sebentar lagi bucin neh si kaisar long sama meilin🤭🤭🤭
Amber Mist: Siap2, ya Yang Mulia. Lebih suka upload jam brp kak?
total 1 replies
Lina Hibanika
hadiah perkenalan,, segelas kopi buat author ☕
Amber Mist: 😍 terima kasih Yang Mulia
total 1 replies
sasa adzka
I like it permaisuri meilin😍😍😍 aku suka karakter nya... pertahan kan kak.. pokok nya harus kuat mah MC cewek nya😍😍😍😍
semangat ya
Amber Mist: wahhh, makasi Yang Mulia, dukung aku terusnya "follow" dan jangan lupa "bintang5nya"
total 1 replies
sasa adzka
hallo baru mampir kak othor...
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Amber Mist
Yang Mulia Datu Zahra, bagian mana ya yg fisiknya brubah? coba dibaca ulang, karena Meilin ahli racun kak, itu bukan fisik yg brubah tapi jiwanya uda ganti kak
Datu Zahra
Dibab sebelumnya disebutin udah lewat seminggu, tambah dua hari seudha kaisar pergi sampe fisik berubah, ya kali nyebut racun semalam. ngaco
Amber Mist: Yang Mulia, sepertinya harus baca ulang ya
total 1 replies
Amber Mist
Halo Yang Mulia Ratu pembaca setia Permaisuri Lin, Salam Kenal.

Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?

Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.

Hamba butuh dukungan kalian
Alia Chans
suka.... like + bunga😉
semangat thor nulisnya nya🤭




kalo berkenan mampir thor😉
Amber Mist: 😍👍 siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!