seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 6
Sepanjang sisa perjalanan menuju kompleks perumahan Grand Depok City (GDC), Ibu Lidya tidak henti-hentinya menatap punggung Kevin lewat kaca spion.
Otak sosialitanya sedang berputar keras.
Alibi "begal kesandung" yang dikatakan Kevin jelas-jelas tidak masuk akal, tapi dia memilih diam karena rasa kagum yang luar biasa.
Begitu NMAX hitam itu berhenti dengan mulus di depan sebuah rumah megah berlantai dua dengan pagar besi tempa hitam, Ibu Lidya turun dengan gaya yang jauh lebih hormat daripada saat di Detos tadi.
"Sudah sampai, Bu Lidya."
"Mari saya bantu turunkan belanjaannya,"
kata Kevin dengan senyum ramah standar ojol.
"Iya, Mas Kevin."
"Duh, makasih banyak ya," ujar Ibu Lidya.
Sikapnya mendadak agak malu-malu, kontras dengan sifat angkuhnya di supermarket tadi.
Kevin dengan cekatan mengeluarkan semua kantong belanjaan dari bagasi dimensi Sistem dan gantungan motor.
Saat meletakkan kardus berisi barang pecah belah, Ibu Lidya memeriksa isinya dengan teliti.
Keajaiban kembali terjadi: jangankan pecah, bergeser pun tidak.
Semua telur dan gelas kristal yang dibelinya utuh tanpa cacat, padahal mereka baru saja melewati simulasi film aksi di jalanan.
"Luar biasa... Mas Kevin ini beneran ojol, atau agen rahasia yang lagi menyamar?"
selidik Ibu Lidya sambil menyipitkan matanya penuh selidik.
Kevin tertawa renyah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Wah, Ibu bisa aja."
"Saya mah murni beban keluar...eh, maksudnya murni pejuang nafkah jalanan, Bu."
"Nyari uang halal buat beli rokok sama bantuin Ibu di rumah."
Mendengar jawaban Kevin yang terdengar sangat rendah hati dan berbakti pada orang tua, hati Ibu Lidya langsung meleleh.
Sudah jago bela diri, tampan, sopan, berbakti pula! Langka sekali pemuda seperti ini di Depok! batinnya heboh.
Ibu Lidya langsung membuka tas Hermes-nya.
Dia mengeluarkan segepok uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih baru dan rapi dari dalam dompetnya.
Tanpa menghitung lagi, dia menyodorkan gepokan uang itu ke hadapan Kevin.
"Ini, Mas Kevin. Buat ongkos sama sedikit tip dari saya," ucap Ibu Lidya tulus.
Kevin melirik gepokan uang itu.
Dari tebalnya, itu pasti sekitar lima juta rupiah. Kevin menelan ludah, tapi bukan karena tergiur.
Ingat, saldo digital di akun Sistemnya saat ini memiliki digit yang hampir tidak bisa dibaca saking panjangnya.
Uang lima juta ini tidak ada apa-apanya dibandingkan saldo tak terbatas miliknya.
"Waduh, Bu. Ini kebanyakan banget. Ongkos di aplikasi kan cuma dua puluh lima ribu rupiah,"
tolak Kevin halus.
"Aduh, Mas Kevin jangan menolak! Ini gak sebanding sama nyawa saya dan barang-barang saya yang Mas selamatkan dari begal tadi."
"Tolong diterima, atau saya nangis di sini!" ancam Ibu Lidya dengan dramatis.
Melihat ibu-ibu sosialita GDC mulai memasang wajah cemberut seperti anak remaja, Kevin akhirnya menyerah.
"Y-Ya sudah, Bu. Saya terima."
"Terima kasih banyak ya, semoga rezeki Ibu makin lancar."
"Sama-sama, Mas. Oh ya, Mas Kevin punya nomor WhatsApp?"
"Sini, biar saya simpan. Siapa tahu nanti saya butuh jasa antar private atau... butuh bantuan lain,"
ujar Ibu Lidya dengan kerlingan mata penuh arti.
Kevin menyerahkan nomor ponselnya tanpa curiga.
Setelah berpamitan, dia segera memutar balik NMAX-nya dan melesat pergi dari kawasan GDC.
Begitu sampai di tempat teduh di bawah pohon beringin pinggir jalan raya, Kevin buru-buru memarkirkan motornya dan membuka aplikasi ojol khusus dari Sistem.
Ding!
[Orderan 2 Selesai. Rating: Bintang 5!]
[Bonus Tip Terdeteksi: Rp 5.000.000,- (Jumlah tip melanggar regulasi pasar ojol normal, namun Sistem mengizinkan karena status Pengguna sebagai pemikat wanita paruh baya).]
"Gila lu, Sistem!"
"Pemikat dari mana, gue cuma nolongin!" protes Kevin tak terima.
Namun, sedetik kemudian, layar ponselnya berubah warna menjadi merah menyala dengan teks emas yang berkedip-kedip.
Ding!
[Peringatan Misi Utama Minggu 1:]
[Progres Kriminalitas: 2/3 Berhasil Digagalkan.]
[Target Kriminalitas Terakhir Terdeteksi!]
[Lokasi: Wilayah Margonda Raya, tepatnya di dalam toko emas 'Sinar Jaya'.]
[Status: Perampokan bersenjata sedang berlangsung sekarang! Waktu tersisa sebelum pelaku kabur: 6 menit!]
Kevin terkejut, matanya membelalak membaca notifikasi tersebut.
"Perampokan toko emas? Ini mah udah level kakap, bukan kelas teri jalanan lagi!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kevin langsung memakai helm inkognitonya.
Dia memutar kunci kontak dan mengaktifkan mode performa penuh pada NMAX mesin MotoGP-nya.
[Mode: Track Race Diaktifkan. Pembatas kecepatan dibuka sementara.]
BRRRMMMM!
Mesin NMAX itu mengeluarkan raungan rendah yang menggetarkan aspal di sekitarnya.
Begitu Kevin menarik gas, motor tersebut melesat bak bayangan hitam yang membelah jalanan Depok, menuju ke pusat keramaian Margonda untuk menuntaskan misi terakhir demi mendapatkan ruko impiannya.