NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Peluang di Tengah Kesulitan

Suara mesin proyek sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekitar.

Setiap pagi, debu beterbangan dari arah jalan utama.

Truk pengangkut material keluar masuk tanpa henti.

Beberapa bagian jalan bahkan semakin sulit dilalui dibanding minggu sebelumnya.

Dampaknya mulai terasa di mana-mana.

Warung-warung kecil yang berada di sepanjang jalan tampak lebih sepi.

Beberapa pemilik usaha terlihat duduk termenung di depan toko mereka.

Sebagian mulai mengeluh.

Sebagian lagi hanya bisa berharap proyek segera selesai.

Namun Arga tahu harapan saja tidak cukup.

Pagi itu, setelah membantu menyiapkan gorengan, ia duduk di depan warung sambil memperhatikan lalu lintas.

Jumlah kendaraan memang berkurang.

Tetapi bukan berarti tidak ada orang.

Warga sekitar tetap beraktivitas.

Anak-anak tetap sekolah.

Pegawai tetap bekerja.

Ibu rumah tangga tetap berbelanja.

Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di benaknya.

Mungkin selama ini ia melihat masalah dari sudut yang salah.

Selama beberapa minggu terakhir, fokusnya hanya pada pelanggan yang hilang.

Padahal seharusnya ia memperhatikan pelanggan yang masih ada.

Arga langsung mengambil buku catatannya.

Kemudian mulai membuat daftar.

Siapa pelanggan paling sering datang ke warung?

Berapa usia mereka?

Apa yang biasanya mereka beli?

Pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi halaman buku.

Saat ibunya melihatnya menulis sejak pagi, wanita itu tersenyum.

"Kamu lagi menghitung dunia?"

Arga tertawa kecil.

"Hampir."

"Hasilnya bagaimana?"

"Masih mencari."

Ibunya menggeleng pelan.

Kadang-kadang ia benar-benar tidak mengerti cara berpikir putranya.

Namun sejauh ini hasilnya selalu membantu usaha mereka.

Menjelang siang, Arga mulai menemukan pola menarik.

Sebagian besar pelanggan tetap mereka berasal dari lingkungan sekitar.

Bukan orang yang kebetulan lewat.

Bukan pengendara yang berhenti sebentar.

Melainkan tetangga.

Warga kompleks.

Orang-orang yang tinggal tidak jauh dari warung.

Dan kebutuhan mereka sebenarnya cukup berulang.

Minuman.

Sarapan.

Makanan ringan.

Kebutuhan rumah tangga kecil.

Semua dibeli secara rutin.

Tiba-tiba Arga teringat sesuatu dari kehidupan sebelumnya.

Saat masih bekerja, kantor tempatnya bekerja pernah bekerja sama dengan sebuah toko yang menyediakan layanan langganan mingguan.

Pelanggan tidak perlu datang setiap hari.

Mereka cukup memesan sekali.

Lalu barang akan dikirim secara rutin.

Ide itu langsung membuat matanya berbinar.

Sore harinya, ia mengumpulkan ayahnya, ibunya, dan Bu Rina.

"Aku punya ide."

Ayahnya tertawa kecil.

"Kalau kamu bilang begitu, biasanya pekerjaan kami bertambah."

Semua orang ikut tertawa.

Namun Arga tetap melanjutkan.

"Bagaimana kalau kita membuat paket langganan?"

"Paket langganan?" tanya ibunya.

Arga mengangguk.

"Misalnya gorengan untuk satu minggu."

"Atau paket sarapan untuk beberapa hari."

Ayahnya terlihat bingung.

"Kenapa pelanggan tidak beli sendiri saja?"

"Karena lebih praktis."

Arga menjelaskan dengan sabar.

"Banyak orang sibuk."

"Kalau kita memudahkan mereka, mereka mungkin mau berlangganan."

Bu Rina tampak berpikir.

Kemudian ia mengangguk.

"Sebenarnya beberapa ibu memang sering meminta aku membelikan sesuatu saat lewat."

Mendengar itu, Arga semakin yakin.

Mungkin idenya memang layak dicoba.

Namun kali ini ia tidak ingin terburu-buru.

Salah satu pelajaran terbesar yang ia dapatkan sejak kembali ke masa lalu adalah pentingnya menguji ide dalam skala kecil.

Jadi mereka memutuskan mencoba kepada beberapa pelanggan tetap terlebih dahulu.

Tidak lebih dari lima orang.

