NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Valdrik mortis

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BANGKITNYA TAKDIR KENZIE

___..___

Singkat cerita, setelah perpisahan Kenzie dengan yang lainnya, akhirnya ia di bawah tetua volzek ke dalam pegunungan yang tersembunyi dan hanya orang yang tertentu yang mengetahui tempat tersebut.

Di pegunungan. Waktu berjalan lambat di wilayah pegunungan terpencil tempat Tetua Volzek membawa Kenzie berlindung.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan pun berganti tahun.

Namun di matanya, Kenzie tetap sama—seorang anak lelaki yang kehilangan segalanya, tapi tidak pernah berhenti berdiri.

Setiap pagi ia bangun sebelum cahaya fajar menyentuh puncak gunung. Tangannya menggenggam pedang berat dari batu hitam, berlatih jurus yang sama ratusan kali tanpa keluhan. Jurus itu belum sempurna, tapi ketekunannya melebihi para murid sekte manapun.

“Sekali lagi!” teriaknya, tubuh berlumur peluh, wajahnya keras.

Tubuhnya memar, ototnya koyak, namun ia tidak berhenti.

Tetua Volzek hanya mengamati dari jauh. Ia tahu, luka di hati Kenzie lebih besar dari luka di tubuhnya. Dan hanya kekuatan yang bisa menahannya agar tak hancur.

Hari demi hari, teknik dasar pedang, teknik pernapasan langit ketiga, penguatan urat roh, hingga seni langkah pembunuh langit—semua ia pelajari dan latih hingga darah mengalir dari telapak kakinya. Tak ada istirahat. Tak ada keluhan. Hingga jurus tersebut menjadi mantap

Namun semua latihan itu tak cukup.

Kenzie ingin lebih dari kuat. Ia ingin tak terkalahkan.

Agar saat kelak bertemu Reinzie kembali, bukan kegagalan yang menyambutnya—tapi pelindung yang ia butuhkan.

___..___

Tiga Tahun Kemudian

Di bawah langit berbintang, pada malam ke-1111 sejak perpisahannya dengan Reinzie, Kenzie terbaring dengan tubuh penuh luka. Ia terjatuh di tepi danau kecil di puncak gunung setelah mendorong tubuhnya melampaui batas. Sakitnya bukan main. Pandangannya buram.

Tiba-tiba, dalam kabut antara sadar dan tidak, ia bermimpi.

Seseorang berdiri di depannya—berselimut cahaya perak.

Wajahnya tak terlihat jelas, tapi suaranya seperti gema yang langsung menembus hati.

“Bangkitlah, Kenzie Laurent. Darah dalam tubuhmu bukan darah biasa. Kau adalah warisan dari takdir pertama.”

Kenzie memandangi tangannya. Cahaya suci mengalir dari nadinya, menyebar seperti sungai roh.

“Bakatmu tidak lahir di bawah bintang terang, tapi di balik langit yang tertutup awan. Kini, darah sucimu memanggil… dan takdirmu akan menuntunmu ke jalan yang jauh lebih tinggi.”

Ia tersentak.

Saat terbangun, air danau di sampingnya mulai mendidih. Sebuah pola berbentuk bulan berselimut kabut muncul di telapak tangan kanannya. Matanya berubah—menyala merah seperti darah yang membara, namun lembut seperti cahaya bulan. cahaya tersebut menandakan sebuah tekad dalam dirinya.

Darah Suci Kaisar Langit—yang selama ini tertidur dalam dirinya—telah bangkit.

___..___

Beberapa Hari Setelah Kebangkitan Darah Suci.

Tetua Volzek menyadari perubahan itu sejak hari pertama Kenzie menginjakkan kaki kembali ke tempat latihan. Energinya tenang, namun dalam. Setiap tebasan pedangnya membelah udara, bahkan meretakkan tanah.

“Takdir telah menunjukkan jalannya padamu,” kata Tetua Volzek sambil menyerahkan gulungan kitab tua.

Kenzie membaca tulisan di dalamnya. Itu adalah Jurus Pedang Langit kuno: jurus pedang Bulan Berkabut. Jurus legendaris yang hanya bisa diaktifkan oleh mereka yang telah membangkitkan tekad beladiri dalam hati mereka.

