DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: TAWARAN DARI BAYANGAN**
**
Telepon itu masuk pagi-pagi, suara berat dan dingin yang sudah dikenal Anto dari hasil penyelidikannya beberapa hari lalu, tapi kali ini langsung ditujukan ke ponsel David sendiri.
"David Wijayakusuma," suara itu menyapa, tenang, tanpa nada ancaman sama sekali, "saya Dimas Santoso. Saya yakin lo sudah dengar nama saya dari pertemuan tidak menyenangkan beberapa malam lalu di halaman rumah temen lo."
David memegang ponselnya erat, suaranya datar, "Mau apa lo telepon gue?"
"Mau ngajak ngobrol. Empat mata. Gedung kosong saya, siang ini. Bukan buat berkelahi, saya capek liat anak buah saya babak belur terus."
Telepon ditutup begitu saja, tanpa menunggu jawaban David, seolah sudah yakin penuh bahwa tawaran itu akan diterima.
Di seberang kota, di gedung tinggi yang belum sempat ditempati penyewa karena masih dalam proses renovasi, Dimas berdiri di lantai paling atas, menatap Jakarta dari balik jendela kaca yang belum dipasangi gorden, sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.
"Kalau anak ini beneran sekuat yang saya lihat malam itu," gumamnya pada dirinya sendiri, bibirnya menyungging senyum tipis, "dan kalau dia mau jadi bawahan saya, bukan cuma Reza yang bisa saya kalahin, saya bisa bangun aliansi paling kuat yang Jakarta pernah lihat."
***
Siang itu, David datang ditemani Rambo, melangkah masuk ke gedung kosong yang masih berbau cat dan semen baru, langkah kaki mereka bergema di lorong yang sepi.
Dimas menyambut mereka di lantai atas, berdiri tenang dengan tangan di saku, tidak menunjukkan rasa terancam sedikit pun walau di belakangnya tidak ada satu pun anak buah yang berjaga.
"Terima kasih sudah datang, David," Dimas membuka, suaranya ramah, jauh dari kesan licik yang biasa orang bayangkan dari seorang bos debt collector, "saya mau nawarin sesuatu. Bukan permusuhan. Kerja sama."
"Kerja sama apa?" David bertanya, matanya tetap waspada.
"Kekuatan lo, dan jaringan saya. Saya punya akses ke banyak hal yang lo butuhin buat ngamanin posisi lo di perusahaan, informasi, koneksi, bahkan kalau perlu, perlindungan dari ancaman yang lebih besar dari Reza sekalipun. Lo cuma perlu jadi, sebut aja, partner saya."
David menatapnya lama, mempertimbangkan setiap kata yang keluar, tapi instingnya, insting yang sudah terbentuk dari bertahun-tahun membaca gerak-gerik lawan di arena tarung, mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di balik tawaran semanis itu.
"Kalau gue tolak?" David bertanya.
Dimas tersenyum lebih lebar, "Ya saya akan cari klien lain. Reza, misalnya, pasti mau bayar lebih mahal buat jasa saya kalau tau saya udah ketemu lo langsung."
David mendengus pelan, "Lo kira gue takut sama ancaman kayak gitu?"
"Saya gak ngancam, David. Saya cuma kasih gambaran realistis."
"Gue gak butuh bantuan orang licik kayak lo," David menjawab tegas, tanpa ragu sedikit pun, "gue udah cukup banyak ngadepin orang yang nyari untung dari kelemahan orang lain. Gue bisa beresin masalah gue sendiri."
Dimas tidak terlihat marah atau kecewa sedikit pun, hanya mengangkat bahu santai, "Sayang sekali. Tapi gak masalah, David. Saya respect keputusan lo."
David berbalik, melangkah keluar bersama Rambo tanpa menunggu kata-kata lain, merasa pertemuan itu tidak ada gunanya untuk diperpanjang lebih lama.
***
Sampai di rumah Anto sore itu, suasana ternyata jauh lebih ramai dari yang David bayangkan. Camelia sudah ada di sana, ditambah beberapa anak buah Rambo yang sedang berkumpul, sisa-sisa kelelahan dari pertarungan malam sebelumnya masih terlihat di wajah mereka, tapi suasana tetap santai.
Rambo, yang sejak tadi merasa gerah karena cuaca Jakarta yang panas, melepas jaketnya tanpa pikir panjang.
Dan begitu jaket itu terbuka, ternyata badan besar itu tidak memakai baju di dalamnya, dan terpampang jelas di dadanya, sebuah tato besar berwarna pink, gambar kucing putih dengan pita merah di telinga.
Hello Kitty.
Seluruh ruangan langsung pecah dalam tawa.
"RAMBO! ITU APAAN!" Anto langsung tertawa terbahak, sampai memegang perutnya sendiri.
Camelia ikut tertawa, "Astaga, preman segede ini tatonya Hello Kitty?"
David sendiri tidak bisa menahan tawa, "Anjir, gue gak nyangka, Bo."
Rambo, wajahnya memerah malu tapi tetap berusaha membela diri dengan nada paling serius yang dia bisa, "Ini seni, dongo. Ini mahakarya gue. Lo semua gak ngerti keindahan."
"Mahakarya katanya," Anto masih tertawa, "sekalian aja, Bo, tato SpongeBob juga."
Tanpa diduga, Rambo malah dengan pede membuka resleting celananya sedikit, menunjukkan bagian pinggang celana dalamnya yang ternyata bermotif SpongeBob lengkap dengan warna kuning cerah dan gambar wajah ceria si spons kotak.
Camelia langsung menutup matanya dengan tangan, "ASTAGA, RAMBO, TUTUP LAGI!"
Ruangan itu makin ramai dengan tawa yang tidak bisa berhenti, David sampai harus duduk di lantai karena perutnya sudah terlalu sakit menahan tawa, melihat sosok preman paling ditakuti se-Jawa Barat ternyata menyimpan sisi paling absurd yang tidak pernah terbayangkan siapa pun.
***
Sementara itu, jauh dari keramaian dan tawa itu, di lantai atas gedung kosongnya, Dimas masih berdiri menatap jendela, menyesap kopinya yang sudah mulai dingin, senyum aneh masih terpasang di wajahnya.
"Saya suka orang yang nolak tawaran saya," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, matanya menatap kota Jakarta yang berkilau di bawah sana, "biasanya mereka yang paling menarik buat saya kalahkan."
*(bersambung)*