Jika berhasil, baru diperluas.

Keesokan harinya, kesempatan pertama muncul.

Bu Wati datang membeli gorengan seperti biasa.

Setelah berbincang sebentar, Arga menawarkan idenya.

Awalnya wanita itu terlihat heran.

Namun setelah mendengar penjelasannya, ia mulai tertarik.

"Jadi kalau saya pesan untuk seminggu, tinggal diantar?"

"Iya."

"Menarik juga."

Meski belum langsung setuju, respons tersebut cukup positif.

Hari itu Arga menawarkan hal yang sama kepada beberapa pelanggan lain.

Hasilnya beragam.

Ada yang tertarik.

Ada yang ragu.

Ada juga yang menolak dengan sopan.

Namun satu hal yang membuatnya senang.

Tidak ada yang menganggap ide tersebut aneh.

Artinya peluangnya memang ada.

Malam itu, saat sedang menghitung pemasukan, Bu Rina datang membawa kabar lain.

"Pak Hendra tadi mampir."

Arga langsung menoleh.

"Lalu?"

"Katanya kantor kecamatan mungkin akan mengadakan rapat kecil bulan depan."

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.

"Itu kabar baik."

Bu Rina mengangguk.

"Tapi belum pasti."

"Kalau begitu kita anggap belum ada."

Ayahnya terlihat heran.

"Kenapa?"

"Karena pesanan yang belum pasti bukan pesanan."

Jawaban itu membuat Bu Rina tertawa.

Sedangkan ayahnya hanya menggeleng.

Namun sebenarnya Arga sedang berusaha menjaga ekspektasi.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah melihat banyak orang terlalu cepat menghitung keuntungan dari sesuatu yang bahkan belum terjadi.

Ia tidak ingin terjebak dalam kesalahan yang sama.

Beberapa hari berikutnya berlalu dengan cukup tenang.

Warung tetap berjalan.

Pesanan antar perlahan meningkat.

Dan proyek jalan masih terus berlangsung.

Namun pada suatu sore, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Seorang pria paruh baya datang ke warung.

Penampilannya biasa saja.

Kemeja lengan pendek.

Celana kain.

Sandal sederhana.

Namun cara pria itu memperhatikan sekitar membuat Arga merasa ia bukan pelanggan biasa.

Pria itu membeli beberapa gorengan.

Kemudian duduk di bangku depan warung.

Tidak lama kemudian, Rudi keluar dari minimarket di seberang jalan.

Yang membuat Arga terkejut, pria tersebut langsung menghampiri pelanggan itu.

Mereka tampak saling mengenal.

Berbicara cukup lama.

Sesekali menunjuk ke arah jalan yang sedang diperbaiki.

Sesekali menunjuk ke area sekitar warung dan minimarket.

Arga memperhatikan semuanya dari kejauhan.

Naluri yang ia miliki dari kehidupan sebelumnya langsung bekerja.

Pria itu bukan pelanggan biasa.

Dan pembicaraan mereka kemungkinan berkaitan dengan bisnis.

Malam harinya, rasa penasaran masih mengganggunya.

Siapa pria itu?

Kenapa berbicara cukup lama dengan Rudi?

Apakah ada hubungannya dengan proyek jalan?

Atau justru sesuatu yang lain?

Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul.

Namun Arga memaksa dirinya tetap tenang.

Terlalu cepat mengambil kesimpulan sering kali berakhir buruk.

Saat hendak menutup warung, ia melihat Rudi sedang mengunci minimarketnya.

Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.

Rudi hanya mengangguk seperti biasa.

Namun entah kenapa, Arga merasa ada sesuatu yang sedang terjadi.

Sesuatu yang belum ia ketahui.

Dan pengalaman hidupnya mengatakan bahwa perubahan besar sering kali diawali oleh tanda-tanda kecil yang diabaikan kebanyakan orang.

Malam itu, sebelum tidur, Arga kembali menulis di buku catatannya.

Masalah menciptakan peluang.

Kalimat itu ia tulis perlahan.

Karena selama beberapa minggu terakhir, ia mulai memahami satu hal.

Orang yang hanya melihat kesulitan akan berhenti bergerak.

Tetapi orang yang mencari peluang di tengah kesulitan akan menemukan jalan baru.

Namun kali ini, tantangan yang mendekat tampaknya tidak hanya datang dari proyek jalan.

Melainkan dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arga merasa bahwa permainan bisnis di sekitarnya mulai berubah.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!