Kenzie tidak tersenyum. Tapi matanya berbinar dengan tekad.

___..___

Tak terasa waktu Berlalu begitu saja. Dan kini usianya telah menginjak 17 Tahun. Selama tiga tahun terakhir, Kenzie telah banyak menanggung penderitaan dalam latihannya.

Kenzie kini telah tumbuh menjadi remaja bertubuh tegap dengan rambut perak panjang yang diurai, dan sebuah anting yang menggantung di kedua telinganya. Ia tak lagi tampak seperti anak lelaki lemah dulu. Sorot matanya tajam, langkahnya mantap. Namun luka masa lalunya tetap tinggal, tersembunyi di balik ketenangan wajahnya.

Suatu hari, saat sedang berlatih di lembah terpencil, latihan dilakukanya adalah melatih jurus yang telah di berikan tetua volzek pada dirinya tadi, dari atas langit seorang lelaki tua berjubah biru turun dari langit dengan menaiki awan giok.

Ia memperhatikan Kenzie yang sedang berlatih dengan serius.

“siapa namamu wahai pria mudah?” tanya pria tua itu, suaranya bergema dalam.

Kenzie menunduk lalu berkata. “kenzie Laurent... dan senior?...” tanyanya sambil hormat pada pria tua tersebut.

“Aku adalah Tetua Linxi dari Sekte Gunung Langit. Sudah lama aku mengamati pelatihanmu… dan aku sangat tertarik pada dirimu.... aku datang menghampirimu untuk memberikan suatu penawaran padamu"

"apa yang tetua tawarkan untuk diriku" tanya Kenzie pada pria tua tersebut

"aku ingin merekomendasikan dirimu, masuk kedalam sekte gunung langit" jawab pria tua Itu sambil tersenyum pada Kenzie

Kenzie menatapnya tanpa gentar. “Apakah itu perintah atau ujian?”

Tetua Linxi tersenyum kecil. “Anggap saja... undangan dari aku.... dan kini aku melihat darimu bukan lagi burung kecil yang perlu berlindung di sarang. dunia menanti suaramu. kini saatnya kau keluar dari gunung ini.” ucapnya pada Kenzie

Kenzie menoleh pada Tetua Volzek yang berdiri jauh di belakang.

Tetua Volzek mengangguk perlahan. “Inilah jalan yang akan membawamu kepada kejayaan… Dan suatu hari nanti pada saat kau kembali bersama adikmu, kamu akan menjadi orang yang sangat hebat.”

Kenzie mengepalkan tangannya.

Kini, tak ada lagi alasan untuk mundur.

Di usia tujuh belas tahun, Kenzie Laurent menerima undangan resmi dari Tetua Linxi untuk bergabung dengan Sekte Gunung Langit—sebuah tempat legendaris yang hanya menerima murid berbakat luar biasa dari seluruh benua.

Dengan darah suci yang terbangun, jurus bulan berkabut dalam proses penyempurnaan, dan luka hati yang belum sembuh, ia melangkah ke dunia luar untuk satu tujuan:

Menjadi kuat—cukup kuat untuk berdiri kembali bersama adiknya… bahkan jika itu berarti harus menantang langit sekalipun.

Singkat cerita esok harinya.

Langit pagi itu terlihat pucat. Kabut turun menyelimuti lereng pegunungan tempat Kenzie menghabiskan tiga tahun terberat dalam hidupnya. Angin bertiup pelan, membawa aroma embun dan dedaunan basah. Di hadapan gua batu tempat mereka tinggal, Kenzie berdiri mengenakan jubah abu-abu tua, membawa tas kecil di punggung dan pedang terselip di punggung kiri.

Di hadapannya, Tetua Volzek berdiri tegak seperti biasanya, tapi tatapan matanya hari ini berbeda. Sedikit lebih dalam. Sedikit lebih berat.

“Kau tidak membawa banyak barang,” kata Volzek, mencoba terdengar ringan.

Kenzie tersenyum samar. “Aku hanya butuh satu: tekad.”

