Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan yang hilang
“Wih, cantiknya sahabat aku.”
Lea menatap Alesha dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hari ini Alesha tampil berbeda. Ia mengenakan pakaian yang dulu dibelikan Lea saat mereka pergi ke mal.
Alesha tersenyum kecil, sedikit malu mendengar pujian itu.
“Lea, jangan bicara seperti itu. Aku jadi malu,” ucapnya pelan sambil menarik tangan Lea menuju lift.
“Malu kenapa sih? Kamu memang cantik, Sha,” balas Lea santai.
“Nanti aku bisa terbang kalau kamu terus puji aku, Sha,” tambah Alesha sambil terkekeh kecil.
Lea ikut tertawa pelan, lalu merangkul lengan Alesha begitu pintu lift tertutup.
“Kamu itu memang cantik, Sha. Dari dalam dan luar,” ucap Lea dengan tulus, matanya sesaat menatap Alesha lebih lama. Sampai sekarang ia masih sulit percaya bahwa wanita di sampingnya adalah gadis yang selama ini dicari Leon. Sikap Alesha yang lembut dan apa adanya membuatnya semakin menyukainya.
“Kamu ini bisa saja, Lea,” balas Alesha sambil menggeleng kecil.
Ting!
Lift berbunyi, menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuan.
Pintu perlahan terbuka, memperlihatkan lorong di depan mereka.
Di sana, Leon sudah berdiri.
Alesha yang masih tersenyum kecil seketika berhenti begitu melihat sosok itu. “Eh…”
Lea juga ikut terdiam sesaat.
Leon berdiri tegap seperti biasanya, wajahnya tenang dan dingin tanpa ekspresi. Tatapan Leon menyapu Alesha sejenak, lalu berhenti beberapa detik pada wanita itu.
Tak satu pun dari mereka langsung berbicara.
Alesha hari ini terlihat berbeda.
Hari ini Alesha tampak jauh lebih anggun.
“Cantik,” batin Leon, meski ekspresinya tetap datar seperti biasa.
“Tuan,” sapa Alesha sopan sambil menunduk sedikit.
Leon hanya mengangguk pelan tanpa banyak reaksi.
“Dasar kulkas,” cibir Lea pelan sambil terkekeh, lalu segera merangkul Alesha dan menariknya keluar dari lift.
——
Leon kembali ke ruang kerjanya. Ia meletakkan map di atas meja, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
Wajah gadis itu hari ini terus terbayang di benaknya. Penampilannya yang berbeda, lebih rapi dan menawan, membuat pikirannya sulit tenang. Entah kenapa, bayangan Alesha terus memenuhi pikirannya.
Gadis kecil yang selama ini ia cari… ternyata sudah ada di depan matanya.
Namun satu hal yang terus mengganggu pikirannya, Alesha tidak mengenalinya sama sekali.
Leon menghela napas pelan, lalu tanpa sadar meraih kaca kecil dari dalam laci meja kerjanya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri dengan serius.
Tidak banyak perubahan berarti dari dirinya selama bertahun-tahun.
“Masih ganteng,” gumamnya pelan, penuh percaya diri.
Ia lalu menyimpan kembali kaca itu ke tempat semula, sebelum kembali bersandar di kursinya. Matanya menatap kosong ke arah jendela, pikirannya kembali pada Alesha dan bagaimana cara membuat gadis itu mengingat masa lalu mereka.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
“Masuk,” ucap Leon singkat.
Pintu otomatis terbuka, dan Kevin masuk dengan langkah mantap sambil membawa sebuah berkas di tangannya.
“Informasi terbaru tentang Alesha,” ucap Kevin sambil meletakkan berkas itu di atas meja.
Leon langsung mengambilnya tanpa menunggu lama. Matanya bergerak cepat membaca setiap halaman dengan penuh fokus.
Semakin lama membaca, rahang Leon perlahan mengeras.
“Lupa ingatan?” ulang Leon pelan.
Kevin mengangguk.
“Betul. Alesha pernah kehilangan ingatan setelah kecelakaan yang disebabkan ibu tirinya. Waktu itu dia didorong hingga jatuh dari ketinggian. Untungnya dia masih selamat,” jelas Kevin dengan nada serius.
Tangan Leon tanpa sadar meremas kuat kertas di tangannya. Leon mengepalkan tangan. Rahangnya mengencang.
“Itu sebabnya dia tidak mengingat lo,” lanjut Kevin.
Leon terdiam beberapa saat. Ingatannya kembali pada masa lalu—pada sosok Alesha kecil yang sering memakai pakaian panjang, bahkan saat cuaca panas. Baru sekarang semuanya tersambung. Pantas saja dulu Alesha kecil selalu mengenakan pakaian berlengan panjang.
“Dia sengaja menutupinya…” batin Leon pelan.
“Cari ibu tirinya,” ucap Leon dengan suara dingin dan tegas.
Kevin menghela napas kecil.
“Dia sudah meninggal, Leon.”
Leon menatap Kevin, ekspresinya tetap datar namun tajam.
“Iya. Dia sudah meninggal beberapa tahun lalu, sebelum Alesha menikah,” lanjut Kevin.
Suasana kembali hening beberapa detik.
Kevin lalu menatap Leon lebih serius.
“Kalau lo mau Alesha mengingat semuanya… lo harus bantu dia,” ucapnya pelan namun tegas.
——
Saat jam makan siang tiba, kantin kantor dipenuhi para karyawan. Para karyawan lalu-lalang mengambil makanan, suara piring dan percakapan bercampur menjadi satu.
Di sudut dekat jendela, Alesha duduk bersama Lea. Mereka memilih duduk di dekat jendela. Sinar matahari jatuh lembut di atas meja mereka.
Alesha tampak makan dengan cukup lahap, membuat Lea sesekali memperhatikannya sambil menahan tawa kecil.
“Sha, kamu lapar atau emang doyan?” tanya Lea sambil terkekeh pelan.
Alesha langsung tersenyum kecil, sedikit kikuk.
“Aku doyan, Sha. Enak banget makanan hari ini,” jawabnya sambil tersenyum lebar.
Alesha sengaja menambah porsi makannya. Dengan begitu, malam nanti ia tak akan terlalu cepat lapar. Uangnya yang terbatas membuatnya harus lebih hemat, meskipun ia tidak ingin menunjukkan hal itu pada Lea.
Lea hanya menggeleng pelan sambil tertawa kecil.
“Kamu ini ada-ada saja, Sha,” ucapnya santai.
Namun tak lama kemudian, ekspresi Lea sedikit berubah. Ia terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.
“Alesha…” panggilnya pelan.
“Iya?” Alesha menoleh.
Lea menatapnya lebih serius dari tadi.
“Kamu pernah lupa ingatan?”
Pertanyaan itu membuat Alesha seketika tersedak kecil dan terdiam.
“Hah?”
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