Volzek mengangguk pelan. “Kau tidak lagi anak yang dulu, menangis dalam puing-puing istana kekaisaran. Kau kini adalah pria muda dengan mata yang tak lagi takut pada langit.”

Suasana menjadi hening beberapa detik. Kabut mengalir di antara mereka, menyembunyikan perasaan yang sulit diucapkan.

Kenzie kemudian menunduk. “Tetua Volzek… sebelum aku pergi, aku ingin menitipkan satu pesan.”

“Untuk Reinzie?” tanya Volzek dengan suara rendah.

Kenzie mengangguk. “Jika suatu hari Anda bertemu dengan Tetua Zember... dan jika Reinzie masih bersamanya... tolong katakan bahwa aku baik-baik saja. Katakan padanya bahwa aku masuk ke Sekte Gunung Langit. Bahwa aku tidak pernah menyerah untuk menjadi kuat…”

Volzek mendekat, menepuk bahu Kenzie dengan tangan yang dulu melatihnya dengan keras. Namun kali ini, sentuhannya terasa ringan… seperti seorang ayah yang melepas anaknya ke dunia.

“Aku akan menyampaikan pesannya. Tapi Kenzie…” katanya pelan. “Tahukah kau? Selama tiga tahun ini... aku bukan hanya mengajarkanmu teknik atau kekuatan. Aku... juga belajar darimu.”

Kenzie menatap mata tetua volzek.

Volzek melanjutkan, suaranya bergetar tipis. “Kau mengajariku tentang kehilangan. Tentang kesabaran. Dan tentang bagaimana seseorang bisa tetap bertahan... bahkan ketika semua cahaya telah padam. Dalam diam, kau telah mengisi kesepianku.”

Mata Kenzie memerah.

“Aku... tidak tahu harus berkata apa…”

Volzek menggeleng, tersenyum. “Tak perlu berkata apa-apa. Tapi jika suatu hari kau menjadi seseorang yang dunia kenal... jangan lupakan gunung ini. Dan... jangan lupakan pria tua cerewet yang pernah memaksamu menebas udara seribu kali dalam sehari.”

Kenzie tersenyum kecil, tapi air mata mulai mengalir tanpa disadarinya. “Aku tidak akan pernah lupa... aku tidak pernah punya guru hebat yang mendidik ku seperti ini. Tapi sekarang, aku merasa... aku pernah punya satu.”

Volzek menoleh, menyembunyikan wajahnya sesaat. Suaranya serak.

“Pergilah, anak muda. Dunia menunggu. Tapi ingat, bila kau goyah... langit tempat kita berdiri ini akan selalu menyambut mu kembali.”

Kenzie menunduk dalam-dalam, memberi hormat terakhir.

“Terima kasih… tetua!.”

Ia pun melangkah ke tepi jurang, lalu melompat turun ke lembah yang lebih rendah, tempat awan giok Tetua Linxi telah menantinya.

Saat tubuhnya menghilang dalam kabut, Volzek berdiri diam, menatap dari kejauhan. Di tangannya, ia menggenggam sebuah token lencana yang terbuat dari giok berbentuk tanda kekaisaran Laurent yang sempat Kenzie titipkan diam-diam di balik kain latihan.

“Dia akan mengguncang dunia suatu hari nanti…” gumamnya.

Lalu angin pun berembus, membawa suara samar Kenzie yang pernah berkata:

“Aku akan melindunginya, meski dunia memaksa kami untuk berpisah.”

Di bawah kabut yang memudar, Kenzie Laurent memulai perjalanan barunya. Dunia tak lagi mengingat nama Kekaisaran Laurent… Tapi suatu hari, nama Kenzie akan kembali menyalakan harapan—bagi mereka yang terluka, dan bagi adik yang telah terpisah darinya.

1
Ibar, {iba'rat Askar}
singgungan para petinggi istana yang tak ingin hasil bumi di sembunyikan🤭
Ibar, {iba'rat Askar}
lelucon hirarki para petani menanam hasil panen atau barang untuk di jual kembali jika harga melonjak naik
أسوين سي
💪💪
أسوين سي
💪
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
Ibar, {iba'rat Askar}
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!